NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Setelah acara syukuran yang mengharukan itu berakhir, tetangga-tetangga lama Aira pulang dengan perut kenyang dan hati yang penuh.

Rumah megah Pradipta kembali sunyi, namun suasananya terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya. Malam itu, Dewa dan Aira duduk di bangku taman belakang, menatap tenda yang mulai dibongkar oleh para pekerja.

"Capek, Mas?" tanya Aira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dewa.

Dewa menghela napas panjang, namun bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Capek yang menyenangkan, Ai. Ternyata meladeni pertanyaan Bu RT soal kapan kita punya anak itu jauh lebih menguras tenaga daripada rapat pemegang saham."

Aira tertawa renyah. "Itu baru Bu RT satu, Mas. Belum lagi kalau nanti ketemu Saudaramu."

Dewa terdiam sejenak, ia mengeratkan pelukannya pada bahu Aira. "Siapa pun yang datang, mereka tidak akan pernah bisa memisahkan kita lagi. Aku janji."

Keesokan paginya, rutinitas baru dimulai. Aira kini sudah mulai terbiasa dengan kemewahan, namun ada satu hal yang masih membuatnya kewalahan, merapikan rambutnya yang panjang dan sedikit sulit diatur setelah bangun tidur.

Di kamar mandi yang luasnya hampir separuh kontrakan lama mereka, Aira sedang bertarung dengan sisir dan alat catok rambut pemberian Nyonya Widya.

"Aduh! Kok tidak lurus-lurus sih? Malah jadi seperti singa!" gerutu Aira kesal.

Dewa yang baru saja selesai mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya, berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan istrinya. Ia terkekeh melihat wajah Aira yang cemberut.

"Sini, biar aku yang bantu," tawar Dewa.

Aira menoleh sangsi. "Mas bisa? Memangnya Mas pernah mencatok rambut wanita?"

"Aku ini CEO, Ai. Mengatur ribuan karyawan saja bisa, masa mengatur rambut satu wanita cantik saja tidak bisa?" Dewa mengambil sisir dari tangan Aira dan mulai merapikan rambut istrinya dengan sangat teliti.

Aira tertegun. Sentuhan tangan Dewa terasa sangat lembut, jauh dari kesan kuli bangunan yang dulu pernah ia bayangkan. Dewa melakukan itu seolah-olah rambut Aira adalah serat sutra yang paling mahal di dunia.

"Tahu tidak, Ai? Dulu di kontrakan, aku sering membayangkan momen seperti ini. Menyiapkan pagi bersama, merapikan baju satu sama lain, dan mencium aroma sabun yang sama," bisik Dewa di dekat telinga Aira.

Pipi Aira merona merah. "Mas... jangan mulai deh. Nanti kita telat turun sarapan."

Setelah selesai, Dewa mencium puncak kepala Aira. "Sudah rapi. Sekarang, Nyonya Pradipta siap memikat dunia lagi."

Saat sarapan, suasana sedikit menegang karena sebuah tawaran dari Nyonya Widya. Beliau ingin Aira mulai terlibat dalam yayasan sosial milik keluarga secara penuh, yang artinya Aira harus banyak keluar rumah untuk menghadiri rapat dan acara amal.

"Aira, Mama rasa kamu punya bakat dalam berorganisasi. Kemarin Mama lihat kamu sangat luwes bicara dengan tamu. Bagaimana kalau minggu depan kamu mulai memimpin rapat perdana untuk yayasan pendidikan?" tanya Nyonya Widya sambil menyesap tehnya.

Aira melirik Dewa. Ia sebenarnya sangat tertarik, namun di sisi lain, ia masih ingin menikmati perannya sebagai istri yang menyiapkan segala kebutuhan Dewa secara langsung.

"Ma... apa tidak terlalu cepat? Aira masih ingin belajar banyak," jawab Aira ragu.

Dewa meletakkan sendoknya. "Aku setuju dengan Mama. Kamu punya potensi besar, Ai. Kamu cerdas. Tapi... aku tidak mau kamu terlalu capek sampai lupa masak bakwan jagung buat aku."

Aira mencibir. "Tuh kan, ujung-ujungnya urusan perut Mas Dewa."

"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kamu punya duniamu sendiri juga. Aku tidak mau kamu merasa terpenjara di rumah besar ini hanya karena urusan rumah tangga," ucap Dewa dengan nada yang lebih serius.

"Tapi Mas, kalau aku sibuk rapat, siapa yang siapkan dasi Mas? Siapa yang sambut Mas pulang kerja?" tanya Aira.

"Ai, kita punya asisten, punya pelayan. Masalah dasi, aku bisa pakai sendiri kalau memang kamu sedang sibuk membangun masa depan anak-anak di yayasan itu," balas Dewa.

Aira merasa sedikit tersinggung. Ia merasa perannya sebagai istri yang melayani secara manual sedang diremehkan oleh fasilitas kemewahan ini. "Jadi Mas lebih suka aku jadi wanita karir daripada jadi istri yang urus Mas di rumah?"

Dewa menghela napas. Ia tahu pembicaraan ini mulai masuk ke zona sensitif. "Bukan begitu maksudku, Ai. Aku ingin kamu bahagia. Kalau kamu bahagia di dapur, aku dukung. Kalau kamu bahagia di yayasan, aku juga dukung. Jangan merasa terbebani."

Aira terdiam. Ia melanjutkan makannya tanpa kata-kata lagi. Ada rasa kesal yang menggelitik hatinya. Ia merasa Dewa terlalu modern dalam memandang perannya, sementara ia masih memegang teguh nilai-nilai kesederhanaan yang dulu mereka jalani.

Hari itu, Aira memutuskan untuk sedikit memberi pelajaran pada Dewa. Ia ingin Dewa tahu bahwa fasilitas semewah apa pun tidak akan bisa menggantikan kehadiran pribadinya.

Sore harinya, saat Dewa pulang kerja, ia tidak mendapati Aira di depan pintu. Biasanya, Aira selalu menunggu dengan segelas teh hangat atau sekadar senyum manis.

"Aira? Ai?" panggil Dewa saat masuk ke rumah.

Ia naik ke lantai atas dan mendapati Aira sedang asyik membaca buku di balkon, mengenakan daster legendarisnya.

"Lho, Sayang? Kok tidak di bawah?" tanya Dewa sambil meletakkan tas kerjanya.

"Aku lagi sibuk belajar organisasi, Mas. Kan katanya Mas mau aku jadi wanita karir di yayasan. Jadi aku harus banyak baca," jawab Aira tanpa menoleh, suaranya terdengar datar.

Dewa menahan senyum. Ia tahu istrinya sedang merajuk. Ia mendekat dan mencoba memeluk bahu Aira, namun Aira menghindar dengan halus.

"Mas sudah mandi? Tehnya sudah disiapkan Bi Inah di bawah. Dasinya juga bisa dilepas sendiri kan?" ucap Aira lagi.

Dewa tertawa kecil. Ia berlutut di samping kursi Aira. "Ai... maafkan aku kalau kata-kataku tadi pagi salah. Aku tidak bermaksud bilang kalau urusan rumah tangga itu tidak penting. Justru karena itu sangat penting, aku tidak mau kamu merasa itu adalah sebuah beban."

Aira menutup bukunya. "Mas tahu tidak? Aku bahagia saat aku siapkan dasi Mas. Aku merasa benar-benar jadi istrimu saat aku goreng bakwan jagung meski minyaknya nyiprat ke tangan. Kalau semua itu diganti sama asisten, lalu apa gunanya aku ada di sini?"

Mata Aira berkaca-kaca. Ia merasa identitas dirinya sebagai Aira yang sederhana perlahan terkikis oleh protokol keluarga Pradipta.

Dewa meraih kedua tangan Aira, menciumnya dengan penuh perasaan. "Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu fokus ingin memberimu segalanya sampai aku lupa bahwa hal yang paling berharga justru adalah pelayanan tulusmu. Baiklah, kita buat kesepakatan. Kamu boleh pegang yayasan, tapi hanya dua hari dalam seminggu. Sisanya, kamu tetap jadi menteri dapur dan menteri hatiku. Bagaimana?"

Aira akhirnya tersenyum. "Menteri dapur? Memangnya ada gajinya?"

"Gajinya adalah ciuman setiap pagi dan pelukan setiap malam. Mau?" goda Dewa sambil menarik Aira ke dalam pelukannya.

Aira tertawa dan memukul pelan dada Dewa. "Dasar CEO pelit! Gajinya cuma begitu saja."

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
🥰🥰🥰semangat thor...
Yunita Asep
jngn ad pelakorr ya..
ρυтяσ kang'typo✨
siapa kah tuan'Arthur itu???? masih sodarah kah atau musuh masa lalu🧐
ρυтяσ kang'typo✨
ini g di ulang kan ya🧐kek familiar
Yunita Asep
lucunya y,.. lanjuutt...
Yus Nita
bukan yg jd kk ny si Aira y...
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
Yus Nita
apa kabar tuch dengan surya dan anak songong ny si Siska, msh bernaffas ksh... 😁😁😁
Yus Nita
Aira yg malang
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
ρυтяσ kang'typo✨
ya Allah 🤣🤣🤣🤣lucu sekali... g kebayang, apa itu Dewa???🤣🤣🤣mau ke kantor malahan jadi badut di depan Arka
Patrish
ada apa gerangan.....semoga dapat dilalui dengan baik
Yunita Asep
thorr bukannya Aira itu kakaknya Siska ya, kn waktu nikahan Siska, Aira lebih dulu di nikahkan..
Yunita Asep
lanjutkan...
Yunita Asep
/Rose//Rose//Rose/
Yunita Asep
ya betul itu , setuju... lanjut thorr...
Yunita Asep
kok Siska masih manggil ppa y, bukannya dulu ayah...
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
ach g kuat😭😭😭terharu...

dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa
ρυтяσ kang'typo✨
ini nama'y sama kek sebelah juga ya thor... hanya saja disini Arvin sebagai ipar kalo disono dia pemeran utama
ρυтяσ kang'typo✨
ko ya nyesek setelah tau Arvin juga sedih begitu😌😌🥺🥺teryata mereka sama" tersiksa ya dengan keadaan (demi masa depan)
Lilik Juhariah
bagus ceritanya ,🤣🤣🤣 dewa sama mama bikin ketawa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!