LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Jangan Percaya Siapapun
Malam hari di Safe House terasa lebih dingin dari biasanya, meski hujan deras di luar menciptakan dinding suara yang mengisolasi mereka dari dunia luar. Lampu ruang tengah diredupkan, hanya menyisakan cahaya hangat dari lampu meja yang menyorot sofa kulit hitam tempat Sabiru dan Allbiru duduk.
Sabiru bersandar sepenuhnya pada tubuh Allbiru. Kepalanya tertelak nyaman di bahu pria itu, matanya tertutup rapat, menikmati ritme napas Allbiru yang teratur. Ini bukan sekadar sandaran fisik; ini adalah jangkar. Sejak kebenaran tentang identitasnya terungkap—bahwa dia adalah "Hard Drive Hidup" ciptaan Arisendra—dunia Sabiru terasa seperti kapal tanpa kemudi yang dihantam badai. Tapi di sini, dalam pelukan Allbiru, badai itu mereda.
Tangan Allbiru secara refleks memainkan ujung rambut Sabiru. Gerakan itu lambat, repetitif, dan menenangkan. Sudah menjadi rutinitas baru mereka sejak kembali dari Pulau Hitam. Setiap kali jari-jari kasar Allbiru menyentuh helai rambut halus Sabiru, ketegangan di otot-otot gadis itu seolah larut.
Di seberang ruangan, suasana berbeda tercipta. Reza duduk di meja komputer, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard mekanik. Cahaya biru dari layar monitor memantul di kacamata tebalnya. Meski fokus pada kode enkripsi, matanya sering melirik curi-curi ke arah sofa. Di sampingnya, Kenzi sedang membersihkan sepatu boot taktisnya dengan kain mikrofiber, sesekali mendengus geli melihat pemandangan di depannya.
"Gue masih nggak ngerti," celetuk Kenzi tiba-tiba, memecah keheningan yang hanya diisi oleh suara hujan dan ketikan keyboard. Suaranya bernada bercanda, tapi ada rasa penasaran genuin di sana. "Dulu kalian tuh kalau disuruh pegangan tangan aja canggung banget. Muka merah semua. Sekarang... apa-apa nempel. Apa gue ketinggalan episode penting? Ada time skip romansa yang gue lewatkan?"
Sabiru membuka satu mata, menatap Kenzi sambil tersenyum malas. Pipinya sedikit merona, tapi dia tidak berusaha menjauh dari Allbiru. "Banyak berubah, Zen. Dunia nggak se-simple dulu lagi. Saat kamu tahu besok bisa jadi hari terakhirmu... hal-hal kecil jadi terasa berarti."
"Allbiru jadi over-protektif parah," tambah Reza, tanpa menoleh dari layar, tapi senyum tipis terlihat di sudut bibirnya. "Tadi pas Dinda mau cek tensi Ru buat monitoring efek samping Neural Link, Biru hampir gigit tangan Dinda. Serius lho. Tatapannya kayak predator. Kayak 'jangan sentuh milikku'."
Dinda, yang sedang menyiapkan alat medis di meja samping dengan gerakan presisi seorang ahli bedah, tertawa kecil. Suara tawanya lembut, kontras dengan ketegangan di udara. "Tenang saja, Reza. Saya profesional. Tapi memang... data biometrik menunjukkan fakta menarik. Detak jantung Sabiru turun drastis, tekanan darahnya stabil, dan level kortisolnya anjlok setiap kali Allbiru memegang tangannya atau berada dalam radius satu meter. Secara medis, kehadiran Allbiru memiliki efek penenang alami yang kuat bagi sistem saraf Sabiru. Mungkin karena faktor psikologis... atau ikatan batin yang sangat dalam yang terbentuk selama trauma bersama."
Allbiru menatap Dinda tajam. Tatapan itu seharusnya mengintimidasi, tapi Dinda hanya membalasnya dengan anggukan hormat. Allbiru tidak marah. Dia justru mempererat pelukannya pada Sabiru, dagunya kini menempel di ubun-ubun kepala gadis itu.
"Dia bagian dari aku, Din," kata Allbiru, suaranya rendah dan serak, penuh keyakinan mutlak. "Kalau dia sakit, aku yang merasakan sakitnya. Kalau dia takut, aku yang merasa dingin. Jadi wajar kalau aku nggak mau orang lain sembarangan nyentuh dia kalau nggak darurat. Itu bukan posesif. Itu insting bertahan hidup."
Sabiru menunduk, menyembunyikan senyumnya di dada Allbiru. Dia bisa merasakan otot-otot perut Allbiru yang tegang di bawah kaos hitamnya. Pria ini tidak pernah benar-benar rileks. Bahkan saat memeluknya, Allbiru tetap siaga, tubuhnya menjadi perisai hidup antara Sabiru dan bahaya apa pun yang mungkin datang.
"Za," bisik Sabiru pelan, hanya untuk didengar Allbiru. Tangannya naik, mengusap lengan Allbiru yang melingkar di pinggangnya. "Kamu capek?"
Allbiru menunduk. Hidung mereka hampir bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, Sabiru bisa melihat garis-garis kelelahan di sudut mata Allbiru, bukti dari malam-malam tanpa tidur menjaga keamanan mereka.
"Nggak. Selama kamu aman, aku nggak bakal capek," jawab Allbiru jujur.
"Bohong," goda Sabiru pelan. Jemarinya naik lebih tinggi, mengusap rahang Allbiru yang mulai ditumbuhi janggut tipis. Sentuhan itu membuat Allbiru memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan itu. "Matamu merah. Kamu begadang jaga shift malam terus. Aku tahu polamu, Biru. Kamu nggak tidur sampai aku tertidur lelap."
Allbiru menangkap tangan Sabiru yang mengusap wajahnya. Dia membawanya ke bibirnya, mencium telapak tangan Sabiru dengan lembut, sebuah gestur yang penuh penghormatan dan cinta. "Karena aku takut kalau aku tidur, mimpi burukmu datang lagi. Dan aku ingin ada di sana buat bangunin kamu. Biar kamu tahu kamu nggak sendirian."
Reza akhirnya menoleh sepenuhnya, mengangkat kedua tangan dengan ekspresi pura-pura jijik. "Oke, oke! Stop! Gue mual liat PDA (Public Display of Affection) level dewa begini. Gue punya firewall The Eternity Circle yang harus di-hack, bukan drama percintaan remaja. Mending gue fokus daripada liat kalian bermesraan."
Kenzi tertawa terbahak-bahak, melemparkan kain lap ke arah Reza. "Biarin aja, Za. Biarin mereka bahagia. Soalnya setelah ini, kita bakal masuk neraka. Nikmati dulu lah sebelum darah berceceran."
Sabiru tertawa, suara tawanya ringan tapi terselip kesedihan. Dia menatap Allbiru dalam-dalam. Di balik candaan tim mereka, ada keseriusan yang mengerikan. Mereka berdua tahu bahwa cinta mereka kini adalah target. The Eternity Circle tahu bahwa kelemahan terbesar Sabiru adalah Allbiru, dan sebaliknya. Jika mereka menyerang, mereka tidak akan menyerang Sabiru secara langsung. Mereka akan menyerang melalui Allbiru.
"Aku nggak akan biarkan mereka pakai kamu buat nyakitin aku, Biru," kata Sabiru serius, suaranya bergetar sedikit. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena tekad.
Allbiru mengecup kening Sabiru, lama dan penuh janji. Bibirnya menempel di kulit dahi Sabiru, menyerap ketakutan gadis itu. "Dan aku nggak akan biarkan mereka sentuh satu helai rambutpun dari kamu, Ru. Kita hadapi ini bareng. Seperti biasa."
Hujan di luar semakin deras, seolah alam turut meratapi nasib mereka. Malam itu, di antara pelukan dan bisikan janji, mereka tidak tahu bahwa email anonim telah masuk ke server pribadi Reza beberapa menit yang lalu. Isinya hanya satu kalimat pendek yang membuat darah Reza membeku saat ia membacanya diam-diam:
"Kami tahu di mana kalian berada. Dan kami tahu siapa yang paling lemah di antara kalian. Jangan percayai siapapun."
Namun, untuk saat ini, di ruang tengah yang hangat itu, mereka memilih untuk percaya pada satu sama lain. Karena itu adalah satu-satunya hal yang mereka miliki.