Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Lonceng perak di atas pintu Butik Griya Anggun berdenting halus, menyambut aroma parfum musk dan lavender yang menenangkan. Bagi Arumi, suara itu bukan sekadar tanda pelanggan datang, melainkan irama harapan yang mulai tumbuh kembali di atas puing-puing kehancurannya.
Dua minggu telah berlalu sejak malam kelam di gudang Pak Salim. Berkat rekomendasi tulus dari kakek tua itu, Arumi mendapatkan kesempatan.
Bu Sarah, seorang wanita paruh baya yang tegas namun memiliki mata yang tajam terhadap bakat, langsung menerima Arumi setelah melihat cara Arumi memperbaiki sebuah gaun sutra yang rusak.
"Jahitanmu memiliki jiwa, Arumi. Rapi, kuat, tapi tetap halus. Aku butuh orang seperti kamu di sini," ucap Bu Sarah kala itu.
Kini, Arumi berdiri di balik meja display, jemarinya yang ramping bergerak lincah menata lipatan syal sutra di atas manekin.
Ia mengenakan seragam sederhana namun rapi, kemeja putih bersih dan celana kain hitam. Wajahnya yang dulu kusam kini tampak lebih segar, meski binar matanya masih menyimpan lapisan es yang belum mencair.
"Ibu, Kirana suka di sini. Harum," celetuk Kirana yang duduk manis di pojok ruang istirahat karyawan sambil mewarnai kertas bekas.
Arumi tersenyum tipis. "Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita bisa pindah ke tempat yang ada jendelanya."
Setiap rupiah yang ia dapatkan dari gaji harian dan uang lembur ia simpan di dalam amplop cokelat yang ia sembunyikan di balik jahitan tasnya.
Ia belajar banyak di butik ini. Ia memperhatikan bagaimana wanita-wanita kaya berbicara, bagaimana mereka memilih kain, dan apa yang mereka cari, eksklusivitas dan harga diri.
Siang itu, seorang pelanggan tetap bernama Nyonya Adhisti masuk ke butik. Ia adalah istri dari seorang kontraktor besar di kota ini, tipikal wanita yang sulit dipuaskan. Ia membawa sebuah gaun pesta berwarna biru navy yang tampak membosankan.
"Bu Sarah, gaun ini terlalu biasa. Aku ingin memakainya ke pesta ulang tahun kolega suamiku besok malam, tapi aku merasa seperti memakai karung," keluh Nyonya Adhisti.
Bu Sarah tampak berpikir, namun Arumi yang sedang berdiri di dekat sana secara refleks angkat bicara. "Maaf, Nyonya... jika boleh saya memberi saran."
Nyonya Adhisti menoleh, menatap Arumi dari atas ke bawah. "Siapa kamu? Pegawai baru?"
"Ini Arumi, asisten terbaikku," potong Bu Sarah cepat. "Silakan, Arumi."
Arumi mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kain gaun itu tanpa rasa ragu. "Warna biru ini sangat cantik untuk kulit Nyonya, namun potongannya terlalu kaku di bagian pinggang. Jika kita menambahkan aksen drapery kecil di sisi kiri menggunakan kain organza senada, dan sedikit payet mutiara di bagian bahu, gaun ini akan memberikan kesan jenjang dan mewah tanpa terlihat berlebihan."
Arumi mengambil selembar kain sisa di meja kerja dan menyampirkannya secara artistik di atas gaun tersebut sebagai contoh. Seketika, gaun itu tampak hidup.
Nyonya Adhisti terdiam sebentar, lalu matanya berbinar. "Luar biasa... bagaimana kamu bisa memikirkan itu dalam sekejap? Kesannya sangat... berkelas. Lakukan! Aku mau gaun ini selesai besok siang."
Setelah Nyonya Adhisti pergi, Bu Sarah menepuk bahu Arumi. "Kamu punya insting yang mahal, Arumi. Pertahankan itu."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa hangat yang menjalar di dada Arumi. Kepercayaan dirinya yang sempat hancur oleh Reza mulai berdenyut kembali.
Namun, ia segera menekan perasaan itu. Ia tidak boleh terlena. Dunia pernah memberinya harapan hanya untuk menjatuhkannya ke jurang yang lebih dalam.
~~
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan membiaskan cahaya keemasan melalui jendela besar butik, Arumi sedang sibuk menyesuaikan tinggi manekin di dekat etalase kaca depan. Ia membelakangi pintu masuk saat lonceng kembali berdenting.
"Selamat datang di Griya Anggun," ucap Arumi tanpa menoleh, suaranya sopan dan profesional.
"Aku cari syal yang cocok untuk tas baruku. Tas ini edisi terbatas, jangan tawarkan barang murahan padaku," suara itu terdengar melengking, penuh nada pamer yang sangat familiar di telinga Arumi.
Arumi membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Suara itu adalah racun yang dikenalnya sejak bangku SMA.
Ia memutar tubuhnya perlahan. Di depannya berdiri seorang wanita dengan gaun ketat berwarna merah menyala, menjinjing tas bermerek dengan angkuh. Itu adalah Dinda.
Dinda awalnya sedang sibuk melihat pantulan dirinya di cermin besar, namun saat ia menoleh ke arah pelayan yang berdiri di depannya, matanya membelalak. Keheningan yang mencekam menyelimuti butik selama beberapa detik.
"Arumi?" Dinda menyebut nama itu seolah-olah menyebut nama binatang yang menjijikkan.
Arumi mengepalkan tangannya di balik punggung, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga memutih. Ia mengatur napasnya, mencoba mempertahankan topeng profesionalitasnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Dinda?" suara Arumi terdengar dingin dan datar.
Dinda tertawa meledak, tawa yang penuh penghinaan hingga membuat beberapa pelanggan lain di dalam butik menoleh penasaran.
"Nyonya? Oh, lihatlah! Si pelakor yang diusir dari kantor Reza sekarang jadi pelayan butik? Luar biasa! Bu Sarah pasti sudah gila mempekerjakan sampah seperti kamu di sini."
Arumi tidak bergeming. "Jika Anda ingin berbelanja, silakan. Jika Anda hanya ingin membuat keributan, saya harus meminta Anda keluar."
Dinda melangkah maju, wajahnya mendekat ke telinga Arumi, membisikkan kata-kata yang penuh bisa. "Kamu pikir kamu bisa sembunyi di sini dan pura-pura jadi orang terhormat? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Arumi. Kamu tidak pantas berada di tempat yang harum ini. Kamu pantasnya di selokan, tempat di mana kamu dan anakmu itu berasal."
Mata Arumi berkilat tajam. Ia menatap Dinda tepat di manik matanya. "Hati-hati dengan ucapanmu, Dinda. Selokan yang kamu maksud mungkin adalah tempat yang sedang kamu persiapkan untuk dirimu sendiri."
Dinda mendengus, kilat kebencian yang murni terpancar dari matanya. Ia melihat Kirana di pojok ruangan. Senyum licik tersungging di bibirnya. Tanpa membeli apa pun, Dinda berbalik dan berjalan keluar dari butik dengan langkah yang dihentak-hentakkan.
Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh kembali ke arah Arumi yang masih berdiri mematung.
"Nikmati hari terakhirmu di sini, Arumi. Karena besok, aku akan memastikan tempat ini menjadi neraka buatmu," ancam Dinda, lalu ia menghilang di balik pintu yang menutup dengan bantingan keras.
Arumi berdiri diam di tengah butik yang mendadak terasa dingin. Ia tahu Dinda tidak pernah main-main dengan ancamannya. Wanita itu memiliki koneksi dan lidah yang tajam untuk menghancurkan reputasi siapa pun dalam semalam.
"Ibu... Tante tadi jahat ya?" tanya Kirana pelan, mendekati Arumi dan memegang ujung bajunya.
Arumi berjongkok, memeluk Kirana erat. Ia mencium puncak kepala anaknya. "Tidak apa-apa, Sayang. Ibu ada di sini."
Namun di dalam hati, Arumi tahu badai besar sedang bergerak menuju ke arahnya. Ia menatap deretan pakaian mewah di sekelilingnya. Harapan yang baru saja ia bangun terasa begitu rapuh, seperti istana pasir di pinggir pantai.
Ia teringat janji pada dirinya sendiri. 'Tidak akan meminta bantuan lagi. Tidak akan berhutang pada siapa pun.'
Arumi berdiri tegak. Jika Dinda ingin berperan sebagai badai, maka Arumi akan menjadi batu karang. Ia tidak akan lari lagi. Ia mengambil ponselnya, melihat saldo tabungannya yang masih sangat sedikit. Belum cukup untuk pindah, belum cukup untuk melawan.
Malam itu, saat menutup butik, Arumi menatap lurus ke arah jalan raya yang ramai. Ia tahu Dinda akan kembali dengan fitnah yang lebih kejam. Ia tahu Bu Sarah mungkin tidak akan sanggup membelanya jika nama baik butik dipertaruhkan.
"Silakan datang, Dinda," bisik Arumi pada kegelapan. "Hancurkan aku sekali lagi jika kamu bisa. Tapi ingat satu hal... setiap kali kalian menghancurkanku, aku tidak akan kembali sebagai orang yang sama. Aku akan kembali lebih tajam, lebih dingin, dan jauh lebih mematikan."
Arumi berjalan pulang ke gudang Pak Salim, menggandeng erat tangan Kirana. Di dalam tasnya, ia menyimpan sebuah gunting jahit yang sangat tajam.
Bukan untuk melukai fisik, tapi sebagai pengingat, bahwa ia adalah orang yang akan memutus urat nadi kesombongan mereka, helai demi helai.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi