Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Kawin
Tok... Tok... Tok... Bunyi pintu diketuk.
Lia melongokkan kepalanya dari balik pintu ruangan Aya.
"Ada apa Li?!" sahut Aya, matanya masih menatap layar laptop, jari jemarinya menekan keyboard dengan lincah.
"Teh ... ada yang nyariin Teteh," ujar Lia.
"Siapa?!"
"Cowok ganteng itu Teh, Rizki Billar."
"Ooh... namanya Rizal." Aya menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Oh, Rizal Billar," ucap Lia. Aya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Suruh masuk ke sini aja Li!" perintah Aya.
"Siap Teh!" Lia langsung menemui Rizal yang menunggu di luar.
"Mas, kata Teteh masuk aja ke dalam," ujar Lia sambil senyum-senyum.
"Oh, iya terima kasih Neng." Rizal berjalan mengikuti Lia.
"Masuk aja Mas itu Teteh ada di ruangan itu." Lia menunjuk ruangan Aya.
"Terima kasih Neng," ujar Rizal singkat. Sebenarnya di dalam hati Lia bertanya-tanya ada apa gerangan antara Teteh dan Rizal Billar itu.
"Assalamualaikum," sapa Rizal kepada Aya.
"Waalaikum salam ... sini masuk tapi pintunya ga usah ditutup!" perintah Aya.
"Maaf Teh, kalau saya langsung kesini, dari tadi coba menghubungi Teteh tapi ponselnya tidak aktif," kata Rizal menjelaskan. Aya meraih handphonenya, ternyata ponselnya memang lowbat.
"Oh iya, aku lupa ngecharge hp ... ada apa?"
"Mengenai mas kawin bagaimana Teh? Saya belum membeli mas kawin."
"Ya sudah kalau begitu kamu beli saja!" ujar Aya santai.
"Maksud saya, saya mau mengajak Teteh untuk beli cincin mas kawin."
Benar juga ya, Aya tidak kepikiran soal mas kawin. Tidak ada persiapan yang berarti padahal pernikahan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Entah karena kesibukan atau dia memang tidak antusias dengan pernikahan yang hanya sandiwara ini.
"Baiklah, ayo kita beli mas kawin!" Aya langsung beranjak dari tempat duduknya, sementara Rizal tidak bergeming masih tetap duduk.
"Hey, ayo! ngapain masih duduk gitu?" ucap Aya dengan sedikit membentak.
"Eh, iya Teh." Rizal beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Aya.
Mereka sudah sampai di toko emas. Rizal berencana untuk memberikan cincin emas sebagai mas kawinnya.
"Mbak, saya mau lihat cincin yang lima gram saja," ucap Rizal pada penjaga toko.
Hah cuma lima gram, padahal aku sudah kasih uang lima puluh juta. Kamu mau ambil untung rupanya. Gumam Aya dalam hati.
"Oh, iya mas sebelah sini cincin yang lima gram."
"Teteh suka yang mana cincinnya?" tanya Rizal.
"Yang mana saja yang muat aja," jawab Aya dengan nada kurang bersahabat, masih memikirkan kenapa mas kawinnya hanya lima gram.
"Yang itu aja Mbak!" Rizal menunjuk sebuah cincin.
"Calon istrinya ya Mas ... coba aja Mas cincinnya langsung dipakaikan ke jari si Mbaknya ... hitung-hitung latihan memakaikan cincin di akad nikah," saran si penjaga toko. Rizal malah melongo dia terlihat bingung.
"Mas kok malah bingung gitu, coba sekarang dipegang tangan Mbaknya!" kata si penjaga toko. Rizal mengikuti perintah si penjaga toko, memegang tangan Aya.
Deg...
Dadanya berdebar kencang seperti genderang mau perang. Untuk pertama kalinya ia menyentuh tangan Aya, bahkan untuk pertama kalinya ia menyentuh tangan wanita yang bukan muhrimnya.
Duh kok aku ngederegdeg gini sih. Rizal bergumam dalam hatinya.
"Nah gitu, terus coba pasangkan cincinnya." Penjaga toko memberikan arahan lagi.
Tangan Rizal gemetaran, saking gemetarnya membuat tangan Aya jadi ikut gemetar. Dengan gemetar dia berusaha memasangkan cincin ke jari manis Aya.
Eh kok aku gemetar gini sih, ah memalukan. Rizal.
Ih kamu kok gemetaran gitu sih, aku jadi ikut gemetar. Aya.
"Sudah, sini aku pake sendiri aja cincinnya!" Aya mengambil cincin dari tangan Rizal lalu memasangkannya sendiri di jari manisnya.
"Muat... ya sudah yang ini aja cincinnya," ujar Aya singkat dan terkesan buru-buru. Dan Rizal dengan tingkah kikuk segera membayar cincin itu. Setelahnya mereka kembali ke ruko.
"Teh."
"Hemm."
"Maaf ya kalau saya hanya memberi mas kawin sebesar lima gram saja."
"Hemm."
"Teteh mau tahu ga apa alasannya."
"Hemm."
Kenapa si Teteh jawabnya Hemm Hemm terus sih. Mungkin si Teteh sedang malas ngomong, ya sudah kalau begitu aku diem aja.
"Apa alasannya?" tanya Aya setelah cukup lama Rizal diam tidak melanjutkan obrolan.
"Alasan apa?"
"Lima gram," ucap Aya agak membentak.
"Oh iya Teh, lima gram itu maksudnya agar Teteh selalu ingat yang lima waktu yaitu solat," ujar Rizal dengan tersenyum. Aya tertegun padahal tadi dia sudah berpikir buruk tentang Rizal.
"Ya sudah Teh, saya permisi pulang, assalamualaikum." Rizal berpamitan.
"Waalaikum salam," jawab Aya.
"Rizal..." imbuhnya ketika Rizal sudah duduk di atas motornya.
"Iya Teh."
"Hati-hati ya.. ma--maksudnya hati-hati di jalan ya" Aya berkata dengan gugup, entah tiba-tiba saja ia ingin mengatakan itu kepada calon suaminya.
"Terima kasih, Teh" Rizal berkata dengan menampilkan senyum termanisnya.
"Assalamualaikum." Seperti biasa Rizal berpamitan dengan mengucap salam.
Ah kamu itu luar biasa selalu ingat mengucap salam. Gumam Aya dalam hati.
"Waalaikum salam."
Rizal pun melajukan motornya diiringi tatapan Aya.
"Ciye... Ciye... saya tau Teh, mas yang tadi itu bukan abang ojol kan tapi dia itu pacarnya Teteh, iya kan, hayo ngaku?!" Goda Lia ketika Aya sudah masuk ke dalam ruko.
"Bukan."
"Ah, udah Teh, ngaku aja!"
"Memang bukan pacar, tapi calon SUAMI" Aya menekankan kata suami.
"Beneran Teh?! Jangan lama-lama Teh, cepetan nikah."
"Iya memang Teteh mau nikah."
"Kapan Teh?!"
"Minggu depan."
"Hah beneran teh?" sahut semuanya serempak. Yang sedang berjaga adalah Lia, Lina dan Hendi.
"He eh."
"Wih Teh ga ketahuan PDKT nya langsung nikah aja," sahut Hendi.
"Mendung belum tentu hujan. PDKT belum tentu jadian," seloroh Aya dan semuanya tertawa.
"Bener Teh kaya si Hendi tuh kerjaannya PDKT mulu, Pernah Deket Kemudian Tereliminasi wkwkwk," sahut Lia.
"PDKT Pas Demen Kena Tikung." Lina si karyawan baru ikut menimpali.
"PDKT Pernah Deket Keluarga Tidak merestui," celetuk Aya.
"Iya nih berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. PDKT melulu tapi gagal pas jadian, wkwkwkwkwk," sahut Hendi. Suasana di ruko jadi meriah dengan topik PDKT penuh tawa canda.
"Btw selamat ya Teh... saya ikut senang loh Teh denger Teteh mau nikah," ujar Lia dengan sumringah dan memeluk Aya.
"Iya Teh, selamat ya semoga lancar acaranya dan semoga bahagia selalu." Lina ikutan memeluk Aya.
"Iya Teh selamat ya Teh, kalau ada perlu apa-apa saya siap bantu," kata Hendi.
"Iya elo mah bantu makan terutama," ledek Lia.
"Lia, memangnya kamu ga patah hati Rizki Billarnya mau nikahin aku," ledek Aya.
"Enggak lah Teh, justru saya senang Teteh mau nikah... kalau saya mah masih ada Mas Al."
"Siapa lagi itu Mas Al?!"
"Mas Al itu yang sekarang lagi fenomenal, Aldebaran."
"Albubaran kalee," ledek Hendi
"Dasar emak-emak milenial nonton nya sinetron mulu!" imbuh Hendi.
(Author: Salah Hen, emak-emak milenial suka nya baca novel di Noveltoon atau Mangatoon. Bener ga Mak??.... Kalo Aku sih iyes😁)
"Asal aja loh bilang emak-emak!" sungut Lia. Setelah obrolan penuh canda tawa usai semuanya kembali bekerja.
.
.
.
.
.
Sabar ya, Rizal dan Aya nya belum menikah juga ya,, next episode semoga sudah menikah.
Maaf para readers mungkin update nya ga akan setiap hari, berusaha update dua atau tiga episode agar para readers lebih nyaman mengikuti ceritanya.
Jangan lupa Like komen dan vote.