Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.
Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.
Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.
Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MABUK KE KAMAR SIYA
Sendiri itu tenang. Selebihnya kesepian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam. Hening, sunyi. Entah kemana angin malam ini. Yang tak berhembus menyapa.
Siya duduk di tepian ranjang dalam temaram sambil memainkan jam milik Kak Bram. Sore itu Siya berniat menunjukkan benda itu dan meminta Mahend untuk memeriksanya. Tapi Mahend yang sudah bersikukuh dengan pendapat dan bukti-bukti di tangannya, membuat Siya kembali mengurungkan niatnya.
Mahend justru pasti akan menuduh Siya yang sudah mengatur semuanya. Sepeti tuduhan Mahend. Manipulasi.
'*Hoaam*!' rasa kantuk mulai menyapa, Siya pun meletakkan kembali jam itu ke laci di dalam lemari tempat pakaian dalamnya.
'*Ceklek*!' pintu kamar Siya dibuka. Sontak Siya menoleh karena kaget.
"Mas Mahend?"
Mahendra datang dalam keadaan tubuh yang sempoyongan. Ia bersandar pada dinding dekat pintu agar tak jatuh ke lantai. Matanya terpejam.
Siya merasa takut, bau alkohol dari tubuhnya begitu menyeruak menusuk hidung. Mahend mabuk berat. Di belakangnya ada Lim yang berdiri tegap membungkukkan badan pada Siya.
"Lim? Mas Mahend?" Siya hendak bertanya. Namun Lim sudah mengangguk seakan mengerti apa yang akan ditanyakan Siya. Dan Lim menggerakkan kepala memberi kode pada Siya untuk menolong Mahend.
Siya pun bergerak perlahan mendekat ke arah Mahend, lalu memegangi tubuhnya.
"Siya?" lirih Mahend sangat pelan hampir tak terdengar. Yang sebenarnya adalah. Mahend sendiri juga merasa sakit dan perih atas semua ini.
Keluarga bahagia nya hancur tiba-tiba. Kakaknya bunuh diri, Anita menceraikannya. Lalu sang papah pun meninggal tak lama setelah itu semua. *NAAS*.
"Iya, Mas. Ini aku!" jawab Siya sambil memapah membawa Mahend masuk ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuh Mahend di atas ranjang.
"Si-yaa!" kembali Mahend menyebut namanya mendayu lebih panjang.
"Mas tidurlah. Aku disini." ucap Siya sambil membuka sepatu Mahend. Melepas dasinya, dan membuka dua kancing atas kemeja Mahend. Lalu menyelimutinya.
Mahend hampir tak lagi bergerak, matanya sudah terpejam sempurna. Namun bibirnya masih mengeluarkan suara-suara lirih yang bisa didengar oleh Siya.
"Kau pasti membenciku kan, Siya? Iya, kau pasti membenciku? Ha ha ha" Mahend meracau.
Siya hanya diam dengan tatapan nanar. Ia tak menanggapi.
'*Aku tidak membencimu mas. Dulu, aku sangat mencintaimu. Tapi kini, semua telah berubah. Tak ada perasaan yang benar-benar akan tetap sama. Semua berubah karena situasi dan kondisi, dan kau sendiri yang telah merubah semua rasa itu*.'
Mahend sudah terdiam, ia terlelap seketika. Siya pun melangkah keluar kamar menemui Lim. Dan Lim masih berdiri di dekat dinding pembatas lantai atas.
"Lim?"
Lim menoleh saat Siya datang menemuinya.
"Maaf, Nona. Tuan Mahend memaksa untuk masuk ke dalam kamar anda. Meski dia sedang mabuk, saya tetap tidak bisa menolaknya." Lim memberikan penjelasan sebelum Siya bertanya.
Siya mengangguk menanggapi.
"Lim? Ada yang ingin aku bicarakan."
"Maaf, Nona. Saya tidak berani." Lim menunduk. Ia memang orang yang sangat taat, patuh, dan setia pada Mahend.
"Hanya sekali ini saja Lim. Aku butuh bantuanmu. Hanya sekali ini saja." Siya memohon.
"Bahkan kita bicara berdua seperti ini saat ini. Tuan Mahend bisa melihatnya esok hari. Mohon maaf, Nona. Saya permisi." Lim membungkuk lalu lekas pergi.
Benar kata Lim. Kesalahan jika Siya meminta bantuan padanya. Siya menghela napas. Lim sudah menghilang. Siya lantas kembali masuk ke kamar. Ia mengambil selimut baru dari lemari. Siya merebahkan diri di sofa. Dia akan tidur disana.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Siya keluar dari kamarnya. Menutup kembali pintu dengan pelan. Lebih baik membiarkan Mahend tertidur dari pada bangun dan kembali menyiksanya. Saat nya sarapan pagi.
Saat Siya menutup pintu, bertepatan dengan Al yang juga keluar dari kamar Mahend.
"Siya?" teriak Al yang melihat Siya disana.
"Jagoan? Selamat pagi?" Siya menyapa disertai dengan senyum manis yang tulus.
"Selamat pagi, Siya? Siya? Kau tahu dimana Papahku? Dia tidak ada di kamarnya!" tanya Al dengan suara polosnya.
Siya membulatkan mata mendengar lontaran pertanyaan dari Al.
'*Gkek*' gugup, tentu saja. Siya tidak mungkin mengatakan jika kini Papahnya telah tidur di kamarnya.
"Ehm? Eh, udah siap mau berangkat sekolah ya?" tanya Siya basa-basi. Karena Al sudah memakai seragam lengkap.
"He em!" jawab Al mengangguk.
"Kita sarapan yuk... Nanti kamu bisa telat sekolahnya. Ayo!" Siya tak menjawab pertanyaan Al tentang Mahend. Ia mengalihkan pada hal lain.
Saat di meja makan. Mereka sarapan bertiga. Sabrina, Siya dan Al.
"Dimana Mahend?" tanya Sabrina tegas. Al pun ikut mendongak. Ia tak tahu dimana papahnya.
"Masih ada urusan dengan Lim, Mah, Nyonya?." Siya menjawab sambil melirik sesaat pada Al seakan memberi kode pada Sabrina. Dan Siya mengulangi caranya memanggil Sabrina di depan Al dengan sebutan Nyonya. Sabrina pun kembali fokus dengan makanannya.
Waktu terus berjalan. Al sudah berangkat sekolah. Sabrina memiliki jadwal pemeriksaan jantung di Rumah Sakit Tom nanti, dan Tom sendiri yang akan menjemputnya. Hubungan mereka memang sangat dekat. Ibunda Tom yang sudah lama meninggal sejak Tom kecil tergantikan oleh sosok Sabrina yang selalu menyayangi Tom sejak kecil sama seperti menyayangi kedua putranya sendiri.
Itu meyakinkan Siya jika sebenarnya Mamah mertuanya adalah orang yang baik. Yang akhirnya tenggelam dalam luka. Yang merubahnya menjadi angkuh dan dingin seperti sekarang ini.
Siya masuk ke dalam kamar, ia membuka pintu pelan. Mahend sudah bangun, suaminya itu duduk di tepian ranjang sambil menunduk, Rambutnya acak-acakan. Berantakan. Namun tak mengurangi ketampanannya.
Kepala Mahend terasa pening dan berat, sisa-sisa mabuk.
Mahend mendongak kala Siya datang. Sedikit takut, itu yang Siya rasakan di dalam hatinya.
"K-ka kau sudah bangun?" Siya memberanikan diri bertanya, suaranya terbata karena tenggorokan yang serasa tercekat.
"Apa Lim yang membawaku kemari?" tanya Mahend dengan nada datar.
"B-bu bukan. Maksudku, kau yang memaksanya untuk membawamu kemari." jawab Siya.
"Apa yang kulakukan padamu semalam?"
'*Glek*!'
Pertanyaan yang sulit untuk Siya artikan. Apa maksudnya. Kenapa Mahend menanyakannya? Itu artinya dia tak sepenuhnya sadar untuk masuk ke kamar Siya.
"T-ti tidak, tidak ada. Kau hanya datang, lalu tidur."
Mahend berdiri. Ia melangkah menuju pintu dimana Siya masih berdiri di depannya. Siya semakin gugup. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tamparan, cekikan, cengkraman, dan jambakan itu rasanya sangat menyakitkan. Wajar jika Siya yang ceria dan berani itu kini trauma.
Mahend berdiri di hadapannya. Siya memalingkan muka. Mahend menghembuskan nafas halus, lalu kembali melangkah. Tak lagi ingin bicara. Atau sebenarnya ada yang ingin ia katakan namun hatinya tak mengijinkan. Entah.
"Mas?"
Langkah Mahend terhenti. Berdiri membelakangi Siya tanpa menoleh.
"Al mencarimu." hanya itu yang Siya katakan. Mahend lalu kembali melangkah meninggalkan Siya tanpa menjawab ucapannya.
'*Kenapa kau masih perhatian dengan putraku, Siya? Apa yang ingin kau buktikan. Apapun yang kau lakukan. Hatiku padamu sudah membeku. Aku tak akan pernah mencintaimu*.'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Flash Back On**.
Bram tersenyum melihat ponselnya, setelah mengakhiri panggilan videonya dengan Siya barusan. Bram menatap foto Siya yang memenuhi layar wallpaper ponselnya.
'*Tunggu aku Siya. Aku akan pulang dan kembali berjuang untuk mendapatkanmu*.'
Bram manonaktifkan ponsel. Lalu ia mulai berjalan masuk ke kabin pesawat. Mencari kursinya yang berada di kelas VVIP. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat orang-orang yang sangat ia kenal yang juga melakukan penerbangan di deret kursi ruang yang sama itu.
"Papah?" teriak Bram terkejut.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
tng ca w bla'in
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨