Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Rindu
POV Meyra.
Aku merasa sangat senang melihat kebahagiaan di mata Lion saat bersama dengan ibu Liliana, aku merasa senang karena pada akhirnya Lion bisa berkumpul bersama dengan ibu Liliana.
Aku bisa merasakan Lion yang begitu ingin meluapkan rasa rindunya, aku bisa melihat Lion yang ingin merasakan dekapan hangat seorang ibu.
Walaupun aku merasa kesepian karena Lion lebih memilih untuk tidur bersama dengan ibu Liliana, tapi tidak ada rasa cemburu sedikit pun di dalam hatiku.
Aku akan membiarkan malam ini Lion tidur bersama dengan ibunya, aku ingin membiarkan dia merasakan bagaimana rasa bahagianya bisa berpelukan semalaman dengan ibunya.
"Selamat malam, semoga semuanya bisa lebih baik lagi saat aku kembali membuka mata," ucapku sebelum memejamkan mata.
***
Rasa hangat terasa menerpa tubuhku, mataku yang masih terasa berat terpaksa aku buka. Karena aku merasa silau, rasanya ada seberkas cahaya yang menerpa wajahku.
"Jam berapa ini?" tanyaku lirih.
Aku melihat gorden yang berada di dalam kamar tamu sudah terbuka, sepertinya sudah ada yang masuk ke dalam kamar ini. Hal itu membuat sinar matahari begitu bebas untuk menyeruak masuk ke dalam kamar yang kini aku singgahi.
Dengan perlahan aku bangun dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku, setelah itu aku turun dari tempat tidur dan segera membersihkan tubuhku.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja aku sudah merasa tubuhku sangat segar dan juga bersih, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrob saja, karena memang aku lupa tidak membawa baju ganti.
"Selalu saja ada yang terlupa jika akan menginap, lalu aku harus pakai baju apa?" tanyaku seraya duduk di depan meja rias.
Untuk baju akan aku pikirkan nanti, sekarang waktunya untuk diriku mengeringkan rambut dan memoles wajahku dengan riasan tipis.
Entah mengapa aku ingin selalu terlihat cantik di depan Lion, suamiku. Padahal dulu aku paling malas untuk berdandan, tapi sekarang aku selalu bersemangat walaupun tidak memakai riasan yang tebal.
Ceklek!
Pintu ruang tamu nampak terbuka, aku tersenyum kala melihat Lion yang berjalan menghampiriku.
Di tangan kanannya terlihat sebuah paper bag bertuliskan brand sebuah butik ternama, sepertinya tadi pagi dia membelikan baju untuk diriku. Atau mungkin ibu Liliana, aku tidak tahu.
Dia menyimpan paper bag itu di atas meja rias, lalu Lion memelukku dari belakang dan menyandarkan lagunya di atas pundakku.
Geli, itulah yang aku rasakan. Namun, pelukan Lion terasa hangat dan membuat aku nyaman. Aku memejamkan mataku, untuk sesaat menikmati pelukan dari suamiku itu.
"Yang, aku kangen. Pengen sun," ucapnya seraya menengadahkan wajahku dengan telapak tangan kekarnya
Lalu dia menunduk dan menautkan bibirnya ke bibirku, ciumannya terasa sangat lembut, hangat dan juga basah. Namun, juga terasa begitu nikmat.
Aku benar-benar menikmati tautan bibir yang Lion sungguhkan padaku, padahal baru satu malam kami tidak tidur bersama. Namun, Lion terlihat begitu merindukanku.
Bahkan saat bibir kami masih bertaut, tangan Luon terasa merambat ke depan dan meremat kedua dadaku.
"Emph!" satu lenguhan tanpa sadar lolos dari bibirku, Lion terlihat menyeringai dan melepaskan tautan bibir kami.
"Aku rindu, dari pagi aku sudah bangun tapi kamu ngga bangun-bangun. Kamu nggak lihat ini sudah pukul 10.00 kata Lion seraya menunjukkan jam yang bertengger cantik di atas dinding dengan dagunya.
Kini Lion terlihat seperti sedang merajuk, aku membalikkan tubuhku lalu kupeluk pinggang suamiku dengan erat.
Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Lion dan mengusakkan kepalaku, aku hirup aroma tubuh Lion yang begitu khas. Wangi dan menenangkan.
"Tadi malam aku susah tidur, karena sudah terbiasa tidur sama kamu. Tapi ini malah sendirian, aku lupa tidur jam berapa tadi malam. Mungkin karena itu aku bangun kesiangan," ucapku beralasan.
"Maaf, habisnya aku ingin merasakan dipeluk oleh ibu saat aku tidur. Maaf ya, Sayang. Karena aku jadi kamu jadi susah tidur," kata Lion dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku paham," ucapku.
Aku melerai pelukanku, kemudian aku mendongakkan kepalaku. Kutatap wajah tampan suamiku dan aku tarik tengkuk lehernya dengan lembut.
Karena perbuatanku, kini bibir kami kembali menyatu. Terasa melebur menjadi satu, meleleh dalam rasa yang begitu nikmat.
"Sudah, Yang. Sekarang kamu pakai baju, kita sarapan. Jangan terus bersikap seperti ini, nanti aku bisa khilaf, nanti kamu akan menyesal," kata Lion seraya mengerling nakal.
Aku langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Lion, aku sangat paham dengan apa yang dimaksud oleh Lion.
Karena jika dia sudah memintanya, pasti akan lama. Maka dari itu aku segera menuruti keinginannya, aku langsung bangun saraya membawa paper bag yang Lion sudah simpan di atas meja. Kemudian, aku berlari kecil menuju kamar mandi.
Jika saja ini di rumahku, Lion meminta beberapa kali pun aku akan menurutinya. Namun, kini kami sedang berada di rumah ibu.
Rasanya tidak mungkin jika kami harus melakukan itu, takutnya nanti ibu Liliana akan mencari. Tentu aku tidak hati.
Setelah memakai baju, aku langsung mengajak Lion untuk keluar dari kamar dan langsung pergi ke ruang makan.
Saat kami tiba di ruang makan, ternyata sudah ada ibu Liliana yang duduk dengan anteng, dia terlihat begitu senang kala melihat.
"Duduklah di samping kiri dan kanan ibu, ibu senang ada kalian," kata Liliana.
"Aku juga begitu, Bu. Sangat senang," jawab Lion.
"Sekarang kalian makanlah dulu, biar ada tenaga. Nanti sore kita akan ke bukit bunga," kata Ibu Liliana.
" Benarkah?" tanyaku antusias.
**
Selamat malam kesayangan, satu bab menemani malam santai kalian. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya. Sayang kalian semua.