Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Deru Sepeda Motor dan Sabda yang Berubah Haluan
Deru mesin sepeda motor Jenawa sore itu tak lagi terdengar memekakkan telinga layaknya raungan binatang buas yang siap menerkam mangsa di jalan raya. Laju kendaraan beroda dua itu terukur dengan saksama, membelah kepadatan lalu lintas kota dengan ritme yang tenang dan berhati-hati. Bagi Jenawa, membonceng seorang Sinaca Tina bukanlah sekadar mengantarkan seseorang pulang; ini adalah sebuah amanah agung yang tak boleh sedikit pun ternoda oleh kecerobohan.
Di balik punggung tegap pemuda itu, Sinaca duduk dengan postur yang tetap menjaga keanggunan. Kedua tangannya bertumpu ringan pada ujung jaket almamater yang dikenakan Jenawa, memberikan jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh sang pemuda. Angin sore yang berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambut Sinaca yang terlepas dari ikatannya, menggelitik pelan tengkuk Jenawa dan menciptakan desiran aneh di aliran darahnya.
Perjalanan yang biasanya terasa singkat itu kini seolah dilambatkan oleh waktu. Jenawa sengaja tidak memacu kendaraannya. Ia ingin mencecap setiap detik dari perdamaian ini. Di kaca spion, sesekali matanya mencuri pandang ke arah pantulan wajah Sinaca. Gadis itu tampak mengamati jalanan, dan ketika pandangan mereka tanpa sengaja bersirobok di pantulan kaca kecil itu, Sinaca segera membuang muka dengan rona merah yang kembali menghiasi kedua pipinya.
Jenawa menyunggingkan senyum di balik kaca helmnya. Kemelut di aspal jalanan tak pernah memberinya sensasi semendebarkan ini.
Sepeda motor itu akhirnya memelankan laju dan berhenti sempurna di depan pagar besi bercat putih gading. Pohon tanjung di sudut pekarangan kembali menjadi saksi bisu, menggugurkan kelopak kuning pucatnya ke atas aspal.
Sinaca turun dengan hati-hati. Ia melepaskan helm cadangan yang kebesaran itu dari kepalanya, merapikan rambutnya sejenak, lalu menyodorkan helm tersebut kepada Jenawa.
"Perjalanan yang teramat tenang untuk ukuran seorang panglima jalanan, Jenawa," ucap Sinaca, suaranya mengalun memecah keheningan senja. Nada bakunya masih kental, namun ketajamannya telah sepenuhnya luluh.
Jenawa menerima helm itu dan mengaitkannya di jok belakang. Ia menumpukan kedua tangannya di atas stang motor, menatap lurus ke arah gadis di hadapannya.
"Panglima jalanan itu telah menanggalkan takhtanya sejak tiga hari yang lalu, Sinaca," jawab Jenawa, suaranya terdengar berat dan dipenuhi oleh kejujuran yang utuh. "Seperti janjiku di pelataran sekolah tadi, aku tak butuh lagi membuktikan nyaliku di atas aspal. Menjaga laju kendaraan ini agar tak membuatmu merasa cemas, jauh lebih menuntut keberanian bagiku."
Sinaca terdiam sejenak. Matanya menelisik lengan kiri Jenawa yang tertutup rapat oleh lengan jaket almamater. "Apakah lukamu sudah mengering?"
"Rasa perihnya bahkan sudah menguap semenjak kau berkenan memanggil namaku kembali," sahut Jenawa dengan seulas senyum jenaka yang membuat Sinaca tak kuasa untuk tak membalas senyuman itu.
"Berhentilah membual, Jenawa. Sebuah luka koyak tak akan sembuh hanya dengan sebuah sapaan," balas Sinaca pelan, merapatkan pelukan pada buku-buku di dadanya. "Namun... aku bersyukur kau menepati janjimu untuk memberiku jeda tanpa paksaan. Terima kasih untuk tumpangan dan pengawalanmu sore ini."
"Sebuah kehormatan untukku, Sinaca. Beristirahatlah. Besok pagi, aku akan menunggu di depan gerbang perumahanmu. Biarkan aku mengawalmu saat berangkat, bukan hanya saat pulang."
Sinaca tidak segera menjawab. Ia menatap pemuda itu, menyadari bahwa keteguhan Jenawa sama kerasnya dengan batu karang. Akhirnya, sebuah anggukan pelan diberikan. "Asalkan kau tidak memarkir motormu tepat di tengah jalan dan mengganggu warga yang melintas."
"Sesuai titahmu," Jenawa terkekeh pelan. "Masuklah."
Setelah memastikan Sinaca masuk dan mengunci pagarnya, Jenawa kembali menghidupkan mesin motornya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar saat ia memutar arah kendaraannya. Ada sebuah urusan yang belum usai. Sebuah keputusan besar yang harus ia sampaikan kepada barisannya malam ini juga.
Kedai Pak Dirman tak sepadat biasanya saat Jenawa menjejakkan kaki di ambang pintu. Hanya ada Seno, Bimo yang pelipisnya masih dihiasi perban kecil, dan beberapa anak barisan depan yang tengah menyeruput kopi hitam sembari bermain kartu. Melihat kedatangan Jenawa, mereka serempak menghentikan aktivitas.
Seno bangkit, menyambut kawan karibnya itu dengan kerutan di dahi. "Kau dari mana saja, Wa? Tiga hari menghilang bak ditelan bumi, dan sore ini anak-anak bilang kau pulang membonceng siswi baru itu. Apa sebenarnya yang sedang merasuki pikiranmu?"
Jenawa menarik sebuah kursi kayu dan duduk di tengah-tengah mereka. Ia menatap kawan-kawannya satu per satu. Wajah-wajah yang selama ini berdiri di belakangnya, siap menumpahkan darah demi sebuah harga diri komunal.
"Duduklah, Seno," titah Jenawa dengan suara baritonnya yang tenang namun mengisyaratkan ketegasan mutlak.
Setelah Seno duduk dengan enggan, Jenawa melipat kedua lengannya di atas meja. "Kalian semua tahu bagaimana pabrik tua belakang stasiun menjadi saksi atas kekalahan telak Agam. Tidak ada lagi yang perlu kita buktikan. Kehormatan SMA Bangsa telah tegak, dan Pelita tak akan berani lagi mengangkat wajah mereka untuk waktu yang lama."
"Itu benar, Panglima!" sahut Bimo dengan semangat yang menggebu. "Jalanan adalah milik kita sekarang!"
"Bukan," potong Jenawa cepat, suaranya sedingin embun malam. "Jalanan adalah milik warga. Bukan milik kita, bukan pula milik Pelita."
Keheningan seketika menyergap kedai tersebut. Seno menatap Jenawa dengan mata menyipit. "Apa maksud ucapanmu, Wa?"
Jenawa menarik napas panjang. "Mulai malam ini, aku menanggalkan gelar panglima itu. Pedang perseteruan ini telah kusarungkan untuk selamanya. Aku tak akan lagi memimpin konfrontasi, merencanakan siasat tawuran, atau mencari perkara di jalanan."
Seno menggebrak meja, membuat cangkir-cangkir kopi bergetar hebat. "Kau sudah gila, Jenawa?! Kau berada di puncak kekuasaan! Kau tak bisa begitu saja cuci tangan dan membiarkan barisan kita kehilangan kepalanya! Apakah ini karena perempuan itu?! Karena Sinaca?!"
"Jaga bicaramu, Seno," geram Jenawa, rahangnya kembali mengeras. Aura intimidasi menguar dari tubuhnya, membuat Seno menelan ludah meski amarahnya masih mendidih. "Keputusanku mutlak atas kesadaranku sendiri. Aku tak ingin menghabiskan masa remajaku untuk saling menghancurkan tulang dan menitikkan darah tanpa makna. Jika kau merasa barisan ini butuh seorang pemimpin untuk terus berdarah di jalanan, maka kau yang berhak mengambil alih kemudi itu. Namun aku... langkahku terhenti sampai di sini."
Seno terenyak, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kasar. Kawan-kawan yang lain saling melempar pandang dalam bisu. Mereka kehilangan kata-kata. Pemimpin yang tak pernah gentar oleh pedang dan balok kayu itu, kini memilih mundur secara sukarela.
"Kau mengecewakan kami, Wa," desis Seno, suaranya bergetar menahan marah dan tak percaya. "Kau menukar harga diri persaudaraan kita dengan seorang gadis yang bahkan tak memahami kerasnya aspal yang membesarkan namamu."
Jenawa bangkit berdiri. Ia meletakkan selembar uang pecahan besar di atas meja untuk membayar seluruh minuman malam itu. Matanya menatap Seno dengan sebuah kedalaman yang menyiratkan kedewasaan yang baru saja ia pelajari.
"Kelak kau akan mengerti, Seno," ucap Jenawa pelan sebelum membalikkan badan menuju pintu. "Bahwa ada sebuah harga diri yang jauh lebih berharga daripada tepuk tangan di atas aspal jalanan. Dan aku, baru saja menemukannya."
semangat Thor nulisnya...💪💪💪