Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Di dalam ruang rapat itu, keheningan jatuh seperti selimut tebal. Tak satu pun berani membuka mulut, bahkan Mordain, yang biasanya paling vokal dan licik, memilih diam.
Semua mata tertuju pada satu sosok, Dion. Seolah mereka menunggu vonis, menunggu keputusan dari orang yang baru saja mengacak-acak tatanan kekuasaan yang mereka kenal.
“Heh…” Dion menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan bicara.”
Ia melangkah maju, langkahnya tenang namun mantap. Barra otomatis mengikuti dari belakang, sedikit tertunduk, jantungnya berdetak tak karuan.
Saat Dion berdiri di hadapan semua orang, Mordain bergeser ke samping, berdiri dengan sikap hormat yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Dengar baik-baik,” ucap Dion dingin. “Aku tidak akan ikut campur urusan kalian dengan sekolah lain. Tapi satu hal, aku tidak ingin ada satu pun penindas di SMA Cahaya Senja. Apa kalian paham?”
Tatapan Dion menyapu ruangan, tajam dan menekan.
Wuuush!
Aura tak kasat mata meledak dari tubuhnya.
“Kugh!”
“Tekanan apa ini…!”
“Sial! Tubuhku… terasa berat sekali!”
Satu per satu, para perwakilan dan anak buah mereka terhuyung. Kaki mereka gemetar, napas tertahan, seakan gravitasi mendadak berlipat ganda.
Beberapa hampir ambruk ke lantai. Dion jelas menahan kekuatannya, cukup untuk menekan, tidak untuk melukai. Bahkan Mordain yang berdiri agak jauh ikut tertekan, wajahnya menegang, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Namun ada satu pengecualian.
Barra.
Ia berdiri bebas, bisa bernapas normal, bisa bergerak. Matanya membelalak, menatap punggung Dion dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
'Dion… bahkan auranya tidak menyentuhku,' batinnya tergetar. 'Kami baru berteman beberapa hari… tapi dia melindungiku sejauh ini…'
Sementara itu, Mordain menggertakkan gigi.
'Bangsat… tekanan ini bahkan lebih mengerikan dari Bima. Monster seperti ini… bagaimana bisa ada di sini?'
“Ka-kami paham!!” teriak beberapa orang hampir bersamaan, panik dan terdesak.
“Kami paham!!” Mordain ikut berteriak, suaranya berat menahan tekanan.
Wuuush.
Aura itu lenyap seketika.
“Haah… akhirnya…”
“Gila! hanya dengan aura…”
“Sangat kuat!!”
Gumaman-gumaman lirih memenuhi ruangan. Wajah mereka pucat, mata penuh ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
“Kalau begitu,” lanjut Dion datar, “aku serahkan kepemimpinan ini kepada Barra.”
Semua mata langsung beralih ke pemuda berkacamata di belakangnya.
“Kalian akan mengikuti semua perkataannya. Jika ada yang menolak…” Dion berhenti sejenak, senyum tipis tak mencapai matanya. “Aku akan mematahkan tulang-tulang kalian, dan membuat kalian tinggal di rumah sakit selamanya.”
“Ba-baik!!” jawab mereka serempak.
Tanpa sadar, beberapa bahkan berdiri tegak dan menundukkan kepala, seperti prajurit di hadapan jenderal. Mordain pun ikut menunduk sedikit, harga dirinya tertekan oleh kenyataan pahit.
Barra sendiri hanya bisa melongo.
'E-eh? Aku?' Kepalanya kosong, ia bahkan tak berani menelan ludah.
“Sekarang,” lanjut Dion, “siapa yang memiliki tempat ini?”
Mordain mengangkat kepala. “Aku… aku mengenal pemiliknya.”
“Bagus,” kata Dion santai. “Aku akan membeli gedung ini, jadikan markas kita.”
Ruangan itu gempar.
“M-membeli… gedung ini?”
“Lima lantai… itu mahal sekali!!”
Dion menatap mereka dingin. “Aku tidak perlu mengulangi, aku akan membeli gedung ini. Ada yang keberatan?”
“Ti-tidak, Bos!!”
“Gedung ini akan jadi markas kita!!” “
Bos besar luar biasa!!”
Satu per satu suara setuju bermunculan, penuh semangat, atau ketakutan. Mordain hanya bisa mengangguk kecil, masih terkejut.
“Rapat selesai,” ucap Dion singkat. “Kalian bubar.”
Ia menoleh ke Mordain. “Kau akan menjadi asisten Barra, urus kegiatan yang bermanfaat untuk SMA Cahaya Senja.”
“Baik,” jawab Mordain tanpa ragu.
Satu per satu, mereka pergi, lega karena masih hidup, ngeri karena menyadari betapa kecilnya mereka. Mental mereka ciut, namun tak ada yang berani membantah.
Tak lama kemudian, malam benar-benar turun. Di ruangan itu, hanya tersisa Dion, Barra, dan Mordain.
“Berikan nomor rekeningmu,” kata Dion. “Kau yang akan mengurus pembelian gedung ini.”
Mordain buru-buru menyebutkan nomornya.
Ding.
[Anda telah mentransfer 30 Miliar rupiah ke rekening Mordain Mahardika.]
Ponsel Mordain berbunyi. Saat ia melihat layar M-banking, wajahnya membeku. Tangannya gemetar.
“I-ini…!”
“Itu untuk mengurus pembelian gedung,” ujar Dion santai. “Kalau kurang, bilang padaku.”
Mordain terdiam, napasnya tercekat. Ia belum pernah memegang uang sebanyak ini seumur hidupnya.
Ding.
[Anda telah mendapatkan bawahan baru: Mordain Mahardika.]
[Kesetiaan: 60%]
Dion tersenyum kecil melihat hologram itu.
'Satu bawahan setia, tinggal sedikit lagi…'
“Aku pulang dulu,” kata Dion. “Aku tinggal di Grand Star Tower.”
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh dengan tatapan dingin. “Kalau kau berani kabur dengan uang itu, aku akan memburumu ke mana pun kau pergi.”
“Tidak akan,” jawab Mordain cepat. “Keluargaku masih di sini.”
Dion mengangguk, lalu melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu sendirian.
Mordain menghela napas panjang. “Haah… siapa sebenarnya Dion ini…”
Barra di sampingnya hanya bisa menggeleng pelan, ikut menghela napas, masih tak percaya, bahwa hidupnya berubah sejauh ini, dalam satu malam.
.....
Dion telah tiba di lantai empat puluh tujuh. Uap panas menyelimuti ruangan sauna yang sunyi, menempel di kulit seperti kabut berat.
Ia duduk bersandar, hanya berbalut handuk di pinggang. Bagian atas tubuhnya terbuka, memperlihatkan garis otot yang kini lebih tegas dan matang. Keringat mengalir pelan dari bahu ke dada, jatuh ke lantai kayu yang panas dan berderit samar.
Di tengah keheningan itu, sebuah hologram keemasan muncul di hadapannya.
[Kesetiaan Alex Sergio: 45%]
[Kesetiaan Raka Reynald: 40%]
[Kesetiaan Kevin Halim: 40%]
[Kesetiaan Nathan Santoso: 20%]
[Kesetiaan Gilang Anderson: 45%]
[Kesetiaan Zayn Hakim: 45%]
[Kesetiaan Mordain Mahardika: 60%]
[Kesetiaan Barra Swargantara: 75%]
Mata Dion menyapu satu per satu nama itu. Ekspresinya tenang, nyaris dingin, seolah sedang membaca laporan keuangan, bukan daftar manusia dengan kehendak dan rasa takut.
“Kesetiaan tertinggi… Barra,” gumamnya sambil menopang dagu. “Dan yang terendah Nathan.”
Ia mendecak pelan. “Wajar, dia pingsan dari awal. Bahkan tak tahu apa yang terjadi.”
Uap panas berputar di sekitar tubuhnya ketika ia memberi perintah dalam hati.
“Sistem, tingkatkan seluruh atribut Barra sampai dua ratus.”
Ding.
[Peningkatan membutuhkan 10.000 poin atribut.]
[Poin atribut tidak mencukupi, kekurangan 5.100 poin atribut.]
[Membeli 5.100 poin atribut…]
[255 juta rupiah telah dikurangi otomatis.]
[10.000 poin atribut telah dikurangi.]
[Proses peningkatan dimulai.]
Dion menghembuskan napas panjang. Sauna kembali hening, seolah tak terjadi apa-apa.
Pukul sepuluh malam.
Di apartemen kecil yang baru ditempati keluarganya, Barra sedang duduk di depan layar komputer, fokus pada permainan yang baru saja dimulainya. Jemarinya lincah menekan keyboard, matanya terpaku pada layar.
Lalu, sesuatu menghantam dari dalam tubuhnya.
“Arghhh!”
Teriakan tertahan lolos dari tenggorokannya. Rasa sakit menyambar dari dada, menjalar ke seluruh tubuh seperti palu raksasa yang menghantam tulang satu per satu. Ia merasakan tulangnya berderak, retak, lalu tersusun kembali. Otot-ototnya menegang, seakan ditempa oleh beban tak terlihat. Setiap sel di tubuhnya berteriak.
Tok! Tok! Tok!
“Barra! Ada apa, Nak?!” suara ibunya terdengar panik dari balik pintu.
Barra menggigit gigi, rahangnya mengatup keras. Keringat mengucur deras, napasnya tersengal.
'Sial… apa ini…!!' jeritnya dalam hati.
Ia memaksa suaranya keluar, serak namun terkendali. “Ti-tidak apa-apa, Bu.”
Di luar, ayahnya ikut menyahut, suaranya penuh khawatir. “Kalau ada apa-apa, bilang ke Ayah.”
“Baik…” jawab Barra cepat.
Langkah kaki menjauh. Keheningan kembali, tapi rasa sakit belum sepenuhnya hilang.
Beberapa puluh menit kemudian, Barra tergeletak di lantai kamar, tubuhnya basah oleh keringat. Dari pori-pori kulitnya merembes cairan hitam pekat, lengket, dan berbau menyengat.
“Apa-apaan ini… bau sekali!” ia menutup hidung, terkejut.
Ia terhuyung ke arah cermin. Pantulan dirinya membuatnya membeku. Kulitnya ternodai cairan hitam yang mengalir seperti lumpur.
“Cairan apa ini…?!”
Barra tak tahu, belum tahu, bahwa itu adalah sisa racun, kotoran, dan kelemahan yang dipaksa keluar dari tubuhnya. Ia hanya tahu satu hal, tubuhnya terasa berbeda. Lebih ringan, lebih padat dan Lebih kuat.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke kamar mandi, membuka keran, dan membiarkan air membasuh tubuhnya.
Jauh di lantai empat puluh tujuh Grand Star Tower, Dion masih duduk tenang di sauna, mata terpejam, seolah tak terjadi apa-apa, padahal satu roda takdir baru saja diputar.
DONGOK