Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isti akhirnya menangis
Ibu Laksmi terus memegangi dadanya, berusa mengatur ritmenya agar segera kembali normal. Berikut dengan nafasnya yang mulai tersengal.
"Atas dasar apa, kau berfikir demikian? Dia yang meminta?"
"Tidak, Fikri sendiri yang mau dia kemari. Kasihan, dia menjadi omongan tetangga karena status kami sekarang."
"Itu sebuah hal yang wajar Ia terima. Belum di serang dan di hajar tetangga pun, masih bersyukur."
"Bu... Kenapa Ibu berfikiran seperti mereka? Naya tak pernah jahat pada Ibu."
"Ya, memang dia tak jahat, tapi kau yang bajingan."
"Terserah, apa yang Ibu katakan. Tapi Fikri, akan tetap membawa Naya kemari. Jika Ibu ingin disini juga, maka kalian akan tinggal bersama." ucap Fikri, yang bersikeras membela Naya.
*
*
*
"Mba Is, siang ini Free?" tanya dokter Firman padanya.
"Ya, kenapa, dok?"
"Ada seseorang yang mau bertemu dengan kita. Tapi saya sudah menjelaskan lewat telepon tadi, jadi beliau hanya langsung akan bertemu dan memberikan cek secara langsung saja. Lumayan, bertambah sepuluh juta tabungan Laras."
Isti tersenyum lebar, Ia begitu bahagia dengan betambahnya sebuah harapan untuk pengobatan Laras..
"Baiklah, tapi nanti saya izin pulang dulu untuk berganti pakaian. Tak enak, jika saya bertemu klien dengan seragam yang bau obat." ucap Isti.
Firman hanya mengangguk, Ia begitu senang menatap wajah Isti yang begitu bahagia. Meskia kadang dalam heti bertanya-tanya, kenapa raut wajah itu begitu sering berubah.
Seperti biasanya, sebelum pulang Isti menghampiri Laras untuk mengobrol. Ia menjalin kedekatan perlahan untuk memgontrol kesehatan gadis kecil itu. Karena, Ia sering tak kooperatif, jika ditangani oleh orang lain.
"Laras ada sakit kepala?"
"Tak terlalu di rasakan, kadang hanya menyut sedikit di bagian belakang." jawabnya.
"Kenapa tak lapor pada perawat jaga? Itu bisa diberi obat nanti."
"Laras sudah bilang, jika itu tak terlalu Laras rasakan. Sakitnya tak seberapa, lebih sakit jika di pukul ayah dengan balok meski kecil."
Jawaban yang lagi-lagi menyentak hati Isti. Terungkap lagi sebuah fakta, jika anak itu telah mengalami kekerasan secara fisik dari ayahnya.
"Mungkinkah, pembekuan darah itu bukan hanya dari kecelakaan?" tanya Isti dalam hati.
Isti menghentikan pertanyaan, Ia mengajak berbincang sebentar dengan tema lain, agar Laras tak kembali teringat dengan kejadian menyakitkan dalam hidupnya.
"Laras jadi operasi?" tanya Laras pada Isti.
"Insyaallah jadi, tunggu dananya terkumpul. Laras sabar ya, Laras pasti sembuh." Isti memberi semangat.
"Memang benar kata Papa, Laras itu hanya bisa merepotkan saja. Bahkan harus merepotkan banyak orang yang tak di kenal."
"Mereka dan kita memang tak saling kenal, tapi mereka saling sayang dan tulus ketika akan membantu sesama. Laras sabar."
Gadis kecil itu pun kembali mengangguk, mengulas senyumnya pada Isti. Dan setelah semua selesai, Isti pamit pulang untuk urusan yang lainnya.
*
*
*
Isti tiba di rumah, dan langsung berbenah diri. Menggunakan baju yang rapi dan wangi, serta memoleskan make up yang tak terlalu tebal di wajah cantiknya. Ia berdandan sembari bersenandung, hingga tak dengar ketika Fikri pulang dan masuk ke kamarnya.
"Eh, Mas. Kamu ngapai masuk tiba-tiba?" tegur Isti yang kaget.
"Ini juga kamarku, dan aku suamimu. Wajar jika aku masuk kemari, kenapa kamu kaget?"
"Wajar aku kaget, kamu tiba-tiba masuk tanpa permisi." jawab Isti.
"Kamu ngga kerja?"
"Udah tukar sift sama Fadli. Kamu mau kemana?" tanya Fikri, yang menatap wajah Isti dengan polesan make upnya.
"Ada janji dengan seseorang, untuk membahas sesuatu."
"Dokter muda itu? Apa hubungan kamu dengannya?"
"Kami bersahabat."
"Bagaimana Dua orang lelaki dan perempuan bisa bersahabat, tanpa adanya hubungan lain?"
"Aku tidak seperti kamu, Mas. Aku sadar jika aku memiliki suami, dan belum bercerai." jawab Isti, dengan mengayunkan langkahnya untuk keluar. Tapi Fikri menariknya dengan kuat.
"Lepasin aku." sergah Isti.
"Kenapa kamu memgungkit kata cerai, karena dia? Kamu ingin pacaran, bahkan menikah dengan dia?"
"Kamu mau memutar balikkan fakta, agar aku yang terlihat salah sekarang? Kenapa kalau aku menyukainya? Dia tampan, muda, dan berkarisma. Bahkan lebih dewasa dari kamu." jawab Isti, dengan wajah yang masih tenang.
"Sudah ku bilang, aku ngga akan menceraikan kamu, Is! Kamu bahkan mau menelantarkan anak kita demi hidupmu yang seperti ini?"
"Menelantarkan? Apa maksudmu aku menelantarkan Zalfa? Dia bersama neneknya hari ini."
"Iya, kamu menelantarkan Zalfa bersama Ibu, agar kamu bisa jalan dengan pria lain sesuka hatimu. Kamu bangga seperti itu?"
"Ibu yang meminta agar Ia bersamanya hari ini, Ibu yang tahu dan faham akan kesibukanku. Aku bahkan tak pernah pulang malam bersama pria, Ibu tahu itu. Aku selalu pulang tepat waktu dan melakukan semua kewajibanku seperti biasa."
"Kamu terus melawan aku, Is!"
"Kamu udah ngga bisa di hormati, karena kamu udah ngga pantas di hormati, Mas!"
Fikri terdiam. Ia tak lagi menjawab Isti yang raut wajahnya berubah penuh dengan amarah. Meski Ia masih tetap tampak cantik dengan muka masamnya itu.
Isti kemudian memasukkan beberapa barangnya kedalam tas dengan kasar. Ia menatap Fikri yang tak lagi mampu berkata-kata padanya.
"Aku juga punya batas sabar, Mas. Jika sabarku sudah hilang, perasaan siapapun tak akan aku jaga."jawab Isti, yang kembali tenang setelah menghela nafas panjang seperti biasanya.
"Aaaarrrrghhhh!" teriak Fikri, yang sepertinya mencapai puncak amarah di hatinya.
"Aku tahu, kata-kata cerai itu hanya spontan kamu ucapkan untuk menakut-nakutiku, Is. Kamu ngga akan bisa menceraikanku, karena kamu memikirkan Zalfa dan Ibu 'kan?" lirih Fikri, yang kini duduk di ranjang, menundukkan kepala dan sepertinya akan menangis.
"Hingga batas sabarku habis, Mas. Aku memang begitu menyayangi Ibumu, hingga begitu berat untuk mengambil sebuah keputusan yang akan membuatnya sakit."
Isti kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi, tanpa menoleh lagi kebelakang. Sedangkan Fikri duduk termenung, lalu merebahkan tubuhnya dengan kasar di tempat tudur yang berukuran besar itu.
Brakk! Isti menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia menyandarkan kepala di kemudi, dan akhirnya menangis disana. Perasaan tak tertahan lagi, setelah sekian lama Ia bersabar.
"Aku sudah begitu sulit untuk memaafkanmu, Mas. Semakin mu tahan, semakin sakit hati ini rasanya. Lebih sakit lagi, ketika tak ada sedikitpun penyesalan dihatimu, Mas. Dan kamu, kamu selalu menjadikan Ibu dan Zalfa sebagai tameng untuk kesakitanku. Kamu tahu, mereka adalah orang yang tak pernah bisa ku lihat airmatanya untuk mengalir sedikitpun. Jahat kamu Mas, Jahaaaaat!" pekik Isti, yang kali ini tak bisa setenang biasanya.
Sekuat apapun wanita, pasti ada titik lemah dalam dirinya. Setegar apapun tampaknya, sebisa apapun Ia menutupi rasa sakitnya, pasti suatu saat akan pecah, bagai balon yang selalu di tiup hingga begitu besar. Seperti itulah perasaan Isti saat ini. Tangis itu, akhirnya pecah, karena daya tampung kesabaran sudah terlalu banyak dan ditutupi semua kebohongan dan senyum palsunya.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya