Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 26
Krystal tidak pernah tahu jika berharap akan sesakit ini. Ribuan batu tak kasat malah seolah berlomba-lomba menghantam dadanya, hingga kini, rasa sesak itu begitu terasa.
Kuat, dalam dan menyakitkan.
Sungguh, niatnya kembali menginjakkan kaki di rumah ini semata-mata hanya ingin bertemu dengan pria yang dari dulu ia panggil dengan sebutan papa. Sekedar ingin tahu apa yang membuat papanya memanggilnya datang kemari hingga mengancam jika saja Krystal tidak memenuhi panggilannya.
Kedua kaki Krystal masih terpaku ketika dua orang berbeda gender itu berdiri dengan wajah kaget—mulai mengambil langkah mendekat kepadanya.
"Tal ...." Krystal tersentak, panggilan Bagus mengembalikan pijakannya pada bumi. Mengangkat pandangan, Krystal melempar senyum lirih pada cowok itu lalu memungut tasnya.
"Bo-bokap gue mana?" tanya Krystal dengan mata yang tertuju pada Dita—berusaha sekuat mungkin agar matanya tidak jatuh pada Bagus.
"Ka-kayaknya belum pulang dari kantor, Kak." Dita ikut gugup. Aurah yang tercipta antara Bagus dan Krystal begitu dingin membangunkan bulu kuduknya.
Ber-oh ria, Krystal mengambil langkah untuk berbalik namun cekalan tangan kasar di lengannya membuat ia urung. Matanya terpejam, menikmati rasa ngilu yang merambat ke dadanya ketika suara lirih Bagus kembali terdengar.
Harus bagaimana Krystal bersikap?
Haruskah ia kembali pada posisi orang jahat? Di mana Bagus akan terus meminta maaf dan ia yang mengabaikan?
Atau malah jadi cewek bodoh yang akan berkata 'gue gakpapa kok'?
"Tal ... gue mau ng-ngomong sama lo. Plis ...."
Dita berbalik meninggalkan keduanya di ruang tamu. Cukup tahu diri jika Bagus dan Kryatal butuh ruang untuk berdua.
"Gue mohon, Tal ...."
Menghela napas, Krystal menurunkan cekalan Bagus dari lengannya kemudian menghadap cowok itu. "Mau ngomong apa?" walau raut wajah cantik itu begitu dingin, Bagus masih bisa mendengar nada bergetar di setiap kata Krystal.
"Gue-"
"Lo mau ngomong kalau ternyata lo deketin gue cuma karna dare?" Krystal mengangkat alis setelahnya. "Gak usah. Gue udah denger sendiri."
"Bukan gitu, Tal. Tap-"
"Udahlah, Gus. Lupain aja, anggap lo sama gue gak pernah saling kenal. Dari awal kita udah asing, dan sampai sekarang pun kita masih tetap dua orang yang asing."
Krystal tidak mau lagi mendengar kata-kata Bagus yang kapan saja pasti bisa meruntuhkan pertahanannya. Itu sebabnya, Krystal lebih memilih cepat-cepat keluar dari pintu rumah. Pergi sejauh mungkin yang ia bisa.
Namun, semua harapannya sirna ketika Bagus mengejarnya kemudian kembali menahan tangannya saat Krystal berhasil melewati pintu.
"Gue tau gue salah, Tal. Tapi plis ... kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya. Biar lo gak salah paham." Raut wajah Bagus memelas. Memohon begitu sangat agar Krystal sudi mendengar penjelasannya—walau Bagus tahu Krystal pasti tidak akan peduli.
"Yaudah, jelasin." Sikap santai Krystal justru semakin membuat Bagus merasa tidak enak. Rasa bersalah begitu besar mendera dirinya.
"Tapi jangan di sin-"
"Sepuluh menit, gue tunggu lo jelasin semuanya. Sekarang!" sela Krystal penuh penekanan yang mana membuat Bagus menghela napas lalu mengusap kasar wajahnya. Frustasi.
Dua bulan bersama Krystal, ia masih tetap tidak bisa membaca ekspresi cewek itu. Tidak bisa mengerti mau Krystal.
Benar kata Krystal, dari awal mereka hanyalah dua orang asing. Dan sampai sekarang pun mereka masih asing.
Bagus mulai menjelaskan semuanya. Dari awal keisengan teman-temannya pada permainan Truth Or Dare. Tantangan yang diberikan padanya hingga semua kesepakatan bahwa Bagus akan meninggalkan Krystal ketika cewek itu mulai baper padanya.
Sakit tapi tak berdarah.
Empat kata yang mewakili perasaan Krystal saat ini. Hatinya seolah diremas keras. Kemudian dibuang ke tempat antah-berantah.
Tidak dihargai.
Kenapa Bagus dan teman-teman cowok itu begitu gampang memberi tantangan?
Tantangan yang seolah-olah Krystal dan perasaannya hanyalah sebuah sampah yang tak berharga. Habis dipakai, buang!
Krystal menengadahkan wajah sekilas dengan helaan napas sesak. Menahan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Tidak, ia tidak boleh menangis di depan cowok berengsek ini.
"Udah?" kata Krystal ketika Bagus mulai diam.
Melihat respon Krystal, Bagus semakin frustasi. Ia tahu, ia tahu bahwa Krystal pasti tengah menahan diri untuk tidak memaki dirinya. Cewek itu pasti sekuat tenaga menahan sakit hatinya. Dan itu membuat Bagus nyaris gila. Ia lebih baik mendapat caci maki Krystal, pukulan bertubi-tubi Krystal bahkan ujaran kebencian dari cewek itu, daripada harus menghadapi Krystal yang dingin, datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gue gak peduli sama apa yang udah lo sepakatin sama temen-temen lo. Yang perlu lo tau, lo dan gue, mulai sekarang, gak akan terlibat apapun lagi." Krystal mengangkat tangannya ke udara ketika mulut Bagus terbuka hendak berbicara.
"Kita kembali ke awal. Di mana gue dan lo gak kenal sama sekali. Dan, ya. Gue harap karna tantangan ini, lo bisa lupain Dita. Itu, kan, tujuan utama temen-temen lo ngebuat dare itu?"
Bagus menunduk dalam diam. Diamnya cowok itu Krystal anggap sebagai jawaban bahwa pernyataannya benar. Berengsek! Cowok ini benar-benar berengsek! Kenapa juga hatinya harus berlabu pada lelaki seberengsek Bagus?
"Satu lagi ... lo pernah ngomong ke gue, kalau ada dua kata yang paling susah diucapin manusia. Maaf dan terima kasih." Bagus kembali menatap wajah Krystal, tidak menyangka cewek itu masih mengingat ucapannya di pertemuan pertama mereka di perpustakaan kala itu.
"Gue baru inget, kalau selama ini gue gak pernah ngomong maaf dan makasih sama lo," sambung Krystal, menatap sekilas ujung sepatunya lalu tersenyum pada Bagus yang semakin dibuat kaku olehnya. "Sekarang gue mau ngomong itu ke elo."
"Makasih. Makasih udah kuatin persepsi gue kalau di dunia ini emang bener-bener gak ada yang tulus sama gue." Menghela napas lebih dulu untuk mengusir rasa sesak yang semakin dalam, Krystal lalu melanjutkan, "dan maaf. Maaf karna gue udah lancang berharap lebih sama lo, Gus."
Setelahnya, Krystal benar-benar pergi. Melewati gerbang lalu menaiki taksi dan menghilang dari radar Bagus.
Menyisakan cowok gondrong itu yang hanya bisa berdiri di antara keterkejutannya akan kalimat terkahir Krystal. Dan juga, seorang Dita yang mengintip mereka dari jendela kamar atas.
####
Kadang kala, Krystal tidak pernah bisa menahan emosinya di saat-saat tertentu. Misal seperti dulu melihat mamanya memohon-mohon di depan papanya. Krystal bahkan tidak bisa untuk sekedar melirik mamanya saat itu. Rasanya begitu sakit saat melihat orang yang paling berharga untukmu, dicampakkan dengan tidak berperasaan oleh orang-orang yang kau sebut keluarga.
Dan sekarang, Krystal kembali merasakan rasa sakit itu. Bahkan lebih sakit. Lebih nyeri dan lebih sesak untuknya. Hatinya kecewa mendengar pernyataan Bagus. Orang yang sudah masuk ke daftar orang yang ia percayai, ternyata sudah menghianati hatinya. Bahkan sejak awal pertemuan mereka.
Sebenarnya ... siapa yang salah? Bagus yang berengsek? Atau Krystal yang bodoh?
Jika ditelaah lebih dalam lagi, Krystal-lah yang bodoh. Bukankah selama ini ia sudah banyak mendapat pengkhianatan dalam hidupnya? Lalu kenapa ia bisa begitu mudah mempercayai Bagus yang berengsek? Bahkan mempercayakan hatinya pada cowok itu. Ah, tidak. Bagus tidak berengsek. Karena sejatinya lelaki memang selalu punya alasan untuk mendekati perempuan. Bedanya, Bagus bukan mendekati Krystal karena alasan suka atau tertarik, melainkan hanya untuk menuntaskan dare-nya.
Krystal terisak. Mungkin, di depan Bagus ia masih bisa menampakkan wajah dingin. Ia masih bisa tersenyum, namun, siapa yang tahu dalam hatinya?
Kali ini, Krystal tidak ingin menahan-nahan lagi. Semua rasa sesak yang mencokol dalam dirinya ia keluarkan dengan tangisan keras di kamar apartemennya. Persetan suaranya akan serak dan matanya akan membengkak. Ia butuh pelampiasan sekarang.
"Kenapa lo sejahat ini, Gus? Kenapa harus gue yang lo jadiin mainan?" Ia kembali terisak, meringkuk memeluk lututnya di atas kasur. Air matanya mengalir ke sudut mata hingga jatuh membasahi bantal putihnya.
"Gue salah apa sama lo? Kenapa lo setega ini?"
Jika diingat-ingat, Krystal tidak pernah bertingkah berlebihan di dekat Bagus. Ia hanya sekedar menunjukkan penolakan jika sebenarnya ia tidak ingin berteman dengan siapapun. Termasuk seorang Bagus Baskara. Namun melihat kegigihan cowok itu mendekatinya, Krystal perlahan luluh. Tidak lagi menunjukkan sikap penolakan.
"Krystal bodoh! Harusnya lo belajar dari pengalaman! Lo udah dikhianati banyak orang, masih aja percaya!" Krystal tertawa sumbang. Menertawakan kebodohan dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, ia harus bagaimana lagi?
Bersikap biasa saja seolah apa yang terjadi di antara ia dan Bagus hanyalah mimpi buruk? Tidak! Krystal tidak bisa. Bicaranya saja yang menyuruh Bagus untuk demikian padahal ia sendiri tidak mampu.
Hatinya sudah terlalu jauh jatuh pada seorang Bagus hingga mengabaikan cowok itu semenit saja sangat berat untuknya.
"Beg0! Gak ngotak! Kenapa lo harus suka sama cowok kayak gitu, Krystal!" tangannya memukul-mukul kasur—seolah yang ia pukul adalah Bagus.
Seperkian detik berikutnya, Krystal mendudukkan tubuhnya ketika pening menyerang kepalanya. Tangan kanannya mulai gemetar kecil. Dengan cepat, cewek berkaos hitam over size dipadu celana cargo coklat itu membuka laci nakas. Mengambil beberapa butir obat lalu menelannya dengan buru-buru.
Segelas air di atas nakas ia raih lalu meminumnya hingga tandas. Krystal mengusap asal bibirnya dengan punggung tangan. Napasnya memburu. Pening dikepalanya kian menghebat walaupun gemetarnya sudah berhenti.
Cewek itu memukul-mukul kepalanya. Menggumamkan kata-kata kasar menyuruh rasa sakit dan pening itu hilang dari kepalanya untuk hari ini saja.
Bisakah sehari saja ia hidup tanpa ada rasa sakit sedikitpun?
.
.
.
Huaaa... Buat yang ngarep bakal ada drama kejar-kejaran kayak serial india, monmaap ye🤣
Krystal orangnya santuy, kalau udah kelewat santuy baru dah nangis🤣
SATU KATA UNTUK KRYSTAL?
SATU KATA UNTUK BAGUS?
MENURUT KALIAN, KRYSTAL BENER-BENER MAKE GAK SIH?
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, LIKE DAN SHARE!
*saya baru nyadar kalau cerita ini jarang ada actionnya kayak di Senior, haha*
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..