Ara, harus menelan pil pahit setelah perjuangannya selama 2 tahun terbuang sia-sia,
"Aku kira pengabdianku selama 2 tahun ini akan membuahkan hasil yang indah, Mas,"ujar wanita cantik berambut panjang itu,
"tapi ternyata aku salah, .... "
"Aku menyerah Mas Arya"ujar Ara menatap langit malam, dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya, tapi bibirnya mengembangkan senyum yang penuh luka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25, ingin Bahagia, walaupun Menyandang Status Janda
Arhan tersenyum kecil ketika mama Ella memintanya ke kamarnya,
"Bisa, Ma. Mama duluan saja," jawab Arhan sambil membalas senyum lembut mamanya.
Arhan mengangguk pelan, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin kamar, rapi, seperti biasanya saat akan berangkat kerja. Namun, dalam hatinya ada ketegangan yang sulit di ungkapkan.
"Apa pun keputusan Mama dan Papa, aku harus bisa menerimanya," pikir Arhan
"Aku tak mau masalah ini memecah belah keluarga kami. Aku ingin semuanya tetap baik-baik saja." Dengan langkah mantap, Arhan melangkah ke lantai atas, menuju kamar orang tuanya.
Saat Arhan mengetuk pintu kamar mamanya, suara Mama Ella yang lembut menyapa telinga Ara,
"Masuk, Nak." Arhan membuka pintu dan melihat mereka duduk diam. Arhan duduk di hadapan mereka, dan keheningan yang menyelimuti ruangan itu membuat dadanya sesak.
Sunyi yang berat ini benar-benar membuat Arhan tidak nyaman, Arhan tidak menyukai situasi ini,
“Nak, apa kamu begitu mencintai Ara?” tanya Mama Ella dengan suara lembut namun penuh harap.
Arhan terdiam, tak mampu menjawab dengan kata-kata, tapi dia mengangguk pelan. dan itu cukup menjadi jawaban dari pertanyaan Mama Ella.
Mama Ella dan Papa Arlan menghela napas panjang, suasananya terasa berat.
Arhan mencoba menahan ego yang sering membakar amarahnya, berusaha memilih jalan yang berbeda kali ini.
“Papa, seperti tiga tahun lalu, aku akan mengalah. Aku tidak ingin ada perselisihan di antara kita. Aku tidak mau pertengkaran memecah belah keluarga ini, terutama aku dan Abang” kata Arhan, sejujur mungkin, berharap mereka mengerti betapa pentingnya itu bagi Arhan,
Papa Arlan tersenyum tipis, dan Arhan bisa melihat kebanggaan itu tersembunyi di balik senyumnya.
“Papa malu sama kamu, Nak. Kamu bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin, sedewasa ini. Sedangkan papa, kepala rumah tangga, sering kalah oleh ego sendiri,” katanya dengan nada bercanda tapi serius.
Arhan tahu, pujian itu bukan semata kata-kata, tapi pengakuan tulus yang membuat dadanya sedikit lega.
Mama Ella menatap Arhan, wajahnya penuh keputusan.
“Nak, mama dan papa sudah bicara dan sepakat, kami tidak akan mendukung kalian berdua. Kalian harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi ingat satu hal... jangan sampai karena satu wanita kalian saling bermusuhan. Itu yang mama pinta,” ujarnya, seraya menyerahkan tanggung jawab berat ini kepada mereka, kedua anaknya.
Arhan menarik napas dalam-dalam, ini awal dari perjuangannya untuk merebut hati Ara, tanpa menyakiti hati siapapun, termasuk abangnya,
Semalaman Arhan sudah berfikir akan menyerah, dan dengan tulus melepaskan Ara, tapi kedua orang tuanya membiarkan dia memilih sendiri keputusannya,
****
Arhan terhenti di lampu merah, pandangannya tak sengaja menangkap dua sejoli yang tengah berbicara di trotoar. Suara mereka mengusik kesunyian pagi itu.
"Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Fiona, Ara," ujar Arya sambil menahan lengan Ara.
"Aku tidak peduli, Mas. Aku tetap pada keputusanku," jawab Ara dengan nada lelah, mencoba melepaskan diri. Namun Arya tak juga melepaskan genggamannya.
"Mas, awas, aku harus kerja," kata Ara kesal, membendung rasa frustrasinya.
"Berhenti kerja, kembali sama aku, dan aku akan buat kamu bahagia," rayu Arya dengan nada yakin.
Ara tertawa sinis, suara itu seperti pisau yang mengiris luka lama. "Bahagia? Mas, kamu tahu apa artinya bahagia? Atau kamu lupa? Dua tahun aku sudah merasakan apa itu kebahagiaan yang kamu berikan, Tapi saat ini tolong, biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri. Karena selama dua tahun itu, apa yang kamu beri hanyalah rasa sakit, dan juga air mata"
Dalam hatinya, Ara menyesakkan napas. Dua tahun lamanya berjuang meluluhkan hati Arya, bertahan dalam keacuhan dan penolakan. Bagaimana bisa kebahagiaan bersemi dari perlakuan yang penuh luka?
"Aku lelah, aku ingin bebas." pikir Ara, sambil menahan perih yang terus menggerogoti hatinya.
****
Selesai menyiapkan sarapan pagi, Ara memilih melangkah ke kebun sayur di belakang tempat kerjanya, berharap hawa segar bisa meredakan kepalanya yang penuh.
"Kalau aku tahu menikah itu sesulit ini, mungkin aku tak akan pernah melangkah ke jenjang itu," gumam Ara pelan, suara itu seolah menegaskan betapa beratnya beban di dadanya,
Tiba-tiba suara lembut mengusik lamunannya,
"Tergantung kamu menikah dengan laki-laki yang seperti apa." Ara menoleh, dan di ambang pintu belakang, Arhan berdiri dengan senyum setengah bercanda.
Ara mendelik, menahan diri agar tak menunjukkan kekesalannya.
"Suka sekali ya nguping pembicaraanku," sindir Ara, mencoba menyembunyikan rasa jengkel. Arhan duduk di samping Ara, sambil bertanya,
"Oh ya, mana bakpao pesananku?" Ku
Ara mengeluarkan kotak berisi bakpao yang sudah dia siapkan dari tadi, ingin dia antarkan ke ruangan Arhan. Namun dia masih terjebak dalam suasana hati yang buruk.
"Segitu buruknya laki-laki yang kamu nikahi?" tanya Arhan, matanya menatap Ara penuh rasa ingin tahu. Ara menghela napas,
"Dari segi fisik dia memang sempurna. Banyak orang mungkin berpikir aku wanita yang begitu beruntung bisa menikahinya. Tapi, di balik itu, ada kekosongan yang tak terlihat.
Dua tahun aku bertahan demi mendapatkan rumah tangga yang sempurna, tapi apa hasilnya? hanya luka dan sakit hati yang aku rasakan, Siapa, wanita yang mau mencintai seseorang secara sepihak seperti aku?"
"Sebenarnya, aku sudah cukup. Dua tahun yang selama ini aku sia-siakan untuk dia," ara menghela napas, mencoba meyakinkan diri.
"Sekarang, aku ingin bebas. Bebas menjadi diriku sendiri, bebas mencari kebahagiaan tanpa bayang-bayang dia yang selalu membelenggu."
Tapi mengapa dia berubah? Mengapa dia ingin aku kembali menjadi Ara yang dulu, yang bodoh dan sabar menunggu di malam hari? Aku ingat jelas saat dia pulang, aku menyajikan makanan yang kubuat dengan harapan dia akan menikmatinya. Tapi dia malah mengabaikan masakan ku, sedangkan bekal yang ku masak dengan tulus untuk dia malah dia memberikannya kepada orang lain. Sakitnya itu menusuk hingga ke tulang.
Ara tersenyum getir, membayangkan kebodohan yang dulu pernah dia lakukan.
"Astaga, betapa bodohnya aku," Ara berkata pelan, hampir berbisik,
"Jangan tertawakan aku, ya." Senyum itu penuh luka, penuh kekecewaan yang masih membekas. Arhan hanya diam, mungkin merasakan betapa dalamnya penderitaan Ara selama ini.
Arhan menatap Ara serius, tiba-tiba bertanya,
"Jika suatu saat kamu benar-benar berpisah dari laki-laki itu, dan ada pria lain yang ingin membuatmu bahagia dengan caranya, apakah kamu akan menerimanya?" Ara menoleh, ragu dan sedikit terkejut oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu.
Dalam hati Ara, ada perasaan campur aduk, namun dia menahan diri untuk tidak terlalu terbuka.
"Jangan bercanda, Arhan. Saat ini aku benar-benar ingin sendiri, mencari kebahagiaanku sendiri dalam versi janda," jawab Ara setengah bercanda, berusaha mengalihkan suasana.
Tiba-tiba, Arhan mengeluarkan kata-kata yang tak pernah Ara sangka,
"Aku menyukaimu. Ara" Dada Ara seolah berhenti berdetak. dia terdiam, shock dan bingung. Apa maksud dari pengakuan itu? Apakah ini serius, atau hanya candaan?
Sebelum Ara sempat menjawab, sebuah pukulan tiba-tiba mendarat tepat di wajah tampan Arhan, membuyarkan suasana dan membekukan segala pikiran Ara,
~
jadi betul"anaknya si Arya toh panggil Daddy ke Paman nya bagus bagus
CLBK kah ini no good
sekarang dah balik lagi jadi begundal
hemmmm aku stop baca Thor ma"af ya 🙏