TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 4: Kota Karang Hitam
Petarung Bayangan
Trang! Trang! Penonton memukul-mukul pagar besi.
Di tengah lubang, seorang raksasa setinggi dua meter dengan gada berduri menunggu. Namanya adalah Bhoma si Penghancur Tulang."
"Lawanmu adalah dia," Nara menunjuk Bhoma.
Ia berdiri sangat dekat di belakang Raka, hingga Raka bisa merasakan dada Nara yang empuk menekan punggungnya setiap kali wanita itu bergerak.
"Menangkanlah pertarungannya, dan aku akan memberimu hadiah tambahan yang jauh lebih... memuaskan daripada sekadar peta."
Raka tidak basa-basi ia langsung melompat masuk ke lubang."
Bugh! Debu beterbangan saat kakinya menyentuh tanah.
Kau mau apa Bocah! Cari Mati!
Aku disi Untuk mengahajarmu" Gerutu Raka! Raka mengepal tanganya karena sangat di rendahkan."
Bhoma Tertawa keras!...
"Kalau Begitu Terima ini, Mati kau, bocah!" geram Bhoma. Ia mengayunkan gadanya yang besar.
Wusss! Angin tebasan gada itu membelah udara.
Raka dengan santai menatap, tidak menggunakan kekuatan penuhnya. Ia ingat pesan ayahnya. Ia hanya menggunakan teknik bela diri dasar yang ia latih di hutan. Ia menghindar ke samping, gerakannya lincah bagai kancil.
Prakkk! Gada Bhoma menghantam dinding batu hingga hancur.
Raka melihat celah. Ia memusatkan sedikit energi dari dadanya ke telapak tangan kanan.
Suuuttt... Telapak tangannya mulai memancarkan uap panas yang tak kasat mata.
"Terlalu lambat, dan cuma bacot besar" gumam Raka.
Raka melesat meluncur di bawah selangkangan Bhoma, lalu bangkit dan melayangkan pukulan ke arah tubuh bagian ginjal raksasa itu.
Bugh!
Terdengar suara tulang yang retak. Bhoma melolong kesakitan. uhhh!
Ia berbalik dengan mata merah, namun Raka lebih cepat. Raka melompat ke udara, berputar, dan melepaskan tendangan tumit yang menghantam rahang Bhoma. Bugh!
Krakkk!
Bhoma terpelanting jatuh, menghantam tanah dengan keras hingga seluruh arena bergetar. Penonton terdiam seketika dengan tatapan tak percaya, Bhoma dikalahkan oleh Bocah, akhirnya meledak dalam teriakan histeris.
Raka berdiri tegak, tanpa satu luka pun di tubuhnya." Setelah kemenangannya Raka ke Ruangan Rahasia."
Nara menarik Raka!" Nara membawa Raka ke sebuah ruangan pribadi di lantai atas kedai. Ruangan itu hanya diterangi sebatang lilin yang hampir habis.
Nara menutup pintu dengan tendangan kakinya dan langsung berbalik menghadap Raka.
"Kau luar biasa, Raka!" napas Nara memburu karena Melihat menonton pertarungan Raka tadi. Ia mendekat, tangannya dengan berani meraba dada kiri Raka, tepat di atas jantung yang berdetak kencang.
"Aku tidak pernah melihat pemuda sepertimu. Kau punya api di dalam dirimu, Raka."
Nara menarik tali pengikat pakaian kulitnya. Pakaian itu melorot, memperlihatkan bahunya yang mulus dan sebagian besar dadanya yang kencang. Ia menarik Raka masuk ke dalam pelukannya.
Raka dengan insting, dan kendali yang tak bisa di bendung, Raka menuruti apa yang di mau Nara!" Raka mencium lehernya dengan penuh semangat membara."
Raka tiba-tiba merasakan gelombang energi dari tanda naganya bereaksi terhadap sentuhan Nara. Energi murni menyatu dengan kekuatan sakti, membuat suhu di dalam kamar itu meningkat drastis.
Raka mengangkat tubuh Nara, mendudukkannya di atas meja kayu besar. Tangan kekar Raka membelai paha Nara yang halus namun berotot, sementara bibir mereka bertaut dalam ciuman yang liar dan menuntut."
Suara yang saling bersentuhan memenuhi ruangan. Di bawah cahaya lilin yang temaram, Raka merasakan setiap jengkal kenikmatan yang belum pernah ia rasakan di desanya."
Nara adalah wanita yang berani, ia membimbing tangan Raka menuju area tubuhnya yang sensitifnya, membuat Raka menggeram rendah bagai seekor pemangsa.
Namun Raka dalam keadaan terdesak, tidak lupa dengan janji yang Nara akan menunjukan Petanya?"
"Katakan... di mana... petanya?" tanya Raka di sela-sela napasnya yang berat.
Nara menarik rambut Raka dengan lembut, menatap matanya yang kini sedikit berkilat emas.
"Peta itu... ada di tangan Gubernur Kota ini. Dia akan mengadakan perjamuan besok malam... Kau harus masuk ke sana sebagai pengawalku."
Setelah momen Berdua selesai, mereda, Nara memberikan sebuah gulungan kecil pada Raka."
"Ini tata letak kediaman Gubernur. Sekarang, tidurlah, Raka!". Kau akan butuh semua energimu untuk besok.
Karena yang akan kau hadapi bukan lagi petarung jalanan, tapi para pembunuh bayaran elit dari Lembah Kelam yang bekerja untuknya."
Raka menatap keluar jendela, ke arah puncak Gunung Meru yang terlihat samar di kejauhan. Ia tahu, perjalanannya dalam petualangan ini baru saja dimulai, dan setiap langkah kini akan semakin berdarah."
Malam di Kota Karang Hitam
Kediaman Gubernur, sebuah kastel megah yang dibangun di atas tebing batu karang, memancarkan cahaya obor yang kemerahan.
"Suara musik kecapi dan tawa para bangsawan korup terdengar hingga ke gerbang luar.
Raka berdiri di depan cermin besar di kamar rahasia Nara. Ia tidak lagi mengenakan jubah lusuhnya."
Nara telah memberinya pakaian sutra hitam dengan sulaman benang emas, yang pas di tubuh atletisnya.
Nara memberikan Pakaian itu sengaja dibiarkan sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan kulit cokelatnya yang menggoda dan sebagian dari tanda lahir yang misterius.
"Jangan bergerak," bisik Nara. Ia berdiri di belakang Raka, tangannya yang halus mengikat rambut panjang Raka menjadi satu.
Nara mengenakan gaun merah transparan yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Saat ia bergerak, aroma harum bunga sedap malam menguar kuat."
Nara sengaja menempelkan dadanya ke punggung Raka, melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu.
"Kau terlihat seperti seorang pangeran yang haus darah, Raka," gumam Nara! Dengan suara genitnya, sambil menciumi pundak Raka.
Nara memberikan kecupan kecil di leher Raka, meninggalkan tanda kemerahan."
"Ingat, Raka!" tugasmu adalah masuk ke ruang kerja Gubernur saat aku berdansa dengannya. Cari gulungan dengan segel Naga Hitam."
Raka berbalik, menatap mata Nara yang berkilat penuh Pesona dan bahaya. Ia menarik pinggul Nara, membawa wanita itu ke dalam sebuah ciuman yang singkat namun membuat seluruh guncangan bergetar.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Nara" ucap Raka dengan suara rendah yang bergetar."
Menyelinap dalam Bayang
Tiba di sebuah Pesta yang dipenuhi dengan kemewahan yang memuakkan. Minuman keras mengalir deras, dan para penari berpakaian minim meliuk-liuk di tengah aula.
Raka bergerak dengan tenang, menggunakan Gelang Penahan Sukma untuk meredam auranya hingga ia tampak seperti pengawal biasa.
Nara yang sudah melakukan aksinya. Dan
Di Saat perhatian semua orang teralih oleh Nara yang mulai berdansa dengan Gubernur yang berperut buncit, Raka melesat menuju koridor belakang.
Gerakannya begitu cepat dan sunyi, nyaris tak tertangkap mata manusia.
Srakkk!
Seorang penjaga elit dari Lembah Kelam tiba-tiba muncul dari balik pilar. Ia mengenakan baju zirah ringan dan memegang belati beracun.
Tanpa suara, basabasi penjaga itu menyerang.
Raka dengan santai, tidak panik. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan belati itu lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya. Dengan gerakan memutar, Raka menghantam ulu hati penjaga itu dengan sikunya.
Bugh!
Suara udara yang keluar dari paru-paru penjaga itu terdengar tertahan. Sebelum ia sempat jatuh dan menimbulkan suara, Raka menangkap tubuhnya dan menyembunyikannya di balik tirai beludru.
Setelah selesai membereskannya Raka melanjutkan aksinya, sampai di depan pintu kayu jati yang besar, ruang kerja Gubernur. Ia menyentuh gagang pintu, dan seketika ia merasakan denyut energi kegelapan yang kuat."
"Jebakan pelindung," gumam Raka.
Ia memejamkan mata, memanggil sedikit energi keemasan dari jantungnya. Ia menyentuh pintu itu dengan ujung jarinya.
Cesss... Asap tipis keluar saat energi Raka menetralisir segel sihir gelap tersebut. Pintu terbuka perlahan.
Krieeeet...
Petemuan Sang Penjaga Rahasia
Di dalam ruangan yang gelap dan berbau kertas tua itu, Raka tidak menemukan peta di atas meja. Sebaliknya, ia mendengar suara napas yang berat dari sudut ruangan yang gelap.
"Siapa di sana?" tantang Raka. Tangannya bersiap melepaskan pukulan tenaga dalam.
Dari balik bayangan, munculah seorang kakek tua yang dirantai kaki dan tangannya ke dinding.
Tubuhnya kurus kering, namun matanya bersinar dengan kearifan yang luar biasa. Saat kakek itu melihat Raka, matanya membelalak.
"Cahaya itu... Naga Matahari..." suara kakek itu parau dan gemetar.
"Akhirnya... Kau datang, Wahai Pewaris."
Raka mendekat, menghancurkan rantai itu hanya dengan sekali tarikan tangan.
Krakkk! Logam tebal itu patah seperti ranting kering.
"Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan kekuatanku?" tanya Raka mendesak.
"Namaku Ki Ageng Selo, mantan penjaga perpustakaan suci yang dikhianati Gubernur," ucap si kakek sambil terbatuk.
"Pria yang memberimu kekuatan itu... Dia bukan manusia biasa. Dia adalah Sang Hyang Jagat, penguasa dimensi atas yang dikudeta oleh saudara kembarnya sendiri, sang Penguasa Lembah Kelam."
Bersambung....