Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sepulang sekolah, Amira langsung kembali. Dia tak mampir-mampir lagi, karena mengingat perkataan Kia kemarin.
Sampai di rumah, Amira meletakkan tas di kamar dan bergegas membersihkan badan. Dia memilih memakai kaos oblong dan celana pendek. Matanya tak henti-henti menatap jam di dinding, masih pukul 14.00 siang. Artinya Laska masih lama lagi pulangnya.
Entah mengapa akhir-akhir ini dia begitu merindukan Laska, padahal mereka bertemu setiap hari. Amira selalu ingin berada di dekat Laska, tetapi keadaan tak mengizinkannya.
“Kalau aku benaran hamil gimana ya? Apa om Laska senang, atau malah marah?” monolog Amira sembari menatap langit-langit malam.
“Hais, pikiranku. Lagian aku juga belum disentuh sama om kutub Utara itu. Dan juga, melahirkan ‘kan sakit, buatnya juga,” gerutu Amira sambil memukuli kepalanya.
Amira memilih ke dapur dari pada di kamar saja yang membuatnya semakin bosan. Pikirannya masih menerawang jauh, memikirkan perkataannya tadi yang tak mendapatkan jawaban.
Gadis dengan pakaian santai itu mendapat ide untuk memasak makanan untuk Laska. Dia mulai menyusun rencana untuk pergi ke kantor sang ayah mertua.
Mungkin tak apa.
**
Hari ini banyak sekali yang mengacaukannya. Pertama, nilai ulangan yang sangat jauh karena tidak ada kefokusan saat dia mengerjakannya. Kedua, kini Cinta harus melihat wajah Alfa lagi. Padahal dia baru saja ingin istirahat.
“Ada apa Kak?” tanya Cinta dengan malas, dia menatap Alfa sebentar.
“Aku hanya ingin, mengantarkan makanan ini. Dari umi,” ujar Alfa sambil memberikan apa yang dia bawa.
Cinta tak percaya, dia menerima bingkisan itu. Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam dada, membuat senyumnya simpul terbit seketika.
“Umi Kakak baik, bilang terima kasih dariku,” ucap Cinta. Kali ini dengan senyum dan gurat kebahagiaan.
“Iya sama-sama. Mendapat bingkisan dari umi, kamu kenapa langsung senang begini?” tanya Alfa bingung.
“Bukannya hadiah harus diterima jika memberinya dengan niat baik. Ya sudah, Cinta mau masuk. Jangan lupa bilang makasih untuk tante Kia ya! Kakak pulangnya hati-hati!” Belum juga Alfa menjawab, Cinta sudah menutup pintu rumahnya.
Akhirnya pria itu memilih pulang, tetapi dia bernapas lega. Sebab Cinta menerima makanan itu dengan lapang dada. Mengingat senyum gadis itu tadi, membuat Alfa ikut-ikutan tersenyum.
Sedangkan di dalam rumah mini malis, seorang gadis tengah sibuk membuka bingkisan yang diikat pita dengan perlahan. Ada berbagai makanan di dalamnya, termasuk rendang dan gulai daging.
“Alhamdulillah ya Allah,” ucap Cinta penuh syukur. Dia menyimpan makanan pemberian umi Alfa di dalam lemari khusus, dia berniat memakannya nanti bersama sang abang.
Senyum yang sempat merekah, layu begitu saja. Cinta menjatuhkan bokongnya di kursi makan. Dia menopang dagu, menatap buah-buahan yang tersusun rapi di atas meja.
Ada rasa bersalah yang menyelusup ke dalam hati, susah sekali dia untuk mengatakannya. Semua terasa sakit, mengingat betapa baiknya Alfa dan keluarga pria itu. Sedangkan dia jahat, hanya bisa menjadi kekasih karena kasihan.
“Tidak ada cinta, sebesar cintamu pada zat Pemberi Hidup. Maka dia akan memberikan pria yang bisa mencintaimu, dan kamu mencintainya karena Allah.”
Cinta menutup mulut, dia tergugu. Takdir sementara Tuhan begitu menyakitkan, apakah dia harus jujur? Atau dia berhenti di sini? Bukankah Alfa harus bahagia, bukan bersama dia?
“Aku mencintaimu, memang sangat sakit rasanya saat cinta itu tak terbalaskan. Tetapi biarkan aku mencoba meruntuhkan benteng pertahananmu, untuk membalas serentetan cinta milikku,” ujar Alfa kala itu, semakin membuat Cinta tergugu.
“Fighting Cinta!” Dia memberi semangat pada dirinya sendiri, Cinta lekas beranjak menuju kamar.
**
Bangunan pencakar langit menjulang tinggi sudah berada di depan mata Amira. Gadis itu melepaskan kaca mata dengan tidak percaya, dari sisi mana pun bangunan ini terlihat sempurna.
Dengan hati yang sudah mantap, dia kembali menenggerkan kaca matanya di hidung, lalu berjalan untuk memasuki perusahaan milik sang ayah mertua.
“Maaf Mbak, berikan KTP Mbak. Karena akan kami periksa,” ucap salah satu pria yang mengenakan pakaian satpam. Menyodorkan tangannya ke arah Amira.
“Memangnya mau bikin kartu keluarga apa?” cerocos Amira membuat dua pria di depannya mengernyit dahi.
“Ini peraturan kantor Mbak,” ucap pria itu lagi.
“Saya ini keponakan pemilik perusahaan ini, mau saya aduin sama om saya?” Amira mulai menakut-nakuti dua pria berbadan tegap itu, keduanya berbisik-bisik sambil menatap Amira dari bawah sampai atas.
“Tapi ini tetap peraturan Mbak.”
Bukan tak ingin memberikan KTP, hanya saja Amira tak membawanya. Lagian dia berpikir, mau bertemu Laska saja harus sesusah itu.
“Ouh, oke. Masih maksa? Saya bakalan teriak,” ancam Amira membuat keduanya langsung panik. “Om saya kalau marah bisa makan orang, lihat saja nanti.”
“Ah, baiklah Mbak. Silakan masuk,” tukas keduanya sembari membukakan pintu yang terbuat dari kaca itu.
“Nah gitu dong, dari tadi kek.” Tanpa membuang waktu lama, Amira langsung masuk.
Matanya mengedar, menatap ke penjuru ruangan ini. Banyak sekali orang berlalu lalang di sekitarnya, membuat dia pusing sendiri. Gegas dia menghampiri meja resepsionis yang terletak tak jauh dari dia berdiri.
Wanita cantik dengan balutan pakaian formal berdiri di sana, memberikan hormat padanya saat dia sudah mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya resepsionis itu. Amira langsung mengangguk mantap, meski sedikit gugup.
“Ruangannya om Laska di mana ya?” Sang wanita di depan Amira sempat kaget, saat dia menyebut Laska dengan embek-embel om. Tetapi langsung kembali bertanya pada Amira.
“Mbak ini siapanya ya?”
“Aku ..., hemmm. Keponakan om Laska, iya keponakan,” jawab Amira dengan gugup.
“O, iya. Baiklah Mbak, saya akan menghubungi bapak terlebih dahulu,” ucap resepsionis itu membuat Amira mendengkus kesal.
Mau bertemu saja susah. Padahal aku istrinya.
“Iya Pak, masih di sini.” Suara sang resepsionis terdengar oleh pendengaran Amira.
“Sini Mbak, biar saya yang bicara.” Amira langsung merebut telepon dari tangan sang wanita.
“Halo Om, ini Amira,” ucapnya to the point.
“Ngaopain kamu di sini?” tanya Laska di seberang sana dengan bingung.
“Udah deh, pokoknya om turun atau aku yang ke sana,”
“Kamu ke sini, saya sedang banyak pekerjaan. Minta beritahu resepsionis itu di mana ruanganku.”
“Sudah dari tadi, tetapi mereka malah repot. Pake nanya-nanya segala,” cetus Amira sembari memberikan teleponnya pada wanita cantik di depannya.
Mbak resepsionis langsung memberitahu di mana ruangan Laska berada. Tanpa membuang waktu lama, gadis itu langsung masuk ke dalam lift, menuju lantai lima.
Saat sampai di lobi lantai atas, banyak sekali pasang mata yang menatapnya dengan bingung. Ternyata lantai lima ini, juga terdapat beberapa karyawan yang ruangannya di dekat ruangan Laska. Alhasil Amira hanya bisa berusaha santai, mencoba tak memedulikan mata-mata itu.
“Siapa itu? Gadis kecil, sedang apa dia di sini?” Bisikan demi bisikan masuk, menyapa pendengaran Amira.
“Dasar kang gosip!” sindir Amira membuat beberapa wanita tadi langsung bubar, pergi ke ruangan mereka masing-masing.
Bersambung
Sabar Mbak Amira😂😂
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃