Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Kedatangan Hubble
# Bab 5 — Kedatangan Hubble
**POV: Hubble Telesta**
---
Pesawat itu mendarat dengan mulus di lapangan berumput di balik bukit. Aku duduk di kursi depan, menatap ke luar jendela. Desa kecil di bawah sana tampak damai—lampu-lampu mulai menyala, asap dapur mengepul dari cerobong, dan suara jangkrik terdengar samar-samar.
Tapi aku tidak tertipu oleh kedamaian itu.
"Kita sudah sampai, Ketua," suara Karmas dari belakang. Ia adalah wakilku, seorang pria tua dengan janggut putih yang sudah malang melintang di dunia psikis selama empat dekade. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang masih aku percaya.
Aku mengangguk. "Turunkan tim. Aku ingin laporan dalam satu jam."
Pintu pesawat terbuka. Udara malam yang sejuk menyapu wajahku. Aku turun pertama, diikuti oleh Karmas, Tigap 1, Bagus, dan Psikis Ksatria—lima orang terbaik yang kumiliki.
Desa ini kecil. Terlalu kecil untuk menyembunyikan apa pun. Tapi dari data yang kuterima, anomali energi yang tercatat di sini sangat besar—cukup besar untuk menarik perhatian Markas Pusat.
Dan cukup besar untuk membuatku kembali dihantui masa lalu.
---
Aku berjalan sendirian di pinggir desa. Lampu senter di tanganku menyinari jalan setapak yang becek. Di kejauhan, aku bisa melihat bekas-bekas kerusakan—tiang listrik yang menghitam, tanah yang hangus di beberapa tempat. Jejak energi yang tidak biasa.
Aku berhenti di dekat sebuah tiang listrik. Di permukaan betonnya, ada bekas gosong berbentuk tangan. Tangan manusia.
Aku menyentuhnya. Masih terasa hangat.
*Anak ini... apa yang sedang ia lakukan?*
"Ketua." Suara Karmas dari belakang membuatku menoleh. "Kami sudah menemukan sumbernya."
"Siapa?"
"Seorang anak SMA. Namanya Reiki Shield Eistein. Pindahan dari kota beberapa bulan lalu."
Aku mengerutkan dahi. "Anak SMA?"
"Usia enam belas tahun. Tinggal bersama pamannya. Tidak ada catatan psikis sebelumnya."
Tidak ada catatan. Artinya, ia tidak terdaftar di Markas. Psikis liar.
Atau sesuatu yang lain.
"Aku ingin bertemu dengannya," kataku.
"Sudah kuduga." Karmas tersenyum tipis. "Tigap 1 sedang melacak keberadaannya."
Aku mengangguk. "Bawa aku ke sana."
---
Kami menemukannya di sebuah gudang tua di pinggir desa. Bukan tempat yang layak untuk seorang anak seusianya. Tapi di dalam, ada tiga orang: Reiki, seorang gadis dengan mantel krem, dan seorang remaja laki-laki lain yang kukenal sebagai KSAN—anak pejabat desa.
Aku masuk tanpa mengetuk.
"Reiki Shield Eistein?"
Anak itu menatapku. Matanya ungu. Wajahnya masih muda, masih polos. Tapi di balik itu, aku bisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Siapa Anda?" tanyanya.
"Namaku Hubble Telesta. Aku dari Markas Psikis Pusat."
Gadis mantel krem itu bergerak, berdiri di antara aku dan Reiki. "Apa urusan Markas dengan anak SMA?"
Aku menatapnya. "Siapa kau?"
"Hime Hafitis. Aku... peneliti independen."
Peneliti independen. Istilah yang sering dipakai oleh psikis yang tidak ingin terikat dengan Markas. Atau oleh mereka yang menyembunyikan sesuatu.
"Kami menerima laporan tentang anomali energi besar di desa ini," kataku, masih menatap Hime. "Dan kami menemukan anak ini di pusatnya."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Reiki. Suaranya terdengar jujur. "Aku hanya... menyentuh tiang listrik, dan tiba-tiba semuanya gelap."
Aku menatapnya. Matanya tidak berbohong. Tapi itu tidak berarti ia tidak berbahaya.
"Kau psikis," kataku. "Kau tahu itu?"
Reiki menggeleng. "Baru tahu kemarin."
"Dan kau tidak tahu bagaimana cara mengendalikan kekuatanmu?"
"Tidak."
Aku menghela napas. Ini rumit. Anak ini tidak tahu apa-apa, tapi kekuatannya sudah cukup besar untuk memadamkan listrik satu desa. Jika ia tidak segera belajar mengendalikannya, ia bisa menjadi ancaman.
"Kau harus ikut denganku," kataku.
"Apa?" Hime melangkah maju. "Kau tidak bisa membawanya begitu saja."
"Aku bisa. Atas nama Markas Psikis Pusat, aku berwenang untuk mengamankan psikis liar yang membahayakan masyarakat."
"Dia tidak membahayakan siapa pun!"
"Dia memadamkan listrik satu desa, Nona Hafitis. Itu sudah cukup untuk dikategorikan sebagai ancaman."
Hime ingin membantah, tapi Reiki mengangkat tangannya. "Tunggu."
Semua mata tertuju padanya.
"Aku ikut," katanya. "Tapi dengan satu syarat: Hime ikut denganku."
Aku menatapnya. Keberanian yang tidak biasa untuk anak seusianya.
"Kau dalam posisi tidak punya tawar-menawar, Nak."
"Mungkin. Tapi kau datang ke sini karena kau ingin tahu tentang kemampuanku, kan? Tanpa aku, kau tidak punya apa-apa."
Aku tersenyum tipis. Anak ini pintar. Atau nekat.
"Baik," kataku akhirnya. "Kalian berdua boleh ikut. Tapi kuperingatkan: jika ada masalah, aku tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas."
---
Malam itu, kami kembali ke pesawat. Reiki dan Hime duduk di kursi belakang, diam. Aku duduk di depan, menatap ke luar jendela.
Pikiranku tidak tenang.
Sejak pertama kali melihat Reiki, ada sesuatu yang menggangguku. Sesuatu pada auranya. Pada matanya. Pada caranya berdiri.
Itu mengingatkanku pada malam itu. Malam 36 tahun lalu.
*Aku masih berusia dua tahun saat itu. Aku bersembunyi di balik lemari\, mendengar teriakan\, ledakan\, dan suara sesuatu yang jatuh. Lalu aku melihatnya—cahaya biru terang di luar jendela. Dan seorang pria dengan mata bercahaya\, berdiri di tengah reruntuhan\, dikelilingi mayat.*
*Dewa Psikis.*
*Pembantai keluarganya.*
Aku menggenggam kursi erat-erat. Tanganku gemetar.
"Ketua?" suara Karmas dari sampingku. "Kau baik-baik saja?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku baik-baik saja."
Tapi aku tidak baik-baik saja. Karena ketika aku menatap Reiki, aku tidak melihat anak SMA biasa. Aku melihat bayangan dari masa lalu yang tidak pernah bisa aku lupakan.
---
Pagi berikutnya, aku menginterogasi Reiki di ruang tengah pesawat. Hime duduk di sampingnya, mengawasi setiap gerakanku.
"Ceritakan apa yang terjadi," kataku.
Reiki menceritakan semuanya—tentang badai, tentang tiang listrik, tentang perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya. Ia berbicara dengan jujur, tanpa menyembunyikan apa pun.
Tapi ada satu hal yang membuatku curiga.
"Kau bilang kau tidak tahu apa-apa tentang psikis sebelum kemarin?"
"Benar."
"Tapi kau bisa menyerap energi listrik secara insting. Itu bukan kemampuan level rendah."
Reiki mengangkat bahu. "Aku tidak tahu harus bilang apa."
Aku menatapnya lama. Mencari kebohongan. Tapi tidak ada.
Mungkin ia benar-benar tidak tahu.
Atau mungkin ia adalah pembohong yang sangat baik.
"Kau akan tinggal di sini untuk sementara," kataku. "Sampai kami bisa memastikan bahwa kau tidak berbahaya."
"Berapa lama?"
"Tergantung."
Reiki menghela napas, tapi tidak membantah. Hime menatapku dengan tatapan tajam, tapi juga diam.
Mereka tahu mereka tidak punya pilihan.
---
Malam itu, aku duduk sendirian di kabin pribadiku. Di tanganku, ada foto lama—satu-satunya foto yang tersisa dari keluarganya. Sebuah keluarga yang tersenyum, yang tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir mereka.
Aku menatap foto itu lama. Lalu aku menyimpannya dan meraih laporan tentang Reiki.
*Reiki Shield Eistein. 16 tahun. Psikis level tidak diketahui. Kemampuan: penyerapan energi.*
Tidak ada catatan tentang orang tuanya. Tidak ada catatan tentang masa lalunya sebelum pindah ke desa ini. Seperti ia muncul begitu saja.
Atau seperti ia sengaja disembunyikan.
Aku menutup laporan dan menatap ke luar jendela. Bulan bersinar terang di atas desa kecil itu.
*Siapa kau sebenarnya\, Reiki Shield Eistein?*
*Dan kenapa kau mengingatkanku pada iblis yang menghancurkan hidupku?*
---
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menguji Reiki. Bukan dengan cara yang keras—hanya dengan membiarkannya berada di dekat perangkat-perangkat elektronik di pesawat, untuk melihat bagaimana reaksinya.
Hasilnya mengejutkan.
Setiap kali Reiki berada dalam radius satu meter dari perangkat elektronik, perangkat itu mulai berfluktuasi. Layar berkedip. Suara mendengung. Seperti ada sesuatu yang menarik energi dari perangkat itu.
Aku mencatat semuanya. Lalu aku memanggil Karmas.
"Ini tidak normal," kataku. "Bahkan Psikis Keajaiban tidak bisa memengaruhi perangkat elektronik tanpa menyentuhnya."
Karmas mengangguk. "Aku tahu. Itu sebabnya aku pikir kita harus melaporkan ini ke Markas."
"Belum. Aku ingin tahu lebih dulu apa sebenarnya anak ini."
"Ketua..." Karmas menatapku dengan tatapan iba. "Kau tahu ini bisa berbahaya. Jika ia benar-benar seperti yang kau pikirkan..."
"Aku tahu." Aku memotongnya. "Tapi aku harus tahu."
Karmas menghela napas, tapi tidak membantah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat denganku.
Aku berjalan menuju ruang tengah, di mana Reiki duduk sendirian. Hime sedang di luar, berbicara dengan KSAN.
"Hei," sapaku.
Reiki menatapku. "Ada perlu?"
Aku duduk di seberangnya. "Aku ingin bicara."
"Tentang apa?"
Tentang masa lalumu. Tentang siapa dirimu sebenarnya. Tentang kenapa kau membuatku merasa seperti ini.
Tapi aku tidak bisa mengatakan itu.
"Tentang masa depanmu," kataku akhirnya. "Kau tidak bisa terus seperti ini. Kau perlu belajar mengendalikan kekuatanmu."
"Aku tahu. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Aku bisa membantumu."
Reiki menatapku dengan curiga. "Kenapa kau mau membantu?"
Karena jika kau benar-benar reinkarnasi Dewa Psikis, aku ingin mengawasimu dari dekat. Aku ingin memastikan bahwa kau tidak menjadi seperti dia.
Tapi aku tidak bisa mengatakan itu.
"Karena itu tugasku," jawabku datar.
Reiki diam sejenak. Lalu ia mengangguk. "Baik. Aku mau belajar."
Dan dengan itu, aku memulai sesuatu yang tidak pernah kuduga: melatih anak yang mungkin adalah reinkarnasi dari iblis yang membantai keluarganya.
---
Sesi latihan pertama berlangsung di ruang tengah pesawat. Aku duduk di seberang Reiki, mengamati setiap gerakannya. Ia tampak gugup—wajar untuk anak seusianya yang baru tahu tentang kekuatannya.
"Pertama," aku memulai, "aku perlu tahu seberapa jauh kemampuanmu."
"Bagaimana caranya?"
"Coba serap energi dari perangkat ini." Aku meletakkan sebuah baterai portabel di depannya. "Tapi jangan terlalu banyak. Cukup sedikit."
Reiki menatap baterai itu ragu. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaannya. Tidak terjadi apa-apa.
"Aku tidak merasakan apa-apa," katanya.
"Kau harus fokus. Bayangkan energi itu mengalir ke dalam dirimu."
Ia memejamkan mata. Aku bisa melihat otot-otot di rahangnya menegang. Lalu—perlahan—baterai itu mulai berkedip. Layar indikatornya menyala redup, lalu padam.
"Berhenti!" perintahku.
Reiki membuka mata. Napasnya tersengal. "Berhasil?"
Aku mengambil baterai itu. Kosong. Energinya habis terserap dalam hitungan detik.
"Berhasil," jawabku. "Terlalu berhasil."
Aku menyimpan baterai itu dan mencatat sesuatu di buku kecilku. Kemampuan penyerapan yang cepat. Ini tidak normal untuk psikis pemula.
"Sekarang coba yang ini." Aku mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna gelap. "Ini adalah kristal penyimpan energi psikis. Coba rasakan apa yang ada di dalamnya."
Reiki mengambil batu itu. Ia menutup mata lagi. Kali ini, reaksinya berbeda. Ia tersentak, hampir menjatuhkan batu itu.
"Ada sesuatu di dalamnya," katanya. "Sesuatu yang... hidup."
"Itu adalah energi psikis. Energi dari psikis lain yang sudah mati."
Reiki menatapku dengan ngeri. "Ini... ini energi orang mati?"
"Kami menyimpannya untuk penelitian. Tapi kau bisa merasakannya, kan?"
Ia mengangguk pelan. "Seperti bisikan. Banyak bisikan."
Aku mencatat lagi. Kemampuan merasakan energi psikis dari benda mati. Ini adalah kemampuan level tinggi. Level yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak SMA biasa.
*Siapa kau sebenarnya\, Reiki?*
---
Malam harinya, aku duduk di kabin pribadiku, memeriksa data yang kukumpulkan. Karmas masuk tanpa mengetuk.
"Ketua, ada yang perlu kau lihat."
Ia menyerahkan sebuah tablet. Di layarnya, ada laporan dari Markas Pusat tentang anomali energi di desa ini. Tapi ada sesuatu yang aneh—laporan itu sudah ditandai sebagai "rahasia" dan hanya bisa diakses oleh level otoritas tertinggi.
"Kenapa Markas merahasiakan ini?" tanyaku.
Karmas menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ada yang lebih aneh lagi."
Ia menggeser layar, menampilkan foto seorang wanita. Wanita muda dengan rambut hitam panjang dan kacamata di mata kanannya.
"Hime Hafitis," kata Karmas. "Aku mencari datanya di database Markas. Tidak ada."
"Tidak ada?"
"Kosong. Seperti ia tidak pernah ada."
Aku mengerutkan dahi. "Mungkin ia psikis liar."
"Mungkin. Tapi psikis liar biasanya punya catatan kriminal atau setidaknya laporan pengamatan. Dia tidak punya apa-apa."
Aku menatap foto itu. Wanita ini muncul bersamaan dengan Reiki. Ia tahu tentang psikis. Ia melindungi Reiki. Tapi tidak ada catatan tentangnya.
*Siapa kau\, Hime Hafitis?*
"Lacak dia," perintahku. "Aku ingin tahu dari mana asalnya, apa yang ia lakukan, dan kenapa ia ada di sini."
Karmas mengangguk. "Akan kulakukan."
Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. "Ketua..."
"Apa?"
"Kau yakin ini keputusan yang benar? Membawa anak itu ke sini?"
Aku diam sejenak. "Aku tidak yakin. Tapi aku harus tahu."
"Tahu apa?"
Aku menatap ke luar jendela. Bulan bersinar terang di atas desa kecil itu.
"Tahu apakah ia ancaman... atau sesuatu yang lain."
---
Keesokan harinya, aku memanggil Reiki untuk sesi latihan kedua. Kali ini, aku ingin menguji batas kemampuannya.
"Hari ini kita akan coba sesuatu yang berbeda," kataku. "Aku ingin kau menyerap energi dari sumber yang lebih besar."
"Seperti apa?"
Aku menunjuk ke arah generator pesawat. "Mesin utama pesawat ini menghasilkan energi yang cukup untuk menerangi setengah desa. Aku ingin kau mencoba menyerap sebagian darinya."
Reiki menatapku seolah aku gila. "Kau serius?"
"Aku tidak pernah bercanda soal latihan."
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. Aku membawanya ke ruang mesin. Di sana, generator berdengung dengan suara rendah yang bergetar di seluruh ruangan.
"Letakkan tanganmu di sini," kataku, menunjuk ke panel utama. "Dan lakukan seperti yang kau lakukan dengan baterai kemarin."
Reiki meletakkan tangannya di panel. Ia memejamkan mata. Aku bisa melihat otot-otot di rahangnya menegang.
Tidak terjadi apa-apa.
"Aku tidak bisa," katanya. "Terlalu besar. Aku tidak bisa mengendalikannya."
"Coba lagi. Fokus."
Ia mencoba lagi. Kali ini, generator mulai bergetar lebih keras. Lampu-lampu di ruangan berkedip. Tapi Reiki tiba-tiba menarik tangannya, terhuyung mundur.
"Aku tidak bisa," katanya, napasnya tersengal. "Rasanya seperti... seperti aku akan tenggelam."
Aku mencatat. Kemampuan penyerapan yang kuat, tapi tidak stabil. Ia bisa menyerap dari sumber kecil dengan mudah, tapi sumber besar masih terlalu berat untuknya.
"Kau butuh latihan lebih banyak," kataku. "Tapi ini sudah cukup untuk hari ini."
Reiki mengangguk, masih terengah-engah. Ia duduk di lantai, menunduk.
"Hei," kataku. "Kau melakukannya dengan baik."
Ia menatapku. "Aku hampir kehilangan kendali."
"Tapi kau tidak kehilangan. Itu yang penting."
Ia tersenyum tipis. Senyum yang lelah. Tapi ada sesuatu di matanya—tekad.
---
Sore harinya, Karmas kembali dengan laporan.
"Aku tidak menemukan apa-apa tentang Hime Hafitis," katanya. "Tapi aku menemukan sesuatu yang aneh."
Ia menyerahkan tablet. Di layarnya, ada foto satelit dari desa ini. Tanggalnya tiga hari yang lalu. Di foto itu, tidak ada pesawat. Tidak ada gudang. Tidak ada apa pun.
"Apa maksudnya?"
"Foto ini diambil tiga hari sebelum anomali energi terjadi. Tapi lihat di sini." Ia menunjuk ke sebuah titik di pinggir desa. "Ada jejak energi yang tidak biasa. Polanya mirip dengan... lompatan waktu."
Aku menatapnya. "Lompatan waktu?"
"Aku tidak yakin. Tapi pola ini pernah kulihat dalam catatan kuno Markas. Pola yang ditinggalkan oleh mesin waktu."
Aku mengerutkan dahi. Mesin waktu? Itu hanya legenda. Tidak ada bukti bahwa mesin waktu benar-benar ada.
Tapi Karmas tidak pernah bercanda soal hal seperti ini.
"Kau yakin?"
"Tidak. Tapi aku pikir kita harus mempertimbangkan kemungkinan itu."
Aku menatap foto itu lagi. Jejak energi di pinggir desa. Pola yang mirip dengan lompatan waktu.
*Hime Hafitis. Siapa kau sebenarnya?*
---
Malam harinya, aku memutuskan untuk berbicara dengan Hime secara langsung. Aku menemukannya di dekat gudang, duduk sendirian di bawah pohon.
"Boleh aku duduk?"
Ia menatapku, lalu mengangguk.
Aku duduk di sampingnya. Beberapa saat kami diam, menatap bintang.
"Kau tahu," aku memulai, "ada sesuatu yang aneh tentangmu."
"Aneh bagaimana?"
"Kau muncul di desa ini tepat sebelum anomali energi terjadi. Kau tahu tentang psikis. Kau melindungi Reiki. Tapi tidak ada catatan tentangmu di Markas."
Hime tidak menjawab.
"Siapa kau sebenarnya, Hime Hafitis?"
Ia menatapku. Matanya—biru terang itu—menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak nyaman.
"Apa kau percaya pada takdir?" tanyanya.
"Tidak."
"Aku juga tidak. Tapi kadang, takdir memaksamu untuk percaya."
Ia berdiri, menepuk debu dari mantelnya.
"Aku di sini karena suatu alasan, Hubble. Dan alasan itu bukan untuk menyakitimu atau Reiki. Tapi aku tidak bisa memberitahumu lebih dari itu."
"Kenapa tidak?"
"Karena jika aku memberitahumu, kau mungkin tidak akan percaya. Atau kau akan mencoba menghentikanku."
Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkanku sendirian di bawah pohon.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Wanita ini menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang besar.
Dan aku harus mencari tahu apa itu.
---
Keesokan harinya, aku memanggil Karmas dan Tigap 1 untuk rapat darurat.
"Kita akan tinggal di sini lebih lama dari yang direncanakan," kataku. "Aku ingin menyelidiki Hime Hafitis lebih dalam. Dan aku ingin melatih Reiki."
"Ketua," kata Tigap 1, "apa kau yakin ini keputusan yang bijak? Markas mungkin akan curiga jika kita terlalu lama di sini."
"Biarkan mereka curiga. Aku punya wewenang untuk memperpanjang misi."
Karmas mengangguk. "Baik. Aku akan mulai menyelidiki latar belakang Hime."
"Dan aku akan terus melatih Reiki. Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuannya."
Rapat selesai. Aku berjalan menuju ruang tengah, di mana Reiki sedang duduk sendirian.
"Siap untuk sesi berikutnya?" tanyaku.
Ia menatapku. Di matanya, aku melihat tekad yang tidak biasa untuk anak seusianya.
"Siap."
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—anak ini bukanlah ancaman.
Tapi aku masih belum yakin.
---
**— Bersambung —**