"Catatan Akhir Sekolah” bercerita mengenai 4 orang yang merupakan sahabat, mereka selalu Membuat masalah di sekolah dan mereka selalu bersama-sama apa pun keadaannya, kisah yang mana suatu ketika salah satu dari mereka yang mempunyai wajah tampan.
Ia selalu memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan- perempuan yang suka dengannya, dan ketika salah satu dari perempuan itu ada yang benar-benar tulus mencintainya, tapi ia tetap saja memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan itu, hingga pada akhirnya ia menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridho pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Setelah Lulus 25
"Putri gak apa-apa kok Do," lirih Putri.
"Gak mungkin gak apa-apa, Putri jawab jujur, Putri tadi di apa in sama Arnes?" tanyaku.
"Putri...hampir di lecehin," lirih Putri.
"Apa!" jawabku.
"Sabar Do, kan itu hampir, untung aja tadi ada Lisa yang selamatin Putri, jadinya Putri bisa lolos deh," kata Putri.
Aku menatap Lisa.
"Makasih ya Lis," kataku.
"Iya Do sama-sama," jawab Lisa.
"Makasih ya Lis, Lisa udah mau selamatin Putri kalau tadi gak ada Lisa gak tahu deh nasib Putri tadi gimna," lirih Putri.
"Santai Put, kita kan teman, kan kalau teman saling menolong he he," jawab Lisa.
Putri memeluk Lisa, dari kejadian itu Lisa aku lihat sudah menjadi orang yang lebih baik dan sepertinya dia sudah tidak menjadi perempuan penggoda lagi.
"Oh iya Lis, lu udah gak jadi perempuan penggoda lagi kan?" tanyaku.
"Alhamdulillah Do, ini juga berkat lu Do, yang selalu ingat in gua, makasih ya," jawab Lisa.
"Alhamdulillah, iya sama-sama," kataku.
"Yaudah ayo Do pulang udah malam, kantuk nih gua," kata Kobar.
"Iya Bar, ayo Lis pulang biar nanti di antar sama Ardi?" tanyaku.
"Ayo Lis gua antarin, udah malam gak baik?" tanya Ardi.
"Makasih Di, lu semua duluan aja," jawab Lisa.
"Lisa emang rumahnya di mana?" tanya Putri.
"Lisa mah tinggal nya di mana aja Put, di sini juga jadi he he, Lisa kan gak punya rumah jadinya bebas deh," Jawab Lisa.
"Apa Lis jadi selama ini, lu tinggal di pinggir jalan?" tanyaku.
"Ya begitu lah Do," jawab Lisa.
"Ya ampun, yaudah Lisa tinggal sama Putri aja," ajak Putri.
"Gausah Put takut merepot kan," tolak Lisa.
"Ih gak Put...mau ya," paksa Putri.
"Udah Lis, itu lebih baik," kataku.
"Iya Lis terima aja," kata Ardi.
"Yaudah terima aja, biar cepat, kantuk nih gua, udah malam," kata Kobar.
"Iya deh, tapi benarkan Put, Lisa gak merepotkan?" tanya Lisa.
"Enggak kok Lis, enggak sama sekali," jawab Putri.
Lisa memeluk Putri sebagai ucapan terima kasih.
"Makasih ya Put," kata Lisa.
"Putri seharusnya yang terima kasih Lis, coba aja tadi gak ada Lisa, gak tahu deh nasib Putri tadi gimna," puji Putri.
Saat aku mengantarkan Putri pulang, aku berboncengan lagi dengannya.
"Putri kangen deh kaya gini lagi?" tanya Putri.
"Kaya gini gimna Put," jawabku.
"Bisa boncengan lagi sama panglima tempur" canda Putri, tersenyum..
"Udah di ijin in dong berarti, jadi panglima tempur he he," jawabku.
"Iya deh Putri ijin in, tapi tetap aja Putri gak suka," kata Putri.
"Tapi kalau sama aku Putri suka kan," candaku.
"Ih gombal mulu dah," jawab Putri.
Putri terdiam...
"Put, kok diam sih," kataku.
"Putri minta maaf ya Do, putri udah jahat sama Ridho," jawab Putri.
"Iya Put, aku mah pemaaf gak pendendam he he," candaku.
"Ih serius," tegas Putri.
"Iya Put, maaf in Ridho juga ya, udah gak mau dengarin larangan Putri," jawabku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sampai di rumah Putri.
"Makasih ya Do," kata Putri.
"Makasih buat?" tanyaku.
"Udah antarin Putri," jawab Putri.
"Aku yang harusnya terima kasih, karena kamu udah mau boncengan lagi sama aku he he," candaku.
"Ih gombal mulu dah," jawab Putri, tersenyum.
"Makasih ya Di," kata Lisa, kepada Ardi.
"Sama-sama Lis," jawab Ardi.
"Eh sebentar deh kalau Putri liat-liat Ardi sama Lisa cocok deh," canda Putri, tersenyum.
"Ih apaan sih Put," jawab Lisa.
"Bener Lis, cocok gak bohong," kataku, tersenyum.
"Jangan mulai Do," kata Ardi.
"Oke deh, yaudah sana kalian istirahat, aku sama Ardi pulang dulu ya," pamitku.
"Putri obatin dulu ya, itu wajah Ridho pada memar," kata Putri.
"Tapi tetap ganteng kan," candaku.
"Bodo ah bercanda mulu," ketus Putri, tersenyum.
"Ehem, ehem," batuk Lisa, untuk mengganggu aku dan Putri.
"Udah ayo pulang, lama-lama bete gua nih ngeliatin orang lagi pada bucin," sindir Kobar.
"Yaudah deh aku pulang dulu ya, Lis jangan lupa minum obat, kayanya batuk tuh," pamitku lagi, sambil menyindir Lisa.
"Hati-hati Do," kata Putri.
"Siap," jawabku, tersenyum.
"Hati-hati ya Di," kata Lisa.
"Iya Lis," jawab Ardi
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gua gak terima, di giniin sama Putri... lu semua jangan diam aja dong bantu pikir, gimna caranya buat balasan dendam!" bentak Arnes.
"Oh iya Nes gimna kalau kita bakar aja rumahnya putri!" usul Tyo.
"Terlalu kriminal gak sih?" tanya Simon.
"Bagus gua suka ide lu Yo ha ha, nanti malam lu siap in bensin dan jangan lupa lu kumpulin anggota yang lain," perintah Arnes.
"Siap Nes," jawab Tyo.
"Oh iya Yo tapi rencana kita jangan sampai ketahuan Albar, lu paham kan," tegas Arnes.
"Iya Nes," jawab Tyo.
"Dan buat lu Mon, awas aja sampai lu keceplosan, gua bakal habisin lu!" ancam Arnes.
"Aman Nes, santai," kata Simon.
"Yaudah kalau begitu gua mau pulang dulu, mau tidur, biar nanti malam energi gua kumpul," pamit Arnes.
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku menelepon putri
"Put main dong sini Warung Babeh?" tanyaku.
"Jemput ya," jawab Putri.
"Siap bu," kataku.
"Ih apaan sih, oh iya Do sekalian ajak Ardi ya, buat jemput Lisa kasihan dia sendirian di rumah," pesan Putri.
"Oke Put," jawabku.
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Di ikut gua ayo?" tanyaku kepada Ardi.
"Ke mana Do," jawab Ardi.
"Udah ikut aja," ajakku.
"Gua ikut juga ya?" tanya Kobar.
"Gausah repot-repot Bar" jawabku.
"Cewek ya," canda Kobar.
"Wah peramal bisa tahu ha ha," jawabku.
"Ada apa Do," bisik Ardi.
"Kita ke rumah Putri, sekalian lu jemput Lisa," jawabku.
"Wah enggak Do ah malu," kata Ardi.
"Tadi udah gua bilang Lisa, kata dia yaudah jemput aja," jawabku.
"Benar lu, gak bohong," kata Ardi.
"Gak lah serius, udah lah Di, gua tahu kok, lu suka kan sama Lisa," tegasku.
"Apaan sih lu Do," kata Ardi.
"Udah cepat ayo ikut," jawabku.
"Nanti lu malu-malu in gua lagi di depan Lisa," kata Ardi.
"Gua gak begitu Di, lu kenal gua kan," jawabku.
"Iya kenal suka malu-malu in," sindir Ardi.
"Bisa aja lu, semangat Di," jawabku.
"Harus Do pantang pulang sebelum sayang," kata Ardi, tersenyum.
"Bisa aja lu," jawabku, tersenyum.
"Bisa-bisa in Do he he," canda Ardi.
"Lu harus gerak cepat Di, lu tahu kan Lisa itu cantik, dan lu harus bersyukur Lisa juga suka sama lu," jawabku.
"Tahu dari mana lu?" tanya Ardi.
"Gua kan peramal Di, baru tahu lu ya," candaku.
"Oh iya keturunan Bang Bejo ya," canda Ardi.
"Bejo siapa Di?" tanyaku.
"Masa lu gak tahu," jawab Ardi.
"Siapa sih, penasaran gua?" tanyaku.
"Bejo yang dukun beranak itu, masa lu gak tahu sih," jawab Ardi.
"Ih sumpah gak penting bangat obrolan kita, udah ayo otw," ajakku.