Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ranti
Untuk kesekian kalinya Aruna memijit pelipisnya yang semakin berputar, bersandar di dinding, beristirahat sejenak guna memulihkan tubuhnya yang terasa lemas. Makan pagi yang dia abaikan, dan makan siang yang tidak sempat dia lakukan, sibuk dengan pengunjung toko yang tak berhenti datang karena sale yang menjadi rebutan.
"Run, ada yang nyariin."
Tubuhnya menegak, menoleh arah suara yang ada dibelakangnya,"Siapa?" Tanyanya pada si Dedi kasir.
"Cewek Sexy...." Dibukanya pintu yang menghubungkan dapur ke area depan toko,".... tuh yang pake dress mini." Tunjuk Dedi pada seorang wanita yang duduk membelakangi.
"Aku tinggal sebentar nggak papa?" Pinta Aruna tak enak hati karena melimpahkan tugasnya pada Dedi karena Dita yang sedang Off kerja.
"Oke, lagian udah nggak terlalu rame."
"Aku nggak akan lama" Tegas Aruna seraya mengayunkan kaki menghampiri wanita yang duduk di bagian sudut toko, menghadap jendela yang menembus pemandangan luar.
"Mbak ingin bertemu saya?" Sapa Aruna.
Seketika wanita itu mendongak,"Aruna..."
Deg....
Arun tertegun, ditatapnya mata sayu milik Ranti, wajahnya pucat namun masih menyimpan kecantikan alami yang hanya dipoles lipstik berwarna nude,"Ada apa?"
Ranti beranjak,"Aku ingin bicara denganmu."
Tanpa menjawab Aruna menarik kakinya untuk berderap keluar toko, membiarkan Ranti membuntuti nya tanpa diperintah. Sampai di bagian samping toko yang sepi, Aruna memutar tubuh, melihat wajah Ranti yang sudah menyimpan sejuta kata bercampur keberanian yang sudah disiapkannya sangat matang.
"Bicaralah!"
"Aku kesini tanpa sepengetahuan Mas Aryo, dia ke kantor setelah mengantarku pulang tadi pagi."
Ada sesak yang tidak bisa Aruna ungkap, dan itu menjadi hal biasa yang tidak patut untuk dia tangisi.
"Aruna.... aku tahu perasaan ku ini salah, mencintai Mas Aryo yang sudah menjadi suamimu. Tapi apa aku salah jika aku memperjuangkan Ayah dari bayi yang aku kandung?" Bulir air matanya menitik, diusapnya perut yang masih rata itu,".... Perut ku nanti akan membesar, dan aku tidak bisa lagi menyembunyikan ini dari siapapun, terutama dari keluarga besar ku."
Ranti menunduk, meratapi nasibnya yang didera penderitaan,"Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya mereka.... aku tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatan ku dengan membawa Mas Aryo sebagai suamiku...."
Ranti menjeda perkataannya, menghela nafas yang semula dia tahan, meraup udara sebanyak mungkin sebelum dia mengungkap apa yang menjadi tujuannya," Dan aku pun tahu bagaimana keluargaku, mereka tidak akan membiarkanku menjadi istri kedua.... maka dari itu...." Ranti meraih kedua tangan Aruna, digenggamnya dengan kuat.
"Tolong berikan Mas Aryo untukku, tolong tinggalkan dia.... bukan untukku, tapi untuk bayi yang aku kandung, darah daging Mas Aryo sendiri. Mungkin saat ini Mas Aryo sedang bingung memikirkan mu jika dia harus memilih aku, padahal selama ini dia begitu menginginkan seorang anak, dan Tuhan memberikan jalan itu melalui aku."
Perkataan pedas Ranti menohok hati Aruna yang semakin mati, istri yang tidak bisa menyempurnakan kebahagian suami untuk menjadi seorang Ayah.
Ranti sesugukan, air matanya semakin berderai,"Hanya kamu yang bisa meyakinkan Mas Aryo.... bisa menolongku."
Aruna membisu, air mata yang sudah mengenang tak bisa dia bendung lagi. Seperti ini kah rasanya sakit tak berdarah, dijadikan tumpuan harap dari wanita yang sudah mengoyak harapannya yang lebur jadi abu.
Aruna melepas pegangan Ranti dan bergegas pergi, membiarkan Ranti yang mematung terus mengiba.
"Aruna..." Cegah Ranti kembali,".... aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi apa kamu mau aku menggugurkan kandungan ini, membunuh nyawa tidak berdosa?" Serunya yang seketika menghentikan langkah Aruna.
Hantaman gada melumpuhkan tubuhnya yang semakin tak berdaya. Aruna menengadahkan wajah, keputusan besar yang semalam dia timang harus secepatnya dia lakukan,"Pulanglah, jaga kandungan mu baik-baik." Tukas Aruna tanpa menoleh, kembali masuk ke dalam toko seraya menghapus air matanya yang terlanjur menyentuh pipi.
"Sudah pulang tamunya?" Cegah Dedi saat Aruna hendak membuka pintu dapur menuju kamar mandi.
"Sudah."
"Dia siapa, cantik banget, temen atau saudara.... udah punya gandengan belum, titip salam boleh dong?" Celetuk Dedi.
Aruna membalas dengan senyuman getir, Dedi saja yang jarang melirik wanita bisa dengan mudah tergoda dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Ranti, apalagi dengan suaminya Aryo yang merupakan mantan pacarnya sewaktu dulu, pasti akan mudah menumbuhkan rasa cinta itu kembali, menyambung kasih yang sudah sempat terputus.
🌿🌿🌿🌿
Tepat pukul tiga, jam kerja Aruna sudah berakhir. Segera ia meraih jaket untuk membungkus tubuhnya yang menggigil, pening di kepalanya pun tak berangsur membaik, sulit untuk diajak berdamai dengan keadaan yang memaksanya untuk tetap kuat.
Aruna mendesah berat, sudah satu jam hujan masih asyik bergelut dengan makhluk bumi, memberikan tetesannya tanpa memilah siapa saja yang akan menerimanya.
"Run, kamu masih disini?"
Aruna menoleh,"Aku kira Mbak sudah pulang."
"Tadi nanggung beresin laporan keuangan bulan ini.... yuk pulang bareng, itu taxi yang aku pesen udah nunggu, aku nggak bawa mobil."
Aruna melihat Taxi yang sudah merapat di pinggir jalan,"Mbak duluan saja."
"Oh kamu dijemput Mas Aryo ya?" Goda Manda dengan senyuman menggelikan,".... enaknya yang udah punya suami."
Aruna mengulas senyuman samar tanpa ingin membantah. Cukup hanya dia sendirilah yang tahu bagaimana keadaan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk,tidak dijadikan konsumsi publik dan lebih parahnya lagi mendapat belas kasihan karena kehadiran orang ketiga.
"Kalau gitu aku duluan ya?"
"Iya Mbak, hati-hati."
Melepas kepergian Manda, ia pun memilih berjongkok, menyandarkan punggung pada dinding tembok yang dijadikan tumpuannya untuk bertahan dari rasa lemas.
Sebenarnya ingin rasanya dia cepat pulang dan merebahkan tubuhnya yang mengerang kesakitan, tapi bukan rumah melainkan tempat lain yang bisa memberikan kenyamanan, berhenti menganggu menganggu pikiran yang terus menguliti hatinya yang semakin berteriak sakit. Tapi dimana, dia hanya sendiri.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah terparkir tepat dihadapannya, Aruna yang menenggelamkan wajah di kedua lutut segera mendongak.
"Nuno...." Bisiknya nyaris tak terdengar.
Nuno berlari kearahnya, mengabaikan hujan yang menyentuh kemeja putih yang dia gulung hingga ke siku. Sesaat Aruna terpana, degup jantung mulai tak terkendali, dan itu selalu saja dirasa bila dia sudah berdekatan dengan Nuno, Ada apa denganku???
"Hai..." Sapa Nuno dengan senyuman yang menggetarkan jantungnya yang semakin tidak normal.
Aruna segera beranjak, menarik pikiran akan pertanyaan bodoh yang mengambil rohnya yang malah bergentayangan.
"Kamu belum pulang?"
Aruna tersenyum tipis,"Nunggu hujan berhenti dulu."
"Oh...." Nuno menyapu jalanan yang basah, memasukan tangan kedalam saku celana, meredam kegugupan karena bingung memikirkan kata yang tidak bisa dia ungkap dengan mudah.
"Mbak Manda baru saja pulang.... telepon aja, mungkin belum jauh." Ujar Aruna.
Nuno mengeryit, tak menduga Aruna menganggap kedatangannya hanya untuk bertemu Manda,"Aku kesini bukan untuk bertemu Manda."
"Oh...." Aruna melipat kedua bibirnya yang mengering, sebenarnya dia tidak kuat untuk berdiri terlalu lama, lututnya terasa bergetar, namun dia berusaha tidak menunjukan itu semua.
"Mau beli kue ya... masuk aja, kebetulan lagi kosong, sale nya sampai jam empat, masih ada lima belas menit lagi."
Nuno meringis, ternyata Aruna polos sekali,"Iya..."
Bodohnya dia malah seperti pecundang, melupakan tekadnya yang dari awal ingin menemui Aruna, bertegur sapa dan menanyakan keadaannya setelah kemarin malam saat di pesta.
"Kalau begitu aku duluan ya, hujannya udah kecil."
Nuno terkesiap, sikapnya yang canggung malah membuang waktunya dengan percuma,"Naik apa?"
"Naik angkot di perempatan sana.... duluan ya." Jawabnya seraya beranjak pergi.
"Arun...." Cegah Nuno.
Aruna kembali menoleh,"Ya?"
"Aku antar."
"Nggak usah, terima kasih." Tukasnya dengan kembali berbalik, merekatkan kedua mata dan bergumam dalam hati, jauhi Nuno.....
Saat matanya kembali dibuka, penglihatannya menjadi kabur, kaki yang ingin melangkah terasa berat untuk diayunkan.
Aruna mengaduh, memegang kepalanya yang nyeri seperti ditusuk benda tajam sangat dalam. Ada percikan cahaya bagai kunang-kunang berpadu dengan tetesan air hujan, namun seketika cahaya itu hilang dan berubah gelap.
Brugh....
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung _
...🤗🤗🤗🤗Hai.......
Maafkan si aku yang udah buat kalian gedeg pengen nimpuk karena up yang jarang-jarang😩😩😩
*P**iss*✌✌✌✌
Banyak acara dadakan yang bikin si aku riweuh.
Bikin cerita halu yang baru seperempat harus di cut karena harus menclok sana menclok sini....dan akhirnya My Princess malah drop selama dua hari, otomatis si aku harus jadi Emak siaga💪💪
Vote&hadiah yang udah stay bikin si aku semangat walau hanya bisa up satu part, maafkan😥🙏🙏🙏 Semoga kedepannya lancar bebas hambatan kek Virus Corona, yang semakin merajalela tak takut Suntikan Vaksin apalagi cuma masker🙄🙄🙈🙈😂
Love U full buat semua akak Reader&Akak Otor yang selalu setia memberikan dukungan....Muah muah muah muah.....😘😘😘
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...