follow Ig @rii.ena
Bastian melotot membaca surat yang ada di tangannya, surat cinta yang di terimanya dari anak perempuan berusia dua belas tahun, surat cinta.
" Cih."
Ucapnya jijik.
Bastian melemparkan begitu saja kertas merah jambu itu dilantai, lalu dengan menggunakan sapu dan sekop sampah, Bastian membuangnya ke dalam tong sampah.
Sepuluh tahun setelahnya, Malam setelah mereka menikah, Bastian baru tahu jika perempuan yang baru dinikahinya adalah bocah yang pernah menulis surat cinta padanya.
Apakah Bastian akan menceraikan Istrinya malam itu juga atau Bastian tetap melanjutkan pernikahan itu, secara Bastian sudah tiga kali gagal menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. POV Bastian
Malam ini adeknya Bastian sepertinya nganggur kembali karena Amel yang masih demam.
Baru juga dua kali dipakai, itu juga baru percobaan, sudah harus istirahat lagi.
Amel yang baru minum obat menurun panas, ujung jari telunjuknya scrol layar ponsel dengan serius.
Bastian ikut naik ke atas kasur setelah melipat sajadahnya.
" Masih demam, Mel "
Sembari meletakkan punggung tangannya di dahi Amel.
" Sudah agak mendingan, Mas "
Amel buru-buru turun dari ranjang.
" Mau kemana "
" Ambil buah yang dikasih Mama tadi, kata Mama disuruh banyak makan buah biar gak lemas "
" Memang mau ngapain pakai lemes segala ? "
Hallah, Bastian pura-pura.
" Mau...."
Amel menatap ke arah bagian bawah Bastian, dia sangat penasaran, kenapa Bastian bisa mengulang melakukannya, apa rasanya.
Bastian yang tahu kemana arah pandang Amel, menutupnya dengan bantal.
Amel terkekeh lalu pergi ke dapur.
Dasar genit, tadi pagi kan sudah puas melihat, masih juga penasaran, coba kalau tidak demam, habis kamu Mel.
Bastian mengenyahkan bantal yang menutupi bagian yang di lihat Amel tadi lalu berbaring menyamping.
Setengah jam berikutnya, Amel sudah datang dengan sepiring buah apel dan pir yang sudah dikupas dan dipotong.
Amel membawanya ke atas tempat tidur, kraus kraus kraus.
Bunyi kunyahan buah-buahan di dalam mulut Amel membuat Bastian juga tergoda untuk ikut memakannya.
" Mas, boleh ya aku besok pergi dengan Anwar. "
Bastian menatap malas, begitu terus, Anwar lagi, selalu Anwar dan lagi lagi Anwar.
" Dia teman terbaik dan sudah seperti saudara bagiku, masa' ketika aku mendapatkan nikmat, aku tidak berbagi pada dirinya.
Aku bukan teman yang baik dong ? "
Nikmat yang mana dulu ? Nikmati tubuhmu ? Enak saja.
Bastian menggerutu didalam hati.
Bastian masih tetap diam, hanya tangannya yang terus mencomot potongan buah.
" Besok kebetulan dia libur, jadi bisa mentraktir dirinya.
Kami bisa memakan makanan yang pernah sama-sama kami impikan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang di media sosial "
Sampai hari libur pria itu saja, dia hapal betul.
" Sebenarnya dia bisa sih mentraktir aku nongkrong di cafe lalu nonton film yang sama-sama kami gemari, hanya saja aku gak tega jika gaji yang diterimanya akan sia-sia dihamburkan begitu saja. Belum lagi dia harus mengirimkan uang setiap bulannya pada orang tuanya "
Potongan terakhir buah, masuk ke dalam mulut Amel.
" Kamu dari tadi ngomongin Anwar terus, ngomongin kita-nya kapan ? "
Bastian mendengkus jengkel.
" Apa yang mau diomongin dengan masalah kita ? "
Amel meletakkan piring di atas meja kecil.
" Banyak Mel, tapi tanpa suara atau kata-kata "
Bastian segera mematikan lampu kamar, dia tidak perduli jika Amel masih sedikit meriang.
Bastian hanya ingin melampiaskan kejengkelannya dengan cara yang berbeda.
Amel menarik selimut untuk menutupi badannya yang masih terasa hangat karena meriang.
Permukaan kulitnya sedikit lengket karena keringat Bastian, pria itu sudah hampir tertidur setelah kegiatannya barusan.
Aktivitas yang masih Bastian saja yang menikmatinya, Amel belum merasakan karena bagian sensitifnya masih belum merasa nyaman, atau karena Bastian yang tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu sehingga Amel belum siap ? Bisa juga karena kondisi badannya yang masih belum fit.
Amel kembali mengambil ponselnya, mencari tahu tentang hubungan suami istri. Kenapa dia masih belum bisa merasakan aktivitas tersebut.
Amel kesal, dia merasa aneh dengan tubuhnya.
Ketika Bastian hanya sekedar menciumnya, Amel merasa melayang. Tetapi ketika Bastian melakukan itu, kenapa Amel merasa tidak nyaman.
Amel terus menerus mencari informasi sampai matanya letih dan tertidur dengan ponsel yang masih menyala.
...******...
POV Bastian
Aku sengaja pura-pura tertidur hanya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Amel setelah aktivitas panas-ku tadi.
Aku tahu kalau aku egois dan jahat karena setelah aku berhasil menyentuh Amel, istriku belum pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri.
Bukan apa-apa, kalau yang pertama wajar saja, dia kan masih kesakitan. Apalagi mulutnya bawel, mana ada pasangan yang sedang melakukan ritual malam pertamanya banyak berbicara, itu pasti cuma Amel sendiri.
Nah tadi pagi, siapa yang tidak tergoda melihat istri sendiri tidur gak ada manis- manisnya.
Dasternya sudah naik sebatas pinggang, jangan lupakan pemandangan apa yang ada dibalik kain kecil segitiga itu. Siapa yang bisa tahan, apalagi aku baru sekali melakukannya malam tadi bukan ? Gak ada salahnya aku nambah pagi ini, mumpung tenaga masih full dan biar Amel segera hamil.
Mengetahui Amel tadi meriang, aku tahu jika itu bukan demam biasa. Itu pasti akibat hubungan pertama kami.
Aku jengkel setengah mati ketika bibir sensualnya itu terus menerus menyebut nama temannya.
Apa dia gak tahu kalau aku tidak suka.
Aku tahu jika pria itu menyukai istriku, dia saja yang tidak tahu atau pura- pura tidak tahu ?
Aku laki-laki, dan lewat sorot matanya bisa kulihat kalau dia cemburu padaku karena Amel menikah denganku.
Sebenarnya sih gak tega untuk menyentuhnya lagi tadi, cuma hatiku panas saja, mendengar dia meminta izin ingin menemui pria itu dan mentraktirnya.
Bukan masalah uangnya, tetapi membayangkan dia menghabiskan banyak waktu menikmati wajah Amel dengan imajinasi liarnya, dan tertawa-tawa. Membuat aku ingin berteriak melarangnya, tapi aku kuatir Amel akan ketakutan.
Apa aku gak yakin jika cinta Amel hanya untukku ?
Tentu saja, aku tidak bodoh.
Amel hanya jatuh cinta sesaat atau sekedar terpesona ketika masih masa pubertas, itu bukan cinta sebenarnya.
Dia tidak mengenal aku, saat itu dia hanya membutuhkan figur seorang ayah.
Amel menerima lamaran-ku hanya karena dendam ingin melihat aku kecewa setelah tahu siapa dirinya.
Dia salah, aku tidak perduli dia bocah yang pernah aku hina dulu atau bukan.
Aku yang sudah sangat ingin menikah, di sodorkan oleh Joko perempuan yang masih muda, mulus dan cantik, bodoh kalau aku menolak.
Aku tahu jika dia belum bisa merasakan rasa yang membuat aku candu dan ingin mengulanginya terus, itu karena aku kesal dia menyebut temannya terus.
Tapi aku berjanji, lain kali aku akan melakukannya dengan lembut dan tentu saja aku akan menyenangkan dirinya terlebih dahulu.
Kasihan dia, sampai harus searching segala.
Memang benar-benar lugu dia, saking polosnya sampai enggak tahu jika sahabatnya itu pasti sudah menyukainya lebih dari sekedar teman.
Setelah memastikan bahwa dirinya sudah tidur, aku bergeser mendekati tubuhnya, kami berdua masih sama-sama dalam keadaan polos, berharap nanti malam bangun atau besok menjelang subuh untuk melakukannya lagi.
Dan saat itu aku pastikan dia akan merasakan seperti apa yang aku rasakan.
Kupeluk tubuh polosnya dengan sayang.
Aku tahu jika aku sudah jatuh cinta pada dirinya, tapi biarlah untuk sementara cukup aku simpan di dalam hatiku saja.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...