NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH EMPAT

Aku dan Layla sedang menikmati makan siang di kantin kampus ketika Revan tiba-tiba datang, wajahnya tampak lelah. Tanpa basa-basi, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi kosong tepat di depan kami.

Seperti kebiasaannya, dia langsung meraih sendok dari tanganku tanpa permisi, lalu menyuap nasi goreng pesananku. “Astaga, gue capek banget… kelas tadi panjang banget. Untung ada nasi goreng lo, Sen.”

Aku menghela napas, menahan diri untuk tidak memprotes. “Van, itu pesanan gue…” kataku pelan.

“Yaudah lah, Sen, lo kan baik. Bagi dikit masa nggak boleh?” jawabnya santai sambil terus makan.

Layla yang duduk di sebelahku langsung terkekeh. “Eh Van, besok kita ditraktir Senjani, lo tahu nggak?”

Aku spontan mendongak, menatap Layla dengan mata melebar. “Layla…” bisikku, mencoba memperingatkan. Tapi sudah terlambat.

Revan berhenti mengunyah, alisnya terangkat. “Dit… traktir? Emang ada apa?”

“Karena dia sekarang punya mobil baru dong,” jawab Layla sambil nyengir penuh kemenangan.

Sendok hampir jatuh dari tanganku. Wajahku langsung terasa panas. Hati kecilku berteriak: Habis aku kalau Revan tahu. Dia pasti nggak akan percaya kalau aku cuma pinjem dari om…

“Mobil?” Revan menyipitkan mata, tatapannya penuh rasa ingin tahu. “Lo serius, Sen? Jangan bercanda sama gue.”

Layla malah makin bersemangat. “Iya lah, serius. Mobil inceran gue banget lagi—Mercedes CLA warna grey! Lo tahu kan betapa gue udah lama ngidam mobil itu?”

Revan langsung menatapku tajam, menunggu konfirmasi. “Bener, Sen? Lo punya Mercy CLA?”

Aku menunduk, jemariku gemetar tak berdaya memainkan ujung serbet di meja. “E-em… iya, Van. Tapi itu… itu mobil om gue. Dia cuma minjemin, katanya biar gue gampang kalau ibu sakit.”

Sejenak Revan terdiam, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Senyum sinis terbentuk di bibirnya. “Om, ya? Enak bener punya om yang royal begitu…”

“Van!” tegur Layla cepat, wajahnya menegang. “Jangan ngomong kayak gitu. Om Senjani itu adik ibunya, jadi jangan mikir aneh-aneh.”

Aku melirik Layla penuh rasa syukur, tapi hatiku tetap mencelos. Tatapan Revan jelas-jelas belum bisa percaya.

Revan mendengus pelan, lalu kembali menyuap nasi goreng dari piringku. “Ya udah, kalau gitu gue tunggu traktirannya, Sen. Biar sekalian buktiin kebenarannya.”

Aku hanya bisa menggigit bibir, menahan sesak di dada. Rasanya dunia makin sempit.

Tak lama kemudian Layla melirik jam tangannya lalu buru-buru berdiri. “Sen, Van, gue harus cabut dulu. Ada janji sama Mama. Jangan lupa traktirannya ya, Sen!” katanya sambil terkekeh kecil.

Aku hanya bisa tersenyum kaku, mengangguk pelan. “Iya, Lay.”

Setelah itu Layla melangkah pergi dengan riang, meninggalkan aku dan Revan berdua di meja kantin yang kini terasa jauh lebih lengang. Suara ramai orang-orang di sekitar tak cukup menutupi keheningan yang tiba-tiba menyelubungi kami.

Revan menatapku lama, tatapannya kali ini berbeda—bukan sinis, bukan bercanda, tapi lembut sekaligus penuh tanda tanya. Ia menyandarkan dagunya di telapak tangan, lalu bersuara pelan.

“Sen…”

Aku menoleh setengah ragu. “Apa, Van?”

“gue kenal lo cukup lama. Lo bukan tipe orang yang suka pamer, apalagi bohong. Jadi… Gue mau lo jujur.”

Jantungku langsung berdebar lebih cepat. “Maksud lo?”

Revan menghela napas, suaranya tenang tapi menusuk. “Tentang mobil itu. Gue tahu ada sesuatu yang lo tutupin. Lo nggak harus bohong cuma buat jaga image, Sen. Gue cuma pengen denger versi jujur dari lo.”

Aku menunduk, jemariku meremas ujung rok dengan gelisah. Kata-katanya menusuk tepat di dadaku.

“Van… gue nggak bohong. Itu memang mobil om gue. Dia… adik ibu. Dia cuma minjemin, bukan mobil gue beneran,” ucapku terbata-bata.

Revan mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya makin lembut. “Kalau begitu kenapa lo terlihat kayak… takut banget kalau orang tahu? Sen, gue bukan musuh lo. lo bisa ceritain samua nya sama gue”

Mataku panas, hampir berair. Rasanya aku ingin sekali jujur, ingin sekali melepas beban ini. Tapi bayangan Althaf, malam-malam bersamanya, semua janji dan ancaman yang tak terucap—membuat bibirku terkunci rapat.

Aku memaksa tersenyum tipis. “gue cuma… nggak suka jadi bahan omongan aja, Van. Itu aja.”

Revan menatapku lama, seakan mencoba membaca pikiranku. Lalu, dengan nada pelan, ia berkata, “lo tahu kan… kalau ada apa-apa, bisa cerita sama gue? Gue siap dengerin semua keluh kesah lo”

Aku hanya mampu mengangguk pelan, padahal hatiku menjerit: Andai saja semudah itu, Van.

***

Langkahku pelan memasuki rumah malam itu. Jam hampir menunjukkan sebelas lewat, tubuhku letih setelah seharian di kampus lalu lanjut bekerja di kafe. Aku hanya ingin langsung mandi lalu tidur. Tapi begitu mataku menangkap sosok Althaf di ruang tamu, semua rasa kantuk langsung lenyap.

Dia duduk tegak di sofa abu-abu, kaki disilangkan, kemeja navynya masih rapi dengan lengan tergulung. Jasnya terlipat di samping, iPad di meja kopi, dan tatapan hitamnya menembus ke arahku. Seperti singa yang menunggu mangsa.

“Baru pulang?” suaranya rendah, dingin, tapi bergema ke seluruh ruangan.

Aku menelan ludah. “Iya, mas… maaf, tadi kafe tutupnya agak telat.”

Dia tidak menjawab, hanya mendengus pelan, lalu menyandarkan punggung ke sofa. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, akhirnya ia bersuara lagi.

“Mulai malam ini, kamu nggak usah kerja di kafe lagi.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

Aku terbelalak. “Hah? Mas, jangan gitu. Saya butuh pekerjaan itu. Saya nyaman di sana. Saya—”

“Nyaman?” potongnya tajam, kedua alisnya sedikit terangkat. “Kamu nyaman pulang tengah malam begini? Nyaman berdiri melayani orang lain, sementara saya di sini menunggu?”

Aku tercekat, tapi memberanikan diri menjawab. “Tapi mas… kerja itu satu-satunya hal yang bikin saya merasa… normal. Saya nggak mau semua aspek hidup saya dikendalikan. Saya butuh sesuatu yang sesuai dengan keinginan saya sendiri.”

Althaf bangkit berdiri. Langkahnya berat dan tegas menuju ke arahku. Aku refleks mundur setengah langkah.

“Kamu nggak perlu kerja, Senjani. Semua yang kamu butuhkan, saya bisa kasih. Mau apa pun—uang, barang, fasilitas. Kamu tinggal bilang.”

Aku merasakan mataku panas, bibirku bergetar. “Itu masalahnya, mas…” suaraku lirih hampir berbisik. “Kalau semua saya terima dari mas… saya ini apa? Saya ini siapa? Bukankah itu artinya saya cuma… perempuan simpanan yang hidup dari belas kasihan mas?”

Ruangan langsung hening. Kata-kataku sendiri seperti pisau yang menusuk hatiku.

Althaf terdiam, rahangnya mengeras. Tatapannya tak berubah dinginnya, tapi ada sesuatu yang berkedip di sana—marah, kecewa, atau… rasa sakit? Aku tidak tahu.

Sementara aku berdiri gemetar dengan air mata yang mulai menggenang. Perasaan itu nyata—aku memang hanya menumpang hidup dari kemurahan hatinya. Mobil, uang, bahkan roti yang ku makan di pagi hari… semuanya bukan milikku.

Dan aku sadar, orang-orang di luar sana tidak salah menilai. Aku memang terlihat seperti simpanannya.

Aku berdiri terpaku di hadapannya, bibirku masih bergetar menahan kata-kata yang rasanya menyesakkan dada.

“Kalau semua saya terima dari mas… saya ini apa? Saya ini siapa? Bukankah itu artinya saya cuma… perempuan simpanan yang hidup dari belas kasihan mas?” ucapku lagi, lebih lantang kali ini.

Althaf mengatupkan rahangnya rapat, tatapannya menusukku dalam. Tangannya ia kepalkan kuat, dan caranya berdiri di depanku seperti tembok besar yang tak bisa kulewati.

“Kalau kamu merasa begitu,” suaranya datar, dingin, “itu pilihan kamu sendiri. Tapi dengarkan baik-baik, Senjani…” Ia mencondongkan tubuh sedikit, matanya menatapku tanpa berkedip. “Mulai malam ini, saya larang kamu kerja di kafe lagi. Titik. Tidak ada tawar-menawar.”

“Mas!” Aku spontan membentak, air mataku langsung jatuh. “Kenapa sih mas selalu seenaknya? Kenapa semua harus mas yang tentukan? Saya ini manusia, saya punya hak! Saya bukan barang mas yang bisa mas atur sesuka hati!”

Suara tangisku pecah, tubuhku gemetar. “saya… saya cuma ingin merasa berguna, mas. Saya cuma ingin hidup saya bukan sekadar numpang di punggung mas. Saya ingin punya sesuatu yang saya hasilkan sendiri! Apa itu salah?”

Althaf terdiam beberapa detik. Rahangnya makin tegas mengeras, seolah menahan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan. Lalu ia mengembuskan napas berat.

Aku berdiri terpaku di hadapannya, masih berusaha menahan air mata yang sudah di pelupuk. Althaf berdiri hanya beberapa langkah dariku, tubuhnya tegap, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menusuk.

“Saya tak ingin dibantah, Senjani.” Suaranya dalam, tegas, dan dingin. “Kalau kamu berani melawan saya, kalau kamu terus maksa kerja di kafe itu… bukan kamu yang nerima konsekuensinya, tapi kafe itu.”

Kata-katanya jatuh pelan tapi berat, seperti palu godam menghantam dadaku. Seketika nafasku tercekat. Aku menatapnya tak percaya. “Mas… maksudnya…?” suaraku nyaris tak terdengar.

Tatapan Althaf tak bergeming. “Kamu tahu saya bisa melakukan apa saja. Sekali saya mau, kafe tempat kamu bekerja itu bisa tutup. Orang-orang yang kamu sebut ‘keluarga kedua’ itu, bisa kehilangan pekerjaannya dalam semalam.”

“Mas!” seruku refleks, mataku panas dipenuhi air. “Itu kejam! Kenapa harus mereka yang jadi korban? Kenapa harus bawa-bawa kafe?”

Althaf mendekat, tubuhnya tinggi menjulang membuatku merasa makin kecil. Ia menunduk sedikit, menatap tepat ke dalam mataku. “Karena saya tidak pernah main-main dengan apa yang saya katakan. Saya ingin kamu berhenti. Titik. Dan kalau kamu nekat melawan… jangan salahkan saya.”

Suasana hening. Hanya detak jantungku yang berdegup kencang, begitu keras sampai rasanya memenuhi telingaku sendiri.

Aku ingin berteriak, ingin menamparnya, ingin membuang semua ketakutan ini. Tapi lidahku kelu, kakiku lemas. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan mata berair, tubuh gemetar menahan perasaan terjepit.

“Mas…” suaraku pecah, hampir seperti erangan. “Apa segitunya saya… nggak punya hak buat milih hidup saya sendiri?”

Althaf tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu berbalik begitu saja, langkahnya mantap meninggalkan ruang tamu. Punggungnya tampak begitu dingin, seperti tembok besar yang mustahil kutembus.

Aku terjatuh di sofa, air mata akhirnya pecah tanpa bisa kubendung. Kata-katanya terus terngiang di telingaku—ancaman halus yang membungkam semua perlawanan. Rasanya seolah ia baru saja mencabut seluruh kebebasan kecil yang kupunya.

Malam itu, aku sadar satu hal: bukan hanya diriku yang terikat pada Althaf, tapi juga semua yang kucintai bisa jadi taruhannya. Dan itu membuatku semakin yakin… aku hanyalah simpanannya, tak lebih.

1
BORED
lovyu.. ❤️
BORED
tidak ada pelakor disini.. 🌚
BORED
lagi 🌚
BORED
jangan ada konflik lagi 🥺
BORED
jangan ada konflik lagi ya 🥺
BORED
apdet banyak2 🦖
BORED
semoga ga ada perselingkuhan
BORED: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!