Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!
___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.
Dunia berubah.
Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.
Chu Kai.
Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:
Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.
Pendekar Naga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - Long Yang Wang
Di udara, Yue Yang tiba-tiba menghentikan lesatannya.
Tatapan wanita itu sedikit bergeser ke belakang. Dia bisa merasakan kehadiran yang semakin mendekat tanpa perlu melihat untuk mengetahui siapa itu.
Yue Yang tidak berkata apa pun. Dia lantas mengulurkan kedua tangan dan membentuk sebuah segel.
Udara di sekitarnya seketika berubah. Tekanan halus menyebar, seakan udara di sekitarnya tertahan sesaat sebelum perlahan memadat dan mulai membentuk sebuah retakan tipis.
Retakan itu melebar hingga menciptakan sebuah gerbang spiritual yang berdenyut pelan—tidak stabil, namun dikendalikan sepenuhnya.
Wei Zhang Zihan yang melayang di atas pedang terbangnya menyaksikan semua itu dengan mata menyipit.
Tanpa ragu, Yue Yang melesat lebih dulu dan masuk ke dalam gerbang tersebut. Wei Zhang Zihan hanya berhenti sepersekian detik—lalu mengikutinya.
Di belakang mereka, Long Yang Wang melesat dengan kecepatan penuh. Tatapan matanya terkunci ke arah gerbang itu, tanpa sedikit pun niat untuk melambat. Jarak yang tersisa langsung ia pangkas, seolah takut kehilangan jejak sosok yang ia kejar dalam satu kedipan.
Dalam wujud rubah perak, tubuh Long Yang Wang melesat menembus udara. Wei Shezi sendiri muncul kembali dalam wujud manusianya dan mengikuti dari belakang.
Keduanya ikut masuk ke dalam gerbang spiritual itu dan menghilang.
*
*
Suasana berubah.
Wei Zhang Zihan langsung menyadari perbedaan atmosfer di sekitarnya yang berbeda. Dia masih berdiri di atas pedangnya, melayang di sebuah lembah yang diselimuti kabut tipis.
Ada tebing-tebing tinggi yang mengelilingi area itu. Terlihat menjulang dengan udara dingin yang menusuk, namun yang paling terasa adalah keheningan.
Tidak ada suara angin atau getaran energi yang biasa ia rasakan di dunia luar. Rasanya seakan tempat ini begitu tenang hingga Wei Zhang Zihan sempat berpikir yang ia lihat adalah ilusi.
"..."
Wei Zhang Zihan bernapas pelan. Tatapan matanya pun bergerak ke depan. Dia melihat sebuah gua besar terbuka di dinding tebing dan Yue Yang sudah berjalan masuk ke sana tanpa ragu.
Wei Zhang Zihan menurunkan ketinggiannya dan mendarat pelan. Untuk sesaat, ia berdiri diam sebelum menyimpan kembali pedang pusakanya dan melangkah masuk dengan hati-hati.
Insting Wei Zhang Zihan terus waspada, tetapi saat ia melewati bagian dalam gua—langkah kakinya terhenti.
Pemandangan di hadapannya berubah sangat jauh dari apa yang ia perkirakan.
!!
Tidak ada lagi dinding batu yang sempit atau lorong seperti kebanyakan gua pada umumnya. Yang terbentang di hadapan saat ini justru adalah hamparan luas rerumputan hijau, bergoyang pelan tanpa arah angin yang jelas.
Ada rimbunan pohon pinus berdiri tenang di kejauhan, dan sebuah sungai kecil mengalir jernih membelah lanskap itu. Bahkan saat menengadah—langit cerah di atasnya terbuka. Rasanya seolah-olah ia baru saja melangkah ke dunia lain.
Wei Zhang Zihan mengernyit tipis saat berada di samping Yue Yang. Dia tidak bergerak untuk beberapa saat dan ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekaguman tapi justru sangat serius seakan menyadari bahwa tempat ini tidak mengikuti hukum ruang biasa.
Wei Zhang Zihan bisa merasakan energi di sekitarnya mengalir dengan cara yang berbeda. Terasa lebih halus, namun juga lebih dalam. Dia pun kembali menatap ke depan.
Yue Yang berhenti melangkah setelah berdiri di tengah hamparan hijau. Postur tubuhnya tegak dan tenang. Aura yang mengelilinginya tidak lagi ditekan, namun tetap terkendali dengan sempurna.
Perlahan, Yue Yang berbalik. Tatapan matanya langsung jatuh pada Wei Zhang Zihan. Bibirnya sedikit terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba saja terdengar suara asing yang memanggilnya.
"Ibu...?"
Tubuh Yue Yang langsung merespon dan ia pun menoleh. Dari kejauhan, satu sosok melesat mendekat. Cahaya perak yang sebelumnya melintas kini memudar dan memperlihatkan wujud aslinya—seorang remaja laki-laki yang nampak berusia 16 tahun.
Rambut remaja itu panjang, matanya berwarna hitam dengan bentuk pupil tajam seperti hewan buas. Hanya saja saat ini ekspresi wajahnya dipenuhi emosi yang sulit disembunyikan.
Begitu kaki Long Yang Wang menyentuh tanah—dia langsung berlari dan memeluk Yue Yang.
"Ibu..."
Suara itu tertahan, lebih pelan dari sebelumnya.
Di sisi lain, untuk pertama kalinya—ekspresi Yue Yang juga berubah. Tatapan matanya melunak dan memperlihatkan kerinduan yang telah ditahan begitu lama.
"Putraku..."
Tangan wanita itu terangkat perlahan, menyentuh wajah Long Yang Wang. Jari-jarinya bergerak pelan di pipi remaja itu, seolah memastikan bahwa yang ada di hadapannya benar-benar nyata.
Tanpa ragu, Yue Yang sedikit menunduk dan mencium kening putranya sebelum kembali memeluknya. Tidak ada aura yang dilepaskan, yang ada hanyalah keheningan dan kehangatan yang jarang terlihat dari sosok sepertinya.
Wei Shezi saat itu baru saja tiba. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat pemandangan tersebut. Matanya berkedip sekali, lalu ia menghela napas kecil karena merasa sedikit canggung. Dirinya pun berjalan mendekati Wei Zhang Zihan yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Kau tidak terluka, kan. Nak?" Yue Yang kembali mengusap pipi Long Yang Wang dan dibalas gelengan pelan.
"Mn. Bagaimana denganmu, Bu? Kau baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Sekarang Ibu baik-baik saja."
Wei Zhang Zihan tetap berdiri diam dan menyaksikan kehangatan yang terjadi dalam pertemuan Long Yang Wang dengan ibunya. Dia tidak mengatakan apa pun, termasuk tidak berniat menginterupsi momen itu.
Wei Zhang Zihan menunggu hingga beberapa saat kemudian—akhirnya Long Yang Wang melepas pelukan dari ibunya dan mulai memperhatikan sekitarnya.
Tatapan mata Long Yang Wang berubah ketika pandangannya tertuju pada sosok Wei Zhang Zihan. Kilas ingatan melintas cepat di benaknya dan membuat dirinya mengerutkan kening.
"Kau... pendekar dari Sekte Gunung Wushi itu?" ujar Long Yang Wang kemudian.
Wei Zhang Zihan sedikit terdiam, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Long Yang Wang seperti sudah mengerti bagaimana pemuda di hadapannya ini melibatkan diri dalam pembebasan ibunya. Hanya sana, ekspresi Long Yang Wang tidak melunak.
"Hmph." Long Yang Wang mendengus. Tatapan matanya berubah dingin. "Apa alasanmu membantuku... karena Pendekar Naga?"
Wei Zhang Zihan tidak menghindari tatapan itu. Dia sudah memperkirakan pertanyaan tersebut akan datang dan memang sejak awal tidak berniat untuk menyembunyikan apa pun.
Wei Zhang Zihan bernapas pelan. "Kai berada dalam pengaruh roh iblis. Aku membutuhkan bantuanmu."
******