"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh Lauhul Mahfudz
Kamar pengantin dihias begitu indah. Keyra berkhayal akan mendapatkan cinta kasih kehangatan dari prince sambil memandangi dirinya di cermin. Sedangkan Prince membersihkan dirinya di kamar mandi.
Air terus mengalir membasahi tubuhnya mulai dari kepala. Matanya terpejam. Kedua tangannya menyentuh tembok. Perlahan bibirnya tersenyum. Rupanya Prince membayangkan Isma berada dihadapannya.
"Isma, tahukah kamu. . . Aku memang menikahi Keyra. Tapi demi tuhan, aku merasa hari ini aku menikahimu. Aku menggenggam tanganmu, aku mengecup bibirmu dan aku mengecup keningmu, lalu menggendongmu ke kamar kita."
Prince berucap dengan masih memejamkan matanya, tangan kanannya membuat pergerakan seakan sedang membelai wajah Isma.
"Ah, aku sudah gi**, Isma. Kau harus bertanggung jawab. Tunggulah aku sebentar lagi." Prince membuka matanya. Lalu dia tersenyum mengingat dirinya bicara sendiri dan mengingat kejadian di altar tadi siang.
Yah rupanya, semua yang dilakukan Prince pada Keyra hanya semata karena dia membayangkan Keyra adalah Isma.
Prince selesai mandi, dia pun keluar dari kamar mandi yang langsung disambut oleh Keyra yang sudah siap dengan gaun malamnya yang sangat mini hingga membuat perutnya terlihat sangat besar.
Prince menghampirinya. Lalu membelai lembut wajah Keyra. Prince mendekatkan wajahnya dengan wajah Keyra. Dan Keyra pun memejamkan matanya. Dia menunggu Prince untuk mengecupnya.
Seruan napas Prince semakin dekat dan menghangatkan wajahnya, kemudian prince mengalihkan hidungnya untuk menyentuh leher Keyra. Dan tidak sengaja Keyra mend***h tertahan saat merasakan kehangatan napas Prince di lehernya.
"Tidurlah, kau harus istirahat. Kasihan bayinya kecapek an." Bisik Prince di telinga Keyra.
Lalu Prince melangkah menuju tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya tanpa menghiraukan Keyra yang masih terdiam kecewa dan sedih karena Prince hanya sekedar menggodanya saja.
Sementara itu, Isma sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Dia pulang ke bandung usai acara pernikahan Prince. Isma merasa amat sangat merindukan Abi dan Umi.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut." Ucap Fitri saat tadi melepas kepergian adik iparnya itu.
"Sampaikan salam mas. Bilang sama Abi dan Umi jangan khawatir dengan kandungan Teteh mu." Sambung Arya.
"Iya mas." Memasukkan tas kedalam mobilnya.
Sebelum masuk ke mobil, Isma menyentuh perut Fitri yang kini sudah memasuki bulan ke delapan.
"Ponakan Aunty jaga Mama sama Papa ya. Aunty mau ketemu kakek sama nenek dulu." Ucapnya dengan suara anak kecil. Lalu Isma mencium perut Fitri.
"Adek pergi dulu, Assalamu'alaikum."
Isma pun melajukan mobilnya sendirian menuju Bandung. Kesedihan hatinya sedikit tersamarkan karena sepanjang perjalanan Umi menelponnya dan menemani perjalanan Isma yang tidak terasa sebentar lagi akan tiba di rumah Umi dan Abi.
"Iya umi sayang. Ini bentar lagi juga sampai kok. Jangan khawatir."
Isma mendengar suara celoteh Umi melalui headphone. Terkadang Isma tersenyum, tertawa dan kadang cemberut juga mendengarkan celoteh umi sepanjang perjalanan.
Sementara itu, di Bogor. Bimo berkeliling di area Wonderland dan juga perhotelan mereka yang mendekati tahap akhir. Bimo ditemani oleh salah satu karyawan Tim nya, juga pimpinan tukang bangunan.
Mereka membahas tentang seputar bangunan hotel dan Wonderland.
"Saya rasa di bagian sini bagus kalau di tambahkan aksesories lagi, Pak." Saran Bimo.
Dia merasa ada yang kosong di dekat taman bermain air mancur dan komedi putar.
"Baik, pak. Rencananya memang masih mau di tembahkan beberapa aksesories lagi, Pak Bimo." Ucapnya sambil memperlihatkan gambar design yang dulu di berikan oleh Isma.
"Ini design langsung yang diberikan Buk Isma, Pak." Sambungnya.
Bimo mengangguk paham. Kemudian dia melanjutkan melangkah menuju gedung hotel.
Bagunan hotel itu hanya terdiri dari lima lantai saja. Tapi memeiliki design yang sederhana, dan menyejukkan untuk di pandang.
'Isma, gedung dan Wonderlandnya sudah hampir selesai. Aku ingin menjadi orang pertama yang nantinya membawamu ke sini untuk bermain bersama mewujudkan impian Isma kecil.' Batinnya.
Rindu kini melanda hati Bimo. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu Isma. Rasa rindu itu semakin menjadi saat Bimo menatap foto Isma di layar HP nya.
"Pak Bimo. . ." Panggil karyawannya menyadarkan Bimo dari lamunannya.
"Ah, iya. Ada apa?" Jawabnya sedikit terkejut dan langsung memasukkan HP kedalam saku jas nya.
"Saya rasa lebih baik bapak istirahat saja dulu. Kita bisa lanjutkan besok." Sarannya.
"Ok. Saya sepertinya memang butuh istirahat."
Merekapun kembali ke mobil dan melaju menuju hotel penginapan yang tidak begitu jauh dari lokasi bangunan projek yang belum selesai itu.
Setibanya di kamar hotel, Bimo yang sudah sangat merindukan Isma, akhirnya menekan nama Isma di layar Hp nya.
Beberapa saat kemudian, panggilan itu di jawab oleh Isma.
"Bimo. Ada apa? apa ada masalah di Bogor?" Tanya Isma.
Suaranya terdengar khawatir, karena Bimo menelponnya di larut malam seperti ini.
"Tidak Is. Semuanya baik-baik saja." Jawab Bimo sambil tersenyum senang.
"Syukurlah. Lalu kenapa belum tidur? Ini sudah sangat larut lah, Bim!"
"Biasa Is. Aku belum bisa tidur sebelum mendengar suaramu."
"Ya ampun Bim. Kamu baik-baik saja, kan?"
"Nggak. Aku lagi menderita. . ." Rengeknya bermanja.
"Hahhahaaaa. . . udah ah jangan gombal. Udah larut malam juga."
"Tapi kali ini bukan gombal, Is. Aku serius kali ini. Aku menderita karena merindukanmu."
"Aku juga. Dua hari lagi kita ketemu Bimo sayang." Ujar Isma.
Dia biasa saja bercanda seperti itu dengan Bimo. Dan Bimo juga sudah tahu kalau dia menolak perasaannya. Lagi pula baginya Bimo tidak lebih dari sekedar sahabat baiknya.
"Dua hari lagi kelamaan Is. Kenapa gak besok aja kamu ke Bogor. Lagian Bos kan cuti juga." Rengeknya.
"Aku di Bandung sekarang, baru saja tiba beberapa menit yang lalu."
"Di Bandung? Kamu ke Bandung sendirian malam-malam?"
"Iya. Ditemani Umi kok sepanjang perjalanan."
"Kenapa gak naik Bus aja. Kamu tu cewek Is, mengendarai mobil sendirian malam-malam. Bahaya tau." Rutuknya.
Kali Ini Bimo serius marah dan Khawatir.
"Iya, Bim. Aku sudah sampai dengan selamat, kok. Tadinya minta antarin mas Arya, tapi kan gak mungkin ninggalin teh Fitri sendirian."
"Kan bisa naik bus, Isma."
"Aku males, Bim. Lagian aku memang mau belajar aja nyetir sendiran ke Bandung saat malam hari."
Sesaat Bimo terdiam. Dia baru menyadari, mungkin Isma sengaja untuk menenangkan hatinya yang sakit karena pernikahan Prince.
Ya, Bimo diam-diam mengetahui tentang perasaan Isma untuk Prince.
'Sepenting itu dia di hatimu, Is. Hingga membuatmu berani menantang bahaya.' Batinnya.
"Bim, maaf. Lain kali aku gak akan mengulangi lagi. Ok."
"Mmhh. . ."
"Aku tahu kamu marah. Tapi aku benar-benar tidak dalam kondisi yang baik Bim. Aku hanya merasa sangat merindukan Umi dan Abi. Rasanya melihat dan mendengar suara mereka dapat meringankan rasa sakitku."
Mendengar curhatan Isma, Bimo terdiam. Benar apa yang disangkanya. Ternyata Isma memang sedang terpukul karena pria yang dicintainya menikahi wanita lain.
"Baiklah. Kamu istirahat gih. Sampai ketemu dua hari lagi."
"Iya, selamat malam Bimo."
Bimo mengakhiri pembicaraan mereka. Lalu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap kosong langit-langit kamar hotel, lalu dia menghela napasnya.
"Aku akan terus mencintaimu sampai kamu bertemu dengan jodoh lauhul mahfudz mu, Isma." Ucapnya.
Sementara Isma tidak langsung tidur, dia melangkah ke kamar mandi untuk berwudu. Isma pun menghabiskan malam itu untuk membaca Al-qur'an.
Suaranya begitu merdu melantunkan surah Al-mulk. Surah yang dapat menenangkan hati, surah yang mengatakan tentang kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. surah yang mengajarkan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan meyakinkan hati orang-orang yang beriman bahwa semua yang dimiliki hanya titipan semata yang semuanya adalah milik Allah.
"Ya Allah, engkau pemilik hati ini. Engkau sembuhkanlah sakit ini." Ucapnya pelan sambil menengadahkan tangannya usai membaca surah Al-mulk.
"Ya Allah. . . Engkaulah pemilik cinta. Maka tujukanlah rasa cinta ini kepada hati yang tepat. Hamba berserah hanya kepadamu ya Allah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin."
Isma mengakhiri malamnya dengan bersujud di atas sajadah. Dalam sujudnya, rupanya Isma menangis. Air matanya menetes begitu saja, masih teringat jelas kemesraan Prince dan Keyra tadi siang.
Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dalam hatinya. Hanya Allah yang tahu apa yang tidak diketahuinya…
Bersambung. . .
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.