Sita adalah gadis yang sangat menjauhi percintaan. Kenangan masa lalu yang meninggalkan noda dalam hatinya.
Erick datang menyelamatkan Sita dari kekangan sang ayah yang ingin menjualnya. Untuk mengajak menjadi istri hanya untuk membuktikan kalau ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
Sebuah kepura-puraan membawa luka pada hidup Sita. Lelaki yang ia harapkan bisa membawanya dalam kebahagiaan justru menyakitinya.
"Kamu sangat indah Sherena ...."
Seketika hati Sita seperti di iris-iris. Bagaimana tidak, di saat Erick sedang menikmati tubuhnya justru menyebut nama orang lain yang telah pergi darinya.
Saat Erick menyadarkan semua telah terlambat. Sita telah pergi dari hidupnya. Akankah dengan seiring berjalannya waktu mereka akan dipertemukan lagi oleh takdir?
Folow Ig author @Samar_Jenny1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Barang ll
“Kau pikir, aku akan percaya denganmu.” Marcel menyahut dengan tatapan tidak percaya. “Lagi pula, siapa kau? Aku akan menikahkan Sita dengan seseorang yang lebih kaya dan hebat di segala bidang. Sedangkan kau?”
Marcel tampak menggeleng memandang dari atas sampai bawah menelisik penampakan Erick layaknya merendahkan.
Karena hari Minggu Erick memang tidak memakai pakaian formal seperti biasa. Penampilannya saat ini hanya mengenakannya celana jeans dan kaos yang di tutup sebuah jaket warna hitam. Pantas saja Marcel mengiranya adalah seorang pemuda yang hanya pengangguran bermodalkan cinta.
“Aku memang tidak sehebat seperti lelaki pilihanmu, tapi aku bisa membuat Sita bahagia. Karena kebahagiaan tidak bisa diukur dengan seberapa banyaknya uang seseorang.”
“Omong kosong,” sahut Marcel.
“Sekarang aku minta lepaskan Sita. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu hanya karena uang. Putrimu juga butuh kebahagiaan.” Erick memandang ke arah Sita yang menatap ke arahnya dengan memohon.
“Dia putriku, aku berhak atas hidupnya. Tidak akanku biarkan dia memiliki suami yang miskin sepertimu.”
“Kau bukan mau menikahkannya, tapi anggap saja kau ingin menjualnya.”
Hati Sita bagai tersayat mendengar kalimat dari Erick. Tapi itu memang kenyataannya papanya selalu ingin menikahkannya dengan orang yang kaya. Lalu apa sebutanya itu kalau bukan untuk menjualnya?
Sedangkan Marcel mengepal diam tidak mengucap karena menahan geram. Ia tidak mau kalau keputusannya di tentang. Ia harus membawa Sita pergi dari tempat itu.
“Pengawal bawa Sita ke mobil!” perintahnya dengan arogant.
“Aku tidak mau, Pa!” tolak Sita berusaha melepaskan tubuhnya dari kekangan dua orang laki-laki itu yang akan membawanya ke luar apartment.
Namun Marcel tidak mengindahkannya lelaki itu bersikukuh berjalan di hadapannya.
“Kalau ingin membawa putrimu karena mau menjualnya aku bisa membelinya. Dengan syarat, kau harus melepaskannya sekarang juga.”
Mendengar kata-kata Erick, Marcel yang sudah diambang pintu menghentikan langkahnya. Memang benar ia akan menikahkan Sita dengan seseorang yang kaya. Tapi ini semua demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut. Ia terpaksa melakukan ini karena saran dari istrinya yaitu Sherena.
Sherenalah yang selalu menyuruh Marcel supaya menikahkan Sita dengan pemilik perusahaan ternama di Perancis. Marcel tidak ingin jika ia menolak saran dari Sherina, istrinya itu akan mengancam meninggalkannya.
Suasana apartemen itu seketika menjadi hening. Marcel tertegun lalu melangkah ke arah Erick. “Memang apa yang kau punya, sehingga kau berani berucap seperti itu?” Tampaknya lelaki itu tidak tahu sedang bicara dengan siapa.
“Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi aku akan membayar putrimu kalau kau ingin menjualnya.”
Sakit, Sita merasa rendah saat ini Karena dianggap sebagai barang yang diperjual belikan. Tidak terasa air mata menetes dari matanya. Terlebih lagi mereka berbicara tentang semua itu di hadapannya.
“Sekarang katakan, berapa yang kau inginkan?” tanya Erick lalu memandang Sita yang menggeleng samar berharap untuk menghentikan kalimat untuk membelinya. “Berapa yang kau inginkan katakan.”
Erick duduk di sofa dengan santai layaknya pemimpin lalu ia menekan layar ponsel untuk menghubungi asistennya. Erick meminta orang suruhannya itu untuk membawakan cek kosong ke apartemen Sita saat ini juga.
Setelah menelepon Erick menatap Marcel dan ke arah Sita. “Lepaskan dia, aku tidak akan membawanya lari,” ucapnya.
Marcel pun memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepaskan Sita.
“Sita, duduklah.” Erick menatap dengan nada perintah supaya Sita duduk di hadapannya.
Sesuai dengan perintah Sita pun duduk.
“Asistenku masih dalam perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi akan sampai.”
Suasana ruang menjadi dingin dan hening, Marcel masih meragukan Erick. Lelaki itu belum percaya kalau yang dikatakan Erick benar.
Setelah beberapa menit menunggu suara bel pintu memecah keheningan. Erick. Sudah tahu siapa yang datang, pasti itu asisten yang ia perintah untuk membawa cek kosong untuknya. Ia pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Dan benar saja, sesuai dugaannya.
Asisten itu memberikan berkas dan cek itu pada Erick lalu dengan keseganan berpamitan untuk pergi karena Erick menyuruhnya.
Erick dengan langkah santai berjalan ke arah Marcel yang masih berdiri diam di hadapannya. Erick menarik tangan lelaki itu menadahkannya meletakkan cek itu di tangan Marcel. Setelah memberikan cek itu ia kembali duduk di sofa seolah dia yang berkuasa untuk memerintah saat ini.
“Tulis. Berapa yang kau inginkan,” perintahnya. “Duduklah, diusaimu yang sudah melampaui batas tidak bagus kalau berdiri terlalu lama. Aku takut kesehatan tulangmu terganggu.” Erick masih melihat Marcel berdiri layaknya patung. “Tunggu apa lagi, ayo duduk!” serunya dengan nada tinggi.
Marcel duduk dengan segan, ternyata dia salah menilai Erick. Lelaki yang ia sangka seorang pemuda pengangguran bermodal cinta itu adalah seorang yang kaya. Ia menatap cek itu memastikan keasliannya.
“Tidak usah ragu, kau bisa menulisnya berapa yang kau mau.” Sahut Erick seolah bisa membaca perasaan Marcel. “Kalau kau kurang yakin, bisa lihat kartu namaku.” Terpaksa Erick harus mengeluarkan kartu namanya untuk menunjukkan siapa dirinya untuk memastikan membuat Marcel percaya. Ia melempar kartu itu ke hadapan Marcel.
Setelah membaca kartu itu Marcel meneguk liur, sulit dibayangkan kalau dia sekarang sedang berhadapan dengan CEO PT Chevron yang bergerak di bidang perhotelan dan Food instan. Nama perusahaan itu sudah terkenal di seluruh dunia. Ia sering mendengarnya namun, siapa sangka pemilik perusahaan itu adalah lelaki yang duduk di hadapan.
“Bagaimana? Apa kau masih ragu?”
“Ti—tidak, Tuan.” Marcel segera memotong selangkah lebih dulu, ia tidak ingin membuat Erick merasa kalau ia belum mempercayainya. “Aku akan menulisnya.” Dengan cepat ia menulis angka yang senilai seratus milyar. Setelah menandatangani ia kembali duduk tegap penuh keseganan.
“Setelah kau menulis angka di situ. Kamu bisa tanda tangan di sini.” Erick beranjak dan melempar sebuah map ke meja hadapan Marcel.
Marcel mendongak ke arah Erick dengan bertanya-tanya. “Apa ini?”
“Surat perjanjian. Kalau kau tidak akan mengganggu lagi seorang perempuan yang bernama Sita Gabrylla setelah selesai dia menikah denganku. Dan juga kamu masih mempunyai kewajiban. Hmm tidak, bukan kewajiban, melainkan tugas. Aku lupa sebuah kewajiban itu untuk seorang ayah pada putrinya. Tetapi kau, bukan seorang ayah. Kau hanya seorang yang ingin menjual seorang wanita demi kelancaran perusahaannya.” Erick kembali duduk di sofa memandang Marcel tajam.
Sedangkan Sita hanya diam, kini ia tidak berdaya duduk merunduk di tengah-tengah dua orang yang telah memperjual belikan dirinya. Ia merasa tidak mempunyai harga diri lagi saat ini. Rendah dari yang segala terendah. Bahkan untuk mengangkat wajahnya saja tidak mempunyai kepercayaan diri.
“Tugas apa yang kau berikan, Tuan?” tanya Marcel. Walau Erick sudah menyinggung, tetapi tampaknya lelaki itu tidak merasa malu atau tersinggung.
sukses
semangat
mksh
keren