NovelToon NovelToon
ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Teen Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:240k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Qiev

Althafaris Fayyadh menaruh suka pada Mahya Humaira, salah satu cicit idola keluarga besar Kusuma, selain dirinya.
Ia menduga, sikap manis Maira untuknya merupakan signal pertautan hati mereka.

Hingga suatu masa, peristiwa tragis menimpa sang pujaan hati, membuat Fayyadh berani mengutarakan niat untuk meminang Maira.

Keluarga besar dilanda Dilema.
Banyak ikatan telah tercipta selain hubungan kekerabatan. Tak ingin merusak kedekatan yang solid, akhirnya sebuah keputusan pun diambil.

Sanggupkah Maira bertahan? Apa keputusan Mahendra untuk Fayyadh? Dan mungkinkah keduanya bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. GALAU

PIK Tower, Jakarta.

Semenjak pengajuan lamaran itu menggantung, Shan kian menutup rapat pintu kamarnya. Ia hanya keluar ke kampus untuk mengajar beberapa jam lalu menyambangi pekerjaan di tempat lain. Hanya setengah hari waktu yang di perlukan putra sulung El Qavi berada di luar rumah.

Dilara berkali mengajaknya bicara namun kalimat yang keluar dari mulut sang putra hanyalah permohonan doa, juga agar ditemani dalam masa-masa membujuk Allah untuk melembutkan hati Mahendra sehingga khitbah tempo hari dikabulkan.

"Kak, Bunda ingin bicara. Jangan di kunci pintu kamarnya ya," pinta Dilara tak menyerah berusaha mencari tahu apa yang Shan lakukan, saat sang putra baru saja tiba dan menghampiri dirinya di pantry.

"Hem ... Bun buat apa? sandwich? sekalian ya, aku juga mau," ucap Shan saat melihat Bunda Dila membuat cemilan sore, biasanya jam segini si kembar sebentar lagi akan pulang.

"Seperti biasa Kak? roti dioles selai coklat dan peanut dengan sedikit susu?" tanya Dilara setelah Shan menciumi tangan juga pipinya.

"Iya. Bun, aku mandi dulu yaa biar enak ngobrolnya," balas Shan seraya berlalu.

Sepuluh menit kemudian.

Pasangan Ibu dan anak itu kini telah berada di atas ranjang king size sang putra. Kamar Shan didominasi warna dark teracotta dan broken white. Kesan teduh sekaligus maskulin masih tetap terasa, tidak banyak ornamen terpajang di dinding. Hanya sebuah foto keluarga dan dirinya di salah satu meja nakas. Simple, itulah Shan.

"Cerita donk Kak, ngapain aja di kamar? jangan terlalu berharap pada manusia, karena Allah gak suka di duakan. Kamu aja marah kalau Bunda pehapein---" ucap Dila terjeda.

"Kapan? gak pernah pehape ah, semua ucapan Bunda itu belum pernah ada yang sia-sia padaku," sangkal Shan.

"Contoh Kak. Ayo, ceritakan." Dilara masih saja mendesak agar Shan berbagi dengannya.

"Bunda tahu, selama ini kalian adalah tempatku berkeluh kesah dan sering melampiaskan kekesalan pada si kembar, meski aku sayang banget sama mereka. Sebelum melamar Maira, dia mengganggu benak dan hatiku hingga rasanya aku bagai melakukan satu dosa. Untuk itulah, ingin menyegerakan urusan ini, akan tetapi kini perasaanku resah, Bun," keluh Shan. Merebahkan kepalanya di pangkuan Dila.

"Jadi, Shan tahu kan apa obatnya?"

"Iya, dan itu yang aku lakukan. Tiada kuasa ku tanpa pertolongan-Nya. Aku mengirimkan fatihah juga mencoba khatam dalam satu pekan ini Bun, hadiah bagi Ai. Jika dia di cintai oleh Hubabah tentunya sosok Ai istimewa bukan?" jelasnya, ia tahu kabar ini dari Rey tentang team santri wanita yang setiap hari datang ke rumah Keluarga Guna untuk menghadiahkan kalam Allah bagi Maira.

"Maa sya Allah. Makin getol, pantesan. Mau kasih bil ghoib atau bin nadzor nanti kalau di loloskan? punya nadzar gak?" Dila mengingatkan agar putranya bersiap.

"Keduanya Bun, hadiah untuk Ai dalam setiap kesempatan. Nadzar jika lamaran diterima, Bunda gak suka aku masuk komunitas mobil sport kan? maka Lamborghini yang di garasi, jual aja dan uangnya untuk maslahat Ummat. Bangun masjid kek atau apa gitu," terang Shan. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang Dilara larang. Membeli mobil impian hanyalah nafsu sesaat, setelah itu konon barang mewah pembuat booster Prestige, hanya teronggok di garasi.

"Nanti di bicarakan dengan Ayah kalau tentang jual mobil. Sudah siapkan mental untuk jadi suami siaga, Sayang?" Dila membelai rambut sang putra. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, putra sulungnya akan mengemban tugas dan kewajiban baru bersama belahan jiwa.

"In sya Allah. Akan aku lakukan apa saja agar Ai sadar. Urusan hasil gimana Allah, yang penting semua upaya telah dijalankan. Bun kalau ditolak gimana?" cemas Shan.

Dilara tersenyum teringat perjuangan kala dulu membujuk Ibu Ruhama yang terang-terangan menolak rencana pernikahannya.

"Bujuk Allah saja. Jika hatimu teguh. Bunda tahu, rencana kamu hampir rampung, namun ingat satu hal ya Kak. Tidak mengapa jika semua yang kamu rancang sepanjang tahun ini belum tercapai, termasuk menikah. Mungkin masa itu masih dalam perjalanan menembus lorong waktu." Dilara masih membelai kepala Shan lembut.

"Jangan pernah menolak lupa bahwa meskipun semua tak berjalan sesuai keinginan akan tetapi banyak kebaikan yang hadir tanpa kamu rencanakan. Selalu lakukan ini ya Shan, pertama ikhlaskan dan kedua syukuri," tegas Dilara.

"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. In sya Allah Bun. Aku beruntung banget punya Bunda, sehat selalu ya moms, bantu do'akan Ai dan aku," Shan memeluk pinggang Dilara erat. Menumpahkan gelisah nya disana.

"Selalu Kak. Kamu cinta kedua Bunda setelah Ayah. Sabar, ikhlas, teguh juga lakukan semua kewajiban kamu selayaknya suami yang mempunyai istri normal ya. Hargai dan sayangi Maira karena bagaimanapun, dia prioritasmu nanti. Penuhi segala hak keluargamu lebih dulu sebelum kamu memberi hal yang sama pada kami, Ya Sayang. Gih makan dulu sandwichnya dan temui Ayah untuk meneruskan niatan nadzar kamu," pungkas Dila, mengecup dahi putra kesayangan lalu beranjak keluar kamar.

Setelah kepergian ibunda idola, Shan menyantap snack buatan tangan lembut itu. Dia menangis, begitu banyak nikmat namun masih mengharap berlebihan. "Aku pasrahkan semua padamu yaa Robb. Permudahlah urusan Ayah Mahen menghadapi keluarga besarnya sehingga jalan untukku terbuka, aamiin."

...***...

Solo.

Danarhadi juga Abah terkejut sore itu kala melihat Fayyadh menemui mereka di sana.

"Mas, kok gak bilang? bukannya belum liburan ya?" Abah menyongsong cucu kesayangan kala baru keluar dari taksi.

"Dua hari lagi pengumuman libur. Aku sudah menyelesaikan semua tugas remedial, Bah. Baru kali ini begini, makanya ke sini biar damai dulu deh," sahutnya berlalu menggandeng sang Kakek.

"Sudah bilang Abi belum, Mas?" tanya Danarhadi saat sang cicit menyalaminya.

"Uyut aja ya, please. Bukan aku menghindari beliau cuma lagi gak mau denger nasehat aja," kekehnya kemudian.

"Aneh kamu ini, nasehat kok enggan di dengarkan. Raden Mas Fayyadh sepertinya masih patah hati, gih sana istirahat," titah sang Kakek seraya memanggil Mban untuk membantu menyiapkan kamar bagi cucunya.

"Patah hati dikit. Lebih banyak malu nya karena kepedean juga belum bisa ikhlas nerima jika ada yang melamar dia setelah aku," ucap Fayyadh lagi.

"Ya gak bisa gitu. Haknya Ayah Mahen menerima siapapun lelaki sholeh yang datang untuk Maira. Kamu gimana tho?" sergah Danarhadi.

"Ckck, Uyut juga belain. Kayaknya aku salah milih tempat kabur ini," keluh sang prince Kusuma.

"Sana, wudhu lalu sholat atau ngaji biar tenang. Kalau mau disini ya gak apa asal bilang ke Abi. Abah gak mau mewakili ya Mas. Besok kalau senggang ikut ke kebun dan pendopo, refresing," pinta sang kakek sebelum cucu emas itu berlalu.

"Ok, Bah. Aku melepaskan semua kenangan pahit di mana semua ini bermula."

.

.

...________________________...

1
Sri Puryani
ternyata p glenn tetep gk mau punya mantu fayyadh, gk sadar" jg ya , anaknya pernah pergi dr rmh kok yo msh kekeh aja....
Sri Puryani
semoga maira hamil
Sri Puryani
alhamdulillah.....tuan glenn , mau memeluknya, semoga mau menerima fio lg
Sri Puryani
semoga ketemu
Sri Puryani
fay....ikut ditaaruf dong.....krm cv mu
Sri Puryani
seneng baca sdh akur shan & mas faddyah
Sri Puryani
semoga tuan glenn dpt pencerahan
Sri Puryani
bahagialah maira....kamu diratukan suamimu 💕
Sri Puryani
klo sama" 1 tujuan kenapa ai gk naik pesawat jet pribadi dgn shan sekalian?
Sri Puryani
tunggulah shan.....itu maira menanggis krn menolak kakaknya
Sri Puryani
shaann.....dewasa bgt kamu, jd nanggis nih😭😭
Sri Puryani
masya Allah......baikbgt ini cerita novelnya byk yg bs diambil utk pelajaran hdup..........mksh thor
Sri Puryani
bodyguard nya fio kenapa smpe lalai? bos nya hampir diperkosa dijalan gk tau......miris aq bc nya
Sri Puryani
alhamdulillah maira sdh siuman
Sri Puryani
baru tunangan sdh kdrt....gmn klo jd suami, laki" kyk gt kok di jadikan tumangan fio....lepasin aja
Sri Puryani
bangun ai sayang....skrg kamu sdh punya suami lho ..
Sri Puryani
terima ai /Grin/
Ummu Ayyas
MasyaaAllah terharu
Ummu Ayyas
MasyaaAllah
Ⓝⓨⓐⓘ Ⓖⓐⓑⓤⓣ: Allahumma baarik 🥰
total 1 replies
Ummu Ayyas
makanya rasul sudah menganjurkan untuk menikah yg tdk kerabat dekat walau dibolehkan karena lebih byk keburukan yg ditimbulkan drpada manfaatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!