Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!
Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.
Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.
Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.
Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Jadi istriku
Ini kedua kalinya mas Bram menciumku. Ada kehangatan dan debaran yang aku rasakan. Namun aku tau jika itu adalah sebuah kesalahan. Meskipun aku dan mas Bram sudah menikah dan berciuman bukanlah sebuah larangan, tapi ada hati yang harus aku jaga. Aku harus selalu ingat jika ada mba Ditha, dan aku hanyalah orang kedua yang berperan sebagai pengganti sementara.
Sebenarnya aku takut mengakuinya, aku masih berusaha untuk menyangkal jika perasaanku pada mas Bram bukanlah perasaan cinta. Tapi sekuat apapun aku menyangkalnya, rasa yang aku miliki untuk mas Bram tetaplah rasa cinta. Aku tau ini kesalahan terbesarku, aku sudah lancang memcintai suami kakakku sendiri. Tapi aku tidak bisa memilih kepada siapa aku akan jatuh cinta. Rasa itu datang dengan sendirinya tanpa bisa aku cegah, meskipun aku sudah berusaha untuk mencegahnya.
Selama dua bulan terakhir, mas Bram sudah mengisi hari - hari ku. Dia menyita sebagian perhatianku untuk memikirkannya, tanpa aku sadari. Hingga aku merasa, aku mulai jatuh cinta padanya. Terlebih perlakuan mas Bram yang akhir - akhir ini semakin membuatku ingin terus beramanya dan memilikinya. Terdengar egois, tidak seharusnya aku punya pikiran seperti itu.
...*****...
Malam ini aku dan mas Bram memilih untuk makan malam di dalam kamar. Mas Bram tidak ingin turun karna kelelahan. Setelah mas Bram pesan makanan, dia merebahkan tubuhnya si ranjang. Dengan tidur terlentang, dia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Membuat otot - otot di lengannya semakin terlihat jelas, sangat sempurna. Lagi - lagi aku mengagumi kesempurnaan fisiknya.
Sedangkan aku memilih duduk di sofa, memainkan ponselku. Sesekali aku melirik mas Bram, entah kenapa gerakan laki - laki itu selalu mencuri perhatianku. Mas Bram seperti memiliki magnet, membuat mataku sulit untuk bepaling jika sudah melihatnya.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku tidak tanggung jawab kalau kamu jatuh cinta padaku." Suara bass mas Bram membuatku tersentak. Aku salah tingkah dan langsung mengalihkan pandanganku.
"Siapa yang ngelihatin mas Bram.! Nggak usah kepedean deh.!" Ujarku seraya kembali menatap layar ponsel. Sebenarnya aku sangat malu karna tertangkap basah sedang menatap mas Bram. Tapi aku berusaha untuk tenang.
"Sudah tertangkap basah tapi tidak mau mengaku."
Aku memilih diam, menanggapi ucapan mas Bram hanya akan memperpanjang berdebatan yang sia - sia.
"Mas Bram.!!" Aku terperanjat saat tiba - tiba kedua tangan mas Bram mengurungku, tubuhku reflek mundur kebelakang hingga mentok pada senderan sofa.
Aku terlalu fokus pada ponsel hingga tidak menyadari kehadiran mas Bram yang sudah ada dihadapanku. Tenggorokanku tiba - tiba mengering saat wajah mas Bram begitu dekat dengan wajahku. Bahkan hembusan nafas begitu terasa, membuat wajahku menghangat. Dengan susah payah aku menelan salivaku.
"Apa aku setampan itu hingga membuatmu menatapku diam - diam." Ujarna dengan seringai diwajahnya.
"Sudah aku bilang.! Aku tidak menatap mas Bram.!" Elakku.
"Cepat menyingkir.! Jangan seperti ini mas.!" Tintahku.
"Memangnya kenapa kalau aku seperti ini.?" Mas Bram semakin mendekatkan wajahnya.
Aku memejamkan mata, aku berfikir jika mas Bram akan kembali menciumku. Darahku berdesir, membuat seluruh tubuhku terasa hangat. Jantungku bahkan seperti akan melompat dari tempatnya. Aku membayangkan bibir kenyal mas Bram ******* bibirku.
"Aku akan menciummu, tapi kamu harus janji akan membalasnya." Bisik mas Bram ditelingaku. Mataku terbuka sepenuhnya, bakhan melotot menatap mas Bram. Aku langsung mendorong tubuhnya agar menyingkir.
"Jangan macam - macam mas.!" Pekikku. Aku berdiri dan memilih untuk menjauh dari hadapan mas Bram. Rasanya sangat malu, aku memgharapkan mas Bram kembali menciumku. Tapi dia malah membisikan kata - kata yang membuatku mati gaya.
"Kenapa.? Aku pikir kamu minta dicium tadi." Nada bicara mas Bram jelas sedang menyindirku. Aku diam membisu, tidak tau harus menjawab apa.
Sebenarnya aku sedikit kecewa karna mas Bram tidak menciumku. Padahal aku sempat mengharapkan ciuman hangat itu kembali.
Aku tidak tau racun apa yang sudah mas Bram berikan padaku, hingga membuatku jadi memiliki pikiran kotor seperti ini. Aku yang belum pernah ciuman sebelumnya, kini seolah ingin terus melakukannya. Ciuman mas Bram seakan membuatku candu.
'Ya ampun,,, pikiranku mesum sekali.!!' Aku menggerutu dalam hati.
...******...
Mas Bram sudah terlelap setelah selesai sarapan satu jam yang lalu. Aku jadi merasa bersalah karna sudah mengajaknya berkeliling untuk membeli baju. Apa selelah itu, hingga membuatnya tidak bisa menahan kantuk.
Aku yang merasa bosan, memilih untuk menonton televisi. Ini baru pukul 9 malam, aku belum mengantuk sama sekali.
Dering ponsel membuatku tersentak. Aku mengambil ponsel yang ku letakan di atas meja. Ada panggilan masuk dari kak Andra. Aku langsung mengangkatnya.
"Iya kak, ada apa.?" Tanyaku.
"Baiklah, aku akan kesana." Aku menutup telfon.
Setelah mengambil sweeter dan memakainya, aku bergegas keluar kamar. Kak Andra memintaiku untuk menemuinya di tepi pantai.
Dengan langkah cepat, aku menuju kesana.
Ku lihat kak Andra sedang duduk di tepi pantai dengan beralaskan pasir.
"Kak,," Sapaku. Aku langsung mendudukan di samping kak Andra.
"Delia,,, " Kak Andra menoleh, dia tersenyum padaku. Aku akui jika senyum kak Andra sangat mempesona, dia sangat tampan. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kedekatanku dengannya hanya ku anggap sebatas kakak. Walau bagaimanapun, kak Andra sangat baik padaku dan banyak membantuku saat di kampus dulu.
"Kaka sendiri.? Dimana pacar kaka.?" Tanya ku sambil celingukan mencari keberadaan wanita yang tadi pagi bersama kak Andra.
"Dia bukan pacar ku." Jawabnya singkat.
Aku mengangguk pelan. Aku sudah tau maksudnya, wanita itu mungkin hanya sebatas untuk memuaskannya saja.
"Kak Andra masih saja tidak berubah. Sampai kapan kakak akan bermain wanita."
Sebenarnya aku tidak ingin terlalu iktu campur pada urusan pribadinya, tapi dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku ingin sia memeliki kehidupan yang lebih baik.
"Sampai aku bisa mendapatkanmu,," Suara kak Andra terdengar berat. Matanya begitu dalam menatapku. Aku mengalihkan pandangan, melihat tatapannya yang penuh harapan, membuatku tidak tega melihatnya.
"Kak Andra sudah mendapatkanku sebagai adik. Aku akan selalu menjadi adikmu." Ujarku lembut. Aku berharap ucapanku tidak akan melukai hatinya.
"Aku menginginkanmu sebagai istriku,,"
Aku terperanjat mendengar pengakuan kak Andra. Ini pertama kalinya dia mengatakan itu padaku. Dulu dia selalu menyatakan cinta padaku sebagai kekasih.
Aku menatap kak Andra, berusaha mencari kebohongan dimatanya.
"Aku tidak main - main Delia. Kamu berbeda. Aku begitu yakin untuk menjadikanmu sebagai istri. Selama ini aku menunggumu, berharap kamu akan memiliki perasaan yang sama terhadapku."
Aku semakin lekat menatap wajah Kak Andra. Aku tidak melihat kebohongan di matanya.
"Kak,,, aku mohon jangan seperti ini. Kak Andra akan selalu menjadi kakakku."
Aku tau ini akan menyakiti perasaannya, tapi aku juga tidak bisa menerimanya.
Aku tidak mencintainya, dan lagi pulas saat ini statusku sudah menjadi seorang istri.
"Delia,, apa yang kurang dariku.?"
"Kak,,,
Aku tidak melanjutkan ucapanku karna ponsel dalam tasku berdering. Aku mengambil ponsel, lalu mengangkat panggilan dari Bram.
"Kembali ke hotel sekarang.!!" Bentak mas bram. Aku reflek menjauhkan ponsel dari telingaku. Ada apa dengan mas Bram, aku bahkan belum berbicara, tapi dia sudah membentakku. Saat aku akan mejawab, mas Bram memutuskan panggilannya.
"Siapa.?" Tanya kak Andra.
Aku merasa was - was, takut jika kak Andra mendengar suara mas Bram.
"Maaf kak, aku harus kembali ke hotel. Sampai ketemu lagi,," Aku beranjak dari sana, menjauh dari kak Andra sambil melambaikan tanganku padanya.
...****"****...
Jangan lupa mampir ke novel baru othor. Jadiin favorit aja dulu, karna baru up 2 bab.😁
Dijamin jalan ceritanya bikin gregetan. wkwk
Cuss mampir yukk,,,