Rosi seorang gadis yang nakal, peminum, perokok dan menyukai dunia malam. Tanpa sengaja menikahi seorang Duda pendiam, dialah sang Sugar Daddy langganannya untuk sebuah kencan palsu.
Duda pendiam ini tidak menyukai Rosi sedikitpun, dia hanya menginginkan Rosi selalu bersamanya dan membayar Rosi dengan uang yang sangat banyak. Rosi adalah anak SMA kelas 2 di suatu sekolah swasta di Kota. Kehidupannya yang berliku membawanya, menjadi wanita muda yang liar di gelapnya dunia malam.
Karena tuntutan dunia elit yang gila, dia terpaksa menjadi simpanan seorang Sugar Daddy yang pendiam dan selalu membayarnya dengan sangat memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Mustika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMSD-16 : Tuan Burger Tampan?
#Plagiarisme tidak author benarkan, author akan menuntut orang yang mengklaim hasil karya author.
#Selamat membaca😍😘
Rosi meminta satpam memasukkan boneka-boneka kemenangan Juna kedalam mobil. Sekretaris David memerhatikan tingkah Rosi sembari terus memainkan hpnya.
"Sudah siap, ayo" seru Rosi pada sekretaris David
sekretaris David yang tegap mengangguk dan kemudian masuk kemobil.
Setiba dirumah Rosi memerintahkan satpam rumah untuk membawa boneka-boneka itu kekamarnya. Dia menyusunnya diatas tempat tidur, tapi tidak muat. Jadinya ia menata boneka-boneka tersebut diatas tempat tidur David, setelah lelah seharian, Rosi memesan lemari mauble disalah satu situs belanja online. Ia puas dengan pilihannya. Setelah itu ia mandi di bath up sembari memainkan gelembung sabun. Ia berusaha meyakinkan dirinya untuk menganggap Juna hanya sebatas teman lama. Karena ia tidak mau menghianati David. Selesai membersihkan diri Rosi melangkah cantik dengan handuk kimononya memilih baju tidur yang ia akan kenakan. Rosi lalu turun untuk makan malam, sepiring pasta ia lahap dengan bersemangat. Ketika hati terasa nyaman maka makan apapun baginya terasa enak. Rosi lalu mengupas apel dan memakannya sembari berjalan kekamar tidur.
Klik..! Rosi membuka kulkas skincarenya, dan mengambil beberapa produk, setelah mengaplikasikan rangkaian skincarenya ia memakai masker sembari memainkan hpnya. Malam ini ia berniat membuat akun Instagram baru dengan nama Mrs.Mawar, tak lupa ia mendengarkan musik. Tiba-tiba
Cringgg.... sebuah permintaan mengikuti masuk dari seseorang bernama Tuan Pangeran, secepat kilat disetujui oleh Rosi. Tiba-tiba ia kembali dikejutkan dengan notif dm dari Tuan Pangeran
"Hai."
"Hai jg" balas Rosi
"Aku Juna, kalau kamu mau saya jadi teman kamu balas chat ini. Kalau tidak blokir saja😢"
Deggh...!! ternyata itu adalah akun Juna!
Rosi langsung terbelalak dan membuka maskernya, ia ragu antara harus memblokir Juna atau berteman karena ia sangat kesepian. Setelah 1 jam berfikir akhirnya Rosi memblokir akun Juna.
Juna yang sedang tidur dikasur terkejut ketika ia tidak bisa lagi melihat profil Rosi. Aduhhhh ia menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu berterus terang dengan perasaannya. Sungguh ia benci kebiasaannya yang selalu cepat mengambil tindakan ini, kenapa ia tidak mendekati Rosi perlahan-lahan? kenapa tidak bersabar? Aduhh.
Rosi langsung menutup hpnya, dan berusaha tidur dengan memakai kacamata tidur. Tapi tidak bisa! ia kasihan pada Juna. Sungguh ia sangat arogan, hei Rosi kau pikir kau ini siapa? Boneka tadi dari siapa? Apa salahnya berteman? Toh ini hanya pernikahan pura-pura? Kenapa tidak mencoba bahagia sedikit? Batin Rosi memberontak dengan sikapnya yang berusaha menghargai David sebagai suaminya. Tapi, aaahh akhirnya Rosi membuka pemblokiran Juna dan mengetik.
"Ya oke"
hanya itu, 2 kata-kata ambigu. Sungguh ia sangat jaim dan tidak mau memberikan peluang secara langsung pada mantan terindahnya itu.
Juna yang diseberang sana, memukul wajah tampannya berkali-kali dengan bantal bulu angsanya yang lembut. Tiba-tiba
Cringg.... ada notif di hpnya, secepat kilat ia melihat. Ternyata chat dari Rosi, ia mengucek matanya tak percaya. Meskipun balasan singkat yang ia terima tapi ia sangat senang bukan kepalang, sampai melompat-lompat kegirangan diatas kasurnya.
Segera ia membalas "Boleh minta no wa kamu gak?" ketik Juna, ia merasa aneh karena mendekati pacarnya sendiri dari awal lagi, dan sekaligus menggoda istri orang. Tapi rasa kasih sayang didalam dadanya yang bertumbuh subur tidak bisa dikalahkan oleh logika. Cinta adalah pemikiran irrasional. Setiap orang tidak bisa memilih melabuhkan cinta kehati siapa, tapi ketika hati memilih cinta maka siapapun tidak terlalu dipertimbangkan.
Rosi ragu antara memberi wa-nya atau tidak, tapi ia berusaha meyakinkan hatinya kalau ini hanya teman. Ia lalu memberikan kontak wa-nya pada Juna. Ia pasrah dengan keputusannya, ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan terus menerus. Malam itu Rosi telfonan dengan Juna sepanjang malam, membicarakan tentang mereka masing-masing. Rosi akhirnya tertidur ketika Juna sedang berbicara, Juna sama sekali tidak mematikan telfon karena takut kalau Rosi akan bangun. Ia lalu tersenyum dan menarik nafas lega. Akhirnya hubungannya bersama sesorang yang ia cintai kembali membaik, meskipun hanya menjadi seorang teman tidak apa-apa baginya itu sudah cukup. Cintanya yang tulus tidak apa-apa jika tidak dibalas, karena bagi Juna membuat Rosi tersenyum sudah membuat dirinya bahagia walaupun disamping itu ia menyakiti dirinya sendiri dengan berharap pada sesuatu yang tak pasti.
Beberapa kali Rosi mengigau, Juna tersenyum mendengarnya jam 2 pagi Rosi masih saja mengigau, Juna sabar menemani Rosi, beberapa kali ia menguap tapi ia berusaha untuk tetap terjaga. Air mata menetes diwajahnya ketika menguap, kemudian ia meletakkan handphone disampingnya sembari memeluk guling bergambar wajah Rosi. Malam yang dingin menambah lelap tidur Rosi dan Juna, perasaan masing-masing mereka lega karena akhirnya sudah berdamai dengan hati mereka masing-masing. Hujan turun dengan lebatnya Juna tidak menyadari si abang masuk kekamarnya sembari menyelimuti Juna. Ia kemudian tidak sengaja melihat hp Juna yang masih aktif, terlihat wa Rosi sedang dalam panggilan. Abang Juna menyalin sesuatu dari wa tersebut ke hpnya secara cepat kemudian meletakkan kembali hp tersebut ketempat semula.
Keesokan harinya Rosi bangun dan terkejut melihat panggilan masih terhubung, ia langsung mematikan telfon itu dan menepuk-nepuk keningnya, ia takut berbicara yang tidak-tidak ketika tidur pada Juna. Rosi langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia melihat jam menunjukkan pukul 8.15, ia takut terlambat berangkat kekantor. Katika sudah siap ia langsung memasukkan alat make upnya kedalam tas. Didepan Rumah sudah terlihat sekretaris David menjemputnya.
"Maaf saya terlambat"
"Tidak apa bu" Jawab sekretaris David sembari membuka pintu mobil Rosi, di dalam mobil Rosi memakai make up dengan hati-hati. Ia tidak sempat berhias diri dikamar jadinya ia make up didalam mobil.
Sesampainya di depan Perusahaan
Kruykkk....! perut Rosi bunyi minta diisi. Sekretaris David melihat kearah Rosi
"Maaf saya sarapan dulu ya!" kata Rosi tiba-tiba,
"Baik bu" Rosi berlari kesebrang perusahaan di cafe shop Juna ia memesan sarapan. Entah kebetulan dari mana Juna berdiri dibelakangnya
"1 burger, 1 susu hangat" seru Juna
"Baik pak" jawab kasir cafe
Rosi seperti mendengar suara yang familiar, ia menoleh ternyata Juna!
"Wah kebetulan ada kamu" kata Juna cepat sebelum Rosi bicara.
Juna dan Rosi lalu sarapan bersama dimeja favorit Rosi. Juna tidak terlalu memerhatikannya karena sibuk dengan burgernya. Rosi memandang Juna sekali-kali, ketampanan Juna membuat beberapa wanita didalam cafe melihat kearahnya, Rosi melihat sekeliling dan berdehem
"Ehm ehmm"
"Ya" jawab Juna seakan Rosi bicara dengannya
"Tidak" jawab Rosi mengelak, semua orang yang melihat Juna kemudian kembali beraktivitas seakan-akan tersadar oleh suara Rosi.
"Ada sesuatu di hidungmu" Juna mengelap hidung Rosi yang terkena saus burger. Rosi termenung melihat perhatian Juna. Dalam hatinya berbisik seandainya David memiliki sifat seperti Juna maka hidupnya akan sangat bahagia. Juna melihat Rosi, kedua mata mereka bertemu kemudian Juna menunduk.
"Maaf aku tidak sengaja menatapmu"
"Ohh tidak apa!" seru Rosi
Yess dalam hati Juna senang Rosi tidak terganggu dengannya.
(Bersambung)