Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.
Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.
Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?
Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Yang Sangat Menakutkan (revisi)
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Sungguh dunia ini memiliki banyak sekali perbedaan dari yang aku ketahui. Siapakah pria menyeramkan ini?" Rasa kekhawatiran Natura tentu saja berasal dari pria yang datang dari langit dengan cara yang begitu menakutkan. Apalagi pria itu terlihat begitu santai bahkan seperti tidak memedulikannya.
Pria yang dipanggil tuan Pow berjalan, dan duduk santai di atas kepala sang dragon pemanggilnya. "Kau-kah Natura yang menjadi petualang nomor satu itu? Baru kali ini aku melihat rupamu," ucapnya dengan santai.
"Kau pasti telah mengenalku lebih dari siapapun di sini. Apa maumu?" tanya balik Natura dengan tetap mempertahankan kuda-kuda guna mengantisipasi serangan kejutan.
"Berhentilah memasang wajah ketakutan padaku. Ngungu memanggilku karena dia menganggapmu sebagai seorang Cheater. Aku datang hanya ingin melihat perkembanganmu. Natura, kau justru tersiksa di dunia ini, padahal seharusnya tempat ini adalah tempat untuk bersenang-senang," ujar Pow.
"Tu-tuan Pow, apa maksudnya semua ini? Aku memanggil tuan sebab dia menggunakan celah system untuk menguntungkan dirinya sendiri. Dia seharusnya sudah berulang kali mati jika tak melakukan pelanggaran," protes Ngungu, si Dragon Sunguungu.
Pow lalu melemparkan sesuatu, dan benda itu ditangkap oleh Natura. Benda itu adalah lencana verifikasi namun berwarna merah. Melambangkan orang istimewa yang tak mungkin dihukum akibat laporan orang lain kepada sistem. "Itu adalah tanda bahwa kau adalah bagian dari dunia ini. Siapapun yang menjadi lawanmu, dia tak akan menuduhmu sebagai seorang Cheater lagi."
Ngungu tersentak dan dia mencoba bangkit lagi walau beberapa sisiknya berjatuhan.
Pow lalu melompat ke pinggiran sarang, dan duduk di singgasana mewah yang tiba-tiba saja muncul entah darimana. "Silahkan lanjutkan lagi pertarungan kalian berdua. Aku hanya ingin menyaksikan saja," terangnya.
"Tu-tuan Pow, mohon sembuhkanlah aku! Aku menjadi lemah sebab terkena seranganmu," protes Ngungu yang terdengar seperti gelisah.
"Aku adalah bagian dari dunia ini. Kau terkena serangan konyol seperti itu, dan aku harus membantumu? Lihatlah baik-baik remaja yang dapat mati hanya dengan dua kali serang. Apakah kau takut padanya?" ujar Pow dengan santai.
"Tetapi dia dapat mengetahui semua seranganku. Itu sama saja dengan melawan seorang yang dapat melihat masa depan."
"Lalu, apakah keuntungan usia, dan kecerdasanmu, tak kau gunakan untuk melawannya?" tanya Pow masih dengan sikap santainya.
Dragon Sunguungu itu langsung menyerang Natura bertubi-tubi dengan bola asap beracun dari tiga puluh tentakelnya. Serangan itu tak berimbas apapun mengingat Natura telah terbiasa dengan kecepatan serang bola asap beracun.
Ngungu meraung sangat keras, kemudian disusul dengan kepakan dua sayapnya hingga membuat Natura terdorong bahkan sampai kakinya menggurat tanah. Mulut yang begitu besar terlihat menganga hendak mencaplok namun Natura segera menghindarinya. Tak mau lawannya bergerak begitu lincah, Ngungu langsung mengepakkan sayapnya lagi hingga dirinya terangkat. Kemudian menjatuhkan diri hingga tanah rusak dan bergetar hebat.
Kabut debu yang tercipta dimanfaatkan oleh Ngungu sebagai pengecoh. Dan dia langsung menyerang Natura menggunakan kibasan ekor.
Remaja tampan itu begitu panik saat ujung runcing ekor dragon itu tiba-tiba merobek kabut debu, dan hendak menyerangnya. Dia melompat, lalu menyerang ekor dengan pedang andalannya. Seketika dia terhempas ke udara. Selang beberapa saat, dia mencoba kembali lagi dengan berlari di udara.
"Apa itu?" batin Natura samar-samar melihat sesuatu berwarna putih pada tanah di bagian bawah kaki belakang Ngungu.
Dragon yang dapat bicara itu mencengkeram tanah tanda kesal yang sangat memuncak. Dia menatap pria berjuluk The Power yang masih saja duduk santai di singgasananya. "Lihatlah wahai tuanku! Dia memanfaatkan celah pada dirimu! Berilah aku kekuatan yang lebih besar lagi supaya aku dapat menyucikan namamu atas penghinaan dari manusia bernama Natura."
"Yang sedang aku lihat hanyalah remaja yang pintar memanfaatkan kondisi tubuhnya. Aku bukanlah Gnireng yang selalu memberikan hadiah ketika kau melaporkan suatu pelanggaran. Aku lebih tertarik mengawasi tingkah Gnireng yang masih saja labil padahal usianya sama denganku, " tanggap Pow dengan santai sambil menatap Natura yang sedang berlari di udara.
"Mustahil bagiku untuk menang melawan orang seperti dirinya. Tuan Pow, mohon tolonglah aku!" pinta Ngungu.
"Selama ini, kau tak pernah gagal dalam membunuh manusia, 'kan? Lantas, apakah salah jika kali ini kau gagal mempertahankan nyawamu?" tanya Pow sambil menatap tajam mata besar lawan bicaranya.
"Mohon maaf atas rengekanku, wahai tuan Pow." Di dalam pikiran dragon, tentu dia merasa dikhianati. Kekuatan besar yang seharusnya membantu justru datang hanya menonton setelah membuat tubuhnya merasakan rugi. Ngungu mengibas-ngibaskan ekornya, menggurat tanah hingga kabut debu menjadi sangat tebal. Berharap dengan usaha itu maka lawan kecilnya dapat terganggu.
Natura menjadi kesal sebab pandangannya terhalang, dan secara samar-samar dia hanya bisa melihat bagian atas Dragon Sunguungu itu. "Cih, baiklah jika kau ingin beradu insting denganku. Akan aku tunjukkan bagaimana caraku dapat bertahan hidup di dunia ini," gumamnya.
Natura dapat menghindari serangan tebasan dan tusukan dari ekor. Serangan cakar maupun gigitan lawannya pun dapat dia hindari. Tiga bola berdiameter setinggi orang dewasa yang melesat dengan cepat juga dapat dihindarinya. Padahal semua itu seolah tidak mungkin bisa untuk dihindari sebab terlihat seperti serangan serba mendadak.
Ngungu kembali meraung dengan sangat keras, dan mengepakkan sayapnya lagi hingga kabut debu itu terhempas meninggalkan sarang. Dia kemudian mengeluarkan serangan bola asap beracun lagi dari tiga puluh tentakelnya.
Dragon Sunguungu itu terkejut ketika hanya lima bola asap beracun saja yang dapat dia lancarkan kepada lawannya.
Natura tersenyum melihat kepanikan sang dragon. Itu adalah saat yang sedari awal dia nantikan.
Dragon Sunguungu itu tak percaya jika dirinya baru saja menyentuh batas kekuatan yang menjadikannya lemah. "Tidak! Tidak seharusnya aku sebodoh ini!" Dia masih mencoba menyerang menggunakan cakarnya namun secara perlahan serangan itu semakin lemah sebelum akhirnya tertidur.
Natura tersenyum gembira saat melihat raksasa di hadapannya tidak memberontak lagi. "Inilah saat yang tepat untuk menghabisimu, wahai musuh terkuat yang pernah aku lawan!" Natura menyerang kepala Dragon Sunguungu itu dengan serangan bertubi-tubi yang sangat cepat. Setiap serangan memunculkan bola bercahaya hijau yang berhamburan keluar dari tubuh dragon menuju arah turun gunung.
"Jadi kau sudah tahu jika Ngungu tak dapat mengetahui batasan dirinya sendiri? Inikah strategi yang kau pikirkan? Sungguh kau sangat piawai dalam mencari keberuntungan," ucap santai Pow yang tiba-tiba saja telah berpindah tempat, berada tidak jauh dari Natura.
"Aku hanya bertaruh dengan asumsi bahwa Dragon Sunguungu di dunia ini memiliki kelemahan fatal layaknya Dragon Sunguungu dari game Deep Dive," jawab Natura dengan tetap menyerang dragon yang sedang tidur pulas.
"Natura, aku menjadi bingung ketika mengecek kembali status karaktermu. Mengapa kau masih miskin dan tak memiliki level? Apakah kau tak pernah mencoba membunuh monster-monster lemah di dunia ini untuk menaikkan level-mu?" tanya Pow.
"Ortuna menghukumku ketika pada tahap awal tutorial, aku membunuh monster cacing hanya dengan satu kali serang. Itu alasannya,"
"Jadi, apakah kau juga adalah seorang Cheater yang dilaporkan Ortuna dapat membunuh bangsawan berlevel tinggi hanya menggunakan satu ayunan pedang saja?" tanya santai Pow.
"Ya. Padahal itu adalah bagian dari keanehan status karakterku. Namun aku justru dituduh sebagai seorang Cheater oleh Ortuna," jawab Natura.
"Jadi, Ortuna mempermainkanmu? Padahal dia sendiri yang memilihkan status karaktermu sebelum kau dikirim ke dunia ini," ucap Pow dengan santai.
Natura berhenti menyerang dragon itu dan berbalik menatap lawan bicaranya. "Jadi, aku selama ini merasakan sengsara hidup di dunia ini disebabkan oleh Ortuna? Mengapa dia benci kepadaku padahal aku tak tahu apapun tentang dirinya?!"
"Mengapa aku harus mendengar teriakanmu, Natura? Setidaknya kau harus tahu bahwa Ortuna membencimu sebab kau mengabaikan kehidupan sosialmu. Padahal kau termasuk orang pintar."
"Apa hubungannya antara kebenciannya dengan kehidupanku?!"
"Yang jelas Ortuna tertarik dengan apa yang ada dalam pemikiranmu. Berhentilah berbicara, dua puluh hitungan detak jantung lagi dragon yang ada di dekatmu segera bangkit," terang Pow dengan santai.
Benar saja dengan apa yang dikatakan oleh pria yang duduk bersantai di singgasananya.
Dragon itu meraung lalu menyerang Natura menggunakan kedua cakar kaki depannya secara terus-menerus. Walau tetap saja serangannya gagal untuk mencelakai. "Akan aku bunuh semua manusia di dunia ini! Akan aku perintahkan seluruh Dragon Sunguungu untuk menginvasi daratan ini seperti waktu itu!" bentak dragon raksasa itu.
Serangan-serangan yang dilancarkan begitu mematikan. Tak hanya mengandalkan tubuhnya yang begitu besar, Ngungu juga sering kali menyisipkan kibasan sayap guna menghambat pergerakan lawannya.
Di sisi lain, Pria yang juga disebut Pow terlihat bosan menatap dragon yang kini sedang mengamuk dengan beringas hanya untuk menyerang satu manusia. "Ngungu, dalam dua menit, jika kau tak mampu membunuh Natura, maka akulah yang akan membunuhmu," ucapnya dengan santai.
Ucapan itu seketika membuat Ngungu dan lawannya terkejut. Mereka tidak tahu jalan pikiran pria yang terlihat bosan itu.
"Ba-baiklah wahai tuanku! Perintahmu adalah harga diri bagiku. Aku akan melakukan apapun demi tuanku," tanggap Ngungu dengan nada suara yang memperdengarkan ketakutan akan sosok yang berbicara kepadanya.
Dragon Sunguungu itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya hingga dia terbang ke belakang.
Natura dengan rasa khawatir menancapkan pedangnya pada tanah supaya tak terhempas walau apa yang dilakukan sangat berbahaya.
Tiga puluh tentakel di samping kiri dan kanan punggung Ngungu mulai mengincar Natura. Terlihat semua tentakel itu seperti terulir hingga panjangnya berkurang.
"Tiga puluh detik!" tegas Pow.
Ngungu terkejut tidak menyangka Pow memotong waktu yang telah dijanjikan.
"Mengapa tuan Pow berbuat curang kepadaku?!" teriak sang Dragon Sunguungu.
"Maksudmu, aku salah dalam menghitung?" tanya Pow dengan santai sambil berbalik menatap tajam mata besar lawan bicaranya.
"Ti-tidak! Aku akan melaksanakan perintah tuanku," jawab Ngungu dengan gugup.
Ngungu sekejap menembakkan ketiga puluh bola asap beracun dari tentakelnya.
Mata Natura terbuka lebar saking terkejut menatap bola-bola asap beracun kini melesat tak beraturan dengan putaran spiral di sertai asap racun yang menyebar lebih lebar. Dia benar-benar ketakutan menghadapi serangan tak teridentifikasi yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ketakutan di benak Natura semakin menjadi-jadi saat tiga bola besar lain melesat dari mulut Dragon Sunguungu. Serangan ganda tak bercelah itu begitu menghantui pikirannya akan kematian yang terlihat di depan mata.
Tanpa dragon dan Natura duga, satu serangan gelombang energi berwarna putih keemasan layaknya serangan laser dengan sangat cepat menghancurkan semua serangan dari sang Dragon. Mereka berdua menoleh ke arah datangnya gelombang energi. Tak lain serangan itu dilancarkan oleh seorang pria yang dari tadi menunjukkan sikap bosannya. Pedang besar berwarna emas dengan ukiran tumbuhan rambat berbunga yang diacungkan ke arah dimana serangan racun itu lenyap membuat Natura sangat tertolong. Dialah The Power yang balik berpihak pada Natura. "Ngungu, waktu terus berjalan. Lima detik lagi waktu yang kuberikan segera habis."
"Curang!" Teriakan Ngungu begitu menggelegar memekakkan telinga. Dragon Sunguungu itu lalu menghirup udara dengan sangat dalam hingga membuat sosok remaja yang mejadi lawannya menjadi semakin ketakutan. "Rasakan serangan mematikan ini!" teriaknya lagi.
Seketika celah sisik-sisiknya langsung mengeluarkan asap beracun yang menyebar dengan sangat cepat. Tak hanya sisik, mulut dragon itu juga mengeluarkan kabut beracun berwarna ungu yang mengincar lawan kecilnya walau sudah tak terlihat.
Dilihat dari kejauhan, pepohonan di gunung menjadi mengering akibat terkena kabut racun. Hanya waktu kurang dari setengah menit saja gunung itu telah berubah warna menjadi ungu dari warna kabut beracun yang dikeluarkan oleh sang dragon.
Bahkan Enenga, nenek Alia, dan kelompok petualang lain, yang sedang berhadapan dengan dragon maupun monster yang berada di kaki gunung sampai dilahap kabut ungu beracun itu.
Di dalam tebalnya kabut beracun, The Power berjalan santai menghampiri Dragon Sunguungu yang memanggilnya. "Ngungu, sudah berapa kali kau melakukan pelanggaran seperti ini?"
Ngungu tetap mengeluarkan kabut racun dari celah sisik-sisiknya namun mulutnya telah berhenti menyembur. Dia terkejut akan pertanyaan dari sumber kekuatan yang seharusnya menjadi sekutu. "Tu-tuan, apa yang anda tanyakan? Lihatlah dengan teliti bahwa aku tidak melakukan satupun pelanggaran," tanggap Ngungu dengan terbata-bata.
Pow terus berjalan mendekati dragon beracun itu. Walau kabut begitu tebal, namun Pow terlihat jelas di mata Ngungu layaknya tak terhalang kabut racun. Pow berjalan dengan santai sambil memanggul pedang besarnya. "Berhentilah beralasan. Kau juga menyembunyikan telur-telurmu di dalam tanah ini. Kau menggunakan celah dunia ini supaya mereka tak pecah," ujar Pow.
"Tidak! Aku tidak mel..."
Sebelum Dragon Sunguungu itu selesai berbicara, gelombang energi berwarna putih keemasan memotong lehernya hingga terputus.
"Tu-tuanku," rintih Ngungu sambil menatap Pow yang terlihat mengacungkan pedang besarnya.
Satu ayunan berputar pedang besar itu seketika membuat kabut beracun menghilang sepenuhnya.
Natura terlihat ketakutan menatap kepala Dragon Sunguungu yang sudah terpenggal tak bergerak. Dia seketika terduduk lemas dengan rasa bersyukur. Masih saja tak menyangka jika serangan mematikan itu sampai hampir membunuhnya. Padahal sekejap dia telah merasakan paru-parunya diterjang racun yang menyesakkan dada.
Jasat Dragon Sunguungu itu perlahan berubah menjadi debu cahaya yang beterbangan. Layaknya monster lain yang telah kehilangan nyawa setelah diambil hadiahnya. Jasadnya berganti dengan hadiah yang belum pernah Natura miliki di dunia ini.
Pow telah duduk di singgasana dan tiba-tiba berada di depan Natura. "Tak aku sangka Ngungu menjadi sangat pintar dalam mencari celah ketidaksempurnaan dunia ini. Dia bahkan dapat memakai beberapa item yang dapat mengurangi waktu rehat skill dan juga pemulihan dirinya. Hal itu seharusnya tak terjadi."
"Ya. Dia tak seharusnya bangkit begitu cepat setelah menyentuh batas kekuatan," tanggap Natura dengan mata yang bergetar menatap The Power.
"Bisa dibilang, aku adalah salah satu pemelihara dunia ini. Kau tak perlu takut sebab aku hanya bertindak merapikan dunia ini saja. Tiada alasan untuk melawanmu sebab aku berperan sebagai System, bukan petualang."
Singgasana Pow bergeser ke samping hingga membuat Natura menatap keseluruhan sarang. "Muncullah!" Seketika tanah bergetar hebat selesai Pow mengucapkan kata itu. Tanpa Natura duga, muncul lima puluh telur setinggi orang dewasa dari dalam tanah yang ada dihadapannya. Pow langsung mengangkat pedangnya dan melakukan gerakkan horizontal hingga semua telur itu pecah akibat terkena gelombang energi. "Semua yang ada di sini adalah milikmu. Kau tak sepantasnya begitu menderita hidup di dunia ini. Terlebih, sepertinya kau terlalu lama menjadi kelinci percobaan Ortuna maupun Gnireng," ujar Pow.
Seketika tubuh Pow mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan.
"Tuan Pow, bagaimana keadaan orang tuaku di dunia sana?" tanya Natura sambil mencoba terus memandang cahaya terang itu.
"Wow, pertanyaan yang sungguh mengejutkan dari orang sepertimu." Seketika Pow menghilang dan hanya tinggal Natura berada di bekas sarang dragon itu.
"Jadi, apakah cangkang putih itu yang aku lihat ketika aku terhempas ke langit?" tanya Natura sambil berdiri dan menghampiri berbagai macam hadiah yang kini menjadi miliknya.
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
rya anda bagus👍
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎