Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Huft!!" ternyata cuma mimpi
Rangga mengusap keringatnya dan segera meneguk air putih untuk memenangkan dirinya.
"Jika itu hanya mimpi tapi kenapa begitu nyata,"
Rangga segera berjalan keluar, ia begitu tercengang melihat sosok yang menghampirinya.
"Siapa kamu kenapa kau datang ke rumahku?" tanya Rangga
"Aku hanya penasaran siapa yang sudah melukai putraku," sahut lelaki itu
"Kau seharusnya sudah pensiun dari dunia perdukunan, kenapa kau melukai Garra putraku?" tanya lelaki itu
"Oh, maaf aku tidak sengaja melukainya, karena dia mencoba melukai putraku. Jadi wajar saja jika seorang ayah menyelamatkan putra bukan, apalagi Garra bukan tandingan putraku," jawab Rangga
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan Garra sehingga dua kali ia harus terluka karena ajian Brajamusti milikmu,"
"Aku tidak ada hubungan atau dendam dengan Garra, dua puluh tahun lalu aku hanya menyelamatkan putriku dari Garra, dan sekarang pun aku melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan putraku. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk bertemu, tapi percayalah aku tidak memiliki dendam dengannya," tutur Rangga
"Omong kosong!" Ki Darno langsung menyerang Rangga membuat lelaki itu langsung berusaha menghindari serangannya.
Rangga hanya bisa menghindar dari serangan bertubi-tubi Aki Darno.
Lelaki itu nampak terengah-engah menghadapi Ki Darno.
"Kenapa kau begitu lemah, cepat serang aku!" hardik Ki Darno
"Aku sudah terlalu tua untuk bertarung denganmu, aku tidak punya tenaga lagi untuk melawan mu, aku menyerah," sahut Rangga
"Jangan pura-pura, buktinya kau masih bisa menggunakan pukulan Brajamusti dan melukai Garra,"
"Tentu saja siapapun bisa melakukannya jika dalam keadaan darurat dan terdesak, aku melakukannya karena aku terdesak dan tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan putraku," jawab Rangga
"Kau terlalu merendah Aki," ujar Ki Darno
"Terserah apa yang kau katakan, jika kau ingin menuntut balas atas apa yang sudah aku lakukan terhadap putramu silakan, aku tidak keberatan," sahut Rangga
Ki Darno langsung melepaskan pukulannya kearah Rangga, namun seketika ia terpental saat akan menyentuh tubuh lelaki itu.
"Aarrrggghhh!!" Ki Darno terpelanting dan menghantam furniture di ruang tamu.
"Benda apa itu!" Aki Darno segera bangkit dan berdiri ia mendekati Rangga
"Apa itu tongkat Ratu Iblis?" tanya Ki Darno
"Ah, ternyata kau bisa melihatnya," sahut Rangga menggaruk-garuk kepalanya
"Bagaimana benda pusaka itu ada padamu?"
"Aku mendapatkannua dari Sang Pemilik benda pusaka ini, dan aku harus menjaganya sampai ia menemukan pemilik barunya," jawab Rangga
*******
"Namanya Syntia Pratiwi, dia adalah seorang anak yatim piatu dan diadopsi oleh keluarga Hermawan. Akan tetapi karena mereka memperlakukannya dengan buruk gadis itu sekarang tinggal bersama Garra,"
"Bagaimana bisa Garra putraku bisa begitu peduli kepada orang lain bahkan sampai mengizinkannya tinggal di rumahnya. Apa jiwa iblis mu sudah mulai hilang dan kau berubah menjadi manusia biasa?, hahaha!" Bram terkekeh mendengar laporan dari sekretaris pribadinya
"Sekeras apapun dirimu kau akan menjadi lemah jika sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tahu juga kelemahan mu Garra," Bram menyeringai menatap foto Tiwi
"Temukan gadis itu dan bawa kepadaku," tukas Bram
"Baik Tuan," lelaki itu segera meninggalkan ruangan Bramantyo
"Akhirnya sebentar lagi kau akan kembali tunduk sebagai budak ku Garra, kau akan melakukan semua yang aku perintahkan seperti dulu lagi, hahahaha!" ujar Bramantyo dengan suara tawa yang menggelegar.
"Kau mau kemana Neng?" tanya Lingga ketika melihat Tiwi beranjak dari ranjangnya.
"Aku mau pulang Bang," jawab gadis itu melepaskan selang infusnya
"Tapi kau masih sakit dan harus di rawat di sini dulu sampai kau pulih," sahut Lingga menahannya
"Aku sudah baikan kok, jadi aku bisa pulang sekarang,"
"Tetaplah di sana dan ikuti kata-katanya!" seru Garra
"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Tiwi
"Kenapa kau tidak memberitahukan aku jika kau sakit, kenapa kau tidak memanggil ku agar bisa menolong mu?" tanya Garra
"Aku juga tidak tahu aku sakit apa, tiba-tiba saja dadaku begitu nyeri dan ketika aku sadar aku sudah ada di sini. Lagipula harus aku katakan berapa kali lagi aku katakan padamu jika aku tidak tahu bagaimana caranya memanggil mu," jawab Tiwi
"Kasih tahu aja caranya Ga, daripada dia mati penasaran?" sahut Lingga membuat Garra langsung menoleh kearahnya
"Panggil saja namaku jika kau membutuhkan pertolongan ku, aku pasti akan datang," ucap Garra
"Sebut namaku jika kau rindukan aku...aku akan datang," sambung Lingga menyanyikan lagu Stinky
"Diih Abang!" seru Tiwi
"Oh...Mangap!" seru Lingga sambil terkekeh
Ketiganya langsung terdiam saat seorang dokter memasuki ruangan itu.
"Dok, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Tiwi
"Sebentar aku periksa dulu," jawab sang dokter
Ia kemudian mengambil sebuah stetoskop dan memeriksa gadis itu.
"Apa kau sudah tidak merasakan nyeri di dada mu lagi?" tanya dokter itu
"Alhamdulillah tidak dok," sahut Tiwi
"Alhamdulillah semuanya sudah normal, dan sepertinya kamu sudah boleh beristirahat di rumah," ujar dokter itu
"Alhamdulillah, makasih dok,"
Tiwi kemudian membereskan barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan itu bersama Garra dan Lingga.
"Makasih ya Abang sudah tolongin Tiwi," ujar gadis itu
"Sama-sama neng nong," jawab Lingga mengusap kepalanya
"Thanks sudah membantu Tiwi hari ini," ucap Garra
"Sama-sama Gaga," sahut Rangga
Tiwi kemudian melambaikan tangannya dan berjalan mengikuti Garra.
"Cepat naik!" seru Garra
Tiwi segera duduk di belakang Garra dan melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu.
Garra melesatkan motornya meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
"Cepat ikuti mereka!" seru seseorang mengejar motor Garra
Merasa ada yang mengikutinya, Garra menambah kecepatan motornya.
"Pegangan yang erat!" seru Garra semakin mempercepat laju kendaraannya
"Sial, terus kejar mereka Jagan sampai kehilangan jejak!"
"Baik Bos!"
Kedua mobil sedang segera melesat menyusul motor Garra, namun mereka tetap saja tidak bisa mengejar kecepatan motor Garra.
"Sial apa dia seorang pembalap sehingga susah sekali di kejar!"
"Cepat hubungi yang lainnya agar menghadang motor itu dari depan,"
"Baik Bos!"
*Ciiittt!!
Tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti menghadang motor Garra membuat Garra terpaksa menghentikan motornya mendadak hingga sepeda motor itu menukik tajam.
"Pegangan yang kuat, dan tutup matamu!" seru Garra
Tiwi segera mengangguk dan mengeratkan tangannya memeluk lelaki itu.
Garra kembali menyalakan motornya dan melesat melompati mobil di depannya.
*Bruuugghhh!!!
"Busyet, benar-benar keren!" seru anak buah Bram
"Cepat kejar mereka dodol, bukan malah memujinya!" seru sekretaris pribadi Bram
"Baik Bos!!" mereka kembali mengejar Garra dan kali ini lelaki itu sengaja menabrak motor Garra dari arah samping.
*Braaakkkk!!
Motor Garra terguling ke samping hingga menabrak bahu jalan.
"Awww!!" seru Tiwi
Garra segera bangun dan menghempaskan sepeda motornya hingga menabrak mobil para penjahat itu.
"Kau tidak apa-apa!" serunya membantu Tiwi berdiri.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lecet saja!" seru Tiwi
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana," Garra segera berjalan mendekati anak buah Bram yang sudah berbaris di depannya.
"Dasar brengsek, beraninya kalian mengusikku, sekarang kalian harus membayar apa yang sudah kalian lakukan padaku!" ucapnya menyeringai