Ini adalah spin off dari Novel Pengantin yang Ditukar. Selamat membaca
Resya dan Dean. Sepasang nama yang sudah tersemat di buku nikah dan cerita cinta yang indah. Namun, apakah itu cukup?
Hubungan yang terjalin cukup lama mulai menemui titik jenuh hingga pertengkaran kecil sering terjadi karena keduanya belum sepenuhnya mengetahui satu sama lain.
Hingga, seseorang masuk ke dalam hidup mereka dan membuat Resya mulai berpikir jika Dean menikahinya bukan karena cinta, melainkan tanggung jawab.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Akhirnya, setelah menunggu, dokter pun memperbolehkan Mike pulang dengan beberapa sirup obat yang harus diminum balita itu.
Mereka pulang bersama-sama dengan mobil Dean sedangkan sopir yang mengantar Resya disuruh pulang sebelumnya.
Mike tertidur di pangkuan Resya. Sedangkan Dean menyetir. Mereka terlihat saling diam beberapa saat sampai Dean membuka suara.
"Apakah kau sudah menghapus postingan itu?"
"Belum," sahut Resya tanpa menoleh ke arah Dean.
"Kenapa?"
"Setelah aku membuatnya, aku memilih fokus pada Mike saja. Mana mungkin aku lebih mementingkan sebuah benda daripada anakku sendiri." Beralih menatap Mike dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Bisakah kau menghapusnya saat kita sampai di rumah?"
"Apa itu sangat penting?" Kini Resya menoleh ke arah Dean dan menatapnya dengan kesal. Padahal ada anaknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi dia malah memikirkan unggahan Resya di laman sosial medianya.
"Aku hanya tidak ingin....."
"Teman-temanmu mengataimu? Kau malu? Baiklah, aku akan menghapusnya nanti. Kau puas sekarang?"
"Bukan itu maksudku. Hanya saja, aku tidak suka jika ada orang yang mengetahui tentang kondisi kita. Tidak perlu mengatakan kepada dunia tentang kondisi anak kita."
"Jangan mengalihkan konteks, Dean. Aku tahu kau sangat malu kepada teman-temanmu sehingga ingin aku segera menghapusnya. Setakut itu kah kau jika namamu tercoreng?"
"Kalau menurutmu aku malu, lalu mengapa kau masih mempertahankan postingan itu? Apakah kau ingin terus membuat aku malu seperti pemikiranmu?"
Resya melongo mendengar ucapan Dean. Dia tak bisa lagi menahannya. Ini benar-benar sangat menjengkelkan.
"Baiklah, Dean. Sebentar." Resya berusaha mengambil ponselnya dan yang berada di dalam tasnya, tepat di sampingnya. Hal itu membuatnya harus bergerak sehingga Mike pun mulai gelisah.
"Resya, nanti saja, Mike akan bangun."
"Tidak, Dean. Aku hampir menggapainya. Fokus saja menyetir selagi aku mengambil ponselku. Ini adalah hal yang sangat penting yang harus aku lakukan. Kau akan kehilangan muka di depan teman-temanmu."
Dean merasa tertampar mendengar ucapan Resya. Namun dia tidak bisa berbuat apapun selain diam.
"Akhirnya ketemu. Sebentar, ya, aku akan menghapusnya dulu. Ini adalah hal yang sangat penting dalam hidupmu, bukan? Sabar, ya, sebentar lagi hal penting ini akan segera selesai." Resya pun membuka ponselnya dan mengklik laman story.
"Nah, sudah aku hapus. Tersenyumlah, hal yang paling penting dalam hidupmu sudah aku lakukan." Resya tersenyum sambil mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya.
"Aku rasa kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Bilang saja kalau kau tidak ingin menghapusnya."
"Tidak, Dean. Aku tidak berlebihan. Bisakah kita lewati ini? Aku lelah," ucap Resya sambil menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks meski sedang menggendong Mike.
Dean hanya diam mendengar ucapan Resya. Dia kembali fokus menyetir, sedangkan Resya menatap ke arah jendela mobil. Dan tanpa terasa sudut matanya pun berair. Jelas saja dia kecewa dengan sikap Dean yang sangat dingin seperti ini. Tidak, bukan hanya sikap Dean. Suasana di antara mereka pun sama dinginnya.
Ting Ting... Terdengar suara dering ponsel Resya. Dia pun kembali mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Ah, ternyata Haira yang menelepon.
"Halo, Kak."
[Resya, bagaimana keadaan Mike?]
"Dia sudah lebih baik. Aku sedang dalam perjalanan pulang bersamanya dan juga Dean."
[Ah, syukurlah, aku tidak bisa tenang sejak tadi.]
"Iya, Kak, aku bersyukur dia tidak apa-apa. Untung saja cepat aku bawa ke rumah sakit. Ayahnya juga sudah menyusul. Dia terlihat sangat panik ketika datang. Bahkan dia meninggalkan meeting pentingnya."
[Ya, memang itulah yang harusnya Dean lakukan. Aiden juga seperti itu jika anaknya sedang sakit.]
"Iya, Kak, beruntungnya kita memiliki suami yang siaga dan sangat menomorsatukan keluarga."
Ah, Resya, Resya. Lagi-lagi dia membuat Dean merasa tersindir dan tertampar karena pada kenyataannya, Dean meninggalkan makan malam bersama teman-temannya, bukan rekan bisnis dan acara meetingnya.
dan aku masih nungguin lanjutan kisah nya shiren dong kak🤭🤭🤭🤭🤭
sekarang kamu malah jadi lebih belangsak dari Almira,dan Roy selamat bersenang-senang untuk sementara, karena sejatinya uang sebanyak apapun tanpa d kelola pasti akan habis dalam hitungan waktu.....
orang yang terlihat sayang bisa saja malah menusuk d belakang....
tolong shiren dilanjutkan lg