Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Serahkan Maya Padamu, Koh
Guntur meledak sebelum Sebastian sempat menjawab.
Tubuh Amaya membeku. Jari berlapis karamel itu bergetar di depan bibirnya.
Sebastian nyaris menangkap tangan tersebut dengan mulut, tetapi kilatan ketakutan di mata Amaya memutus dorongan itu. Ia mengambil selembar kapas alkohol dan menaruhnya di telapak perempuan itu.
"Bersihkan sendiri."
Ia berbalik ke jendela. Jemari yang menekan tepi meja memutih.
Kilat lain membelah langit. Dalam kepala Amaya muncul potongan jalan basah, lampu kota yang meleleh dalam hujan, dan pintu mobil van yang ditutup kasar. Tubuh ini mengingat malam ketika seorang anak lima tahun tidak pernah pulang.
Ada tangan besar menutup mulutnya. Bau jok lembap bercampur asap rokok. Anak kecil itu menendang pintu sampai sepatunya terlepas, tetapi suara petir menelan teriakannya.
Kenangan tersebut tidak lengkap. Hanya gambar patah yang disimpan tubuh lebih dalam daripada pikiran. Amaya menekan kuku ke telapak dan memaksa dirinya melihat meja, layar, serta wajah Sebastian di depannya.
Ia bukan lagi anak lima tahun di dalam mobil gelap.
"Lihat aku," kata Sebastian pelan.
Amaya mengangkat wajah.
"Kamu di kantor. Pintu ada di sana. Aku ada di sini."
Suara rendah itu menariknya kembali sebelum pintu benar-benar terbuka.
Pintu kantor mendadak terbuka.
"Maya?"
Nathan masuk membawa dua kantong besar makanan Jepang. Ia melihat Amaya dan Sebastian berdiri berdekatan di depan jendela, lalu tatapannya berubah.
"Kenapa berdiri di situ saat ada petir?"
Ia menarik Amaya menjauh dari kaca. "Kamu nggak belajar dari dulu?"
"Aku baik-baik saja."
Nathan menoleh kepada kakaknya. "Koh nggak tahu dia takut petir?"
"Kakinya ada pada dirinya sendiri," jawab Sebastian dingin.
"Dia tersesat saat lima tahun di malam seperti ini."
Sebastian menatap Amaya. Kini ia memahami pucat yang bukan bagian dari air mata palsu.
"Sudah," kata Amaya. "Aku lapar."
Mereka pindah ke meja bundar di ruang istirahat. Nathan membuka sushi, sashimi, sup miso, dan dua porsi nasi. Amaya duduk di antara kakak beradik itu.
"Aku membeli salmon kesukaanmu," kata Nathan sambil memindahkan satu piring ke depannya. "Juga tamagoyaki tanpa saus manis berlebih."
Amaya melihat makanan tersebut. Nathan memang mengingat selera lama pemilik tubuh ini. Ia hanya sering lupa bahwa perhatian yang datang setelah ditinggalkan tetap terasa seperti sisa.
Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia membuka sumpit, tetapi pandangannya mencatat setiap piring yang didorong Nathan kepada Amaya.
"Koh nggak makan?" tanya Nathan.
"Sudah."
"Biskuit dua keping bukan makan malam," sela Amaya.
Nathan menoleh cepat. "Kamu tahu dia makan apa?"
"Kami bekerja dari sore."
Jawaban itu sederhana, tetapi membuat suasana di meja berubah. Sebastian mengambil satu potong sushi hanya untuk menghentikan pertanyaan berikutnya.
"Aku dengar soal evaluasi," ujar Nathan. "Kenapa nggak memberitahuku?"
"Karena kamu nggak bisa memperbaiki datanya."
"Aku bisa membantu hal lain."
Ia mengambil tisu dan mengulurkan tangan ke sudut bibir Amaya.
"Turunkan tanganmu," kata Sebastian.
Nathan berhenti. "Ada saus."
"Dia punya tangan sendiri."
Amaya menyeka mulutnya sambil menahan senyum. Nathan menatap kakaknya dengan bingung, sedangkan Sebastian memusatkan perhatian pada sup yang tidak disentuhnya.
Ia tidak punya nama untuk rasa tidak suka itu. Tidak ada hak untuk melarang Nathan menyentuh tunangannya. Ia bahkan tidak tahu makanan kesukaan Amaya sampai adiknya membawa dua kantong penuh.
Tanpa nama, tanpa kedudukan, dan tanpa alasan.
Tetap saja ia ingin tangan Nathan menjauh.
"Maya akan turun ke bagian klinis sebulan," kata Nathan. "Dari Pondok Indah ke sini setiap pagi terlalu jauh. Dia juga nggak menyetir dan di rumah nggak ada sopir khusus untuknya."
"Kenapa tidak ada sopir?" tanya Sebastian.
"Dulu Maya jarang keluar sendiri. Kalau perlu pergi, dia ikut Mama Karina atau aku."
Sebastian menatap Amaya. Keterangan itu terdengar seperti cara halus mengatakan bahwa perempuan tersebut tidak pernah diberi kemandirian.
"Aku bisa pakai taksi daring," katanya.
"Pukul enam pagi saat hujan?" Nathan menggeleng. "Perjalanannya bisa lebih dari satu jam. Kalau pulang tengah malam, juga nggak aman."
Sebastian membayangkan Amaya menunggu kendaraan sendirian setelah shift panjang. Alasan praktis mulai menumpuk di sisi keputusan yang memang ingin ia ambil.
"Aku sedang mencari tempat tinggal dekat rumah sakit," kata Amaya.
Nathan berpikir sejenak. "Unit kosong di seberang apartemen Koh masih belum dipakai, kan? Nomor 27-02."
Sebastian mengangkat wajah.
"The Sanctuary dekat dari RS Amerta," lanjut Nathan. "Maya bisa tinggal di sana. Koh, aku serahkan Maya padamu. Aku jadi tenang."
"Hal yang membuatmu tenang belum tentu pantas," jawab Sebastian.
"Hanya sebulan. Kalian juga bekerja bersama."
"Pihak Amerta bisa memberi dukungan transportasi."
"Lebih praktis tinggal di sana."
Amaya berpura-pura ragu. "Tinggal di seberang calon kakak ipar terdengar aneh."
Sebastian menatapnya. Perempuan itu menyebut batas mereka dengan sangat mudah setelah membuatnya hampir mencicipi karamel dari jarinya.
"Kita bicarakan nanti," katanya.
***
Hujan mengecil saat Nathan mengantar Amaya pulang.
Lampu jalan menyapu kaca mobil. Amaya memandang tetes air yang berlari turun, sementara Nathan beberapa kali meliriknya.
"Kamu benar-benar mau pindah?"
"Kalau di seberang Koh Sebas, mungkin nggak. Nanti orang bergosip."
"Lalu?"
"Unitmu di lantai dua puluh delapan kosong, kan? 28-01. Aku bisa tinggal di kamar tamu. Kita juga bisa berangkat bersama."
Nathan menjawab terlalu cepat. "Boleh."
Amaya tersenyum ke jendela. Umpannya masuk sempurna.
Nathan menelepon Sebastian melalui sistem mobil. "Koh, Maya bisa tinggal di tempatku saja. Lebih aman daripada sendirian."
Keheningan beberapa detik terdengar dari pengeras suara.
Dalam kepala Sebastian muncul gambar Nathan dan Amaya keluar dari pintu yang sama setiap pagi, makan bersama, lalu pulang bersama setiap malam.
Ia tidak menyukai satu bingkai pun.
Bayangan itu bahkan berkembang sendiri. Sepatu Amaya di depan pintu Nathan. Cangkirnya di dapur. Suaranya dari kamar tamu. Semua hal kecil yang tidak seharusnya menjadi urusan Sebastian terasa mengganggu dengan cara yang tidak rasional.
Ia bangkit dari kursi kantor dan berjalan ke jendela, seolah perubahan posisi dapat membuat jawaban lain terdengar masuk akal.
"Tidak," katanya.
"Kenapa?"
"Unit 27-02 disediakan untuk dukungan operasional mitra. Amerta yang bertanggung jawab atas koordinasinya."
"Bedanya apa?"
"Aku pihak pertama. Dia pihak kerja sama. Lebih mudah mengawasi jadwal dari lantai yang sama."
Amaya menutup mulut agar tidak tertawa.
"Kalau begitu selesai," kata Nathan. "Maya pindah ke 27-02."
"Ada aturan," lanjut Sebastian. "Tidak membawa orang pulang, tidak membuat suara tengah malam, dan tidak menggangguku kalau tidak ada urusan."
"Kenapa aturan pertama?" tanya Amaya dari dalam mobil.
Sebastian terdiam sesaat. "Keamanan gedung."
"Tamu bisa didaftarkan di lobi."
"Aturan unit berbeda."
"Unitnya bahkan bukan milik Koh Sebas."
"Itu aset dukungan Amerta. Kalau keberatan, tinggal di tempat Nathan."
"Nggak keberatan," jawab Amaya cepat. "Aku penghuni yang sangat patuh."
Nathan tertawa, tidak menyadari bahwa pertukaran tersebut lebih mirip kecemburuan daripada pembicaraan logistik.
"Koh bisa menyampaikannya langsung besok."
Panggilan berakhir.
Nathan menggeleng. "Dia memang suka mengatur."
"Tapi kamu percaya menitipkan aku kepadanya."
"Koh Sebas bisa diandalkan."
"Seperti aku percaya kamu menjaga Ci Selena?"
Tangan Nathan mengencang di kemudi. "Selena pernah menyelamatkan hidupku."
Amaya tahu cerita yang dimaksud. Bertahun-tahun lalu Selena mendorong Nathan dari jalur mobil. Tulang pinggangnya patah, ginjal kirinya hancur dan harus diangkat. Sejak itu Nathan membawa utang bernama satu ginjal.
Ia menjenguk Selena setiap hari selama pemulihan. Ketika gadis itu kesakitan, Nathan berjanji akan menjaga seumur hidup. Janji seorang remaja berubah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ia periksa lagi.
Setiap kali Selena menangis, bekas luka dan ruang kosong di tubuhnya menjadi alasan. Setiap kali Amaya protes, Nathan menganggapnya cemburu kepada seseorang yang telah berkorban.
Hanya Amaya yang tahu versi cerita asli: ginjal Selena memang sudah menyusut sejak lahir dan tidak akan bertahan lama. Kecelakaan memberinya alasan mulia untuk kehilangan organ yang sudah rusak, sekaligus mengikat seorang pria dengan rasa bersalah.
Itu bukan berarti Selena tidak terluka atau tidak mengambil risiko. Namun pengorbanan yang terus ditagih sampai bertahun-tahun kemudian bukan lagi kebaikan. Ia telah berubah menjadi rantai.
Nathan tidak pernah melihatnya begitu. Baginya, satu organ yang hilang harus dibayar dengan kesetiaan tanpa batas. Bahkan perjodohan dengan Amaya tidak mampu mengubah arah tubuhnya setiap kali Selena membutuhkan bantuan.
Amaya tidak berniat memperebutkan pria yang hidupnya dibangun dari utang. Ia hanya ingin Nathan menyadari betapa aneh pembagian peran mereka jika diucapkan keras-keras.
"Aku nggak menyuruhmu berhenti menjaganya," kata Amaya.
"Lalu apa?"
Mobil berbelok memasuki jalan menuju rumah Halim.
Gerbang perumahan sudah terlihat di kejauhan. Hujan menjadi gerimis, tetapi Nathan memperlambat mobil seolah membutuhkan waktu untuk memahami ke mana percakapan ini diarahkan.
Amaya tersenyum manis. "Kamu merawat Ci Selena, lalu menyerahkan aku kepada kakakmu. Berarti lewat Koh Sebas, kamu juga merawatku. Kita berempat hidup rukun seperti ini jauh lebih baik daripada bertengkar, kan?"
Nathan membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang keluar, seolah pertanyaan itu benar-benar tidak pantas untuk ditanggapi lagi.
Untuk pertama kalinya, perhatian yang selama ini ia sebut tanggung jawab terdengar seperti pertukaran pasangan paling absurd. Dan Amaya baru saja mengucapkannya sambil tersenyum seolah sedang membahas rencana makan malam biasa.