Seorang wanita bernama Aulia, ia mencoba untuk melanjutkan sekolah di Surabaya dekat dengan pondok pesantren karena dengan begitu, ia bisa belajar agama. Namun diam diam, ia menyukai seseorang. Ya, orang itu adalah guru yang mengajar di sekolahnya. Aulia tak bisa mengungkapkan isi hatinya dan hanya bisa mencintainya dalam diam. Sedangkan di sisi lain, seorang ustad yang mengajar agama di pondok pesantren juga menyimpan rasa kepada Aulia.
Akankah ustad itu bisa menjadikan Aulia sebagai pendamping hidupnya atau Aulia bisa bersatu dengan guru yang ia cintai dalam diam. Aulia hanya bisa pasrah. Namun tanpa ia duga, kedua orang tua Aulia malah sudah menjodohkan dirinya dengan seseorang. Siapakah orang itu? Akankah Aulia menerima perjodohan itu mengingat hatinya kini sudah di miliki oleh orang lain.
Jika ia menerima, lalu bagaimana kehidupan pernikahannya? Apakah berjalan mulus atau penuh lika liku. Bagi kalian yang penasaran, yuk intip cerita kehidupan Aulia dan ambil sisi positifnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Tamala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan hangat
Aulia bangun tidur jam setengah 3. Aulia segera mandi dan bersiap siap untuk sholat ashar. Selesai sholat, ia segera pergi ke kamar Sinta untuk berangkat ngaji.
"Sin, udah siap belum?" tanya Aulia sambil memasuki kamar Sinta.
"Iya Li, aku udah selesai kog. Ayo berangkat." Sinta mengambil kunci kamar yang ia taruh di meja riasnya. Lalu ia pun keluar kamar bersama Aulia dan tak lupa mengunci pintu kamarnya terlebih dulu.
"Li, kamu yakin nanti gak mau ikut aku pulang?" tanya Sinta yang merasa kasihan karena ia harus pulang ke rumahnya dan Aulia akan merasa kesepian sendirian di kamar kos.
"Aku yakin Sin, aku juga ada urusan kog nanti. Jadi aku gak mungkin kesepian. Kamu tenang aja, jikapun aku kesepian, aku pasti chat atau von kamu."
"Iya sudah deh log gitu. Aku senang mendengarnya. Oh ya kamu tau gak?"
"Apa?" tanya Aulia
"Entah kenapa aku merasa kalau ustad Faqih itu suka deh sama kamu." Jawab Sinta
"Ah ngaco kamu, Sin."
"Aku beneran Li. Tatapan dia ke kamu itu beda. Dia seperti menaruh harapan gitu sama kamu. Mungkin setelah lulus sekolah nanti, dia bakalan lamar kamu." ucap Sinta enteng sedangkan Aulia yang mendengarnya malah dag dig dug dar.
"Udah deh, jangan ngomong yang enggak enggak. Apa yang kamu lihat kadang belum tentu benar dan aku merasa kalau sikap dan tatapan dia itu biasa aja. Toh tatapan dia ke aku sama seperti tatapan dia ke kamu dan yang lainnnya. Jadi buanglah fikiran yang aneh itu jauh jauh." Jawab Aulia berusaha untuk setenang mungkin.
"Hemmm tapi Li, jika seumpama setelah kamu lulus sekolah dia ngelamar kamu. Apakah kamu akan menerimannya?" tanya Sinta penasaran.
"Iya gaklah."
"Kenapa?"
"Karena aku gak suka sama dia lagian diakan putranya pak yai jadi jelas nanti istrinyapun harus anak pondok an atau gak harus sama sama anaknya pak yai. Sedangkan aku hanyalan anak kosan yang ilmu agamanya pun tak seberapa."
"Tapi Li, entah kenapa aku merasa kamu dan dia itu cucok banget deh." Ucap Sinta
"Udahlah jangan di bahas. Nanti kalau sampek kedengeran sama santri sini bisa bisa ini di jadikan bahan gosip lagi. Aku males."
"Iya deh." Sintapun akhirnya pasrah dan memilih untuk diam.
Sesampai di pesantren Sinta dan Aulia langsung berkumpul dngan santri yang lain untuk belajar kitab.
--------------
1 jam kemudian, setelah selesai mengaji. Sinta langsung pamit untuk segera pulang karena kedua orang tuanyapun sudah menunggu kedatangannya. Setelah Sinta pergi, barulah Aulia berangkat menuju rumah suamnya hanya dalam waktu 20 menit. Aulia sudah sampai di depan rumah Sofyan.
"Assalamu'aalikum." ucap Aulia dan Sofyan pun segera keluar ketika mendengar suara istrinya.
"Waalaikumsalam. Masuk sayang. Aku sudah dari tadi loh nunggu." Ucap Sofyan sambil menghampiri istrinya dan memeluk Aulia dengan erat.
Setelah selesai pelukan Aulia pun duduk di kursi ruang tamu dan Sofyan mengambil teh hangat yang sudah ia buat tadi.
"Minum sayang, kamu pasti capek kan?" ucap Sofyan. Aulia hanya menjawab dengan senyuman dan meminum teh bikinan Sofyan.
"Mas gak kerja tah? Kog selama ini Aulia lihat mas selalu saja santai?" tanya Aulia
"Mas kerja dong sayang. Kerja dari rumah. Semua laporan dan berkas berkas penting di kirim ke rumah dan ada juga yang di kirim lewat email jadi mas gak perlu susah susah terjun langsung karena mas sudah menyuruh seseorang untuk menggantikan posisi mas. Mas akan ke sana jika memang ada rapat penting dan gak bisa di gantikan." Jawab Sofyan sambil terus memeluk istrinya.
"Oh gitu toh. Terus mas di sini gak pakek pembantu tah?" tanya Aulia melihat rumah suaminya yang kosong.
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena mas takut kamu cemburu. Terus mencari pembantu cowok susah, jadi mau gak mau mas lakukan semua ini sendirian."
"Maafin Aulia ya mas."
"Kenapa minta maaf sayang?"
"Seharusnya Aulialah yang mengurusi semua kebutuhan mas tapi gara gara keegoisan Aulia membuat mas kesusahan. Mas sudah sibuk dengan pekerjaannya di tambah lagi dengan jadi seorang guru. Sekarang mas harus masak sendiri, cuci baju sendiri, bersih bersih rumah sendiri."
"Makanya kamu harus temenin mas dong di sini biar mas ada yang bantu."
"Tapi mas aku takut rahasia ini akan terbongkar."
"Iya sudah gak papa, kita gini aja deh. Bertemu kamu kayak gini aja rasanya sudah sangat bahagia. Nanti kita akan tidur bareng kan satu kamar."
"Iya mas tapi sesuai kesepakatan kita gaka boleh gitu gituan."
"Iya mas ngerti kog sayang dan mas gak akan ingkar janji sampai kamu lulus sekolah."
"Terima kasih ya mas, mas selalu saja nurutin keinginanku. Aku bersyukur punya suami seperti mas Sofyan. Gak pernah menuntut dan selalu jadi suami yang pengertian."
"Itu karena mas sayang dan cinta sama kamu dan mas ingin lihat kamu bahagia. Mas gak mau nyakitin kamu atau pun membuat kamu sedih. Mas juga gak ingin ada pertengkaran di antara kita. Jadi mas harus banyak ngalah dan bersabar biar rumah tangga kita selalu harmonis." ucap Sofyan membuat hati Aulia cenat cenut. Iapun membalas pelukan Sofyan dengan erat.
meskipun hidup pas²an jika saling berbagi gak ada salah nya rezeki jodoh sudah ada disurat an takdir jika kamu ditipu karena uang itu adalah ujian yang harus dihadapi yaitu ikhlas sabar, semoga bisa digantikan jauh lebih baik ☺️
.nga ap2 insya ALLAH aku ikhlas😃
Walau Imamku sudah dipanggil Illahi (02092021), namun aku bisa ambil hilmahya, kelak bisa menjadi bekal anak2ku di kemudian hari.
Semoga bisa dipraktekan di kehidupan nyata.
Aamiin.