NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Kaya Kulkas

Nayra membeku sesaat. Lalu mengangguk kecil.

“Aku mengerti.” Ia berbalik dan keluar.

Koridor sepi. Nayra berjalan pelan tanpa menoleh.

Di dalam ruang kerja, Arsen tetap diam. Tatapannya mengikuti Nayra sampai hilang di ujung koridor. Setelah itu, ia menutup pintu.

Di lantai atas, Nayra sampai di depan kamar. Ia membuka pintu pelan.

Alea sudah tidur. Raya masih duduk di tepi ranjang.

“Mama…”

“Kamu belum tidur?" tanya Nayra dengan lembut.

Raya tiba-tiba berdiri. Tatapannya langsung ke arah Nayra.

“Kenapa Om Arsen manggil Mama?”

Nayra tidak langsung jawab. “Kita hanya bicara”

Raya mengernyit. “Itu aja?”

Nayra mengangguk singkat.

Raya melangkah mendekat sedikit. “Mama… apa Mama yakin?”

Nayra terdiam sejenak dan menatap Raya.

“Yakin mau nikah sama dia?” lanjut Raya. Nada suaranya mulai terdengar kesal. “Dia itu dingin banget, Ma. Kaya kulkas.” Tatapan Raya terus meneliti wajah Nayra, mencari jawaban.

Nayra mengalihkan pandangannya sesaat. “Raya...”

“Kalau Mama nggak yakin, kita pergi aja,” potong Raya. Suaranya tegas. “Aku sama Alea nggak apa-apa ko. Kita cuma mau mama bahagia."

Hening sesaat.

Nayra menatap anaknya itu. Beberapa detik, lalu tatapannya melembut, tapi ia tidak menjawab. Kalau itu bisa Mama lakukan… akan Mama lakukan, Raya. Kalimat itu hanya berhenti di dalam pikirannya.

Nayra menarik napas pelan. “Sebaiknya kamu tidur, Raya. ini sudah larut malam, ” ucapnya.

Raya masih menatapnya, jelas belum puas. Tapi ia tidak memaksa lagi.

Perlahan, ia kembali ke ranjang. Nayra mematikan lampu utama.

Ruangan jadi redup. Ia berdiri sebentar di sana, lalu keluar tanpa menambah kata.

Nayra keluar dari kamar dengan langkah pelan lalu berjalan menyusuri koridor hingga sampai di balkon. Ia membuka pintu kaca sedikit, membiarkan udara malam masuk, lalu duduk di sofa yang ada di dekat sana.

Sedangkan didalam kamar, Raya masih belum bisa tidur. Pikirannya masih memikirkan tentang Ibunya.

Nayra di balkon masih duduk sambil memperhatikan sekitar mansion. Beberapa saat kemudian, terdengar langkah pelan di sampingnya.

Nayra langsung menoleh.

“Malam, Nona. Maaf mengagetkan." Ternyata Martha. Wanita itu berdiri dengan sikap tenang seperti biasa.

Nayra menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Martha”

Martha memperhatikan wajah Nayra sejenak sebelum bertanya, “Mengapa Nona belum tidur?”

Nayra menarik napas pelan, lalu menjawab jujur. “Saya susah tidur.”

Martha mengangguk kecil, seolah sudah menduga. Ia kemudian meletakkan nampan kecil di meja dekat sofa, lalu berdiri di samping Nayra.

Hening sesaat, sebelum Martha kembali bicara dengan nada lembut.

“Kadang… orang yang menurut kita tidak baik, belum tentu benar-benar tidak baik, Nona.”

Nayra sedikit menoleh, memperhatikan.

“Mungkin saja orang itu sedang menyimpan luka,” lanjut Martha pelan, “atau mengalami sesuatu yang membuatnya takut… sehingga ia terlihat dingin.”

Nayra tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali lurus ke depan, tapi kata-kata itu jelas ia dengar.

Martha tersenyum tipis. “Istirahat tetap penting, Nona. Jangan dipaksakan, tapi jangan juga diabaikan.”

Setelah itu, Martha melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Nayra tetap duduk di sana. Diam, namun kali ini… pikirannya tidak lagi sepenuhnya kosong.

Nayra duduk beberapa saat lagi di balkon. Udara malam menyentuh kulitnya, dingin tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Namun kata-kata Martha terus berputar, perlahan mengisi ruang kosong yang tadi terasa sesak.

Akhirnya, ia berdiri. Langkahnya ringan saat kembali menyusuri koridor. Ia membuka pintu kamar perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.

Ruangan masih redup. Alea tertidur pulas, napasnya teratur. Raya sudah berbaring, meski matanya tampak masih sedikit terbuka sebelum akhirnya perlahan terpejam saat menyadari Nayra masuk.

Nayra menutup pintu pelan. Ia berjalan mendekat ke ranjang. Tangannya otomatis merapikan selimut Alea, lalu menyentuh kepala Raya sekilas, itu saja sudah cukup membuat hatinya tenang. Nayra naik ke ranjang, berbaring di antara mereka. Beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

Lalu napasnya keluar pelan. “Sepertinya… aku salah menilai Arsen,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Siapa tahu dia dingin karena ada sesuatu yang ia sembunyikan."

Nayra mulai memejamkan mata. “Sudahlah.”

Tangannya bergerak pelan, menggenggam tangan kecil Alea di satu sisi, sementara sisi lainnya merasakan hangat tubuh Raya di dekatnya.

Nayra berusaha untuk tenang dan tidak memikirkan apapun.

Perlahan, tubuhnya mengendur. Dan tanpa ia sadari, Nayra akhirnya tertidur, di antara dua alasan terbesarnya untuk tetap bertahan.

Pagi datang perlahan.

Cahaya matahari menembus tirai tipis, jatuh lembut di wajah Nayra. Ia bergerak sedikit, keningnya berkerut samar sebelum akhirnya membuka mata.

Beberapa detik, ia hanya diam sambil menatap langit-langit kamar. Suasana terasa tenang. Napas kecil yang terdengar dii sampingnya. Nayra menoleh. Alea masih terlelap, meringkuk kecil dengan selimut yang sudah setengah terbuka. Di sisi lain, Raya sudah tidak ada di tempatnya.

Nayra langsung bangun setengah duduk. “Raya?”

Tidak ada jawaban. Ia menyadarkan pandangan cepat ke seluruh kamar. Tapi... kosong tidak ada siapapun, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera turun dari ranjang, langkahnya cepat menuju pintu. Namun saat hendak membuka pintu lebih dulu terbuka dari luar.

Raya berdiri di sana. “Mama sudah bangun?”

Nayra terdiam sesaat, lalu menghembuskan napas pelan, dia merasa lega. “Kamu dari mana?” Ada nada panik di sana.

“Dapur,” jawab Raya santai sambil masuk. Di tangannya ada segelas air. “Aku abis ambil minum.”

Nayra menatapnya beberapa detik, memastikan. Lalu mengangguk kecil. “Jangan keluar sembarangan, kamu harus bilang sama Mama.”

Raya mengangkat bahu ringan. “Iya... aku tahu, tapi Mama masih tidur.”

Nayra tidak langsung membalas. Ia hanya menatap anaknya itu sebentar lebih lama dari biasanya, lalu berbalik kembali ke dalam kamar.

“Bangunin Alea,” ucapnya singkat.

Raya duduk di sisi ranjang dan menggoyang pelan bahu adiknya. “Alea… bangun.”

Alea mengerang kecil, wajahnya meringis sebelum akhirnya membuka mata perlahan. “Pagi…”

Nayra sudah berdiri di dekat lemari, mengambil pakaian.

“Cepat siap-siap. Kita turun,” katanya.

Raya melirik sekilas. “Turun... memang mau ke mana?”

Nayra berhenti sebentar, lalu menjawab, “Sarapan," jawabnya singkat.

Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah keluar kamar.

Koridor pagi itu lebih hidup dibanding semalam. Cahaya terang membuat semuanya terasa berbeda.

Saat mereka sampai di ujung tangga, langkah Nayra terhenti.

Di ruang makan, seseorang sudah duduk di sana... Arsen.

Pria itu duduk tenang dengan secangkir kopi di tangannya. Tatapannya terangkat saat mendengar langkah mereka.

Hening sejenak.

Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum dan sapaan.

Hanya diam yang terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.

Raya yang berdiri di samping Nayra langsung berbisik pelan, cukup terdengar, “Tuh kan, Ma. Dia kaya kulkas.”

Nayra menahan napas sebentar. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia melangkah turun.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!