Masih ingat dengan saya kan? Ya Jihan aulia dan suami saya Zain Musthofa
Hm.... di season ke 2 ini, cukup ngeri ya judulnya , tapi gak papa, mudah mudahan banyak juga pembacanya Amin...
Okey... Sepulang dari ibadah haji, keromantisan kami makin bertambah, apa lagi bang Zain, semakin hari semakin bucin dan lengkat dengan gue, begitu juga dengan gue yang makin bucin dan gak mau jauh dari beliau
Dan gue pikir itu akan berlangsung dan terus romantis dan makin bucin sampai tua nanti, apa lagi kejutan demi kejutan yang sering kami berikan secara bergantian , kebahagiaan yang terus kami dapatkan setiap saat setiap hari, ditambah putra kami Muhammad Haidar Al-Musthofa yang makin aktif dan lucu tentu menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami
Tapi... Rencana,Ujian dan Rahasia Allah tidak pernah ada yang tau,
Ya.... di tengah kebahagiaan keluarga kami, Ujian dan cobaan yang luar biasa datang, yang membuat DERAI AIR MATA yang luar biasa
Gimana kisahnya...??
Hayuk pantengin terus novel nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zain yang manja
Hari kian berganti, sudah sebulan Jihan praktek di salah satu rumah sakit terdekat di daerahnya, dan Jihan setiap harinya muter untuk menjalankan aktifitas nya mulai dari mengerjakan sekripsi 2 fakultas, di tambah menyusul materi, masih praktek di rumah sakit, balum lagi ngurus butik, dan masih di sempatkan untuk menyelidikti kasus suaminya, Dan semua itu Jihan lakukan untuk keutuhan rumah tangganya
Jihan tidak mengenal lelah, tidak mengenal letih, yang ada hanya Jiwa berjuang dan semangat yang dia geluti, sama halnya dengan kisahnya beberapa tahun lalu, ketika masih berjuang di madrasah psantren dan sekolah dulu, tanpa peduli dengan putus asa,
Kalaupun Jihan capek dan lelah, dia hanya butuh istirahat sejenak dengan memeluk buah hatinya, baby Al yang makin hari makin cerdas dan makin gemoy,
Baby Al penyemangatnya, baby Al penguatnya, hanya dengan memeluk baby Al, rasa capek dan lelah Jihan hilang seketika, dan lebih beruntungnya baby Al gak pernah protes dan rewel sewaktu di tinggal Uminya yang kadang sampe larut malam berada di depan laptop
Dan pagi ini, sekitar jam 5 pagi Jihan udah selesai sholat subuh udah mandi dan juga sudah siap untuo ke rumah sakit, karena ada jadwal prektik oprasi di nanti jam setengah 7 pagi
Baby Al masih tertidur nyenyak di atas kasur, Dan Zain baru saja selesai dzikir, kemudian mendekati Jihan yang masih berada di depan meja Riasnya
Zain datang dengan memeluk Jihan dari belakang, Jihan tersenyum melihat pantulan wajah manja suaminya dari kaca di depannya
" Harus sekarang berangkatnya..?" tanya Zain yang sangat kangen dengan Jihan
Karena setiap hari Jihan terlalu sibuk dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi, Zain hanya melihat gerak gerik Jihan yang sangat sibuk, bahkan saat weekend juga Jihan tak henti hentinya berada di dalam ruang kerja suaminya
Zain berjongkok dengan terus memeluk perut Jihan yang sangat rata dan raming, Jihanpun memutar tubuhnya dan menghadap pada Zain yang masih manja padanya
" Heem... Ada jadwal oprasi bagi ini sayang.." jawab Jihan lembut dengan mengelus wajah brewok Zain
" Abang masih kangen..." ucap Zain dengan menyandarkan kepalanya di pangkuan Jihan
" Sabar ya, kita berjuang sama sama, suatu saat akan indah pada waktunya" ucap Jihan lembut
Mendengar jawaban Jihan, Zain tidak berani berkomentar lagi, Zain menghargai banget pengorbanan Jihan saat ini, Zain tau Jihan berkorban demi dia, demi rumah tangga mereka
" Ya udah Adek berangkar dulu ya sayang... Belum brifing soalnya" ucap Jihan saat pamit
" Bentar aja sayang, Abang ingin begini dulu, bentar ya" jawab Jihan masih enggan beranjak dari pengkuan Jihan
Jihan menjawab dengan mengangguk serta tersenyum, tangannya terayun untuk mengelus rambut suaminya,
5 Menit sudah Zain kepala Zain berada di pangkuan Jihan, lucu sih memang, padahal setiap malam keduanya tidur dengan saling pelukan, tapi memang kurang lama bagi Zain yang sering kali ingin bergulat lebih lama
" Adek telat nanti Bang..." ucap Jihan lembut dan berhasil membuat Zain mengangkat kepalanya
Zain tersenyum dan berdiri, kemudian dia mencium sekilas pucuk kepala Jihan, Jihan menyanbar tasnya yang sudah di siapakan, dan tak lupa dia juga menyambar jas putih sebagai sragam dari profesinya saat ini
Keduanya berjalan berdua keluar dari akamr dan menuruni anak tangga, Zain mengambil kunci mobil milik istrinya,
Dan Zain segera kegarasi dan mengeluarkan mobil serta memanasi mesin mobil Jihan terlebih dahulu, di pagi yang masih terlihat gelap ini
Menunggu mesin mobil panas, Zain menghampiri Jihan yang sedang mengenakan kaos kaki di meja ruang tengah keluarganya
" Hati hati ya... Jangan capek capek, jangan lupa istirahat juga, jangan lupa sarapan juga, " ucap Zain dengan memandang lekat wajah istrinya yang menurutnya semakin hari semakin cantik
" Iya Abah Sayang...." jawab Jihan lembut dengan tangannya yang kembali membelai lembut wajah Zain
" Ya udah kalau gitu Adek berangkat dulu ya, nitip anaknya, Abang juga semangat kerjanya, okey..." ucap Jihan menadahkan tangannya pada Zain
Zain tersenyum dan menerima tangan Jihan, kemudian dengan lembut Jihan mencium tangan Zain, seperti biasa spontan Zain memberi kecupan lembut di pucuk kepala Jihan
Zain mengantar Jihan sampai depan, hingga mobil Jihan keluar dari gerbang rumahnya
" Maafkan Abang ya sayang, gara gara Abang Adek harus mengejar secara kilat kuliah Adek.." ucap Zain merasa bersalah dengan kegiatan Jihan yang cukup padet baginya
Sekitar jam 9 pagi, Jihan baru selesai malakukan oprasi yang di dampingi oleh dokter specialis dalam, dan juga dokter bedah yang lagi seminar di sana,
Beliau dalah dokter Albi dan dokter Danis, yang berasal dari kalimantan, setelah oprasi mereka meminta pada Jihan untuk ngobrol sejenak di kantin rumah sakit sambil sarapan pagi
" Oh ya Jihan ini ceritanya praktek untuk mengambil S2 apa gimana?" tanya dokter Albi pada Jihan
Karena dokter Albi melihat kemampuan Jihan sangat praktek sungguh luar biasa, cekatan ulet dan pokoknya cak cek cak cek, tau mana yang harus di kerjakan
" Oh.. Bukan dok, maaf sebelumnya , saya ini justru masih semester 6 dan bahkan belum lulus S1" jawab Jihan sopan dengan tersenyum ramah
" Yang benar aja dek?" ucap dokter Danis tidak percaya
Dokter Danis ini adalah adek dari dokter Albi, dan mereka bekerjasama dan memiliki runah sakit di salah satunkota di kalimantan
" Iya dokter, dan saat ini saya menyelesikan prektek saya di semester ini, dan doakan saja semoga bisa lancar dan segera lulus" jawab Jihan meminta doa
" Amin amin amin... Nanti kalau udah lulus, langsung hubungi kami ya, nanti kamu langsung bisa bekerja di Rumah sakit milik kami" ucap fokter Albi menawarkan pada Jihan
" Amin... Insyaallah kalau itu ya dok, saya gak bisa janji, soalnya saya sendiri harus minta izin terlebih dahulu kepada suami saya" jawab Jihan masih dengan sopan dan sangat ramah
Tentu lagi lagi membuat keduanya kaget, karena Jihan yang masih sangat terlihat muda, ternyata sudah mempunyai suami
" Lho udah menikah Dek?" tanya dokter Danis kaget
" Sudah dokter, saya malah sudah mempunya 1 putra" jawab Jihan terus terang
" Gak nyangka ya Bang ya, masih muda lho" ucap Danis dan di angguki dokter Albi
" Kalau boleh tau Umurmu berapa nak?" sambung dokter Albi
" Saya baru menginjak 21 tahun dok, baru 2 hari yang lalu" jawab Jihan lagi dengan mulai cair dan santai
" 21 tahun ? " ucap dokter Albi dan Dokter Danis kompak karena kaget lagi, dan Jihan hanya mengangguk sebagai jawaban
" Tunggu tunggu Nih... 21 tahun, udah mau S1, udah mempunyai anak 1, masih muda lho, anakmu umur berapa nak?" tanya dokter Albi mulai kepo
" Anak saya masih kecil dok, baru 1 tahun 3 bulan" jawab Jihan satai
" Berarti kamu punya anak umur 19 tahun dong?" tanya Dokter Danis dan Jihan kembali mengangguk
" Terus nikahmu Umur berapa?" saut dokter Albi
" Berapa ya, kok udah lupa ya dok, kebanyakan bau obat jadi lupa, pokoknya waktu itu Jihan masih sekolah SMA, sekitar 16 tahun" jawab Jihan santai
Karena sang dokter tadi sempet meminta pada Jihan untuk santai dan ngobrol seperti biasa, dengan teman teman, supaya tidak terlalu sepaneng,
Dan jujur saja 1 bulan terakhir ini Jihan sangat sepaneng dan cukup tegang mengerjakan aktifitas kesehariannya yang cukup padat
persis kaya bojo ku klu pkai dapur