seorang janda muda yg terpaksa menikah dengan atasannya. dan terlibat cinta segitiga antara dia, suami dan mantan suaminya. siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin Aiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Senja berdiri di balkon kamar Langit yang berada di sebelah kanan rumah menghadap taman dan kolam renang. Dari balkon kamar bisa sedikit untuk mengintip ke arah pintu gerbang utama.
Senja sesekali menengok ke arah gerbang utama menunggu Langit datang. Kali ini ia merasa waktu terasa begitu lama baginya.
Hingga akhirnya ia melihat cahaya lampu mobil memasuki gerbang utama. Senyumnya mengembang lebar. Dan ia berusaha berdiri, mulai berjalan menunggu Langit di dalam kamar.
Tak Lama ia berdiri, Langit masuk kedalam kamar. Ella meletakkan tas Langit di meja kerjanya, lalu keluar kamar.
Langit mengernyitkan kening melihat Senja berdiri dengan senyum yang lebar.
"apa anda sudah makan malam, pak?" tanya Senja.
Langit diam, melepas jas dan dasinya lalu membuka kancing lengan dan kancing leher kemeja.
"Udah." jawab Langit.
Senja memanyunkan bibirnya. "Ooh, ya sudah jika anda sudah makan malam." kata Senja. "eemm, saya sangat berterimakasih karena anda sudah membuka kebenarannya." lanjut Senja.
Langit diam mengacuhkan Senja dan masuk ke ruang ganti.
"Gak papalah, uangku gak berkurang buat nraktir dia." kata Senja, karena sebenarnya ia ingin berterimakasih atas bantuan Langit.
kruuuuk krruuuk
"Hmmm, seharusnya aku makan malam saja tadi." keluh Senja ketika mendengar suara perutnya.
Ia melihat-lihat menu di salah satu aplikasi pemesanan makanan online. "Gak ada yang sip sih?" keluhnya lagi. Ia melihat jam dinding, masih jam delapan malam jadi ia memutuskan untuk pergi ke angkringan saja.
Ia mengambil Jaket yang ada diruang ganti bertepatan dengan Langit yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mau kemana Lo malem-malem gini?" tanya Langit, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Saya mau keluar sebentar pak, mau beli makan." kata Senja.
Langit diam, melihat Senja yang sudah memakai jaket berjalan terpincang-pincang keluar ruang ganti.
Senja mengganti sandal rumahnya dengan sandal untuk diluar rumah, barulah ia keluar kamar.
Sambil berjalan dia memesan ojek online lewat Ponselny. Setelah mendapatkan driver Senja menelpon drivernya.
"mas, minta tolong nanti masuk gerbang saja ya. bilang ke pak satpam mau jemput Senja. Nanti saya tunggu di depan pintu rumah. Maaf saya gak bisa ke depan, kaki saya sakit." ucap Senja.
Setelah mendapat jawaban dari drivernya baru ia tutup sambungan telponnya.
Senja menunggu beberapa menit hingga driver mendatanginya.
"Maaf ya mas merepotkan." kata Senja
Driver ojol melihat Senja jalan sedikit pincang dan pelan, "tidak apa kak,silahkan." ia memberikan helm hijau khas Ojol.
Senja mengambilnya, namun seseorang merebutnya. "Maaf mas, pesanannya dibatalkan saja ya."
Tiba-tiba Langit datang, mengembalikan helm itu pada drivernya.
"Lho, kenapa pak? kan kasihan mas Ojolnya udah jauh-jauh kesini." tanya Senja.
Langit mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. "Maaf ya mas harus saya cancel dan ini sebagai ganti ruginya." Langit memberikan uang itu pada driver
"Tidak apa-apa pak, tidak perlu. Ini juga terlalu banyak." tolak driver Ojol
"Gak apa, silahkan. Sekali lagi maaf ya." Langit menyelipkan uang itu di saku driver.
"Terimakasih ya, pak." driver Ojol menjalankan motornya meninggalkan rumah Langit.
"Kenapa di cancel? saya Laper banget nih pak." keluh Senja.
"Ayo!!" ajak Langit
"Lho!! anda yang nganter?" tanya Senja
Langit diam, Senja mengekor dibelakang Langit menuju mobil.
Langit menjalankan mobilnya. Seperti biasanya, ia diam seribu bahasa. Senja pun juga diam, karena ia tak berani mengungkapkan keinginannya ingin pergi kemana.
Tapi lama kelamaan Senja mengenal arah jalan yang dilalui Langit. sangat tidak asing untuknya. hingga akhirnya mobil Langit berhenti di parkiran warung Angkringan langganan Senja.
"Kok tau saya mau kesini?" tanya Senja.
"gue paham banget kalo duit lo kan cuma cukup buat makan kaya ginian." jawab Langit.
Senja manyun, nyesel dia tadi tanya.
"Maaf pak, bukannya tadi anda bilang sudah makan?" tanya Senja ketika melihat Langit mengambil lauk-lauk.
"Terserah gue lah, perut perut gue. Lagian kan ini gratis, siapa juga yang bakal nolak dikasih gratisan." jawab Langit.
"Gratis???" Senja mengulang.
"Lo yang traktir kan??" tanya Langit. "Sudah pak, saya ini saja." Langit memberikan sepiring lauk pilihannya, kemudian dia mencari tempat kosong untuk duduk.
Setelah Senja memilih, ia juga menyusul Langit. Ia sedikit kesusahan untuk duduk lesehan. akhirnya Langit berdiri, membantu memegangi bahu Senja dan meminjamkan tangannya sebagai tumpuan.
"Terimakasih." ucap Senja.
Tak ada pembicaraan Lagi, walaupun Senja ingin membuka pembicaraan tapi dia merasa canggung.
"Apa Lo dah puas si brengsek itu sudah pergi?" tanya Langit membuka pembicaraan.
Senja mengangguk, "terimakasih sekali, pak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nama baik saya kalau saja video tersebut tidak muncul."
"Dan elo balas budi cuma dengan traktir gue beginian??" tanya Langit.
"Tapi kan saya bukan orang kaya pak." keluh Senja. "Emangnya anda mau apa? jika saya mampu dan sanggup akan saya lakukan."
"Gue pikir-pikir dulu, kalo udah nemu bakal gue kasih tau lo. Awas aja kalo gak bisa lo kabulin." ancam Langit.
"Gaji saya cuma sedikit pak, tolong jangan minta yang aneh-aneh." kata Senja.
"Tergantung." kata Langit
"Emmm... apa pak Rico benar-benar akan dipecat pak?" tanya Senja.
Langit mengangguk, "Bahkan dia tidak akan bisa bekerja di perusahaan manapun." kata Langit
Obrolan mereka terhenti ketika makanan pesanan mereka datang. mereka makan dengan tenang, hanya sesekali mengobrol ringan.
Tak berlama-lama mereka disana. Setelah selesai semua, Senja membayar makanannya dan kembali ke mobil menyusul Langit.
Perlahan ia duduk di mobil, memposisikan kakinya agar aman tak tersenggol apapun.
Senja menarik seatbelt, namun macet.
"Kok gak bisa sih" gerutu Senja, menarik-narik seatbeltnya.
"Ya jangan ditarik tarik gitu juga kali!!"
"Tapi kan... "
Cup
Ketika Senja menoleh kearah Langit, yang ia dapatkan malah rasa lembut dibibirnya, sedikit basah. Ia dapat dengan jelas mencium aroma sabun dan sampoo Langit. Kini bibirnya dan bibir Langit saling bersentuhan.
"prit prit"
Suara peluit tukang parkir yang sudah siap memandu mobil Langit keluar dari tempat parkir menyadarkan Senja dan Langit, membuat mereka langsung saling menjauh.
Jantung Senja berdegub tak karuan, tangannya gemetar karena sangking terkejutnya. Langit juga masih diam, kedua tangannya memegang erat setir mobilnya.
"Prit prit" tukang parkir dibelakang memberikan kode lagi agar Langit Segera memundurkan mobilnya.
Akhirnya Langit menyalakan mobilnya, mulai mundur dan melajukan mobilnya.
Tak ada pembicaraan antara Senja dan Langit, bahkan tangan Senja masih melekat di seatbelt. Ini bukan yang pertama bagi Senja, tapi tetap Saja membuat detak jantungnya tak kembali normal.
Sesampainya dirumah, Langit dan Senja juga tak bertegur sapa. Senja langsung tidur di sofa, sedangkan Langit merebahkan diri ditempat tidur.
-bersambung-
aku sih yes SM langit
jgn² di suruh si lea muncul ini