Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Takut Pada Hantu
Aksa sempat kaget dan mengira kalau semua pesanan yang ada di meja itu akan dibayar oleh dirinya. Namun ternyata Adit sudah membayar makanan tersebut dengan uang miliknya sendiri. Jujur saja Aksa merasa sangat terhina dengan tindakan Adit tersebut. Ia merasa sangat di permainkan olehnya.
Setelah ia puas makan dengan kenyang. Adit tidak langsung pergi dan masih duduk disana entah menunggu apa. Aksa yang sedang sibuk melayani para pelanggan dan sesekali membersihkan meja merasa sangat risih dengan keberadaannya. Apalagi semua teman-temannya yang lain sudah pulang duluan.
"Loh gak akan pulang? " tanya Aksa setelah membersihkan meja disamping Adit.
"Tentu saja gue harus pulang. Tapi gak sekarang, " jawab Adit.
"Kenapa? Sudah hampir tengah malam. Orang tua loh apa gak khawatir?" tanya Aksa lagi karena penasaran.
Adit tersenyum dengan tatapan yang terlihat sedih. "Gue harap begitu. Sayangnya tidak ada yang khawatir sama gue. Mau pulang atau tidak, sama saja buat gue. Tidak ada yang menunggu di rumah, " ungkap Adit kemudian mengatakannya dengan santai dan penuh senyuman.
"Gue gak mau ikut campur masalah hidup loh atau orang tua loh. Tapi sebaiknya loh pulang sekarang, " usir Aksa kemudian.
"Ck. Jahat sekali, " gumam Adit dengan kesal. "Hei? Ngomong-ngomong, gue boleh nginep di rumah loh gak?" pinta Adit memelas belas kasihan dari Aksa.
"Tidak boleh. " Suara datar dan dingin itu langsung menolaknya tanpa ragu. Membuat Adit benar-benar merasa kecewa sekali.
Lantas, Adit beranjak dari duduknya dan hendak pulang. Namun ia merasa sangat ragu untuk melangkah pergi. Ia menatap keluar sejenak sambil menarik nafas. Tapi sebenarnya ada alasan lain mengapa ia menunggu disana sampai selarut itu. Dan ia sebenarnya sedang menunggu Aksa sampai pekerjaannya selesai untuk pulang bersama karena jalannya searah dari sana. Bukan apa-apa tapi jujur saja Adit sebenarnya takut dengan gelap dan juga hantu.
"Gue bisa. Gue pasti bisa, " gumam Adit kemudian bersiap untuk menembus kegelapan malam yang sepi dan sunyi di luar sana. Namun entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia kembali mengurungkan niatnya untuk pergi dan terlihat sangat bingung saat ini.
"Loh ngapain? Kenapa sikap loh jadi aneh begini? " tanya Aksa lagi karena merasa sangat terganggu dengan kelakuannya itu yang membingungkan.
"Gue gak bisa pulang, " jawabnya kemudian sambil duduk lagi dengan lesu.
"Kenapa? "
"Memangnya kenapa lagi? Diluar sana terlalu gelap dan sepi, " jawab Adit dengan sedikit meninggikan suaranya.
Aksa hanya menatapnya dingin dan datar tidak memahami maksud dari perkataan Adit. "Jadi, kenapa dengan gelap dan sepi? " tanya Aksa lagi semakin dalam menyelidiki nya.
Adit menghembus nafas berat dan menatap Aksa dengan malu juga kesal karena harus mengungkapkan kelemahannya. "Gue sebenarnya tidak mau orang lain tahu kelemahan gue. Tapi, mau bagaimana lagi, gue sekarang bergantung sama bantuan loh. Sebenernya, gue takut gelap. Bagaimana kalau tiba-tiba ada hantu yang muncul di tengah kegelapan itu? "
Mendengar ungkapan Adit yang sangat konyol bagi Aksa membuat ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Hei? Berapa usia loh sekarang? Apa loh anak TK? Hantu? Yang benar saja. Konyol sekali, " ledek Aksa sambil menahan tawanya.
Adit tahu reaksi Aksa akan seperti itu. Jadi ia hanya menunduk malu karenanya. "Gue juga tahu itu terdengar sangat konyol dan kekanak-kanakan. Tapi itulah kenyataannya. Ini rahasia! Jadi jangan bilang siapapun. Loh orang pertama yang tahu kelemahan gue, " balas Adit.
Aksa tidak menggubris ucapannya dan hanya menatapnya datar. "Tunggu lima belas menit lagi, " ucap Aksa kemudian lalu melengos pergi ke belakang.
Adit tersenyum senang merasa dirinya kini telah dianggap. Sederhana tapi sesuatu yang kecil itu sungguh membuat hatinya yang kosong sedikit terisi dan hangat. Dulu Adit pernah berharap memiliki saudara yang akan selalu menjaganya dan menemaninya. Setidaknya mungkin ia tidak akan merasa sesepi ini dalam hidupnya.
Seketika tatapan yang tadinya berbinar itu berubah menjadi sayu dan sedih. Ingatan yang kosong tanpa peran orang tua dalam memorinya membuat hatinya terasa sakit. Tidak banyak kenangan yang ia punya bersama dengan kedua orang tuanya. Hanya sampai saat ia berusia tujuh tahun, ia ingat dengan sangat jelas. Sampai saat itu ia masih memiliki cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun setelah mereka bercerai semuanya berubah dan mereka kini hidup dalam lingkungan masing-masing. Seolah melupakan Adit yang sudah dilahirkan ke dunia ini.
Hari-harinya menjadi kosong dan sunyi sepi. Suara-suara tawa yang pecah dulu berganti dengan ruang yang sunyi. Adit yang selalu patuh dan penurut mulai memberontak. Bukan karena ia nakal. Tapi karena ia hanya ingin mendapatkan perhatian Ayahnya yang kini hanya tinggal bersamanya. Mengingat kenangan yang terasa pahit itu seketika membuat kedua sudut mata Adit mengeluarkan air mata. Sadar dengan hal itu, Adit segera menyeka air matanya takut kalau orang lain akan memperhatikannya.
Lima belas menit Adit menunggu Aksa sampai selesai bekerja. Mereka pun pulang bersama berjalan berdampingan menyesuaikan irama langkah masing-masing untuk tetap seimbang. Tidak ada pembicaraan yang keluar diantara mereka. Hanya terdengar suara langkah kaki yang beriringan serta suara angin yang menghembuskan hawa dingin di malam hari. Suasana terasa sangat aneh dan canggung sekali. Apalagi ketika Adit melihat Aksa yang bersikap acuh tak acuh padanya.
"Sudah berapa lama loh bekerja disana? " Adit bertanya dan memulai obrolan untuk memecahkan keheningan yang terasa sangat canggung itu. Hanya sekedar basa-basi.
"Dua tahun. Kenapa? " Seperti biasa Aksa menjawab dengan dingin dan datar.
"Hanya mau tahu saja, " balas Adit sambil menghirup udara malam yang mulai terasa begitu dingin. Ia memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
Suasana kembali menjadi hening seketika. Angin berhembus dengan lembut. Langit malam terasa sangat mendukung, cerah dan indah. Adit sesekali melirik ke arah Aksa yang berjalan lurus menatap ke depan. Ia tahu, kehidupan Aksa mungkin sangat berat hingga ia harus bekerja sampai larut malam seperti ini. Tapi ia tidak ingin menyinggung tentang kehidupannya yang mungkin akan membuatnya merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba saja, sesuatu bayangan hitam melintas dengan mata yang menyala hijau. Adit yang tadinya terlihat cukup tenang terkejut dan menjadi sangat panik. Ia melompat bersembunyi dibelakang tubuh Aksa ketakutan.
"Apa itu? Apa itu hantu? " tukasnya sambil menarik jaket Aksa menyembunyikan wajahnya.
Aksa sungguh tidak mempercayai kekonyolan Adit. Ia mendengus pelan. "Loh ini benar-benar.... Aish! Lepasin! Itu cuma kucing hitam."
meow~
Adit pun melepaskan cengkraman nya dari baju Aksa dan berdehem pelan karena malu, ia mencoba mengembalikan wibawa dirinya di depan Aksa. "Gue cuma kaget saja. "
Aksa memutar malas kedua bola matanya diiringi gelengan kepala kecil. Lantas, ketika mereka tiba di jalan besar. Mereka tidak sengaja melihat seseorang duduk di kursi pemberhentian bus sambil menangis tersedu-sedu. Ditambah lagi rambutnya yang panjang acak-acakan menutupi wajahnya dan juga memakainya gaun putih. Adit yang melihatnya bergidik gemetar ketakutan sambil bersembunyi di belakang tubuh Aksa.
"Hei? Itu apa? Kuntilanak?" tanya Adit dengan suara yang gemetar hebat saking takutnya.
Bukan hanya Adit yang melihatnya, tetapi Aksa juga bisa melihat dengan jelas sosok yang disebutkan oleh Adit. Tapi ia tetap tenang dan terus memperhatikan wanita yang menangis itu. Hanya ingin memastikan apakah itu benar manusia atau bukan. Karena Aksa tidak percaya pada hantu yang dipercayai sama Adit.
Setelah beberapa saat mengamati Aksa menghela nafas ringan. "Dia manusia. Bukan hantu, " ucap Aksa merasa seperti sedang menjaga anak TK yang sedang ketakutan.
"Hei, itu bukan manusia. Coba loh pikir memangnya ada orang yang duduk diam di tempat sepi sambil menangis tengah malam? Jadi gue pikir itu bukan manusia. Dia hantu, " sahut Adit terkekeh kalau sosok itu adalah hantu yang persis dalam pikirannya.
"Kalau begitu mari kita pastikan. Dia manusia atau bukan? " Aksa menantangnya dengan penuh keberanian tanpa ragu sedikitpun ia melangkah pergi menghampiri sosok yang duduk di bangku sana.
"Oi! Jangan! Ish! " Adit berteriak dengan suara pelan melarangnya. Namun, Aksa tidak mau mendengarkan karena ia sering melewati jalan ini setiap hari tidak pernah ia melihat hal seperti itu dalam hidupnya. Adit yang ditinggalkan mau tidak mau ikut menyusul langkah Aksa dengan ragu.
"Permisi? " sapa Aksa kepada sosok yang menangis itu. Perlahan sosok itu mengangkat wajahnya. Dan sungguh apa yang Adit lihat membuat ia tidak bisa menahan rasa takutnya hingga jatuh pingsan ketika melihat wajah wanita tersebut.
"Aaaaa! " teriaknya sesaat sebelum tubuhnya jatuh pingsan ke tanah. Namun Aksa tidak takut sama sekali karena itu hanyalah riasan yang luntur karena air mata. Aksa benar-benar merasa sangat repot menghadapi kelakuan Adit yang begitu kekanak-kanakan. Ia kembali menghela nafas berat.
"Dia kenapa sih? " tanya gadis itu dengan heran menatap Adit yang pingsan karena ketakutan.
"Jangan dipedulikan. Maaf sudah menganggu, " sesal Aksa kemudian. Lantas, gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi sambil terisak dan menangis. Sepertinya ia sedang mengalami hal terpahit dalam hidupnya. Pikir Aksa.
"Harus gue apakan orang ini? Hei?! Bangun! Hei?! Gue tinggal yah? "
Aksa mencoba membangunkannya dengan kakinya. Namun, tidak ada respon sama sekali. Sepertinya dia benar-benar pingsan saat ini.
"Oi? Loh pingsan beneran? Aish! Gimana ini? Merepotkan sekali, " ujar Aksa lagi dengan kesal.