Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.
Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.
Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?
stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapat kiriman santet
Sampai larut malam, Icha belum bisa memejamkan matanya. Bayang-bayang ilusi yang dia lihat tadi, begitu mengusik pikirannya. Dia merasa sangat takut, kalau apa yang dia lihat itu adalah de javu. Dia sangat takut, kalau sampai ibunya benar-benar merasakan kesakitan seperti yang dia lihat.
Untuk menenangkan hatinya, Icha melafadzkan ayat-ayat suci yang dia hafal. Terus dia lafadzkan sampai perlahan dia mulai merakan kantuk, lalu tertidur.
Di tengah lelapnya dia tertidur, Icha seperti mendengar ada kegaduhan di luar kamarnya. Tapi rasa kantuk yang berat telah melenakan dirinya, hingga tidak langsung terbangun.
Dok dok dok dok dok dok
“Mbak Icha, ibu mbak” terdengar suara Tika di luar kamar.
Oglek oglek oglek
Dok dok dok dok
“Mbak Ichaaa. Bangun, mbaaaak!”
Dok dok dok dok dok dok
Suara gedoran pintu kamarnya, lama-lama menarik kembali Icha ke alam sadar. Dia terjaga dari tidurnya.
“Mbak Ichaaaa. Ibu, mbaak”
“Astaghfirulloh”
Icha langsung melompat dari ranjangnya, dan membuka pintu kamarnya.
“Ibu kenapa, dek?” tanya Icha, setelah pintu terbuka.
Tika tidak menjawab. Dia malah menarik tangan kakaknya menuju kamar ibunya.
“Astaghfirulloh, ibuu?” pekik Icha.
Apa yang dia takutkan terjadi juga. Seperti bayangan sebelumnya, ibunya benar-benar kesakitan di atas ranjangnya. Tubuh ibunya menggelepar-gelepar, dan mulutnya mengeluarkan darah.
Keeeekhhh... oookkkk
Terdengar suara bu Maryati seperti kesulitan bernafas dan tercekik. Tapi tangannya juga memegangi perutnya. Seolah dia merasakan sakit juga di perut.
“Tolongin ibu saya, paak!”
Dan ternyata pak Aziz sudah lebih dulu datang. Dia sedang berusaha mengobati sakit yang diderita ibunya. Tapi sepertinya tidak kunjung memberikan efek.
Kamu bisa membantunya
“Ha, aku?”
Icha bertanya sambil menoleh ke arah Tika.
“Tika nggak ngomong” kata Tika menanggapi pertanyaan kakanya.
Aku Murda Ningrum, Icha. Aku ada di dalam tubuhmu.
Icha melotot mendengar suara yang kedua itu.
“Mbak, jangan bikin tambah horor, deh! Ngapain melotot gitu, sih?” protes Tika.
Kamu tempelkan telapak tanganmu di perut ibumu! Pusatkan niatmu untuk mengambil benda tajam di perut ibumu! Tahan sampai kamu merasakan benda itu! Lalu tarik seperti kamu mencabut rumput!
Icha melotot lagi. Kemudian dia melihat ke arah ibunya.
Tapi kamu butuh bebek sebagai media menyimpan benda tajam itu
“Bebek? Haruskah?” tanya Icha.
Tika semakin ketakutan melihat kakaknya berbicara sendiri.
Kamu akan kesakitan kalau menarik benda itu tanpa membuang kekuatannya pada benda hidup lainnya. Benda itu akan bersarang di tubuhmu.
“Bebek, bebek, bebek” gumam Icha sambil memutar badan hendak keluar kamar.
“Aaah, kelamaan” tukasnya sendiri.
Icha memutar badan kembali. Dia naik ke ranjang ibunya. Pak Aziz yang melihat tingkah aneh Icha, mencoba memberikan ruang.
“Ibuuu”
Icha menempelkan telapak tangannya ke perut ibunya sambil menangis. Dengan perasaan pilu, dia mencoba memusatkan pikirannya pada sesuatu yang dibilang nyai Murda Ningrum sebagai benda tajam.
“Haa”
Icha terkejut, saat dia merasakan tangannya seperti merasakan sekantong benda curah, kecil-kecil, yang semuanya tajam. Dia pusatkan lagi pikirannya, dengan satu niat, mengambil semua benda tajam itu sekaligus. Beberapa saat kemudian, dia merasakan benda-benda tajam itu seperti lengket di tangannya.
“HIAAAA”
Serta merta dia tarik tangannya seperti dia mencabut rumbut. Bahkan seperti mencabut pohon singkong.
Claap
“AAAA”
Semua orang memekik kaget. Secercah cahaya menyilaukan tak pelak membuat mata mereka pedih.
“Heeeek”
“Heeeek”
Gantian kini icha yang terkapar di lantai. Dia yang sempat terjatuh, kini harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Benda tajam yang berbentuk curahan itu seperti menancap di sekujur tubuhnya.
Bahkan di tenggorokannyapun seperti ada yang menancap. Sehingga, jangankan untuk berteriak, untuk bernafas saja, dia kesulitan.
“MBAK ICHAAA”
Tika terkejut melihat kakaknya mengelepar-gelepar di lantai. Pak Sigit malah tertegun. Dia seperti masih mengumpulkan keyakinan, bahwa yang dia lihat itu adalah nyata. Sejenak dia melihat istrinya. Tampak istrinya sudah bernafas lega, dan seperti sedang tidur.
“BAPAAAK.TOLONG MBAK ICHAAAA” teriak Tika.
Sontak pak Sigit dan pak Aziz turun dari ranjang dan mengangkat Icha ke ruang tengah.
Muntahkan, Cha! Ikuti kekuatan bapak itu!
Suara tanpa wujud itu kembali menggema di teliga Icha.
“Hooeeek.... hooeeeekkk”
Tiing
“Astaghfirulloh”
Tika terkejut bukan main, melihat patahan silet keluar dari mulut kakaknya. Dan tak hanya satu.
“Mbaaaak”
Dia mulai menangis. Hatinya pilu melihat berbagai pecahan logam keluar dari mulut kakaknya, lagi dan lagi.
Cukup lama Icha berjuang mengeluarkan benda-benda itu. Sampai sekantong plastik gula satu kiloan, saat dikumpulkan Tika.
Di sisa-sisa tenaganya, Icha berhasil mengeluarkan pecahan benda tajam yang terakhir. Kemudian dia pingsan.
***
Matahari belum juga sepenggalah tingginya, seorang kakek-kakek masih asyik dengan jagung rebus dan kopi hitamnya. Tiba-tiba seekor anjing mengonggong dari jauh.
Tak lama kemudian, seorang wanita dengan menggunakan kerudung dan bermasker masuk ke halaman depan kakek itu.
“Sugeng enjang, ki” sapa wanita itu. Dia mendekat lalu salim sama kakek itu.
“Kenapa?” tanya kakek itu.
“Ki. Dia belum mati, ki" kata wanita itu.
“Tapi dia masuk rumah sakit, kan? Operasi, nggak?” tanya laki-laki tua itu.
“Iya sih, ki"
“Nah. Itu. Tetep ada hasil. Kamu harus ingat itu!”
“Tapi kenapa nggak langsung mati, ki? Apa aki masih kalah ilmu sama si Aziz? Enggak, kan?”
“Bukan si Aziz, tapi Nyai Murda Ningrum. Dia khodam yang kekuatannya hampir setara dengan kanjeng Ratu Kidul. Bukan makhluk sembarangan” potong laki-laki tua itu.
“Ha?”
“Untungnya dia terikat sama tubuh orang yang nggak ngerti dunia gaib. Coba kalo ngerti, bisa bahaya”
“Maksud simbah?” wanita itu belum mengerti.
“Anaknya lebih memilih menarik santetku ke dalam tubuhnya. Makanya dia juga tumbang, kan?”
“Eh? Iya, sih. Jadi begitu?” gumam wanita itu.
“Apa nggak bisa ditambahin mbah, santetnya? Biar sekalian mati. Toh masih pada nggak sadar ini” lanjut wanita itu.
“Asal bayarannya sesuai”
“Saya lunasi sekarang juga, mbah”
“Kali ini aku butuh lebih dari sekedar uang” kata mbah Karso.
“Apa, mbah?” wanita itu bingung.
Mbah Karso tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan menatap wanita itu dengan tatapan penuh arti. Wanita itu tertegun. Dia mengerti apa yang dimaksud mbah Karso. Tapi apa dia mau?
ada kelanjutan nya gak????
💪💪💪
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat