❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: GETARAN KEHIDUPAN DI DALAM RAHIM
Waktu terus berjalan, kini usia kandungan Maheera sudah memasuki bulan ke-empat. Perubahan pada tubuhnya semakin terlihat jelas dan nyata. Perutnya yang dulu hanya tampak sedikit membulat, kini telah membesar dengan sangat cepat dan sempurna.
Karena mengandung dua janin sekaligus, ukuran perutnya terasa jauh lebih besar dibandingkan ibu hamil pada umumnya di usia yang sama. Bentuknya bulat sempurna, keras, dan kokoh, seolah menampung sebuah keajaiban dunia di dalamnya.
Setiap kali Aaryan melihatnya, hatinya selalu dipenuhi rasa kagum dan cinta yang tak terhingga.
"Subhanallah... semakin besar saja perut istriku ini," gumam Aaryan pelan sambil duduk di samping Maheera yang sedang bersantai di kursi goyang di taman belakang rumah.
Ia mendekatkan wajahnya ke perut bundar itu, menempelkan pipinya dengan lembut.
"Masya Allah... berat ya pasti rasanya menampung dua orang sekaligus di sini ya, Sayang?" tanyanya lembut.
Maheera tersenyum manis sambil mengusap rambut hitam suaminya itu.
"Iya Mas... rasanya memang semakin berat. Kalau jalan agak lama rasanya pinggang rasanya pegal sekali, dan nafas juga jadi lebih cepat ngos-ngosan. Tapi... rasanya bahagia sekali rasanya bisa merasakan mereka bergerak-gerak di dalam sini."
Gerakan Aktif Si Kembar
Benar saja, tidak lama setelah Maheera berkata demikian, tiba-tiba terasa ada gerakan kuat dari dalam perutnya.
DUG! DUG!
Tiba-tiba perut Maheera terlihat menonjol ke satu sisi, seolah ada siku atau kaki kecil yang menendang keras dari dalam.
"Ugh... Mas! Lihat tuh! Mereka berdua lagi main bola di dalam nih!" seru Maheera sambil tertawa kecil namun sedikit meringis karena tendangannya cukup kuat.
Aaryan terbelalak takjub melihat pemandangan ajaib itu. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman.
"Wah! Hebat sekali! Giat banget ya mereka!" serunya antusias.
Dengan hati-hati, Aaryan meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat di permukaan perut istrinya.
"Halo... Halo... Dede bayi nomor satu... Dede bayi nomor dua... Ayah nih..." bisik Aaryan dengan suara lembut namun penuh wibawa.
"Gimana rasanya di dalam sana? Nyaman kan? Jangan nakal-nakal ya tendang ibunya terlalu keras. Nanti ibunya sakit lho."
Seolah mengerti suara ayahnya, tiba-tiba ada gerakan lagi yang sangat kuat tepat di bawah telapak tangan Aaryan.
BLUK!
"Ya Allah! Dia nendang tanganku! Dia nendang tanganku Sayang!" seru Aaryan girang bukan main, wajahnya bersinar begitu bahagia. "Denger nggak suaranya? Degupan jantungnya kencang banget!"
Melihat reaksi suaminya yang begitu antusias dan bahagia seperti anak kecil, hati Maheera terasa sangat hangat dan terharu. Ia bersyukur sekali memiliki suami yang begitu penyayang dan begitu terlibat penuh dalam kehamilan ini.
"Mereka pasti kenal suara Ayahnya dong Mas. Kan Ayah sering ngobrol sama mereka tiap malam," jawab Maheera manja.
"Pasti dong! Ayah sayang banget sama kalian bertiga. Kalian adalah harta terbesar Ayah di dunia ini," ucap Aaryan tulus, lalu mencium perut itu berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
Momen Manis di Taman
Matahari sore mulai condong ke barat, menyinari taman belakang kediaman keluarga Singhania yang begitu luas dan indah itu. Bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang cantik, dan air mancur kecil yang mengalir menambah suasana menjadi semakin damai dan tenang.
Ny. Savitri datang membawa nampan berisi jus buah segar dan camilan ringan yang sehat.
"Nah, ini Nak Maheera... minum dulu jus alpukatnya. Bagus buat nutrisi dedek bayi. Dan ini ada kue manis sedikit buat cemilan," ucap Ny. Savitri ramah sambil meletakkan nampan di meja.
"Makasih banyak ya Bu," jawab Maheera senang.
"Sama-sama Nak. Ibu lihat perutmu makin cantik dan besar saja. Pasti cucu Ibu di dalam sana makin sehat dan makin gembul ya," kata Ny. Savitri sambil tersenyum lebar, lalu ikut mengelus lembut perut menantunya itu.
Tiba-tiba...
"Ugh... perutku rasanya kencang sekali Bu... agak sakit sedikit di bagian bawah," keluh Maheera tiba-tiba sambil memegang perutnya.
Wajahnya sedikit berubah pucat.
"Lho? Kenapa Nak? Kram lagi ya?" tanya Ny. Savitri langsung panik.
"Iya Bu... rasanya kayak ada yang menarik-narik dari dalam. Mungkin mereka lagi tumbuh besar makanya kulit perutnya jadi tegang sekali rasanya," jelas Maheera.
Aaryan langsung sigap. Ia mengambil botol minyak zaitun khusus ibu hamil yang sudah disiapkannya.
"Sini Sayang... Ayah pijatin ya pelan-pelan biar enakan. Jangan ditahan ya rasa kencangnya, itu tandanya mereka tumbuh dengan sangat sehat dan kuat."
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Aaryan mengoleskan minyak itu ke seluruh permukaan perut Maheera. Tangannya yang terlatih memijat dengan gerakan memutar yang lembut namun menenangkan.
"Rasanya gimana Sayang? Enakan nggak?" tanyanya perhatian.
"Mmm... enak sekali Mas... hangat dan rasanya lega banget. Tangan Mas aja yang bisa bikin aku tenang," jawab Maheera sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.
Ny. Savitri yang melihat interaksi manis antara anak dan menantunya itu hanya bisa tersenyum haru.
"Alangkah bahagianya kalian... Dulu Ibu juga pernah merasakan hal yang sama persis saat mengandung Aaryan. Rasanya memang kadang capek dan sakit, tapi semua itu akan terbayar lunas saat melihat wajah mungil mereka nanti."
Ngidam yang Masih Setia Menghampiri
Meskipun sudah masuk bulan keempat, ternyata rasa ngidam dan sensitifitas Maheera belum juga hilang. Justru kadang permintaannya semakin unik dan lucu.
Sore itu, tiba-tiba Maheera menoleh ke arah suaminya dengan wajah memelas.
"Mas... aku pengen makan sesuatu..."
"Mau makan apa Sayang? Bilang aja, siap laksanakan!" jawab Aaryan sigap siap sedia.
"Aku pengen makan Jalebi yang warnanya oranye terang gitu lho Mas! Yang manisnya kerasa banget dan renyah! Tapi harus yang masih hangat-hangat!" pinta Maheera.
"Jalebi? Bisa! Gampang itu! Aku suruh koki bikin sekarang atau aku beliin ke pasar India!" jawab Aaryan siap berangkat.
"Tapi tunggu Mas... sama Chai (teh) nya juga! Teh susu yang agak kental dan manis dikit! Harus pas rasanya!" tambah Maheera lagi.
"Siap Bos! Ditunggu ya!"
Tak lama kemudian, Jalebi hangat dan teh susu panas pun tersaji di hadapan Maheera. Ia memakannya dengan lahapnya, wajahnya tampak sangat puas dan bahagia.
"Enak sekali ya Mas... manis dan hangat. Rasanya pas banget di lidah," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Aaryan dan ibunya pun ikut tersenyum melihatnya. Bagi mereka, melihat Maheera tersenyum dan bahagia adalah hal yang paling penting.
Hari demi hari, ikatan batin antara Maheera, Aaryan, dan kedua bayi di dalam rahim semakin kuat. Setiap tendangan, setiap gerakan, adalah bentuk komunikasi kasih sayang yang tak terucapkan.
Meskipun tubuh terasa semakin berat, sering pegal, sering mual, dan berbagai keluhan lainnya... namun semua itu terasa ringan karena dilalui dengan penuh cinta dan dukungan dari keluarga yang begitu menyayanginya.
Mereka kini semakin tidak sabar menanti saat-saat sakral di mana kedua pangeran kecil itu akan lahir ke dunia, melengkapi kebahagiaan keluarga besar Singhania yang sudah sedemikian indah ini.
...Mereka kini semakin tidak sabar menanti saat-saat sakral di mana kedua pangeran kecil itu akan lahir ke dunia, melengkapi kebahagiaan keluarga besar Singhania yang sudah sedemikian indah ini.
Perjalanan Menuju Saksi Cinta Abadi
Melihat istrinya sering merasa bosan di dalam rumah dan butuh suasana baru, Aaryan pun mendapat ide brilian.
"Sayang... bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Udah lama kita nggak keluar berdua menikmati suasana luar," ajak Aaryan lembut sambil memakaikan selendang tipis di bahu Maheera.
"Mau ke mana Mas? Jauh nggak? Aku takut capek soalnya perut udah berat banget ini," jawab Maheera sambil mengelus perut bundarnya yang sudah sangat besar.
"Enggak jauh kok Sayang. Kita ke tempat yang sangat indah, sangat tenang, dan sangat romantis. Aku yakin kamu pasti suka. Kita naik mobil yang paling nyaman, ada bantal dan selimut kok. Janji deh nggak bakal bikin kamu capek," bujuk Aaryan manis.
"Ya sudah... kalau begitu ayok," jawab Maheera akhirnya tersenyum.
Ny. Savitri pun mendukung sepenuhnya. "Iya pergi saja Nak, hibur diri kalian. Di sana kan udaranya segar dan pemandangannya indah. Bawa banyak orang jaganya ya, pastikan Maheera aman dan nyaman."
Maka berangkatlah mereka berdua dengan mobil mewah yang sangat nyaman. Perjalanan menuju tempat itu terasa menyenangkan.
Dan tibalah mereka di sebuah bangunan megah yang memukau dunia, simbol cinta abadi yang terukir indah di atas batu putih... TAJ MAHAL.
Taj Mahal: Saksi Bisu Kisah Mereka
Saat kaki mereka melangkah masuk ke area kompleks yang begitu luas dan megah itu, mata Maheera seketika terpana.
"Masya Allah... indah sekali ya Mas..." bisik Maheera takjub. "Putih bersinar begitu megah dan anggun."
"Betul sekali Sayangku..." jawab Aaryan sambil menggandeng tangan istrinya dengan erat, memastikan langkahnya aman dan stabil. "Ini adalah monumen cinta terindah di dunia. Dibangun oleh seorang kaisar demi kenangan cinta terbesarnya pada permaisurinya."
Mereka berjalan pelan menyusuri jalanan yang dihiasi bunga-bunga dan air mancur. Matahari sore menerangi bangunan marmer putih itu membuatnya tampak berkilauan seperti permata raksasa.
Aaryan memandu Maheera duduk di sebuah bangku marmer yang teduh dan sejuk, tepat menghadap ke bangunan utama yang megah itu.
"Duduk dulu ya Sayang, istirahatkan kaki. Nikmati anginnya, segar sekali kan?"
Maheera mengangguk pelan sambil memandang takjub ke sekeliling.
"Taj Mahal ini..." ucap Maheera pelan, matanya menatap jauh ke depan. "Dulu dibangun karena cinta yang begitu besar sampai rela membangun istana batu seindah ini. Tapi tau nggak Mas..."
Maheera menoleh ke arah suaminya, tersenyum manis penuh makna.
"Menurut aku, kisah cinta kita jauh lebih indah dan lebih hidup dari bangunan ini. Karena Taj Mahal ini cuma batu dan marmer yang diam. Tapi cinta kita... berdenyut, bernyawa, dan sekarang bahkan sudah ada buah hatinya di sini," katanya sambil menunjuk pelan ke perutnya.
Mendengar ucapan itu, hati Aaryan serasa meleleh. Ia memeluk bahu istrinya erat-erat, menempelkan kepalanya di bahu itu.
"Betul sekali Sayangku... kamu benar sekali. Taj Mahal ini hanyalah saksi bisu. Tapi cinta kita adalah nyata. Cinta yang pernah diuji oleh air mata, perjuangan, kesulitan, dan sekarang berubah menjadi emas kebahagiaan."
"Tempat ini menyaksikan bagaimana dulu kita berjuang, bagaimana kita saling setia, dan sekarang tempat ini juga yang menyaksikan kebahagiaan kita yang utuh."
Momen Magis di Bawah Langit Senja
Angin sore berhembus pelan, membelai rambut panjang Maheera. Di tempat yang begitu damai dan megah itu, mereka merasa seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Tiba-tiba, gerakan aktif kembali terasa di dalam perut Maheera.
Dug! Dug! Tendang! Tendang!
"Ugh... Mas... lihat tuh! Dede bayinya lagi senang juga kayaknya lihat pemandangan indah ini!" seru Maheera sambil tertawa kecil. "Mereka gerak-gerak terus!"
Aaryan pun langsung tersenyum lebar, ia kembali menempelkan telinganya ke perut istri tercintanya.
"Wahhh... pangeran-pangeran kecilku... kalian setuju ya kalau tempat ini indah? Kalian setuju kalau cinta Ayah dan Ibu itu hebat?" bisiknya penuh cinta.
Seolah menjawab, kembali terasa tendangan kuat dari dalam sana.
"Hahaha... mereka jawab lho Mas! Mereka setuju!" seru Maheera girang.
Suasana menjadi begitu damai, begitu romantis, dan begitu penuh berkah.
Taj Mahal yang megah itu berdiri tegak kokoh, seolah ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan pasangan suami istri ini. Dulu tempat ini saksi cinta yang berakhir pilu, namun kini tempat ini menjadi saksi cinta yang tumbuh subur, bahagia, dan penuh harapan.
"Sayang..." panggil Aaryan lembut.
"Iya Mas?"
"Arya berjanji sama kamu... sama seperti Raja Shajahan yang membangun Taj Mahal ini sebagai bukti cintanya... Aku juga akan menjadikan hidupmu seperti istana yang penuh cinta. Aku akan melindungimu, menyayangimu, dan membahagiakanmu sampai akhir hayatku. Kamu adalah Taj Mahal-ku, kamu adalah cinta sejatiku selamanya."
Air mata haru menetes di pipi Maheera. Ia membalas pelukan suaminya erat-erat.
"Aku juga sayang Mas... sangat sayang. Terima kasih sudah membawa aku ke sini. Terima kasih sudah membuat hidupku begitu indah seperti mimpi."
Di bawah langit senja yang berwarna jingga keemasan, di hadapan keagungan Taj Mahal... ikatan cinta mereka semakin kuat, semakin kokoh, dan abadi selamanya.
...Di bawah langit senja yang berwarna jingga keemasan, di hadapan keagungan Taj Mahal... ikatan cinta mereka semakin kuat, semakin kokoh, dan abadi selamanya.
Kulineran Manis di Samping Cinta
Setelah puas menikmati pemandangan dan suasana romantis di area monumen, perut Maheera tiba-tiba memberikan sinyal lapar. Apalagi ditambah dua bayi di dalam perut yang pasti juga ikut "ingin makan".
"Mas... perutku keroncongan nih. Baunya enak-enak banget ya dari arah sana," ucap Maheera sambil menunjuk ke arah area pasar dan tempat makan yang ada di sekitar kompleks tersebut.
Aaryan terkekeh melihat tingkah istrinya yang lucu.
"Hahaha... iya dong. Pasti kan kita lagi di India, Sayang. Makanannya pasti semuanya khas dan wanginya menggoda selera. Ayok kita cari makan. Apa yang kamu pengen makan hari ini?"
Mereka pun berjalan pelan menuju area food stall yang bersih dan nyaman. Berbagai macam aroma masakan India bertebaran di udara, bercampur menjadi satu wangi yang sangat khas.
Ada aroma Garam Masala, aroma rempah yang kuat namun nikmat, dan wangi manis dari makanan penutup.
Hidangan Khas yang Menggoda
Mereka memilih duduk di meja yang bersih, tepat di mana mereka masih bisa melihat kemegahan bangunan Taj Mahal di kejauhan yang mulai diterangi lampu-lampu indah.
Aaryan memesan berbagai macam makanan favorit istrinya dan juga makanan khas daerah situ.
Tak lama kemudian, hidangan pun datang satu per satu.
Pertama datang Tandoori Chicken yang dipanggang sempurna, warnanya merah menyala cantik, dagingnya terlihat sangat empuk dan berair.
"Wahhh... ini dia favoritku!" seru Maheera bersemangat. "Baunya harum sekali rempahnya."
"Ini ayam panggang khas Tandoori Sayang. Bumbunya meresap sampai ke tulang. Coba kamu makan pakai Naan roti ini ya," kata Aaryan sambil menyobek roti pipih yang lembut dan hangat itu, lalu mencelupkannya ke kuah kari kental yang berwarna oranye kekuningan.
"Mmm... enak sekali Mas!" seru Maheera setelah mencicipinya. "Rasanya kaya banget, pedas-pedas gurih gitu. Enak banget!"
Belum cukup sampai di situ, datang juga piring berisi Biryani Rice. Nasi basmati yang panjang-panjang, berwarna kuning keemasan, dicampur dengan potongan daging kambing empuk dan kacang-kacangan. Wanginya saja sudah bisa bikin lapar mata.
"Ini nasi Biryani legendaris Sayang. Coba makan ini, pasti kamu suka," ucap Aaryan sambil menyuapi istrinya dengan penuh perhatian.
"Enak Mas... nasinya pulen dan bumbunya medok banget. Rasanya mantap sekali," jawab Maheera dengan mata berbinar.
Jajanan Segar dan Manis
Karena makan makanan yang agak berat dan berbumbu, pastinya butuh yang segar-segar.
Aaryan pun memesan dua gelas besar Mango Lassi. Minuman yogurt campur buah mangga yang kental, manis, dan dingin.
"Nah, ini minumnya dulu biar tenggorokan segar. Dingin-dingin enak nih," kata Aaryan sambil menyerahkan gelas tinggi itu.
"Sruuuuutt..."
"Ahhh... segar sekali Mas! Manis dan asamnya pas banget. Enak banget melewati tenggorokan," puji Maheera senang.
Dan sebagai penutup, mereka tidak lupa memesan Gulab Jamun. Bola-bolan tepung yang digoreng lalu direndam dalam sirup gula merah dan kapulaga. Rasanya sangat manis, lembut, dan hangat.
"Ini manis-manis ya Sayang. Biar hati dan perut kita makin bahagia," canda Aaryan.
Mereka makan dengan sangat lahap. Di tengah suasana yang mulai agak ramai oleh pengunjung lain, namun mereka berdua merasa seolah-olah hanya berdua saja di dunia ini.
Suasana di sekitar Taj Mahal saat itu terasa begitu hidup. Ada suara tawa orang-orang, ada musik instrumental India yang mengalun pelan, dan cahaya lampu yang memantul indah di bangunan marmer putih itu.
Kenangan Indah yang Tersimpan
Selesai makan, mereka duduk santai sejenak sambil memandang keindahan bangunan megah itu yang kini tampak semakin memukau di bawah langit malam.
"Senang sekali ya hari ini Mas..." ucap Maheera sambil bersandar nyaman di bahu suaminya. "Bisa jalan-jalan, lihat pemandangan indah, terus makan enak bareng Mas. Rasanya bahagia sekali."
Aaryan tersenyum, mengecup kening istrinya lembut.
"Iya Sayangku. Aku juga sangat bahagia. Melihat kamu makan lahap dan senyum terus, itu sudah jadi hadiah terindah buat aku."
"Taj Mahal ini bukan cuma bangunan batu yang indah..." lanjut Aaryan pelan. "Tapi hari ini tempat ini juga jadi saksi bisu kalau kita sudah bahagia. Kita sudah melewati semua rintangan, dan sekarang kita menikmati manisnya hasil perjuangan kita."
"Semoga cinta kita bakal sekuat dan seabadi bangunan ini ya Mas..." doa Maheera tulus.
"Aamiin... pasti bakal lebih dari itu Sayang. Karena cinta kita punya nyawa, punya rasa, dan punya kalian di sini." Aaryan menepuk pelan perut bundar istrinya.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan. Perut kenyang, hati senang, dan cinta yang semakin membara di bawah naungan keagungan Taj Mahal, saksi bisu perjalanan cinta mereka yang luar biasa.
Keesokan Harian: Warna-Warni Festival Kebahagiaan
Mentari pagi belum terlalu tinggi menyinari bumi India, namun suasana di luar sudah terdengar sangat berbeda. Suara genta, musik genderang, dan tawa riuh penduduk sudah terdengar memecah keheningan pagi.
Keesokan harinya ternyata bertepatan dengan salah satu festival terbesar dan termegah di negeri itu. Seluruh kota seolah berubah menjadi pesta raksasa yang penuh warna dan sukacita.
"Mas... lihat itu luar sana! Indah sekali ya!" seru Maheera dari balkon kamar mereka sambil menunjuk ke arah jalanan.
Aaryan mendekat dan memeluk pinggang istrinya dari belakang, dagunya bertumpu di bahu halus itu.
"Iya Sayang... hari ini adalah hari festival. Semua orang merayakan kedatangan kebahagiaan, kesuburan, dan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Warna-warni ini simbol keceriaan hidup."
Dari atas sana, terlihat jelas jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian adat yang sangat indah. Wanita-wanita memakai saree berwarna-warni mencolok, pria-pria memakai turban dan pakaian tradisional. Di mana-mana ada hiasan bunga marigold berwarna oranye keemasan yang digantung cantik, dan lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip.
"Ayo kita turut merayakan ya Sayang. Hari ini kita tidak boleh sedih, hari ini kita harus tertawa dan bersyukur atas semua nikmat yang kita punya," ajak Aaryan antusias.
"Tentu saja mau Mas! Aku juga pengen ikut seru-seruan!" jawab Maheera bersemangat, meski langkahnya kini harus lebih pelan karena perutnya yang sudah besar.
Berhias dan Berpakaian Adat
Ny. Savitri pun sudah menyiapkan pakaian yang paling indah untuk menantunya.
"Nak Maheera, pakai ini ya. Saree warna merah maroon dengan benang emas ini. Sangat cocok sekali dengan suasana festival hari ini. Dan ini perhiasan tradisionalnya, biar makin cantik seperti putri raja," kata Ny. Savitri sambil membantu Maheera berdandan.
Maheera pun dihias dengan sangat cantik. Di tangannya digambar inai (henna) dengan motif yang rumit dan indah. Di telinganya dan lehernya dipakaikan perhiasan emas yang berkilauan.
Saat ia muncul di ruang tamu, Aaryan seketika terpana.
"Ya Allah... cantiknya bukan main, Sayangku... Kamu ini bukan manusia biasa, kamu pasti bidadari yang turun ke bumi," puji Aaryan takjub sambil mendekat, memegang kedua tangan istrinya yang dihiasi henna itu.
"Masnya juga ganteng banget pakai baju kurta putih ini. Gagah sekali," balas Maheera tersipu malu.
Mereka berdua tampak sangat serasi dan mempesona, layaknya raja dan ratu yang sedang merayakan hari kemenangan mereka.
Suasana Pesta yang Meriah
Mereka berjalan keluar rumah. Suasana di luar benar-benar luar biasa meriahnya!
Udara terasa hangat dipenuhi aroma dupa wangi, bunga-bunga segar, dan aroma masakan lezat dari berbagai penjuru.
Di halaman rumah yang luas itu, sudah disiapkan berbagai macam keseruan. Ada musisi yang memainkan alat musik tradisional seperti Sitar dan Tabla, menciptakan irama yang sangat khas dan membuat hati ingin ikut bergoyang.
"Wah... asyik sekali suaranya!" seru Maheera girang.
"Iya dong, ini lagu khas festival lho. Ayo... ayo kita menari sedikit," ajak Aaryan sambil menggandeng tangan istrinya.
"Tapi Mas... perutku besar begini gimana menarinya?" tanya Maheera ragu.
"Gapapa Sayang, menari pelan-pelan saja. Yang penting gerak dan bahagia," jawab Aaryan lembut.
Mereka pun menari mengikuti irama musik itu. Aaryan memandu langkah Maheera dengan sangat hati-hati, memutarnya perlahan, dan memeluk pinggangnya agar tidak jatuh. Gerakan mereka begitu harmonis, penuh cinta, dan penuh keanggunan.
Melihat mereka menari, para pelayan dan keluarga pun ikut tersenyum bahagia dan bertepuk tangan.
"Cantik sekali Nyonya! Ganteng sekali Tuan!" seru mereka serentak.
Berbagi Makanan dan Kue Khas
Tentu saja sebuah festival di India tidak akan lengkap tanpa makanan!
Di meja panjang yang disediakan, tersedia berbagai macam hidangan khas festival yang sangat menggoda selera.
Ada Gujiya, kue berbentuk setengah bulan yang isinya manis dan kacang, lalu digoreng garing. Ada Puran Poli, roti pipih manis yang sangat terkenal. Ada juga Samosa yang renyah berisi bumbu kentang pedas, dan berbagai macam manisan serta buah-buahan segar.
"Nah, ini coba makan Gujiya ini Sayang. Manis dan renyah, favorit banget pas festival gini," kata Aaryan sambil menyuapi istrinya.
"Mmm... enak Mas! Manisnya pas, kulitnya garing banget," puji Maheera sambil mengunyah dengan lahap.
"Terus ini juga coba Ladoo-nya. Bola-bola manis dari kacang dan gula ini. Katanya sih makan ini bikin hidup makin manis," canda Aaryan sambil memberikan satu butir besar ke mulut Maheera.
Mereka makan bersama-sama, saling menyuapi, tertawa, dan menikmati setiap suapan dengan hati yang penuh syukur.
Perut Maheera yang berisi dua bayi kembar seolah ikut merasakan kegembiraan itu, sesekali bergerak-gerak aktif seolah ikut menari di dalam sana.
Doa dan Harapan di Malam Festival
Sore menuju malam, langit mulai berubah warna. Lampu-lampu minyak kecil (Diyas) dinyalakan di setiap sudut rumah, menciptakan pemandangan yang sangat magis dan hangat.
Aaryan dan Maheera duduk berdua di beranda, memandangi ratusan lampu yang berkelap-kelip indah.
"Indah sekali ya Mas... seperti bintang yang turun ke bumi," ucap Maheera lembut.
"Iya Sayang... dan semua keindahan ini tidak ada artinya kalau tidak ada kamu di samping aku," jawab Aaryan tulus.
"Hari ini festival kebahagiaan... dan aku bersyukur sekali karena hidup kita sekarang memang sudah penuh kebahagiaan. Kita sudah melewati masa-masa gelap, dan sekarang kita berada di tengah terang benderang seperti lampu-lampu ini."
Maheera mengangguk setuju, ia memejamkan mata sejenak sambil berdoa.
"Ya Allah... terima kasih atas semua ini. Terima kasih untuk cinta, untuk keluarga, dan untuk dua buah hati yang akan datang. Semoga kebahagiaan ini abadi selamanya."
Festival yang megah ini pun menjadi saksi bisu lainnya, bahwa keluarga Singhania kini hidup dalam kemuliaan, kedamaian, dan kasih sayang yang tak terhingga.
📖 BAB 26: MENGANTI KEDATANGAN DUA MALAIKAT
Waktu seolah berjalan semakin cepat bagaikan air yang mengalir deras. Tak terasa, kini usia kandungan Maheera sudah memasuki bulan ke-delapan.
Beban yang ditanggung tubuhnya kini terasa sangat luar biasa. Perutnya membesar dengan sangat sempurna namun juga terasa sangat berat dan kencang. Karena mengandung dua janin laki-laki yang aktif dan tumbuh dengan cepat, bentuk perutnya terlihat jauh lebih besar dibandingkan ibu hamil pada umumnya.
Setiap kali berjalan, Maheera harus menopang tubuhnya dengan kedua tangan di pinggang belakang, langkahnya pelan dan hati-hati seperti itik yang sedang berjalan gemulai.
"Ugh... rasanya berat sekali ya Mas... seolah-olah ada beban batu yang ditaruh di perutku," keluhnya sambil duduk lemas di sofa empuk.
Aaryan yang melihatnya langsung berlari mendekat. Ia segera meletakkan bantal yang empuk di belakang punggung istrinya dan bantal lain untuk menyangga kakinya agar lebih tinggi.
"Sini Sayang... istirahat yang banyak. Jangan banyak bergerak dulu. Kasihan sekali punggungmu menahan beban seberat ini," ucap Aaryan penuh rasa sayang dan iba.
Ia lalu berjongkok di hadapan Maheera, mengelus perut bundar itu dengan lembut.
"Masya Allah... kalian berdua di dalam sana pasti sudah besar-besar dan gembul ya. Sampai bikin ibunya capek begini."
Perhatian yang Tak Terbatas
Hari-hari ini Aaryan benar-benar mengubah dirinya menjadi perawat pribadi yang paling setia.
Rutin setiap pagi dan malam, ia tidak pernah lupa memberikan vitamin dan susu.
"Minum dulu ya Sayang... ini obatnya. Biar tulang kamu kuat menahan mereka berdua. Dan ini susunya, harus habis ya biar dede bayi lahir sehat dan cerdas," ucapnya lembut sambil menyuapi istrinya dengan sabar.
Maheera pun menurut dengan manja. "Iya Mas... Mas memang terbaik deh. Kalau bukan sama Mas, aku nggak tahu harus bagaimana melewati hari-hari berat ini."
"Harus dong Sayang... itu kan tugas Ayah. Tugas Ayah menjaga Ibu dan anak-anak kita."
Namun, di samping rasa lelah, ada hal lucu yang sering terjadi. Rasa ngidam Maheera kadang masih muncul secara tiba-tiba dan dengan permintaan yang unik-unik.
Suatu malam, sekitar pukul tiga pagi...
"Mas... Mas Aaryan... bangun dong..." Maheera menggoyangkan bahu suaminya pelan.
Aaryan langsung terbangun dengan sigap, matanya masih mengantuk tapi tangannya sudah siap siaga.
"Kenapa Sayang? Sakit di mana? Atau lapar lagi?"
"Iya Mas... aku pengen makan sesuatu yang dingin-dingin dan manis... aku pengen Kulfi! Es krim khas India yang rasa pistachio dan mangga itu lho! Pengen banget sekarang..." rengeknya dengan wajah memelas.
Aaryan mengucek matanya, lalu tersenyum lemah namun penuh pengertian.
"Ya sudah... jangan sedih ya Sayang. Ayah ambilin. Di kulkas kan masih ada stok yang khusus disiapkan Ibu buat kamu."
Aaryan pun bangun, mengambilkan es krim itu, lalu menyuapi istrinya di atas ranjang dengan penuh kasih sayang. Melihat Maheera makan dengan lahap dan wajahnya bersinar bahagia, rasa kantuknya pun hilang berganti dengan kebahagiaan.
Gerakan yang Semakin Kuat
Di bulan ke-delapan ini, kedua bayi kembar itu semakin aktif dan kuat bergerak.
Seringkali terlihat perut Maheera berubah bentuk, menonjol ke sana ke mari seolah ada pertandingan tinju atau sepak bola di dalam sana.
Dug! Dug! Tendang! Tendang!
"Ugh... Mas! Lihat tuh! Yang nomor satu sama nomor dua lagi adu kuat nih di dalam!" seru Maheera sambil tertawa kecil namun sedikit meringis karena tendangannya kadang cukup keras sampai menekan kantung kemihnya.
"Wahh... hebat-hebat... kuat sekali ya tendangannya!" Aaryan tak habis pikir dan tak habis kagum.
Ia menempelkan telinganya ke perut itu, mendengar detak jantung yang ganda dan gerakan-gerakan halus itu.
"Halo pangeran kecil... jangan nakal-nakal ya tendang ibunya terlalu keras. Nanti ibunya sakit lho. Kalau mau main, main sama Ayah sini..." bisiknya pelan.
Seolah mengerti, tiba-tiba ada tendangan keras tepat di telinga Aaryan.
"BLUK!"
"Hahaha! Dia jawab Sayang! Dia jawab! Mereka pasti anak-anak yang pemberani dan sehat!" seru Aaryan girang.
Suasana di kamar mereka selalu dipenuhi tawa dan kehangatan seperti ini setiap harinya.
Persiapan Menyambut Kelahiran
Melihat usia kandungan yang sudah semakin matang, seluruh keluarga pun mulai mempersiapkan segalanya dengan sangat detail dan mewah.
Kamar bayi yang terletak bersebelahan dengan kamar utama sudah dihias dengan sangat indah. Warnanya dominan biru langit dan emas, melambangkan dua pangeran yang akan lahir.
Dua buah buaian (ayunan) yang terbuat dari kayu jati berukir sangat indah dan mahal sudah siap ditempatkan di sana. Baju-baju bayi yang terbuat dari kain paling lembut sudah disetrika rapi dan disusun di lemari.
"Lihat ini Nak Maheera..." kata Ny. Savitri sambil menunjukkan satu set baju bayi. "Ini baju buat pertama kali mereka keluar. Warnanya kuning keemasan, ada bordir namanya juga sudah Ibu siapkan. Cucu Ibu harus tampil paling gagah dan paling cantik saat lahir nanti."
Mata Maheera berbinar melihat semua persiapan itu. "Indah sekali ya Bu... rasanya tidak sabar ingin cepat-cepat memeluk mereka."
"Iya Nak... sabar sedikit lagi. Tunggu waktu yang tepat. Sekarang kamu fokus jaga kesehatan dan banyak istirahat saja. Biar Ibu dan Ayahnya yang urus yang lain."
Momen Haru di Malam Hari
Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang masuk lewat jendela kamar...
Aaryan memeluk Maheera dari belakang, tangannya melingkar melindungi perut besar istrinya itu.
"Sayang..." bisik Aaryan pelan di telinga Maheera.
"Iya Mas..."
"Terima kasih ya... terima kasih sudah menjadi wanita sekuat ini. Terima kasih sudah berjuang membawa dua nyawa berharga ini ke dunia untuk kita."
"Dulu, kita pernah berjanji akan bersama dalam susah dan senang. Dan sekarang aku melihat buktinya. Kamu memberikan aku kebahagiaan yang tidak ternilai harganya."
Maheera membalas genggaman tangan suaminya di perutnya.
"Aku juga berterima kasih banyak Mas... berkat kasih sayang dan perhatian Mas, semua rasa sakit dan lelah ini jadi terasa ringan sekali. Aku bangga menjadi istri Mas dan ibu dari anak-anak kita."
"Kita tunggu ya saat-saat ajaib itu. Saat tangisan mereka pertama kali terdengar di ruang bersalin nanti. Itu akan menjadi suara terindah yang pernah kita dengar seumur hidup."
"Aamiin..."
Mereka pun memejamkan mata dengan hati yang tenang dan damai, menanti hari esok yang pasti akan membawa kebahagiaan yang lebih besar lagi bagi keluarga Singhania.