Gadis manis itu menghilang begitu saja meninggalkan luka yang cukup dalam untuk seorang sang most wanted. Hingga bertahun-tahun lamanya Darren memendam kebencian pada Dila
Setiap mengingat gadis itu darah Darren mendidih, Darren merasa terbuang, padahal Darren yang digilai para gadis itu memilih Dila, gadis sederhana yang energik. Darren tak ingin bertemu gadis itu lagi
Namun takdir berkata lain, ia malah dipertemukan lagi dengan Dila >>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak perlu ijinmu
Setelah mengantarkan Natasha ke tempat syuting, Darren bergegas kembali ke hotel. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
" Dilaa." Gumam Darren geram mencengkram stir kemudi begitu kuat
Ketika sampai dihotel, ia melihat Dila pulang diantar teman prianya, tapi Darren tidak tahu itu adalah teman Adrian. Darren belum terlalu mengenal semua karyawannya dengan baik
Sebenarnya ditempat kerja Dila cukup populer, banyak pria yang mendamba Dila. Tapi karena Dila selalu dekat dengan Adrian, mereka mengira wanita itu benar-benar menjalin hubungan dengan Adrian
" Wanita ini, benar-benar keterlaluan." Gerutu Darren lalu mengikuti mobil yang ditumpangi Dila
Ketika melihat Dila keluar dari mobil, Darren juga segera keluar. Tampak wanita itu tersenyum pada pria didalam mobil
"Berani sekali kau!" Ucap Darren seraya menarik pergelangan tangan Dila hingga wanita yang akan melangkah masuk kedalam gedung Apartement itu berputar dan menghadap dirinya, untung saja teman Adrian sudah pergi jika tidak tentu dia akan mencurigai keduanya
Dila menarik nafasnya pelan
" Apa?" Tanya Dila
" Kau ini istriku, berani sekali kau berduaan bersama seorang pria. Aku tidak suka anakku mengenal pria yang bukan ayahnya."
Dila tersenyum sinis lalu memaksa menghempas jemari Darren yang mencengkram pergelangan tangannya dan melangkah mencoba meninggalkan Darren
" Dila." Panggil Darren setengah membentak seraya menyusul Dila
" Hentikan kumohon."
" Apanya yang dihentikan." Dila berhenti berjalan membuat Darren juga berhenti
" Aku tahu kau terpaksa menikahiku. Dan aku mohon bersikaplah seperti itu, hubungan kita bukan hubungan-"
" Hubungan seperti apa maksudmu?" Darren mencengkram lengan atas Dila, kedua matanya menyalang tajam
" Kumohon jangan membuatku pusing dengan tingkahmu seperti ini. Kita memang suami istri. Pernikahan ini aku tau kau tidak menginginkannya. Jadi berhentilah bersikap kalau kita ini-"
" Aku perduli, aku memperhatikanmu. Bukan karena kau, bukan juga karena pernikahan kita. Tapi untuk darah dagingku." Potong Darren, keduanya adu mulut ditengah jalan, untung saja keadaan sedang sepi
Mendengar hal itu kedua mata Dila berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya terasa sakit. Tidak, Dila tidak mungkin jatuh cinta lagi pada Darren. Perasaan Dila sudah hilang sejak lama tertumpuk dengan masalah-masalah kehidupannya yang rumit
Melihat Dila yang akan menangis. Darren menarik nafasnya" Jadi bisakah kita bersikap baik demi anak kita?" Kali ini cengkraman Darren memelan, Darren mencoba memeluk tubuh itu, ia tahu Dila lemah. Tapi Dila malah menghindar dan melangkah meninggalkan Darren
Darren bukan pria yang sabar, ia mengusap wajahnya kasar lalu mengikuti Dila menuju lift. Ketika akan masuk kedalam lift, Dila terlihat oleng sehingga dengan sigap Darren memegang pinggang Dila
" Lihat, kau membutuhkan aku. Aku tahu." Bisik Darren dibelakang tubuh Dila
Dila memegang kepalanya yang memang terasa pening
" Kemari, aku akan menggendongmu."
" Tidak usah." Saut Dila seraya melepaskan kedua tangan Darren dipinggangnya membuat Darren menghela nafas
" Ya sudah!" Jawab Darren menekan tombol lift menuju Apartement Dila
Ketika tepat didepan pintu Apartement. Dila menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya menghadap Darren
" Ini sudah malam, pulanglah." Ucap Dila menatap seraya melipat kedua tangannya didada
" Aku akan menginap disini."
" Siapa yang mengijinkanmu menginap?"
" Aku tidak perlu ijinmu, didalam pernikahan ini, aku yang mengambil semua keputusan. Kau ingat itu!"
" Kau sangat egois!" Jawab Dila malas lalu memutar tubuhnya, ia membuka pintu apartement dengan kunci card ditangannya
Darren tersenyum puas lalu mengikuti Dila masuk kedalam
" Apa kau sudah makan?" Tanya Darren namun Dila tak menjawab, ia malah berlalu menuju kamar mandi
Bibir Darren mencebik akan hal itu, ia jadi pria yang tak tahu malu saat ini. Merebahkan tubuhnya diatas kasur Dila, Darren memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Dila yang tersisa dibantal. Seperti dulu aroma itu masih sama cukup memabukan, tapi Darren segera mengusir pikirannya tentang Dila
Lama-kelamaan Darren merasa nyaman dan tertidur tanpa melepaskan kemeja kerjanya terlebih dahulu
Dila keluar dengan wajah yang sudah fresh. Ia menarik nafasnya pelan ketika melihat Darren sudah tidur dengan pulasnya. Dila mendekati Darren pelan-pelan, sejenak ia pandangi wajah tampan itu
Jantungnya berdebar-debar. Bibir yang telah menyentuh setiap lekuk tubuhnya itu menjadi perhatian Dila. Mengenyahkan semua pikiran kotornya akan Darren, Dila segera menuju dapur. Tenggorokannya tiba-tiba haus
" Apa yang harus kulakukan. Aku harus tidur dimana?" Gumam Dila