Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kram
Mahreen membaca proposal yang diberikan pihak kampus University of Bahrain untuk mendapatkan sokongan sponsor dari dirinya sebagai pemimpin yayasan budaya negara. Usia Mahreen memang masih muda tapi dia sudah dipercaya oleh Malik karena dedikasinya untuk melestarikan budaya Bahrain.
Sebadung-badungnya Mahreen, dia tetap bertanggung jawab atas semua tugas kerajaan. Bahkan dia dikenal putri yang tegas jika berhubungan dengan kasus-kasus kecurangan dan pencurian kekayaan intelektual. Malik sudah bisa melihat sikap Mahreen sejak usia empat belas tahun saat berdebat dengan pihak plagiat karya seorang seniman disabilitas. .
Tanpa ragu, Mahreen menantang plagiator itu untuk membuat karyanya. Begitu juga dengan seniman yang asli. Hasilnya, Mahreen bisa melihat kesamaan garis dan ciri khas di lukisan yang diributkan. Mahreen menuntut si plagiator ke ranah hukum dan memberikan kredit pada seniman aslinya.
"Bagaimana Princess?" tanya Urla sementara Collin duduk di kursi yang ada di sudut sambil membuka iPad nya untuk mencatat jadwal Mahreen hingga dua Minggu ke depan.
"Proposal oke, permintaan biaya sponsor masuk akal. Oke, kamu minta ketua panitia dan dosen yang bertanggungjawab di acara ini untuk datang ke ruang kerja aku besok pagi jam sembilan pagi. Kita bicarakan acara ini," jawab Mahreen.
"Baik Princess. Akan saya sampaikan," senyum Urla.
"Oh sekalian aku juga mau mempromosikan karya yang terbaik dan bisa dimasukkan ke dalam rencana pameran tahun depan," ucap Mahreen lagi.
"Baik Princess."
Collin memperhatikan sikap dan gaya Mahreen yang berbeda dengan saat dia di Leiden. Disana Mahreen bisa menjadi dirinya sendiri. Di Manama, Mahreen bertransformasi menjadi Princess dengan segudang kegiatan yang tidak ada hentinya.
"Apa aku ada jadwal lain Urla?" tanya Mahreen.
"Sampai nanti sore, tidak ada Princess," jawab Urla.
"Bagus. Lange! Kita jalan-jalan ya! Cukup kita saja, tidak usah bawa pengawal lain!" Mahreen menoleh ke arah Collin yang duduk santai.
"Baik Princess."
***
Collin tidak menduga jika Mahreen akan berjalan-jalan dengan kemeja bewarna biru yang agak kebesaran dan celana jeans serta sepatu Converse. Rambut pirangnya dia biarkan tergerai di bawah topi baseball dan tanpa masker.
Wajahnya tampak berbinar karena bisa beristirahat sejenak dari rutinitas tugas istana. Collin sendiri juga tampil santai atas permintaan sang princess.
"Aku suka jalan-jalan. Rasanya begitu menyenangkan!" senyum Mahreen saat masuk ke dalam mobil Mini Cooper nya.
"Kita tidak naik Range Rover?" tanya Collin yang duduk di kursi pengemudi.
"Nope. Terlalu terlihat mobil istana. Kita mau santai saja, Lange." Mahreen melihat tas yang dibawanya.
"Kita kemana Princess?" Collin menstater mobil Mahreen.
"Pantai!" seru Mahreen.
Collin mendelik. "Tanpa pengawalan?"
"Kan ada kamu!" Mahreen mengelus pipi Collin. "Ayo berangkat!"
Collin menghela napas panjang. Perasaan aku tidak enak.
***
Ternyata pantai yang dimaksud Mahreen adalah pantai pribadi milik keluarga Al Khalifa. Terdapat resort ekslusif yang hanya bisa dipakai oleh keluarga kerajaan dan keluarga mereka. Setibanya di sana, para staf sudah bersiap dan Mahreen mengajak Collin untuk ke area belakang dimana pantai berpasir putih terhampar luas.
Resort itu memiliki batas yang tidak tercampur dengan pantai umum. Ada beberapa penjaga yang bertugas disana dan setidaknya Collin merasa lega karena dia tidak sendirian.
Meskipun begitu, Collin tetap waspada karena bagaimana pun, dia tahu ini tempat umum meskipun sudah dibatasi. Collin merasa bahwa unsub pasti mencari mangsa yang mana orang-orang merasa tidak terancam.
"Lange! Kamu tidak ikut berenang?" seru Mahreen saat keluar dari ruang ganti.
Collin menoleh dan mata abu-abunya agak terbelalak saat melihat Mahreen keluar hanya dengan bikini two piece. Handuk besar melingkar di bawah pinggangnya yang ramping dan dadanya ... Collin tidak menduga dada Mahreen sangat ... Indah.
Jakun Collin sedikit naik turun karena tidak menduga jika Mahreen punya body goals yang hampir sempurna.
"Woi Lange! Mata dikondisikan!" tegur Mahreen.
Gimana bisa dikondisikan? Kamu sangat indah begitu! - batin Collin.
Mahreen Al Khalifa
***
Istana Al Khalifa
"Urla. Mahreen kemana?" tanya Malik yang datang bersama dengan Jake Andrean usai bertemu dengan Mentri olahraga dan para pemain baseball Bahrain. Malik dan Milly menargetkan tim nasional baseball Bahrain bisa masuk lima besar olimpiade tahun depan.
"Princess ke pantai bersama Mr Lange. Katanya mau berenang," jawab Urla.
"Berdua? Pantai mana?" tanya Malik.
"Pantai kerajaan, Yang Mulia. Tadi saya sudah berkoordinasi dengan penjaga disana," jawab Urla.
Malik mengangguk. "Ya sudah kalau dia pergi kesana bersama Lange."
"Apa kamu yakin Mahreen baik-baik saja?" tanya Jake.
"Ada Lange. Aku percaya dia," jawab Malik.
"Seriously, Malik. Kamu terlalu percaya diri." Jake menggeleng tidak percaya bagaimana Malik begitu percayanya pada pria dingin itu.
"Aku lebih percaya Lange daripada kamu," cebik Malik membuat Jake terbahak.
"Jujur Malik, aku masih cinta Milly sampai sekarang," ucap Jake dengan percaya diri.
"Ingat Jake. Kamu sekarang di negara siapa!" balas Malik judes.
Jake semakin terbahak.
***
Mahreen berenang dengan santainya di pantai dan Collin melihat kulit gadis itu menjadi lebih Tan dari sebelumnya. Dia khawatir, kulit Mahreen akan semakin gosong dan Collin memanggilnya.
"Princess! Sudah! Ini sudah satu jam!" teriaknya membuat Mahreen menoleh.
"Sebentar lagi!" balas Mahreen.
"Princess! Nanti kamu kram!" Collin melepaskan sepatunya, jaketnya dan juga bajunya. Dia bersiap-siap jika Mahreen mengalami kram karena dulu Kayleen pernah seperti itu.
"Kamu ikut berenang saja Lange!" senyum Mahreen tapi setelahnya dia merasa kakinya kaku. Mahreem pun panik dan dia merasa akan tenggelam.
"Lange! HELP!" teriaknya.
Collin melepaskan celana panjangnya dan dia hanya memakai boxer hitam lalu bergegas berenang menghampiri Mahreen. Collin berenang secepatnya karena Mahreen semakin terlihat kesulitan berenang.
"Aku kena kram!" teriak Mahreen dengan napas tersengal saat pengawalnya datang.
"Tenang, pegang bahuku," ujar Collin.
Dengan hati-hati, Collin menopang tubuh Mahreen dan membawanya kembali ke bibir pantai. Setelah sampai di pasir, dia membantu Mahreen duduk dan mulai memijat perlahan betis yang mengalami kram.
"Masih sakit?" tanya Collin.
"Sedikit," jawab Mahreen.
Collin tetap fokus membantu meluruskan kaki Mahreen agar ototnya kembali rileks. Setelah beberapa menit, rasa sakit itu mulai berkurang.
Mahreen menatap Collin yang masih berjongkok di depannya. Rambut pria itu basah, napasnya masih berat karena baru saja berenang melawannya arus.
"Kamu baik sekali," kata Mahreen pelan.
"Saya tidak mungkin membiarkanmu sendirian di sana."
Mahreen tersenyum. Dia merasa sangat terharu karena Collin langsung menolongnya tanpa ragu sedikit pun.
Sebelum Collin sempat mengatakan apa-apa lagi, Mahreen tiba-tiba meraih bahunya dan mengecup bibirnya singkat.
Collin membeku selama beberapa detik. Mahreen langsung menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Wajahnya memerah.
"Maaf ... aku cuma ...," katanya gugup.
Collin tertawa kecil. "Itu cara yang unik untuk mengucapkan terima kasih."
Mahreen menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
"Kalau kamu terus menggodaku, aku akan menyesal sudah menyelamatkanmu," ujar Collin sambil tersenyum.
"Bohong." Mata hijau Mahreen tampak berkilau jenaka.
"Ya, memang bohong," senyumnya.
Mereka pun tertawa bersama di tepi pantai, sementara ombak terus bergulung pelan di belakang mereka. Ketegangan yang tadi sempat muncul perlahan berubah menjadi momen hangat yang tidak akan mudah mereka lupakan.
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh