Larisa Kurniawati adalah gadis belia yang mengandung karena kecelakaan. Sejak kecil ia memiliki kehidupan yang malang karena sering disia-siakan oleh ayahnya. Karena hamil di luar nikah, ia di tuduh menjual diri dan diusir dari rumah.
Namun pada akhirnya, ia dapat melahirkan anak jenius yang berhasil membawanya pada kehidupan yang mapan. Ia merupakan anak dengan kelebihan yang luar biasa. Sehingga, Orang-orang banyak yang mengincarnya untuk di manfaatkan. Akankah kecerdikan anak genius ini mampu melindungi sang ibunda? Bagaimana kelanjutan kisah antara ibunda dengan ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_Ifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu Dengan Arila
*Kos-kosan Larisa*
"Wati kamu pagi ini tampak pucat, ucap bu Tejo.
"Saya sedikit tidak enak badan bu, mungkin butuh istirahat saja," ucap Larisa.
"Ya udah, hari ini kamu istirahat saja, mumpung lagi ndak banyak pesanan," ucap bu Tejo.
"Bener bu hari ini saya bisa istirahat?" ucap Larisa.
"Iya Wati, daripada kamu drop, ibu juga yang bingung kan nanti," ucap bu Tejo meyakinkan.
"Baiklah kalau gitu saya istirahat ya bu, makasih sudah ngizinin saya libur hari ini," ucap Larisa.
"Iya nak sama-sama, kamu istirahat sana," ucap bu Tejo.
Bu Tejo ini selain baik, juga pengertian sekali. Tanpa bantuan bu Tejo mungkin Larisa akan bingung mau kerja apa kalau harus ngurus anak sendiri. Apa lagi menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus memang butuh pengorbanan banyak.
Larisa hari itu tidak bekerja dan hanya menemani Satrio main di kamarnya, ibu beranak satu itu tampak bahagia melihat anak semata wayangnya tertawa dengan mainannya.
"Sayang bunda bawa pesawat terbang nih, tuh liat wuuushhhh, wahhh dia terbang di atas Satrio," ucap Larisa.
Sorot mata Satrio tertuju pada pesawat kecil yang dibawa Larisa, seketika bayi itu tersenyum melihat apa yang di lakukan ibunya.
"Uluh.. uluhhh anak bunda mau naik pesawat ya nak, nanti Satrio mau keliling dunia naik pesawat ya," ucap Larisa.
"Satrio anak bunda yang ganteng, bunda selalu berdo'a buat kamu. Supaya nanti kamu jadi anak soleh, pinter, berbakti sama orang tua dan bermanfaat untuk orang lain...aamiin."
"Ciluuukkk... baaa.. ciluuuukkk.. baaaaa, anak ganteng.. ganteng bunda.. Anak ganteng ganteng bunda."
Bayi itu terkekeh dengan ucapan bundanya, meskipun tak mengerti, tapi ekspresi bundanya membuat bayi itu tertawa.
Larisa pun membalas tawa anaknya dengan menciumi seluruh wajahnya.
Sepertinya menghabiskan waktu dengan Satrio saja sudah membuat Larisa sembuh sendiri jika tak enak badan.
"Satrio, kamu adalah satu-satunya yang bunda punya di dunia ini, kamu juga adalah semangat bunda sayang...cuuuppp," ucap Larisa.
*Kediaman tuan Galuh*
Jam dingin di kamar Brian sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Arila sudah siap dengan segala yang ia butuhkan untuk pergi ke Bali.
Hari itu Arila nampak sangat bersemangat saat di minta bulan madu oleh mertuanya. Sementara Brian baru saja selesai mandi dan hendak berganti pakaian.
"Mas aku tunggu di bawah ya, kita sarapan dulu sebelum berangkat," ucap Arila.
"Iya sebentar lagi aku selesai," ucap Brian.
Arila menuruni anak tangga dan mendekati meja makan.
"Morning mom and daddy," sapa Arila.
"Pagi sayang, yuk kita sarapan bareng," ucap mertuanya.
Pagi ini adalah moment perdana ia sarapan dengan keluarga Brian sebagai menantu mereka.
"Mom and daddy nanti nitip oleh-oleh apa dari Bali..?" tanya Arila.
"Menantuku ini perhatian sekali mau kasih oleh-oleh," ucap nyonya Sulis.
"Tidak usah Arila, oleh-olehnya cucu aja ya, kita udah ngak sabar pengen gendong cucu, ucap tuan Galuh.
"Baiklah, ayah-bunda semoga setelah pulang dari bulan madu nanti ada kabar baik untuk keluarga ini," ucap Arila.
"Aamiin.. semoga saja sayang, bunda selalu berdoa buat kalian," ucap nyonya Sulis.
Tak lama kemudian, Brian turun dan duduk di samping kursi Arila. Ia menambahkan sepiring nasi untuk sarapan.
"Kalian lagi bahas apa tadi..?" tanya Brian penasaran.
"Ada deh mas, rahasia," ucap Arila.
"Kenapa emang..? apa yang kalian sembunyikan dariku...?" ucap Brian.
"Bukan apa-apa sayang," kami hanya request cucu dari kalian," ucap bundanya sambil tersenyum.
"Jadi ayah dan bundamu ini udah gak sabar jadi eyang kakung dan eyang putri di keluarga ini," ucap tuan Galuh.
"Ayah-Bunda ini buru-buru sekali minta Arila melahirkan, hamil saja belum," ucap Brian.
"Mas Brian... ya gak apa dong request sekarang..!! lagian kita juga mau bulan madu kan honey," ucap Arila.
"Melihat kalian akur seperti ini, ayah bahagia sekali," ucap tuan Galuh.
"Kami berdua memang akur kok ayah-bunda.. hehehe" jawab Arila.
"Sudah hampir jam 7 nih, habis ini kita berangkat ya, aku gak mau kita ketinggalan pesawat," ucap Arila.
"Iya nona cantik," ucap Brian pada Arila.
"Kalian hati-hati ya di sana," ayah selalu do'akan yang terbaik buat pernikahan kalian."
"Terimakasih ayah, kami berangkat dulu yah," ucap Arila cium tangan.
"Brian kamu jaga istri kamu baik-baik ya," ucap nyonya Sulis.
"Iya bun pasti, kita brangkat dulu ayah-bunda," Brian berpamitan.
Meskipun Brian kadang tampak dingin, karena menikah paksa dengan Arila, tapi sejak malam pertama. Brian berusaha menerima juga rumah tangganya dengan Arila, sebagai suami ia pun harus berusaha adil dengan hati dan perlakuannya.
Pukul 07. 30 WIB, mereka berangkat ke bandara kota Bandung untuk melakukan penerbangan ke pulau Dewata. Akhirnya Brian dan Arila tiba di villa dekat pantai Sanur pukul 11.00 siang.
Arila selalu menempel terus pada suaminya sepanjang perjalanan seakan tak mau kehilangan. Kemanapun mereka berjalan, Arila menggandeng tangan Brian dan sesekali merangkul pergelangan tangannya.
Pada pukul 2 siang mereka pergi ke pantai Sanur untuk menikmati deburan ombak di sana.
"Sayang aku bahagia banget bisa honeymoon kesini sama kamu," ucap Arila.
"Ini semua karena Bunda, Arila," batin Brian.
Namun, yang Brian ucapkan hanya, "Berterimakasihlah pada bunda yang memberikan hadiah ini padamu," ucap Brian.
Laki-laki itu teringat Larisa sejenak, ia mengenang moment bulan madunya dulu bersama istri pertamanya.
"Ooh Tuhan, dosa apa yang kulakukan hingga membuat ia pergi," batin Brian menyesal.
Nasi sudah menjadi bubur, Brian terpaksa harus menikahi wanita pilihan orang tuanya. Di satu sisi ia merasa kehilangan, tapi disisi lain ia tetap harus menjalankan kewajiban sabagai suami Arila.
Usai puas bermain ombak, mereka kembali ke villa untuk beristirahat.
"Sayang aku capek, tapi aku seneng banget hari ini," ucap Arila.
"Aku juga capek Arila, aku mandi dulu ya, " ucap Brian.
Usai Brian mandi, giliran Arila yang membersihkan diri. Ia kembali menggunakan make up tipis serta pyama tembus pandang miliknya. Perhatian Brian tentu saja mulai tertuju pada Arila, istri keduanya yang tampak molek itu sungguh menggodanya.
"Mass, aku pengen kasih oleh-oleh nih buat ayah-bunda," ucap Arila.
"Oleh-oleh...?" mereka minta apa memangnya...?" tanya Brian.
"Mass, ayah dan bunda kan udah gak sabar nungguin cucu dari kita," ucap Arila mendekati wajah Brian.
Perlahan Brian mulai merespon Arila yang nampak menggoda, ibarat kucing ketemu ikan yang sudah halal, langsung deh di sikat.
Arila mendekatkan bibirnya dan keduanya menyatu hingga kebas, Arila terus memancing gairah Brian hingga tak bisa berpaling darinya.
"Emmmhhh, masss... enakk mas," ucap Arila.
Malam itu, Arila membuat suaminya tak bisa menolak pergulatan panjang di atas ranjang. Bahkan Arila ingin menggoda Brian setiap malam agar cepat mendapatkan pewaris keluarga. Pertempuran mereka selalu berakhir dengan penyatuan si sprema dan si indung telur.
Beberapa hari mereka menghabiskan waktunya hanya berdua saja di Bali. Tak sehari pun terlewatkan tanpa menggoda Brian. Kali ini, Arila berhasil menaklukkan seorang Brian yang berhati dingin.
"Arila.. kamu hebat ya..! Kali ini kamu sudah menjadi istri Brian yang sesungguhnya, selamat ya Arila," batin Arila di atas ranjang saat melayani suaminya.