Kebiasaan buruknya dalam berjudi, membuat dirinya terpuruk dalam kesulitan.
Di kejar kejar Dep colector kelas mafia, membuat hidupnya, mati segan hidupu pun tak mau.
Hingga di penghujung kebuntuanya, Dylan harus bertarung melawan para Dep Colector hingga membuat nyawanya melayang.
Ikuti terus kisahnya Cuy .... Ok.
Klik favorite dan kasih like and ratenya juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIR MATA DIANA
"Bagaimana Jack, apa kau sudah datang menemui Darwin anaku?" tanya Thomas ketika Jack baru saja kembali ke apartemenya.
Jack merebahkan dirinya di sofa apartemenya sambil melihat langit langit dengan handphone yang ia tempelkan di telinganya.
"Tenanglah Paman, aku sudah menemui Darwin dan memberikan uang padanya cukup banyak." jawab Jack.
"Jack, apa kau bisa mengatur rencana agar Darwin bisa menemuiku dan Diana?" tanya Thomas penuh harap.
"Ha..ha..ha, tentu saja bisa Paman." jawab Jack.
"Hentikan tawamu yang tidak bermutu itu, dan sekarang kau atur sebuah rencana agar Darwin bisa menemuiku di jerman!" titah Thomas dengan serius.
"Oke, Paman. Secepatnya akan ku atur jadwal pertemuan kalian." jawab Jack yang membuat Thomas bernafas lega.
"Baiklah, aku tunggu informasi selanjutnya darimu." ucap Thomas seraya mengakhiri panggilan teleponya.
Jack menghela nafas dalam dalam dan menghenmbuskanya sambil menggeleng kepala.
"Kenapa aku yang jadi repot begini, hadeh." Jack menepuk jidat sambil menggelengkan kepala.
Jack mengustirahatkan matanya yang terasa begitu melelahkan.
Sementara di lain tempat, Alexa terlihat sedang mencoba menidurkan si kembar yang sudah terlihat kelelahan dalam bermain.
"Kenapa sampai saat ini belum ada kabar dari Erick?" Alexa memandang ke arah jam dinding yang berada di dalam kamarnya.
Apa jangan jangan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya?
"Semoga Erick baik baik saja, entah kenapa aku jadi khawatir seperti ini."
Alexa membenarkan selimut yang menutupi badan si kembar, kemudian mencium kening keduanya sebelum ia pergi keluar meninggalkan kamarnya.
Sementara, Erick yang telah menerima uang hasil penjualan rumah, dirinya tak ingin lagi membuang waktu. Erick memutuskan mengambil kunci mobil untuk pergi menuju rumah sakit malam itu juga.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Erick akhirnya bisa sedikit tersenyum setelah hampir seharian penuh di warnai ketegangan.
Terima kasih Tuhan, akhirnya kau telah mempermudah jalan untuk hambamu ini.
Erick sepintas teringat pada kedua putri kecilnya yang kini sedang berada di kediaman Alexa.
"Sedang apa kira kira mereka sekarang?" tanya Erick pada dirinya sendiri.
Dan tak berselang lama, handphone yang tersimpan di dalam saku kemeja Erick tiba tiba berdering.
Dan Erick segera menepikan mobil yang di kendarainya.
"Hallo, nona." Sapa Erick di dalam sambungan teleponya.
"Hallo juga, Erick." jawab Alexa.
"Maafkan telah merepotkanmu, nona." Erick yang merasa tidak enak.
"Ha..ha..ha, tenang saja Erick. Aku tak pernah merasa di repotkan oleh si kembar." jawab Alexa dengan santai.
"O ya, apakah mereka sudah tertidur?" tanya Erick.
"Sudah, mereka sudah tertidur lelap." jawab Alexa yang membuat Erick kini merasa sedikit nyaman.
Perbincangan antara Alexa dan Erick terasa bagaikan air yang mengalir, hingga membuat mereka lupa akan waktu yang sebentar lagi akan menjelang pagi.
Sementara di negara lain, tempat dimana Thomas muller berada, terlihat seorang wanita sedang duduk di atas tempat tidurnya sedang menangis sambil memeluk sebuah figura foto dua anaknya yang kembar yang sampai ini hilang dan belum bisa di temuinya.
"Sayang, mama sangat merindukan kalian." Diana kembali memandangi wajah Daren dan Darwin di dalam fotonya sambil menangis.
Sedangkan Thomas yang sudah berdiri sedari tadi memperhatikan Diana, dirinya juga ikut meneteskan air mata. Hatinya terasa teriris sembilu menyaksikan istrinya yang selalu bersedih atas kedua putranya yang kini menghilang di depan matanya.
semoga kalian selalu bahagia.. 🥰🥰😍
lanjut baca👍👍
ngangkang tuh jalan
ko tamat