Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waiting
"Aku ... aku hanya takut setelah kuserahkan hati ini, kau mencampakkanku seperti yang Jake lakukan," kataku sendu.
"Astaga ...." Dia mengusap kepalanya sendiri.
"Dear, dengar dulu. Aku tidak ingin main-main lagi. Aku ingin serius. Aku ini perempuan yang butuh kepastian dan juga bukti. Aku ingin kau membuktikannya terlebih dulu, bukan janji," kataku lagi.
Dia mengusap wajahnya di depanku lalu memegang kedua pundakku ini. "Katakan apa yang kau mau, Lilia. Aku akan memberikannya padamu." Dia menatap serius wajahku.
Ada rasa tenang dan damai saat dia berbicara seperti itu. Aku merasa dia tidaklah seperti yang Jake katakan. Dari raut wajahnya tersirat kesungguhan. Kedua bola mata birunya pun seolah ikut bicara jika dia memang benar mencintaiku. Lalu apa lagi yang harus kutakutkan?
Aku tersenyum. "Aku ... ingin cincin yang kau berikan di hadapan orang-orang sebagai bukti keseriusanmu." Entah dari mana keberanian itu datang, tiba-tiba saja aku mengucapkan kata itu.
Dia mengangguk. "Baik. Besok kita beli cincin. Dan aku akan memberikannya di hadapan ibu. Ibu akan menjadi saksi keseriusanku padamu. Aku juga akan mengundang tetangga terdekat untuk datang besok. Kita adakan acara kecil-kecilan di sini." Dia mengungkapkan.
Sejenak aku terdiam mendengar kata-katanya. Aku pikir dia tidak berani melakukannya. Namun ternyata, dia benar-benar serius untuk membuktikannya. Pastinya dia tidak akan berani meninggalkanku jika sudah memberikan cincin di hadapan ibu dan para tetangga. Nama baik keluarga pasti dijaga penuh olehnya.
"Dear, terima kasih."
Lantas aku memeluknya. Pelukan hangat di tengah malam yang gerimis ini. Dia pun membalas pelukanku tanpa ragu. Tubuh hangatnya membalut tubuhku yang mulai kedinginan. Udara malam saat hujan memang tidak bisa diabaikan. Seolah membuat tubuhku membeku dan membutuhkan kehangatan.
Dear ... pegang ucapanmu ....
Lagi dan lagi. Alexander mampu meyakinkanku dengan keseriusannya. Rasanya tidak perlu ragu lagi untuk menjawab pernyataan cintanya. Dia benar-benar serius padaku.
"Harusnya kau menyadari keseriusanku saat aku mengajakmu kemari, Lilia. Kau adalah wanita pertama yang kukenalkan pada ibu. Kau juga wanita pertama yang menginap di rumah ini. Namun, sepertinya hal itu belum cukup untuk membuktikan keseriusanku. Kau membutuhkan bukti otentik dariku." Dia mengusap rambutku perlahan.
Aku mempererat pelukanku. "Maafkan aku, Dear. Aku hanya ingin meyakinkan diri ini." Kuhirup dalam-dalam aroma parfumnya. Aroma yang begitu menenangkan hati ini.
Dia mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, buat pernyataan jika kau membalas cintaku." Tiba-tiba dia meminta kepastian lagi dariku.
Dear ...?!
Aku segera melepaskan pelukan. Kutatap wajahnya yang masih menunggu jawaban dariku. Saat itu juga entah mengapa detak jantungku mulai tidak stabil. Seperti terasa berat untuk menjawab pernyataan cintanya.
Ya Tuhan. Kenapa jantungku berdetak kencang sekali?
Dinginnya angin malam seolah tidak berarti di situasi seperti ini. Alexander memintaku untuk menjawab perasaannya. Sedang aku, entah mengapa terasa sulit untuk mengatakannya. Aku masih tidak percaya jika harus mengatakan menyayanginya.
"Lilia?" Dia menatapku, memerhatikanku, menantikan jawaban dariku.
Kutelan ludahku berulang kali. Sejenak mengambil napas dalam dan panjang. Jika malam ini aku mengatakannya, itu berati dia adalah pria ke dua yang kucintai dalam hidupku.
"Lilia, jangan bilang kau ingin menghindari pembicaraan ini." Dia menatapku lembut.
"Dear ... aku ...."
"Apakah begitu sulit mengatakannya?" tanyanya dengan tatapan menunggu.
kapan update
ditunggu yaaqq