📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
“Buruan Di!” Mama muda di sampingnya itu jelas terlihat panik.
“Sabar kek Fre. Kamu nggak liat di depan padat merayap gitu apa?” Balas Ardi.
“Aku takut Sakha kenapa-napa. Rada di cepetin dikit deh.”
“Iya, iya bawel. Makanya kan udah aku bilangin kita nggak usah ikutan acara reuni. Ngenyel sih.”
Setibanya di rumah Freya langsung mengghampiri putranya yang ternyata sudah tak menangis lagi. Anak itu sedang bermain di temani kakaknya.
“Huh…” Freya membuang nafasnya lega.
“Kata Ardi Sakha rewel Ma?” tanyanya pada Mama Ratna.
“Jangan-jangan kamu bohong yah Di?” tuduhnya pada Ardi.
“Gila kamu yah, mana ada aku bohong soal gituan Fre. Yang waras aja kamu.”
“Tadi Sakha emang nangis terus Fre, dia kebangun kamu nggak ada. Susah di tenanginnya. Mama telpon kamu nggak diangkat, jadi telpon Ardi. Eh nggak taunya dia mau diem kalo diajak maen sama kakaknya.” Tutur Miya menjelaskan.
“Iya makasih Ma udah jagain anak aku.”
Freya melirik jam dinding sudah pukul sembilan malam. Ia pun mengajak kedua anaknya untuk tidur.
“Kesayangan Mama kita bobo yuk udah malam.” Ajaknya pada Retha dan Sakha. Kedua anak itu menurut dan berjalan ke kamar saling bergandeng tangan. Retha benar-benar menjadi kakak yang bisa diandalkan.
“Kamu juga tidur Di. Pasti cape banget dari tadi belum istirahat.”
Di kamar Freya mencari ponselnya untuk menghubungi Arka, karena putrinya ingin mengucapkan selamat tidur untuk sang papa.
“Cepetan Mama, Retha mau bilang selamat bobo ke papa.” Rengek Retha saat Freya belum juga memberinya ponsel.
“Caka uga mau omong papa…” timpal si adik ikut-ikutan.
“Iya bentar sayang. Mama lagi cari ponselnya nih nggak ketemu. Bentar yah mama pinjem ponsel daddy Ardi aja.”
Freya keluar dari kamarnya, beralih mengetuk kamar kamu tempat Ardi tidur.
Tok…tok…
“Ardi keluar bentar, pinjem HP.” Teriaknya dari luar.
Ardi membuka pintu, adik iparnya itu sudah mengenakan celana pendek dan kaos santai, sepertinya sudah mau tidur.
“Apaan sih Fre? Katanya tadi suruh istirahat. Belum juga tiga puluh menit berlalu udah main gedor aja.”
“Kayaknya HP aku ketinggalan di cafe deh Di. Ambilin gih, terus aku pinjem HP kamu dulu. Anak-anak pengen nelpon papanya.” Ucap Freya sedikit memohon.
Huft… Ardi hanya membuang nafasnya kasar kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Tak lama dia kembali, sudah berganti dengan celana jeans panjang.
“Nih pake Hp aku. Telpon temen kita yang masih stay di sana suruh nitipin HP kamu ke kasir aja. Takutnya aku sampe sana acara reuninya udah bubar. Sekarang udah jam setengah sepuluh sampe sana paling setengah sebelas malam.” Tutur Ardi sambil berlalu meninggalkan Freya.
“Makasih daddy Ardi. Sorry yah selalu bikin kamu repot.” Teriak Freya.
“Sama-sama Mama Freya. Tenang aja, udah biasa direpotin sejak dulu kok.”
Sebenarnya Ardi sudah lelah dan ingin istirahat tapi apalah daya dia tak pernah bisa menolak permintaan kakak iparnya. Dengan malas Ardi membelah jalanan yang kian ramai meskipun sudah malam.
Susuai dugaannya, setibanya di cafe acara reuni sudah berakhir. Ardi tak melihat satu pun teman sekelasnya di sana. Kata Freya sih dua tahun terakhir acara reuninya nggak pernah berlangsung lama soalnya udah pada sibuk sama keluarga maisng-masing. Tak pikir lama Ardi menghampiri meja kasir dan menanyakan HP Freya. Benar saja HP kakak iparnya ada di sana. Setelah mengucapkan terima kasih Ardi memesan segelas kopi untuk meredakan kantuknya. Ia melilih tempat di luar, dekat dengan mobilnya yang terparkir. Memandangi sekitarnya, banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu bersama pasangan.
Di sisi lain, Miya yang sedang membahas progress usaha masih bergelut dengan tumpukan dokumen serta memperhatikan manajer yang sedang mempresentasikan laporan keuangan dari tahun ke tahun. Detik waktu sudah menunjukan angka sebelas kurang seperempat.
“Gimana kalo lanjut besok aja Mbak Miya? Udah malem banget ini.” Ujar manajer bergitu selesai dengan presentasinya.
“Iya udah kita lanjut besok. Terima kasih untuk semuanya.” Jawab Miya. Dia membereskan beberapa berkas yang akan ia lanjut pelajari di rumah.
Setelah berpamitan dengan semua staf, Miya keluar dari ruang office. Ia juga tersenyum ramah pada setiap karyawan yang menyapanya.
“Sibuk emang cara terbaik untuk mengalihkan pikiran tentang kamu, Di.” Gumamnya sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. “Nggak kerasa udah hampir tengah malem aja.” Imbuhnya.
Miya berjalan ke parkiran, sebelum masuk ke dalam mobil sekali lagi ia memandangi cafe yang begitu ramai. Matanya menyapu setiap sudut teras cafe yang dipenuhi oleh muda mudi. Kini matanya terpaku pada lelaki yang mengenakan kaos navy sedang menatapnya dalam diam.
Seketika berkas di tangan kanan Miya jatuh berantakan, tumbuhnya mendadak serasa kehilangan penyangga hingga ia menyandarkan diri di samping mobil.
“Dia…” gumam Miya, “aku nggak salah liat kan?”
Miya masih memandang lelaki yang kini mulai beranjak dari duduknya. Terlihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Rasa gugup dan tak tak harus berbuat apa kini mendera Miya. Gadis itu mulai menggigiti kukunya sendiri. Hal yang biasa ia lakukan sejak dulu setiap kali panik.
Miya hanya bisa memandangi lelaki yang sedang memunguti berkasnya yang berjatuhan di depannya.
“Kamu Ardi kan? Ardi Rahardian nya Kamiya Maulida?” batin Miya sambil terus memandangi lelaki itu.
Miya menghapus air mata yang membasahi pipinya, kini ia berusaha setenang mungkin. Ingin rasanya ia memeluk Ardi sekarang juga. Tapi ia sadar, ia merasa tak memiliki keberanian seperti dulu. Mengingat bagaimana ia meninggalkan Ardi saat itu.
Pergilah, gue bakal tetep di sini. Tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. Gue pastiin nggak akan ada ‘kita’ lagi
Kalimat terakhir yang Ardi ucapkan selalu terngiang di kepala Miya. Kemarin saat di Singapura ia begitu bersemangat untuk untuk kembali pada Ardi. Tapi kini saat lelaki itu ada di hadapannya dia kehilangan keberanian dan malah merasa dirinya benar-benar tak layak untuk Ardi.
“Mbak!” satu panggilan membuyarkan pikiran Miya.
“Mbak nggak apa-apa kan? Ini berkasnya.” Ardi berdiri di hadapan Miya dan menyerahkan berkas yang berjatuhan tadi padanya sambil tersenyum.
Miya menerima berkas itu dalam diam. Sekali lagi ia memastikan apakah lelaki di hadapannya benar-benar Ardi nya. Tapi suara dan tatapan itu, dia benar-benar mengenalinya. Tapi mengapa Ardi malah memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’ seolah mereka tak saling kenal.
Sekali lagi Ardi hanya tersenyum sebelum akhirya berjalan menjauh dari Miya.
“Ardi…” Miya memanggilnya dengan suara yang sudah terisak menahan tangis.
semuanya👍👍👍👍👍