Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMIMPIN BARU
Hari berganti sangat cepat. Pagi ini Ranum, Dayana, Lily dan pak Suseno sedang sarapan di rumah Dayana. Dayana masak makanan khas Indonesia, spesial untuk Ranum dan pak Suseno. Salah satu asisten Dayana membawakan rempah langsung dari Indonesia.
“Mau masak seperti ini saja nona Dayana niat sekali memesan bumbu dari Indonesia.” Pak Suseno tertawa.
“Sesekali tidak masalah pak, aku juga sangat rindu dengan makanan Indonesia.” Dayana tersenyum.
Ranum sibuk melahap rendang yang ada di depannya. Sedangkan Lily masih sibuk minum, kepedasan karena mencoba sambal korek buatan Dayana. Pak Suseno dan Dayana tertawa melihat ekspresi Lily.
“Aku tidak akan mau ke Indonesia jika semua makanannya sepedas ini, terutama makanan merah tidak jelas ini.” Lily bersungut – sungut.
“Memang kamu belum pernah ke Indonesia?” Pak Suseno bertanya ke Lily.
“Belum pak. Selama ini hanya dia orang yang paling aku percaya untuk mengurus semua bisnis di negara ini. Jadi belum pernah aku lepas dia untuk keluar dari negara ini.” Dayana menjawab pertanyaan pak Suseno.
“Walaupun ke negara terdekat?”
Dayana mengangguk. “Ayah selalu memaksa riset disini harus memiliki perkembangan setiap bulannya. Sedangkan aku tidak bisa mengontrol semuanya terus menerus, jadi aku menyuruh Lily untuk mengontrol semuanya selama ini. Belum ada lagi yang aku percaya untuk mengurus dan menjaga semua aset kita disini selain Lily. Pun aku juga sibuk di dalam lab selama ini, jadi sulit untuk bergerak. Jadi aku butuh Lily untuk memastikan semua bisnis di Denmark berjalan dengan baik.”
“Oh iya, Dayana, Ranum. Aku mendapatkan pesan dari pusat, lusa Bos Besar ulang tahun. Kalian diminta untuk datang. Terutama Ranum.” Lily memotong percakapan. Wajahnya masih merah.
Tangan Ranum terhenti. Menatap Dayana.
Dayana mengangguk. “Aku akan datang. Bagaimana denganmu? Kamu sudah bertahun – tahun tidak menghadiri ulang tahun ayah.”
Ranum kembali menyantap rawon yang ada di hadapannya. Dayana tertawa diikuti Lily dan pak Suseno.
“Ranum. Lanjutkan ceritamu yang di taman dong. Aku masih penasaran.” Dayana berbicara ke Ranum.
Ranum menatap Dayana dengan tatapan sinis. Ranum tidak ingin semakin banyak yang mengetahui ceritanya tersebut.
Dayana tertawa. “Adikku sayang, Lily dan pak Suseno juga berhak mendengar cerita sebagus itu.”
“Ceritakan saja Ranum. Aku akan menjadi pendengar yang baik, walaupun telingaku sedang pengang karena makanan merah ini.” Lily berbicara ke Ranum.
Pak Suseno mengangguk. “Jangan malu – malu. Cerita hidupmu pasti menyenangkan Ranum.”
Ranum menghela napas. “Sampai dimana ceritaku?”
“Setelah kamu keluar dari klinik. Yang kamu di cari dokter cantik itu di lapangan penjara.” Dayana mengingatkan.
***
Setelah dari klinik, Ranum kembali menemui Melvin di lapangan. Ranum duduk di sebelah Melvin, membakar rokoknya.
“Kamu sangat beruntung Mark bisa sering bertemu dokter Lesley.” Melvin tertawa kecil. “Tidak banyak di penjara ini yang bisa sering bertemu dokter cantik itu.” Lanjut Melvin tersenyum.
Dari kejauhan ada gerombolan tahanan berjalan ke arah Ranum dan Melvin. Jumlah mereka tidak kurang dari 10 orang tahanan. Melvin mulai gelisah saat melihat orang – orang itu berjalan ke arahnya. Dia menarik – narik lengan baju Ranum. Ranum tetap santai menatap orang – orang itu sambil menikmati rokoknya. Melvin memberi tahu Ranum bahwa kelompok yang sedang berjalan ke arahnya itu adalah salah satu kelompok tahanan terkuat di penjara blok C. Kelompok itu beranggotakan mantan pembunuh, perampok, dan *******. Ranum tidak gentar sedikitpun mendengarkan penjelasan Melvin. Melvin masih panik karena jumlah gerombolan kali ini lebih banyak dari gerombolan yang di habisi Ranum sebelumnya. Salah seorang dari gerombolan itu berdiri di depan Ranum.
“Aku pemimpin mereka. Namaku Octo.” Orang itu menjulurkan tangan, mengajak Ranum berjabat.
Ranum menjabat tangan Octo.
“Aku kemari bukan untuk mencari masalah. Aku hanya ingin menawarkan diri untuk menjadi sekutumu. Aku lihat kamu anak baru dan belum memiliki teman di penjara ini. Setelah kami melihatmu mengalahkan kelompok Bert seorang diri, kami memutuskan untuk menjadikanmu pemimpin di kelompok ini, kamu bisa menjadikanku sebagai tangan kananmu.” Octo menjelaskan maksudnya.
“Jika kamu tidak menganggap orang di sebelahku ini sebagai teman penjara pertamaku.” Ranum menjawab datar.
“Aku temannya dari pertama, kalian tidak menganggapku?” Melvin berseru ketus.
“Kami hanya butuh orang seperti Mark, bukan sepertimu.” Octo berbicara ke Melvin.
Melvin menelan ludah.
“Kalau begitu sebaiknya kalian pergi dari hadapanku.” Ranum menghisap rokoknya.
“Maksudmu bagaimana?” Octo bertanya bingung.
“Melvin adalah teman baikku disini. Jika kalian merekrutku, itu artinya kalian harus merekrut dia juga.”
Melvin membusungkan dadanya. “Kalian dengar?” Melvin menyeringai.
“Baiklah dia bisa jadi anggota kita juga.” Octo menghela napas.
Ranum menggeleng. “Dia akan menjadi pemimpin kelompok kalian.”
“Hah? Bagaimana denganmu?” Octo semakin bingung.
“Aku tetap sendiri. Jika kalian butuh sesuatu tinggal kabari ketua baru kalian ini.” Ranum menepuk bahu Melvin. “Terima atau kalian boleh pergi dari sini.” Lanjut Ranum datar.
Octo melihat ke arah anak buahnya yang lain. Anggota yang lain mengangguk.
“Baiklah aku menerimanya. Melvin akan menjadi pemimpin kami.”
Melvin tersenyum lebar. “Terima kasih Mark.”
Ranum mengangguk. “Rokok tetap berjalan setiap harinya.”
Melvin mengangkat tangannya, memberi hormat ke Ranum. “Siap bos!”
“Kenapa kalian membutuhkanku?” Ranum bertanya ke Octo.
“Setelah melihat perkelahianmu dengan kelompok Bert. Kelompok lain mulai menambah anggota baru, termasuk kelompok Jose Phillips. Apa kamu tahu Jose?”
Ranum mengangguk. “Kenapa kalian mengajakku untuk bergabung?”
“Jose sepertinya takut dengan keahlianmu. Gaya bertarungmu sangat mematikan. Jadi sebelum dia merekrutmu, aku memberanikan diri untuk mengajakmu terlebih dahulu. Mungkin suatu saat dia akan mengajakmu untuk bergabung.”
Ranum mematikan rokoknya. “Aku sudah bergabung dengan kalian kan?”
Octo mengangguk.
“Maka aku tidak akan bergabung dengan yang lain. Kecuali Melvin merekrut kelompok lain untuk bergabung dengan kita.”
“Aku sangat menghargai loyalitasmu anak muda.” Octo tersenyum.
“Ada dari anggotamu yang mantan pemerkosa atau sejenisnya?” Ranum melihat semua anggota kelompok Octo.
Octo menggeleng. “Kami tidak menerima tahanan seperti itu.”
“Jika ada, aku yang akan mematahkan lehernya.” Ranum berbicara datar. “Jika kalian butuh bantuanku, beritahu saja ke pemimpin baru kalian, Melvin.” Lanjut Ranum berdiri dari bangku.
“Baiklah, terima kasih telah bersedia bergabung Mark.” Octo menjabat tangan Ranum.
Ranum mengangguk. Berjalan menuju dalam penjara blok C. Melvin mengikuti Ranum dari belakang.
“Kamu ketua kelompok itu sekarang. Pergilah bersama mereka.” Ranum masih berjalan membelakangi Melvin.
“Oh iya aku lupa.” Melvin balik kanan. Menemui teman – teman barunya. Melvin dan kelompok barunya duduk di bangku pinggir lapangan. Melvin mulai mengakrabkan diri, memberanikan mengobrol bersama kelompok barunya itu, sesekali mereka tertawa, kadang Melvin tertawa hingga terbahak – bahak. Kelompok Octo memang salah satu kelompok yang asik, begitu juga Melvin, sangat mudah bergaul dengan orang baru. Sama seperti kali pertama Ranum menjadi teman satu sel Melvin.
“Kalian tahu kalau yang mebunuh tiga sipir dan membuat kepala sipir kehilangan jari tangannya karena Mark?” Melvin bertanya ke teman – teman barunya.
Beberapa orang menelan ludah.
Melvin mengangguk. “Mark yang melakukannya. Dia di siksa di ruang eksekusi. Tapi karena Mark sangat kuat, dia bisa membalas semuanya. Walaupun tubuhnya jadi penuh dengan luka akibat siksaan kepala sipir.” Melvin berbicara ke teman – teman barunya. “Kalian tidak salah merekrut orang, Mark adalah orang paling keren di penjara ini. Dia sangat kuat. Aku sangat mengagumi kekuatannya. Aku sangat beruntung bisa menjadi temannya. Jika pada saat itu aku ada di kelompok Bert. Mungkin saat ini aku sudah tidak bisa bernapas.” Lanjut Melvin tertawa. Diikuti semua teman barunya, tertawa.