Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Safira tertawa senang, namun tidak dengan Zein. Pria tampan ini malah menggerutu kesal. Menurutnya sang adik sangat keterlaluan. Berani menciumnya seperti anak kecil.
"Dasar!" umpat Zein kesal.
Lalu ia kembali memfokuskan pikiran dan pandangannya pada ponsel miliknya. Membalas semua pesan yang ia terima dari para pekerja, member dan juga pelanggannya.
Ya, begitulah keseharian Zein sejak ia menderita sakit aneh yang tak kunjung sembuh. Penyakit mual dan ingin muntah itu suka kambuh kapan saja dan di mana saja.
Sebenarnya dia malas dengan ajakan sang adik. Namun ia tak tega, mau bagaimana lagi? ia hanya tak ingin membuat adik kesayangannya itu kecewa.
Keasikkan Zein terganggu oleh kedatangan Lutfi yang membawa sepiring semangka dingin ditangannya.
"Mau, Bang?" tawar Lutfi.
"Wih, kayaknya seger tu. Bolehlah!" ucap Zein seraya bangun dari sofa dan mengambil sepotong semangka yang dibawa oleh Lutfi.
"Gimana perasaan Abang sekarang?" tanya Lutfi.
"Baik, kenapa emang?" Zein berhenti mengunyah, lalu menatap penuh tanya pada sang adik ipar.
"Nggak sih, cuma saya heran aja sama Abang, segitu cintanya kah Abang sama Bu Vita." Lutfi menyenderkan tubuhnya ke sofa. Selama ini dia diam. Hanya untuk menghormati Zein dan Fira. Namun lama kelamaan dia gemas juga dengan Abang iparnya ini.
"Ini bukan hanya perihal cinta, Fi. Tapi ada hal lain yang kamu nggak tahu. Semua orang nggak paham, selain diriku sendiri," jawab Zein, santai. Tapi Lutfi yakin, jika Abang iparnya ini serius.
"Kalo Abang nggak mau jelasin ke kita, mana mungkin kita tahu sih, Bang. Sebenarnya problem Abang tu apa?"
"Problem ku? hanya ... aku bodoh, itu saja!" jawab Zein singkat.
Benar apa yang dikatakan sang istri. Bawa Abang iparnya ini adalah manusia unik. Selalu berpikir di belakang. Jarang sekali memikirkan baik buruk dan akibat dari setiap keputusan yang dia ambil.
Lutfi menghela napas panjang. Memilih menghentikan perbincangan mereka. Percuma, Zein bukan orang yang mudah menerima saran.
Benar kata Safira, bahwa Zein harus di jedotin dulu, baru pria ini bisa sadar, baik buruk tentang keputusan yang telah dia ambil.
***
Nadia marah, menyadari bahwa dirinya hanya ditipu oleh dokter tampan itu. Nyatanya Zi berada di ruangan itu sendiri. Tidak ada ajudan seperti yang dia takut-takutkan.
Beruntung Zi memanggilnya, sehingga ia pun merasa aman untuk keluar.
"Dasar dokter gila!" umpat Nadia kesal.
Sedangkan Zi hanya tersenyum. Menurutnya, dia sahabatnya ini sangat lucu dan menggemaskan.
"Kamu diboongin ama, Bima?" tanya Zi, setengah meledek.
"Ya... dokter gila itu menipuku. Awas saja kalo sampai ketemu lagi," ancam Nadia kesal.
"Sabar, Buk, sabar. Dia cuma bercanda," jawab Zi, bukan bermaksud membela Bima. Tapi alangkah baiknya jangan sampai tumbuh dendam di antara mereka berdua. Jangan sampai tumbuh masalah di antara mereka berdua. Terlebih ini gara-gara dirinya.
"Apa kamu marah padaku, Zi?" tanya Nadia takut.
"Marah kenapa?"
"Emmm, soal... aku, itu... anu!" Nadia meremas jari-jarinya, gugup.
"Soal apa?" Zizi menatap sang sahabat.
"Soal itu... aku jadi, bekerja sama... itu, Zi!" Nadia bertambah gugup. Sebab ia tahu bahwa kenyataan iniini pasti akan menyakiti sahabatnya.
"Ada apa sih? Soal hubunganmu sama mantan mertuaku?" tanya Zi.
Nadia mengangguk.
"Ohhh, emang kamu cerita apa sama mereka?" tanya Zi.
"Sebenarnya aku bukan hanya cerita, tapi.... "
Tak ingin terus terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan dnag sahabat, Nadia pun terpaksa menceritakan detail pertemuannya dengan mertua sang sahabat tersebut.
Siang itu....
Nadia sedang asik makan siang di kantin bersama teman-teman seprofesinya.
Tiba-tiba saja datanglah dua orang bertubuh tinggi tegap datang ke kantin tersebut dan mencarinya.
"Siapa di antara kalian yang bernama suster Nadia Fitriani?" tanya salah satuan dari mereka.
Lalu semua orang pun menunjuknya. Sontak jawaban yang teman-temannya lontakan kepada ke dua orang tersebut, langsung membuat Nadia tersedak.
"Apaan sih?" tanya Nadia geram.
"Tu... dicariin," jawab salah satu teman se meja Nadia.
"Sa-saya, Pak!" jawab Nadia terbata.
"Ikut kami!" ucap Pria itu sembari menarik tangan Nadia.
Awalnya Nadia menolak, bahkan menalwan. Namun, ketika kedua pria itu menunjukkan kedua foto adiknya, Nadia pun terpaksa ikut dengan mereka tanpa perlawanan.
"Maaf, Pak. Saya mau dibawa ke mana?" tanya Nadia, mencoba memberanikan diri.
"Diam dan masuk!" perintah salah satu dari mereka.
Nadia yang saat itu ketakutan, tentu saja tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam mobil tersebut.
Tanpa Nadia sangka, ternyata di dalam mobil sudah ada empat pria dan salah satu dari mereka adalah Laskar.
"Selamat siang, Om," ucap Nadia berusaha tidak gugup. Padahal dia sangat gemetar.
"Hemmm ... apakah kamu yang bernama Nadia?" tanya Laskar.
"Iya, Om, itu saya. Tapi salah saya apa apa ya?" Nadia menatap sekilas pada Laskar. Karena jujur, ia amat sangat takut.
"Apakah kamu kenal Zevana?" tanya Laskar, langsung tanpa basa-basi.
"Zevana? Maksud Om, suster Zi?"
"Ya, dia! Apa kamu kenal?" Laskar melirik Nadia sekilas.
"Kenal Om, kan dia bestie saya." Nadia terkekeh. Entahlah, setelah mengucap nama Zi, Nadia tiba-tiba saja merasa aman. Padahal sebenarnya bahaya sedang mengancamnya.
"Bertie? Apa itu bestie?" tanya Laskar, sedikit geram. Sebab ia merasa dipermainkan oleh gadis disebelahnya.
"Yaelah Om, masak bestie nggak tahu. Temen deket Om, temen deket!" jawab Nadia sembari memberi kode genit pada Laskar.
Namun, anehnya Laskar tidak marah pada gadis ini. Justru ia malah terkesan tidak peduli.
"Bagus kalo kamu memang teman baik dia. Aku mau kamu kasih tahu aku di mana dia sekarang!" pinta Laskar. Lagi-lagi tanpa basa-basi.
"Ih, ogah. Emang situ siapa?" Nadia menatap kesal pada Laskar. Seakan ketakutannya hilang dan ia lupa, bahwa kedua adiknya saat ini sedang disandera oleh pria paruh baya ini.
"Kamu mau tahu siapa aku?" Laskar mengosok dagunya. Seakan meremehkan penolakan gadis yang ada di sebelahnya.
"Tentu saja, habis Om aneh. Main ngancem, bawa-bawa preman. Emang Om siapa sih?" Nadia terlihat kesal.
Dasar bocah bodoh, nggak ada takut-takutnya ini anak!
"Siapapun aku, itu nggak penting. Yang penting sekarang kasih tahu aku di mana Zi berada. Atau aku bakal melenyapkan kedua adikmu!" ancam Laskar, kali ini dia tidak main-main.
"Maap Om maap. Ampun Om, serius ampun. Saya bakalan kasih tahu di mana Kak Zi berada. Tapi tolong jangan sakiti adik-adik saya, Om. Saya mohon!" ucap Nadia memohon.
Tentu saja, ketakutan Nadia adalah simbul kemenangan bagi seorang Laskar. Tanpa basa basi akhirnya ia pun langsung memberi tahu pria paruh baya ini. Dan dari situlah awal kesepakatan perjanjian hidup dan mati antara dirinya dan mertua sahabatnya tersebut.
Bersambung...