Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Mengejutkan
Pak Kepala Desa menghela napas pelan, lalu menatap Seran dengan raut ingin tahu.
"Boleh aku tahu apa alasan kalian tidak bisa ikut?"
Seran berdiri tegak, kedua tangannya terkatup di depan dada.
“Saya baru saja kembali dari perjalanan jauh, Pak. Tubuh saya masih butuh banyak istirahat. Saya juga ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga saya.”
Pak Kepala Desa menatapnya beberapa detik, seakan menimbang kejujuran di balik kata-kata itu. Lalu ia mengangguk pelan.
“Baiklah, Seran. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa.”
Ibu Kepala Desa yang sejak tadi berdiri di samping suaminya melangkah maju. Ia tersenyum lembut, lalu menepuk-nepuk bahu Jenara.
“Jenara, sayang sekali kau tidak bisa memperlihatkan masakanmu pada Tuan dan Nyonya Gubernur,” ujarnya tulus. “Padahal masakanmu sangat enak. Aku yakin mereka akan menyukainya.”
Jenara menelan ludah. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat.
“Mungkin lain kali kau bisa berpartisipasi saat perayaan akhir tahun di desa kita,” lanjut Ibu Kepala Desa dengan nada menghibur.
Jenara mengangguk singkat. “Iya, Bu Kepala Desa, terima kasih," jawabnya singkat.
Di dalam hati Jenara, ada rasa kecewa yang berusaha ia tahan.
Belum sempat suasana kembali cair, Ranisya sudah melangkah maju, matanya berbinar penuh perhitungan.
“Ibu Kepala Desa, Pak Kepala Desa,” katanya cepat, “karena Jenara sudah mengundurkan diri, saya yang akan menjadi ketua memasak, kan?”
Pak Kepala Desa menghela napas kecil. “Nanti kita bicarakan lagi, Ranisya. Sekarang lebih baik bereskan jualanmu dan istirahatlah. Kalian pasti cukup lelah hari ini.”
Wajah Ranisya langsung cemberut. Bibirnya mengatup rapat menahan kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dengan langkah berat.
Tak lama kemudian, Pak Kepala Desa dan istrinya pun berpamitan pulang. Suasana di depan rumah Jenara kembali sepi, hanya tersisa meja jualan yang setengah kosong.
Jenara membereskan mejanya dengan gerakan cepat. Ia mengangkat tampah, melipat kain alas, lantas berjalan masuk ke rumah tanpa sekalipun menoleh ke arah Seran. Dadanya terasa panas.
Ia kesal, bukan pada keputusan Pak Kepala Desa, melainkan pada Seran yang menghalanginya tanpa penjelasan yang benar-benar ia pahami.
Di dapur, Jenara mulai menata bahan-bahan, berniat menyiapkan makan malam seperti biasa. Tangannya sibuk, tetapi pikirannya penuh dengan rasa jengkel.
Seran menyusul ke ambang dapur. “Jenara, kau tidak perlu memasak lagi. Aku akan membelikan makan malam untuk kita semua. Kau mandi saja dan temani anak-anak.”
Jenara tidak menjawab. Ia hanya melengos tanpa menimpali ucapan Seran. Membuat pria itu mengernyitkan dahi dengan heran.
"Kau kenapa Jenara?" tanya Seran.
Alih-alih menjawab, Jenara bergegas menuju bilik mandi. Langkahnya cepat, hampir berlari, seolah ingin meninggalkan semua kekesalan yang menumpuk di dada.
Begitu pintu bilik tertutup, Jenara langsung menyiramkan air dingin ke tubuhnya. Air segar mengalir deras, membasahi rambut dan pundak Jenara yang lelah.
Sungguh, ini tidak adil. Seran mengambil keputusan sepihak tanpa meminta pendapatnya sama sekali. Bukankah seharusnya, apa pun yang menyangkut hidup bersama harus dibicarakan lebih dulu?
Ia menghela napas panjang. Ya, memang benar mereka bukan suami istri dalam arti sesungguhnya. Namun tetap saja, Seran tidak berhak mengekang kebebasannya.
Air terus mengguyur kepala Jenara untuk membekukan amarah yang bergejolak dalam dirinya.
Saat keluar dari bilik mandi, tubuh Jenara terasa lebih segar. Rambutnya masih lembap, ujung-ujungnya meneteskan air ke lantai.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, Jenara melangkah ke ruang tengah dan duduk bersama 3G. Gita bersandar di sisinya, Giri duduk bersila sambil memainkan ujung baju, sedangkan Gatra tampak sibuk mengamati pintu, mungkin menunggu ayahnya pulang.
Mereka menunggu Seran, yang pergi membeli makanan di salah satu kedai.
Belum lama mereka duduk, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Jenara berdiri. “Ibu buka sebentar,” katanya pada anak-anak, sebelum melangkah ke pintu.
Begitu pintu dibuka, Jenara melihat Madri berdiri di depan rumah. Kali ini ia tidak datang sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria berbadan tegap, bahunya lebar, dan sorot matanya tajam. Sebilah pedang tersarung rapi di pinggangnya.
Madri langsung memberi hormat. “Nyonya Jenara, apakah Tuan Seran ada di dalam? Saya ingin bertemu.”
“Dia sedang keluar. Kalau Tuan mau menunggu, silakan duduk di teras.”
Madri mengangguk. “Baik, kami akan menunggu.”
Jenara hendak berbalik masuk, tetapi langkahnya terhenti. Sebuah pikiran melintas di benaknya. Mungkin inilah kesempatan untuk mencari tahu rahasia yang disembunyikan oleh Seran.
Ia menoleh kembali dan bergegas menghampiri Madri. “Tuan, saya ingin bertanya.”
Madri menoleh. “Silakan, Nyonya.”
“Benarkah Anda yang menyelamatkan suami saya dari serangan musuh di jalan?”
Madri tidak tampak terkejut. Ia mengangguk tenang.
“Benar, Nyonya. Namun sebenarnya Tuan Seran sendiri mampu membela diri. Kami hanya membantu sedikit.”
Jenara mengerutkan kening. Kata-kata itu tidak membuatnya lega, justru menambah tanda tanya.
“Apa sebelumnya Tuan pernah mengenal suami saya? Apa Tuan tahu… penyebab kenapa dia sering diserang orang?”
Madri terdiam sejenak. Wajahnya mengeras, seolah menimbang sesuatu.
“Untuk hal itu, sebaiknya Anda bertanya langsung pada Tuan Seran."
Jawaban yang dilontarkan Madri membuat Jenara menahan kesal. Belum sempat ia menanggapi, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Seran muncul dari arah jalan desa, membawa bungkusan makanan yang masih mengepulkan uap. Di tangannya ada nasi hangat, sayur tumis labu muda, dan ikan bakar yang aromanya menggoda.
“Jenara, makanlah dulu bersama anak-anak. Nanti aku menyusul," kata Seran sambil menghampiri Jenara.
Lalu ia melirik ke arah Madri. “Aku akan menemui Madri sebentar.”
Dengan bibir mengerucut, Jenara menerima bungkusan itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berbalik dan masuk ke rumah.
Di dalam, ia menata makanan di atas tikar, memanggil 3G untuk makan.
“Ayo kita makan dulu. Ayah membelikan makanan yang enak."
Setelah anak-anak mulai makan, Jenara pun berdiri.
“Ibu ke depan sebentar ya. Kalian makan dulu.”
Dengan langkah berjingkat, Jenara menuju pintu ruang tamu yang menghadap ke teras. Ia berhenti di balik daun pintu kayu yang sedikit terbuka.
Jenara menahan napas sambil menempelkan telinganya. Berusaha untuk mendengarkan percakapan antara Seran dan Madri.
“Lebih baik Anda segera pindah dari desa ini, Tuan,” kata Madri serius. “Sebelum Gubernur mengenali Anda dan melaporkannya ke istana.”
"Kau tidak perlu khawatir, aku dan Jenara tidak ikut di acara penyambutan," balas Seran.
"Tapi, bagaimana bila Anda bertemu Gubernur secara tidak sengaja? Saya khawatir Permaisuri akan..."
"Cukup, Madri, jaga ucapanmu. Jangan sampai ada yang mendengarnya."
Dari balik pintu, tubuh Jenara membeku. Jantungnya terasa hampir melompat keluar.
Gubernur? Permaisuri?
Apa dia salah dengar? Lalu, apa hubungan Seran dengan semua itu?
to, bagaimana dgn triplets?