Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Kecil dari Jalanan
Gadis kecil itu berdiri dengan tangan gemetar dalam genggaman Xiao Chen. Matanya yang cokelat besar menatap tak percaya—seolah orang yang baru saja diselamatkan dari jurang dan belum yakin tanah di bawah kakinya nyata.
"Kau... kau serius?" suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku tidak pernah bercanda tentang hal seperti ini." Xiao Chen melepaskan tangannya dan berjongkok, menyamakan tinggi dengannya. "Tapi ada syaratnya."
Xiao Yu menelan ludah. "A-apa?"
"Kau harus mau belajar. Kultivasi, membaca, segala sesuatu yang akan kuajarkan. Hidup bersamaku tidak akan selalu mudah."
"Aku... aku akan belajar! Aku janji!" Air mata mengalir lagi di pipinya yang kotor. "Aku akan jadi murid yang baik!"
"Bukan murid." Xiao Chen mengusap air matanya dengan ibu jari. "Mulai hari ini, kau adalah putri angkatku."
Wei Ling, yang berdiri di belakang, merasakan sesuatu yang hangat menyebar di dadanya. Dia ingat bagaimana Xiao Chen memperlakukan Lian di Kota Seratus Mata Air—lembut, penuh perhatian, seperti seorang ayah. Tapi kali ini berbeda. Kali ini Xiao Chen benar-benar mengambil tanggung jawab.
Lin Yao menyilangkan lengannya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kau selalu melakukan hal-hal tak terduga."
"Itu yang membuat hidup menarik," jawab Xiao Chen.
Mereka membawa Xiao Yu kembali ke penginapan. Begitu tiba, Xu Mei dan Liu Ruyan—yang baru kembali dari Paviliun—langsung terkejut melihat tambahan baru.
"Kau pergi ke pasar dan kembali dengan seorang anak?" Xu Mei mengangkat alis.
"Dia tidak punya siapa-siapa."
"Dan kau langsung mengangkatnya?"
"Ya."
Xu Mei menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. "Kenapa aku tidak terkejut?"
Liu Ruyan berjalan mendekat, menatap Xiao Yu dengan mata berpengalamannya. Gadis itu sedikit mundur, bersembunyi di balik punggung Xiao Chen.
"Aku tidak akan menyakitimu," kata Liu Ruyan lembut—nada bicara yang tidak pernah digunakan di ruang rapat Paviliun. "Siapa namamu?"
"Xiao... Xiao Yu."
"Xiao? Nama yang bagus." Liu Ruyan mencondongkan tubuhnya. "Kau tahu, aku juga dulu sendirian. Lalu aku bertemu seseorang yang membantuku. Sekarang giliranmu."
Xiao Yu mendongak, menatap Liu Ruyan dengan mata berbinar. "Kakak juga diangkat?"
Liu Ruyan tertawa kecil. "Tidak. Tapi ceritanya mirip." Dia menatap Xiao Chen. "Kau benar-benar mengumpulkan orang terlantar, ya?"
"Mereka yang paling membutuhkan," jawab Xiao Chen.
—
Sore harinya, Wei Ling dan Lin Yao membawa Xiao Yu ke pemandian umum terdekat. Gadis itu awalnya ragu—pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh debu dan luka kecil—tapi Wei Ling menggandengnya dengan sabar.
"Air hangatnya enak," kata Wei Ling. "Kau akan suka."
Di pemandian, saat pakaiannya dilepas, Wei Ling bisa melihat tulang-tulangnya—Xiao Yu sangat kurus, kurang gizi selama berbulan-bulan. Ada bekas luka di punggungnya, bukan dari binatang buas, tapi dari cambuk.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Wei Ling, suaranya bergetar.
"Tuan... sebelum aku kabur. Dia... dia tidak suka kalau aku lambat."
Wei Ling mengepalkan tangannya di bawah air. Lin Yao, yang duduk di seberang, menatap luka-luka itu dengan ekspresi yang sulit dibaca—tapi matanya sedikit menyipit, dan itu cukup untuk menunjukkan kemarahannya.
"Kau tidak akan kembali ke sana," kata Lin Yao datar. "Selamanya."
"Kakak... terima kasih."
Setelah mandi, mereka membawanya ke toko pakaian. Xu Mei memilihkan beberapa potong gaun sederhana—biru muda, seperti jubah Wei Ling. Ketika Xiao Yu keluar dari kamar ganti dengan gaun barunya, semua orang terdiam.
Gadis yang tadinya kotor dan compang-camping sekarang terlihat seperti putri kecil. Rambutnya yang hitam berkilau setelah dicuci, matanya yang cokelat besar bersinar, dan gaun biru mudanya membuatnya terlihat seperti langit kecil yang berjalan.
"Kau cantik," kata Wei Ling.
Xiao Yu menunduk, pipinya merah. "Aku... aku tidak pernah pakai baju bagus."
"Mulai sekarang kau akan sering pakai."
—
Malam harinya, setelah Xiao Yu tertidur di kamar yang disediakan untuknya—sebuah kamar kecil dengan dipan empuk dan jendela yang menghadap taman—Xiao Chen duduk di ruang tamu penginapan bersama keempat wanitanya.
"Dia butuh kultivasi," kata Liu Ruyan. "Tubuhnya lemah. Tanpa kultivasi, dia tidak akan bisa mengikuti perjalanan kita."
"Aku akan mengajarinya," jawab Xiao Chen. "Mulai besok."
"Kau akan jadi guru sekarang?" tanya Lin Yao.
"Kurasa begitu."
Xu Mei membuka catatannya. "Aku sudah memeriksa latar belakangnya—bertanya ke beberapa kontak di kota. Dia berasal dari desa kecil di selatan. Desa itu diserang binatang buas setahun yang lalu. Dia satu-satunya yang selamat."
"Lalu dia dijual sebagai budak," sambung Liu Ruyan. "Tuan sebelumnya adalah pedagang di kota ini. Dia kabur tiga bulan lalu."
"Pedagang itu," kata Xiao Chen, suaranya tenang. "Apa yang terjadi padanya?"
"Mati. Dibunuh dalam perampokan dua bulan lalu." Liu Ruyan menatapnya. "Keadilan kadang bekerja dengan caranya sendiri."
Xiao Chen tidak menjawab.
Wei Ling mendekat, meletakkan tangannya di lengan Xiao Chen. "Kau memberinya kesempatan baru. Itu yang penting sekarang."
"Aku tahu." Xiao Chen menatap pintu kamar Xiao Yu. "Dia akan baik-baik saja. Aku akan memastikannya."
—
Latihan dimulai keesokan paginya.
Di taman belakang penginapan, di bawah pohon sakura spiritual yang kelopaknya berwarna ungu, Xiao Chen duduk bersila berhadapan dengan Xiao Yu.
"Kultivasi," katanya, "bukan hanya tentang mengumpulkan Qi. Ini tentang memahami dirimu sendiri. Tubuhmu, pikiranmu, jiwamu."
Xiao Yu mengangguk serius, meskipun jelas dia tidak sepenuhnya mengerti.
"Kita akan mulai dengan pernapasan. Tutup matamu."
Gadis itu menutup matanya.
"Rasakan udara masuk. Rasakan udara keluar. Jangan pikirkan yang lain."
Mereka duduk seperti itu selama hampir satu jam. Awalnya Xiao Yu gelisah, tapi perlahan-lahan dia tenang. Napasnya menjadi teratur. Wajahnya yang tegang mulai rileks.
"Bagus," kata Xiao Chen. "Sekarang, rasakan sesuatu di dalam dirimu. Seperti aliran air yang sangat kecil. Sangat pelan. Itu adalah Qi-mu."
"Aku... aku tidak bisa merasakannya."
"Tidak apa-apa. Butuh waktu. Coba lagi."
Mereka terus berlatih sampai matahari naik lebih tinggi. Wei Ling dan Lin Yao menonton dari beranda, tidak ingin mengganggu.
"Dia sabar," bisik Wei Ling. "Aku tidak menyangka."
"Dia selalu sabar," jawab Lin Yao. "Hanya saja caranya berbeda."
—
Malam harinya, setelah latihan seharian, Xiao Yu duduk di samping Xiao Chen di taman. Bintang-bintang bertaburan di langit Kota Zamrud, dan lampu-lampu formasi di seluruh kota mulai menyala.
"Kakak," katanya pelan.
"Ya?"
"Apa aku benar-benar boleh tinggal denganmu? Selamanya?"
"Kau boleh tinggal selama kau mau."
"Tapi... bagaimana kalau aku tidak cukup kuat? Bagaimana kalau aku mengecewakanmu?"
Xiao Chen menoleh, menatapnya. "Xiao Yu, kau sudah selamat dari serangan binatang buas. Kau selamat dari perbudakan. Kau bertahan hidup sendirian di jalanan selama tiga bulan. Kau sudah kuat sebelum bertemu denganku. Aku hanya membantumu menyadarinya."
Xiao Yu menatapnya, air matanya menggenang lagi—tapi kali ini dia tersenyum. "Terima kasih, Kakak."
"Panggil aku Ayah."
Mata Xiao Yu membelalak. "A-ayah?"
"Kau putri angkatku, kan? Itu panggilan yang tepat."
Gadis itu menubruk Xiao Chen dengan pelukan erat, wajahnya dibenamkan di dadanya, air matanya membasahi jubahnya. "Ayah... Ayah..."
Xiao Chen mengusap rambutnya. "Ada, ada."
Dari jendela penginapan, Wei Ling menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. "Dia akan jadi ayah yang baik."
"Sudah kubilang dia akan," jawab Lin Yao dari dalam kamar.
"Kau tidak pernah bilang itu."
"Dalam hati."