NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah.

Langit sore tampak lembut dengan semburat jingga di ufuk barat. Jalanan kota mulai ramai oleh lampu-lampu kendaraan.

Di dalam mobil, suasana terasa agak canggung.

Tama menyetir dengan tenang di kursi depan. Wajahnya terlihat fokus, namun sesekali matanya melirik ke kaca spion tengah.

Di kursi belakang, Bu Diana duduk di sebelah kanan.

Dita di sebelah kiri.

Keduanya diam beberapa saat.

Bu Diana akhirnya membuka percakapan.

“Sudah lama Mama tidak ke bioskop,” katanya sambil menatap keluar jendela.

Tama tersenyum tipis.

“Terakhir kapan?”

“Waktu kamu masih SMA.”

Tama terkekeh pelan.

“Itu sudah lama sekali.”

Dita hanya tersenyum kecil mendengar percakapan mereka.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan pusat perbelanjaan besar.

Lampu-lampu gedung sudah menyala terang.

“Sudah sampai,” kata Tama.

Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang.

“Pelan, Ma.”

Ia membantu ibunya keluar dari mobil.

Dita juga turun dengan sigap mengambil kursi roda.

Udara sore terasa hangat dengan aroma makanan dari restoran sekitar.

Mereka masuk ke dalam gedung.

Bioskop berada di lantai tiga.

Setelah membeli tiket dan minuman, mereka masuk ke studio.

Lampu dalam ruangan redup.

Film sudah hampir dimulai.

Mereka duduk di barisan tengah.

Bu Diana di sebelah kanan.

Dita di sebelah kiri.

Tama duduk di tengah di antara mereka.

Film mulai diputar.

Ternyata filmnya berlatar kota Dubai.

Gedung-gedung tinggi.

Padang pasir yang luas.

Cerita tentang dua orang yang saling mencintai… tetapi tak bisa bersama karena keadaan.

Awalnya Dita menonton dengan tenang.

Namun semakin lama cerita semakin menyayat hati.

Adegan ketika tokoh wanita harus meninggalkan pria yang ia cintai membuat dada terasa sesak.

Dita menunduk sedikit.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tama yang duduk di tengah melirik sekilas.

Ia melihat bahu Dita mulai bergerak pelan.

Menangis.

Tanpa berkata apa-apa ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan.

Ia menyodorkannya.

Dita menoleh sedikit.

“Oh…”

Ia menerima sapu tangan itu.

“Terima kasih, Tuan.”

Tama hanya mengangguk kecil.

Film berlanjut.

Namun beberapa menit kemudian—

Dita kembali mengusap matanya.

Air matanya bahkan semakin deras.

Adegan di layar memperlihatkan tokoh pria berdiri sendirian di bandara, menatap pesawat yang membawa kekasihnya pergi.

Dita menutup mulutnya pelan.

“Sedih sekali…” bisiknya.

Tama melirik lagi.

Ia mengambil botol minuman dari tempat duduk dan menyodorkannya.

“Minum.”

Dita menerima tanpa banyak berpikir.

“Terima kasih…”

Ia meneguk sedikit.

Namun adegan berikutnya malah lebih menyedihkan.

Tokoh wanita sakit.

Tokoh pria datang terlambat.

Dita benar-benar tidak bisa menahan tangisnya lagi.

Tama sedikit canggung.

Ia melirik ibunya sebentar.

Bu Diana yang duduk di sisi lain justru menatap layar dengan wajah tenang.

Namun dari sudut matanya… ia memperhatikan putranya.

Tama akhirnya bergerak sedikit mendekat.

Ia menepuk bahu Dita pelan.

“Sudah.”

Dita masih terisak kecil.

Tama menghela napas.

Ia lalu berkata pelan,

“Kalau terlalu sedih… sandar saja.”

Dita tidak benar-benar mendengar jelas.

Ia hanya mengangguk samar.

Beberapa detik kemudian kepalanya benar-benar bersandar di bahu Tama.

Tama langsung membeku.

Ia tidak bergerak.

Hanya menatap layar tanpa fokus.

Bu Diana yang melihat dari sisi kanan langsung menahan senyumnya.

Ia berpura-pura batuk kecil agar tidak terlihat tertawa.

Sementara Dita masih tenggelam dalam film yang tragis itu.

Ia bahkan tidak sadar bahwa bahunya kini bersandar pada atasannya.

Tama diam saja.

Ia hanya sesekali menoleh melihat wajah Dita yang masih basah oleh air mata.

Film akhirnya selesai hampir dua jam kemudian.

Lampu studio menyala perlahan.

Dita langsung duduk tegak kembali.

Ia baru menyadari sesuatu.

“Tuan… maaf.”

Tama menggeleng cepat.

“Tidak apa-apa.”

Bu Diana tersenyum sambil menatap mereka bergantian.

“Filmnya memang sedih.”

Dita mengangguk malu.

“Iya… saya tidak menyangka akan sesedih itu.”

Tama hanya diam sambil menyimpan kembali sapu tangannya.

Namun sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat.

****

Hari berikutnya.

Pagi hari di rumah terasa lebih santai.

Tama sedang duduk di ruang keluarga membaca email di laptopnya.

Tiba-tiba ia berhenti.

Alisnya sedikit berkerut.

“Reuni?”

Ia membaca undangan yang baru saja masuk.

Reuni kampus.

Akhir pekan ini.

Bu Diana yang sedang membaca majalah di sofa langsung menoleh.

“Reuni apa?”

“Reuni kampus.”

“Datang.”

Tama mengangkat bahu.

“Tidak penting.”

Bu Diana langsung menutup majalahnya.

“Justru penting.”

“Untuk apa?”

“Untuk menunjukkan kamu masih hidup.”

Tama terkekeh kecil.

“Semua orang tahu aku hidup.”

“Belum tentu.”

Ia menunjuk laptop.

“Pergi saja.”

Tama berpikir sebentar.

Namun Bu Diana tiba-tiba berkata santai,

“Ajak Dita.”

Tama langsung menoleh cepat.

“Ma.”

“Apa?”

“Itu tidak perlu.”

“Kenapa tidak perlu?”

Tama menutup laptopnya.

“Ini acara teman kampus.”

“Memangnya kenapa?”

Dita yang baru keluar dari dapur mendengar percakapan itu.

Ia langsung menggeleng.

“Tidak usah, Bu. Saya tidak pantas ikut acara seperti itu.”

Bu Diana menatapnya.

“Kenapa tidak pantas?”

“Saya hanya…”

Dita ragu mencari kata.

“Saya tidak kenal dengan teman tuan Tama, lagi pula nanti malah buat Tuan malu.”

Bu Diana mendengus.

“Omong kosong.”

Tama juga terlihat tidak nyaman. Walau sebenarnya hatinya senang juga.

“Ma.”

Namun Bu Diana tetap keras.

“Kamu belum punya pacar kan Tam?”

“Terus?”

“Daripada datang sendirian.”

Ia menunjuk Dita.

“Ajak dia saja.”

Dita langsung panik.

“Tidak, Bu. Saya benar-benar tidak—”

“Sudah diputuskan.”

Bu Diana berdiri.

“Besok kamu ikut.”

Dita menatap Tama seolah meminta bantuan.

Namun Tama justru terlihat menghela napas pasrah. Walau sudut bibirnya yang tak terlihat Dita atau bu Diana tertarik ke atas.

***

Hari reuni tiba.

Sejak siang Bu Diana sudah sibuk di kamar.

“Dita!”

“Iya Bu?”

“Masuk sini.”

Dita masuk dengan bingung.

“Kenapa, Bu?”

Bu Diana tersenyum lebar.

“Kita make over kamu.”

“Apa?”

Satu jam kemudian—

Dita hampir tidak mengenali dirinya sendiri di cermin.

Rambutnya ditata rapi.

Make up tipis namun elegan.

Gaun sederhana berwarna krem membalut tubuhnya.

Ia terlihat sangat berbeda.

Ketika keluar dari kamar—

Tama yang sedang menunggu di ruang tamu sampai terdiam beberapa detik.

Matanya sedikit membesar.

Dita menunduk malu.

“Bu Diana... Sepertinya terlalu banyak kasih make up di wajahku. Kalau tuan risih, saya hapus saja?”

Tama berdehem kecil.

“Tidak.”

Ia mengambil kunci mobil.

“Ayo.”

Bu Diana tersenyum puas melihat keduanya pergi.

Gedung hotel tempat reuni berlangsung sudah ramai.

Lampu-lampu kristal berkilau di aula besar.

Orang-orang berpakaian rapi saling menyapa.

Tama dan Dita baru saja masuk ketika seseorang memanggil.

“Tama?”

Tama berhenti.

Seorang wanita cantik dengan gaun merah berjalan mendekat.

Rambut panjangnya terurai elegan.

Matanya menatap Tama dengan senyum tipis.

“Kamu datang... Dengan wanita ini?”

Tama menatapnya.

Wajahnya berubah sedikit kaku.

1
Lilis Yuanita
kok macet🤭🤭
Novi idrus
heemmm gk update lagi ya
Bundha Ningsih
lha....mn yg lain
Yensi Juniarti
mulai kepo bibit cabe rawit 🫣🫣🫣🤣
Evi Lusiana
dasar tam tam
Evi Lusiana
modul lo tam tam
Evi Lusiana
tdk ad yg bs di lihat,tp tau wrn merah muda
Evi Lusiana
suka tp malu² meong,gengsiny selangit
sunaryati jarum
Pasti si WC umum, mantan Tama.Ayo Dita jangan kalah dan mau dihina
sunaryati jarum
Nah kan sudah tersepona perawat mama
sunaryati jarum
Kan kan modus
sunaryati jarum
Aah Tama bohong tuh dia nggak rela kamu berduaan sama dokter Eros
Evi Lusiana
tama bodoh untung ibuny cerdas
Evi Lusiana
sebodoh itukah tama emng gk ada cctv
Lilis Yuanita
knpa gk up
RaDja
terima kasih
Cinta_manis: terima kasih bintang 5 nya kak🥰🙏
total 1 replies
Lilis Yuanita
lnjut
sunaryati jarum
Kerja sama Dokter Eros dan Bu Diana, totalitas untuk menguji hat Tama pada Dita
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Cinta_manis: makasih🙏 siap kucoba ya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!