NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. kelahiran Sang Pewaris.

Di dalam mansion megah milik Heron Wiliam Anderlecht, suasana sore itu dipenuhi kegelisahan. Heron mondar-mandir di ruang tamu, matanya sesekali melirik jam dinding. Ada rasa tak nyaman yang mengganjal pikirannya sejak Viora mengatakan bahwa ia akan pulang lebih awal dari kantor. Namun hingga langit mulai menggelap, bayangan cucunya itu tidak juga terlihat.

Saat Heron sampai di rumah beberapa saat sebelumnya, ia hanya menemukan Viola dan Viera yang sedang berbincang santai di ruang keluarga. Tetapi satu orang yang seharusnya sudah ada di sana justru belum pulang Viora. Hal itu membuat hatinya semakin tak tenang.

Ketegangan kecil itu buyar ketika suara klakson mobil terdengar memasuki halaman mansion. Serempak seluruh keluarga berdiri dan bergegas keluar, berharap orang yang mereka tunggu berada di balik kemudi mobil tersebut.

“Viora, kenapa kamu pulang terlambat, Nak?” tanya Heron dengan nada khawatir.

“Kamu tadi bilang mau pulang duluan, tapi kenapa baru sampai sekarang?” lanjut Heron, masih tak mengerti.

Viora turun dari mobil dengan sikap tenang dan tatapan datar seperti biasanya.

“Aku memang pulang lebih dulu, Kakek. Tapi di jalan aku melihat Robert Pattinson dikejar oleh sebuah mobil yang mencurigakan,” jelas Viora.

Ia menarik napas perlahan sebelum melanjutkan.

“Aku tidak tahu siapa orang yang mengikutinya, jadi aku memutuskan mengikuti mereka dari jauh sampai akhirnya berhenti di seberang jalan.”

“Setelah itu… Robert diserang oleh pria itu. Karena Robert tidak terlalu mahir bertarung, aku turun tangan membantu.”

Suasana mendadak hening ketika Viora menambahkan dengan nada tenang namun tegas:

“Aku menghajar pria itu dan… menembaknya sampai mati.”

Heron sempat terdiam beberapa detik. Namun bukannya marah, ia justru menunjukkan senyum bangga.

“Kakek bangga padamu, Sayang. Kemampuanmu benar-benar mengingatkan Kakek pada Tante kalian.”

Viola mengangguk sambil tersenyum kecil. “Itu semua berkat didikan Tante. Kami mengikuti semua latihannya.”

Sementara itu di kamar utama, kejadian berbeda tengah berlangsung. Liora yang sedang beristirahat tiba-tiba merasakan sakit yang tajam pada perutnya. Wajahnya memucat.

“Akhh… sakit…” keluhnya pelan, namun cukup untuk membuat John yang tertidur di sampingnya langsung terbangun.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya John panik sambil bangkit dan melihat keadaan istrinya.

“Mas… perutku sakit… sekali…”

Ketika John menunduk memeriksa bagian bawah selimut, matanya membesar. Air ketuban Liora sudah pecah.

Tak membuang waktu, John langsung mengangkat tubuh istrinya.

Dengan tergesa-gesa ia keluar kamar sambil berseru, membuat seluruh anggota keluarga panik.

“Pa! Air ketuban Liora pecah! Dia mau melahirkan!”

Heron dan seluruh keluarga langsung ikut bergerak. Dalam hitungan menit mereka sudah bersiap menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani persalinan ternyata adalah Melinda Wulandari, adik ipar Liora sendiri. Melinda dengan cepat memeriksa kondisi sang kakak ipar.

“Kakak ipar, ikuti aba-aba saya, ya. Kakak sudah pembukaan sembilan,” ucapnya tenang namun sigap.

“Tarik napas… hembuskan perlahan…”

John berada tepat di samping tempat tidur, menggenggam tangan Liora erat seakan ingin membagi ketenangan meski wajahnya sendiri terlihat tegang.

“Kamu sangat kuat, Sayang… sebentar lagi selesai,” bisiknya menenangkan.

Setelah proses persalinan yang penuh perjuangan, akhirnya suara tangis bayi menggema memenuhi ruangan.

“Oek… oek… oek…”

Seorang bayi laki-laki lahir dengan sehat. Liora yang terbaring lemah meneteskan air mata bahagia. John mencium kening istrinya dengan rasa syukur yang tak mampu ia sembunyikan.

“Terima kasih, Sayang… kamu sudah melahirkan putra kita. Aku bangga padamu.”

Tak lama kemudian, Heron masuk ke dalam ruangan dengan senyum yang tidak pernah selebar itu sebelumnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena haru, ia menggendong cucu laki-lakinya.

“Willia, lihatlah… cucu laki-laki kita telah lahir. Tepat seperti yang dikatakan Liora.”

Willia yang berdiri di sampingnya ikut menatap bayi itu penuh cinta. “Iya, Mas… anak ini tampan sekali.”

Heron mengangguk bangga, seolah melihat masa depan cerah di tangan bayi mungil itu.

“Kakek akan melatihnya nanti, sama seperti Liora, Victor, Albert, dan Sean dulu.”

Ia kemudian menatap Liora yang masih terbaring di ranjang.

“Sayang, siapa nama anak ini?”

Dengan senyum lembut, Liora menjawab pelan:

“Namanya Dirgantara Wiliam Anderlecht… atau Dirgantara Feber Alvison Wiliam Anderlecht.”

“Nama yang indah,” puji Heron tulus.

Beberapa hari kemudian, setelah kondisi Liora pulih, ia dibawa kembali ke mansion bersama John untuk beristirahat. Bayi mereka, Dirgantara, menjadi pusat perhatian seluruh keluarga.

“Cucu kita tampan sekali,” ujar Willia dengan mata berbinar.

“Ini cucu pertama keluarga kita. Tentu saja tampan,” sahut Heron bangga.

Dalam suasana hangat itu, Viola tiba-tiba memberanikan diri membuka pembicaraan.

“Kakek… Nenek… Papa… aku ingin bicara soal perasaanku.”

Seluruh mata tertuju padanya.

“Aku dan Robert Pattinson saling mencintai. Aku ingin meminta restu kalian.”

Ruangan mendadak senyap sebelum Melinda akhirnya bangkit memeluk Viola dengan hangat.

“Ibu merestui kamu, Sayang. Kamu sudah dewasa.”

Victor yang sejak tadi diam ikut tersenyum.

“Ayah juga tidak keberatan. Ayah tahu kamu menyukainya sejak lama.”

Heron menepuk pundak Viola lembut.

“Kakek juga merestui. Selama kamu bahagia, kakek akan mendukungmu.”

Viola tidak mampu menahan tangis bahagianya.

Keesokan paginya, seluruh keluarga berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Suasananya hangat, penuh gelak tawa dan senyum. Kehadiran bayi kecil di tengah mereka benar-benar membawa warna baru.

Heron menatap Liora yang menggendong Dirgantara.

“Sayang, kamu tidak lelah?” tanyanya lembut.

“Aku tidak lelah, Ayah. Justru aku sangat bahagia,” jawab Liora sambil menatap putra kecilnya.

“Ketika dia sudah besar nanti… aku ingin melatihnya seperti Ayah dulu melatihku.”

Heron tersenyum bangga mendengarnya.

“Dia akan menjadi penerus yang kuat.”

Pagi itu, kebahagiaan memenuhi seluruh mansion Wiliam Anderlecht, melengkapi keluarga besar itu dengan rasa cinta yang tidak pernah terasa sedalam ini sebelumnya.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!