NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Penyelamat?

​Lu Ming muda duduk di bangku kayu kecil, memegang kuas bambunya yang patah. "Aku juga sudah menyelesaikan puisi untukmu, Paman. Tentang pohon bambu yang tidak pernah patah meski diterjang badai."

​Paman Han berhenti mengasah pedangnya. Ia menatap kedua anak itu dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang kini, di masa depan yang hancur, Lu Ming baru sadar bahwa itu adalah tatapan penuh kekhawatiran.

​"Dengar, anak-anakku," Paman Han berkata sambil mengusap kepala mereka berdua. "Dunia di luar sana sangat luas dan sangat dingin. Jika suatu saat kalian merasa tersesat, jangan mencari jalan pulang ke rumah ini. Rumah ini hanyalah kayu yang akan lapuk. Carilah jalan pulang ke diri kalian sendiri. Jangan biarkan kebencian menulis bab terakhir di buku hidup kalian."

​"Tapi Paman, bagaimana jika dunia tidak memberi kami pilihan lain selain membenci?" tanya Lu Ming kecil dalam mimpi itu.

​Paman Han hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan yang tak terucapkan. "Maka menarilah di tengah api itu, tapi jangan biarkan hatimu ikut menjadi abu."

​Mimpi itu perlahan memudar. Sosok Paman Han mulai menjauh, terlarut ke dalam kabut putih.

Liu Shen muda pun perlahan berubah menjadi sosok pria berambut putih yang bersimbah darah, punggungnya menjauh dan menghilang ke dalam kegelapan.

​"Paman! Liu Shen!" teriak Lu Ming. Namun suaranya tidak keluar. Yang ada hanyalah sunyi.

​Uhuk!

​Lu Ming tersentak bangun, memuntahkan sisa darah kering yang menyumbat tenggorokannya.

Rasa sakit segera menghantamnya seperti ribuan jarum yang ditusukkan ke setiap saraf.

Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun seluruh tubuhnya terasa kaku, seolah-olah ia baru saja dibeku oleh es abadi.

​Langit di atasnya sudah berubah menjadi biru pucat. Fajar telah tiba.

​Lu Ming memutar kepalanya dengan susah payah, mencari sosok saudaranya. "Liu... Shen?" suaranya hanya berupa bisikan parau yang hilang diterpa angin.

​Kawah tempat mereka bertarung masih ada di sana, sebuah lubang menganga di tengah desa yang sudah rata dengan tanah.

Namun, tempat di mana Liu Shen terkapar tadi kini kosong. Yang tersisa hanyalah genangan darah hitam yang sudah membeku dan serpihan pedang besar Paman Han yang tertancap di tanah.

​Liu Shen sudah menghilang.

​Lu Ming mengerahkan sisa energinya untuk duduk. Ia menyadari sesuatu yang aneh.

Luka-luka di dadanya yang seharusnya sudah merenggut nyawanya, kini telah dibalut dengan kain kasa bersih.

Ada aroma obat herbal yang sangat kuat, aroma yang tidak asing, seperti akar surgawi dan sari bunga salju yang sangat langka.

​"Seseorang... menyelamatkan kami?" gumam Lu Ming.

​Ia mencoba berdiri, bertumpu pada sebongkah batu reruntuhan. Di tempat ia terbaring tadi, ia menemukan sebuah kepingan giok hijau kecil yang diletakkan di atas selembar kertas.

Giok itu memiliki ukiran kuno berbentuk seekor burung bangau yang terbang menembus awan.

​Di bawahnya, terdapat sebuah catatan pendek yang ditulis dengan kaligrafi yang sangat tenang, kontras dengan kekacauan di tempat itu:

​"Darah kalian terlalu berharga untuk diserap oleh tanah yang busuk ini. Aku telah mengambil separuh dari apa yang kau benci, dan meninggalkan separuh untuk kau selesaikan sendiri. Jangan mati di sini, Penyair. Dunia masih butuh seseorang yang bisa melukis penderitaan dengan indah."

​Lu Ming menatap kertas itu dengan mata yang berkilat tajam. Ia segera memeriksa sekeliling kawah.

Dengan indra Ranah Pembentukan Inti yang meskipun masih lemah namun sudah mulai stabil, ia mulai melihat jejak-jejak yang ditinggalkan.

​Ada jejak kaki yang sangat ringan, begitu ringan hingga tidak menekan abu di tanah, hanya meninggalkan getaran Qi yang tipis.

Jejak itu menuju ke arah barat, ke arah pegunungan terjal yang berbatasan dengan Kekaisaran Langit Barat.

​Ada juga jejak seretan. Seseorang telah menyeret tubuh Liu Shen pergi.

​"Dia dibawa pergi..." Lu Ming menggertakkan gigi.

​Antara rasa syukur dan amarah, hatinya bergejolak. Siapa pun yang menyelamatkan mereka, orang itu memiliki kekuatan yang melampaui imajinasinya.

Untuk masuk ke tengah medan pertempuran dua kultivator Pembentukan Inti yang sedang meledak dan membawa mereka pergi tanpa mereka sadari, orang itu setidaknya berada di Ranah Kelima: Transformasi Nascent.

​Lu Ming berjalan tertatih-tatih menuju jejak itu. Di dekat semak yang hangus, ia menemukan setetes darah yang bukan miliknya atau milik Liu Shen. Darah itu berwarna keperakan dan masih memancarkan energi yang hangat.

​"Darah dari klan suci?" bisik Lu Ming. "Atau mungkin... sisa-sisa dari sekte tersembunyi yang dicarinya selama ini?"

​Ia menoleh kembali ke arah timur, ke arah Ibukota Giok Surgawi yang masih berdiri megah di balik cakrawala.

Bayangan ibunya yang tersenyum dan ayahnya yang tak pernah ia kenal kembali muncul di benaknya.

Rasa haus akan balas dendam itu belum padam, malah semakin membara setelah ia merasakan hangatnya mimpi tentang Paman Han.

​"Aku tidak akan mati sekarang," ucap Lu Ming pada angin pagi. Ia memungut sisa patahan pedang pendeknya yang hancur, menatap pantulan matanya yang kini benar-benar terlihat seperti mata iblis yang terbangun.

​"Dunia ini memang brengsek, Paman Han. Kau bilang jangan biarkan hati menjadi abu... tapi abu adalah dasar yang bagus untuk tinta hitam."

​Lu Ming melangkah menjauhi reruntuhan desa itu, mengikuti jejak misterius ke arah barat.

Ia tidak tahu ke mana jejak itu akan membawanya, atau apakah Liu Shen dibawa untuk disembuhkan atau untuk tujuan lain yang lebih gelap.

​Namun satu hal yang pasti: tarian maut mereka belum selesai. Puncak keabadian masih menunggu, dan Lu Ming bersumpah bahwa saat ia sampai di sana, ia tidak akan sendirian.

Ia akan membawa seluruh dunia untuk berlutut di bawah kakinya, termasuk mereka yang telah membuangnya ke dalam lumpur hitam ini.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!