Warning!!! 🚫 Bagi yang tidak suka adegan kekejaman dan penyiksaan, sebaiknya TIDAK USAH DIBACA!!! OK?! 🚫
Agar tidak meninggalkan komentar jelek diawal ❌❌❌
Cerita HAPPY ENDING 😍 jadi usahakan apabila ingin membaca, jangan dikasih komentar jelek sebelumnya!!! 🚫🚫🚫
Cerita penderitaan seorang gadis yang bernama Naina. Yang setiap hari disiksa oleh seorang Tuan Muda kejam (Arjuna Wijaya Kusuma).
Saran Author: Cukup baca season 1 & 2 saja.
Terimakasih 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celline dan Bu Juli
Romi masih menggila, pakaian Naina bahkan sudah berantakan. Lelaki itu tersadar, Ia menatap Naina yang menahan rasa malunya.
" Apa kau malu? " meraih dagunya dan mereka saling bersitatap. Naina mengalihkan pandangan nya dan mencoba melepaskan diri. Ia merapikan lagi baju dan rambutnya yang berantakan. Kemudian meninggalkan Romi yang masih mematung ditempat itu.
" Apa aku sudah keterlaluan ya??? " Akhhh !!!
meninju dinding disampingnya dengan sangat kuat. Kemudian mengibas ngibaskannya
" Awww... ternyata sakit juga "
Ia pun kembali ke halaman depan dan bergabung dengan kedua orangtuanya.
" Dari mana saja kamu Romi? " Tanya Bu Rahma.
" Dari kamar kecil " Jawab nya singkat sambil mengambil minuman.
" Romi... Apa kau tak ingin mengucapkan selamat pada Juna? Dari tadi ibu lihat kau belum juga menghampirinya. "
" Malasss... " Kedua orangtuanya saling bertatapan. Mereka bingung dengan sikap Romi belakang ini.
" Apa kau punya masalah dengan Tuan muda? " tanya Ayahnya
" Tidak... " terlihat wajahnya sudah jengah membahas lelaki itu.
" Kalau memang kau punya masalah dengannya, sebaiknya kau cepat selesaikan. Ini perintah bukan pilihan!!! " Ayahnya dengan nada yang sangat tegas.
Romi tak memperdulikan tatapan kesal ayahnya. Ia terus meminum minumannya.
Pesta terus berlangsung dengan meriahnya. Semua para tamu undangan benar benar menikmati pesta itu. Hanya Romi yang terlihat suntuk di tempat itu. Ingin rasanya ia pergi dari tempat itu.
" Hey Om, Tante... terimakasih sudah mau datang ke pesta pernikahanku... " Juna datang bersama Celline menghampiri keluarga Anggara itu.
" Hei Pengantin kita... Selamat ya..." Ayah Romi memeluk Juna.
Romi semakin Jengah, Ia langsung pergi menjauh dan menuju area parkir.
" Maafkan Romi Nak... " Ayah dan ibu Romi merasa tidak enak dengan prilaku anaknya itu.
" Tidak apa apa, Aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu Om, Tante. Kami bersahabat sejak kecil jadi sudah tahu sifat kami satu sama lain " Juna tetap tersenyum begitupun Celline.
Akhirnya pesta pun usai, Semua tamu undangan sudah pulang satu persatu.
Tinggal para pelayan yang masih berkecimpung dengan pekerjaan mereka yang semakin banyak.
Naina terlihat sangat kelelahan. Ia merasakan perutnya kram. Ia duduk di salah satu kursi taman sambil mengelus lembut perutnya.
Juna memperhatikannya dari kejauhan.
" Dia pasti kelelahan "
" Sayang ngapain kamu disini, Aku sudah sangat lelah... Mari kita istirahat... " menarik Juna untuk ikut masuk Kedalam kamar mereka.
Saat semua orang sudah terlelap ,
Ting... sebuah pesan masuk di ponsel Celline. Ia melirik Juna yang tertidur sangat pulas.
Celline mengambil ponselnya dan membuka pesan itu.
Ia tersenyum sinis... Melihat sebuah video yang dikirimkan seseorang kepadanya.
" Selamat bersenang senang Naina..."
tersenyum licik dan kembali tidur sambil memeluk suaminya.
Pagi itu Naina bangun terlambat, bergegas ia mandi dan berpakaian. Saat ia membuka pintu kamarnya, Ia tersentak kaget meliat dua orang perempuan berdiri didepan pintu kamarnya.
Naina membungkuk hormat kemudian memundurkan langkahnya ketika salah seorang wanita itu masuk kedalam kamarnya.
" Tempat apa ini??? " mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu.
" Ini adalah bekas kamar mandi yang sudah tidak digunakan, Nona muda... " Bu Juli menjawab pertanyaan Istri Tuan Muda, Nona Muda Celline.
Celline mendekati Naina yang masih menunduk, berdiri disamping Bu Juli. Memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Celline menarik ikat rambutnya dan rambut itupun terburai. Ia menyentuh dagu Naina dengan jari telunjuknya. Naina menatap Nona muda yang Jauh lebih tinggi darinya membuat ia mendongakkan kepalanya.
Dengan cepat Celline melepaskan dagu itu dan menyapu jari telunjuknya kebaju Naina. Seolah Nona Muda itu jijik setelah menyentuhnya.
" Kau lihat dia Juli? Apa yang menarik dari wanita ini hingga suamiku memilih mempertahankannya padahal aku sudah beberapa kali meminta Dia untuk mengusir wanita sialan ini " masih menatap Naina dengan penuh kebencian.
" Mungkin dia selalu merayu Tuan muda dengan menjual tubuhnya, Nona " Bu Juli.
Wajah Celline memerah mendengar jawaban Bu Juli. Sambil terus menatap Naina yang terlihat sedang menangis tanpa suara.
" Benarkah??? "
" Menurut gosip para pelayan, Dia memang wanita Gat*l Nona, sering merayu lelaki untuk menidurinya. Bahkan yang saya dengar hampir seluruh lelaki yang ada disini pernah ia rayu. Tapi hanya beberapa yang mau tidur dengannya... " Bu Juli menjelaskan.
Naina Terkejut mendengar penuturan gila dari Bu Juli. Ia sempat menatap Bu Juli dan Nona Muda Celline namun ia tak berani bahkan hanya sekedar berkata " Tidak". Naina meneteskan Airmata nya. Sekarang ia tau mengapa semua orang dirumah ini selalu menatapnya jijik dan penuh kebencian. Ternyata Gosip seperti itulah yang beredar diantara mereka.
"Cuiihhh!!!! Menjijikan.... "
Celline menarik rambut Naina hingga wanita itu terjatuh. Bu Juli merasa sangat senang melihat Naina diperlakukan seperti itu oleh Nona mudanya. Ia memang tidak suka dengan gadis sok polos itu sejak pertama ia menginjakkan kakinya dirumah ini.
Terlihat jelas senyuman diwajah Bu Juli. Celline masih belum puas, Ia menarik paksa pakaian Wanita itu dan membuat Naina Polos tanpa sehelai benang pun. Naina berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya. Bu Juli tiba tiba mngeluarkan ponselnya dan merekam Naina yang sedang polos itu.
" Ayooo... Ayo Naina... tunjukkan saja tubuhmu itu biar orang orang bisa menikmatinya." sambil menarik tangan Naina yang berusaha menutupi tubuh polosnya itu.
" Jangan Nona... Ampuni saya...! " bersimpuh di kaki Celline.
Mereka tertawa puas meliat Naina seperti itu.
" Ini pelajaran buat kamu... sebaiknya kau Jauhi suamiku dan lebih baik lagi segera keluar dari rumah ini!!! " Celline mendorongnya hingga ia terjatuh dan tubuh polosnya terlihat jelas di kamera ponsel Bu Juli.
Celline ingin sekali melayangkan tendangan ke perut Naina yang menbuncit itu. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut Juna Marah padanya. Naina menekuk lututnya mencoba melindungi bayinya, ia tahu wanita di depannya itu bisa melakukan apa saja.
Akhirnya Celline hanya menginjak tangan Naina dengan sepatu heels berhak runcing itu.
" Sini bangun..." perintahnya
" Lihat video ini. " memperlihatkan sebuah video di handphone nya.
Video saat ia berciuman dengan Dokter Romi di sebuah ruangan kosong.
" Aku tahu Juna sangat benci jika melihat mu bersama dengan Dokter itu, Aku akan memperlihatkan video ini kepadanya. memperlihatkan wanita seperti apa dirimu ini sebenarnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Juna melihat ini..." Tersenyum licik
Naina terdiam, Ia ingat semua perlakuan Juna malam itu. Ia tak ingin kejadian itu terulang lagi.
" Nona... Nona Aku mohon jangan sampai Tuan tahu... " Naina menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Celline.
" Kenapa? Apa kau takut ia marah padamu..."
Naina menggeleng, " Aku takut Tuan melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Dokter Romi..."
" Owh.... Kau dengar itu Juli... " Celline melirik Bu Juli yang tersenyum.
" Ternyata dia menyukai Dokter itu... Well well well.... Aku mengerti sekarang. " mengangguk anggukan kepalanya.
" Tapi sayang... Aku tetap akan memberitahu Juna akan hal ini... dan tunggu saja kejutan selanjutnya..." Ia tersenyum kemudian berjalan keluar dari kamar itu. Di susul Bu Juli dibelakang.
" Juli... Kirim Video itu kepada Tuan Muda segera. Gunakan Nomor baru kemudian hancurkan nomor itu. " Perintah Celline
" Baik Nona Muda... dan aku juga akan mengirim video tadi kepada Dokter Romi, Biar dia terkejut " Mereka tertawa bersama.
Di kamar Naina,
Ia mengambil pakaiannya dan kembali memakainya. Airmata nya tak henti mengalir di kedua pipinya.
" Mengapa Nasibku seperti ini... Mereka memperlakukan aku bagai boneka hidup yang bisa mereka permainkan sesuka hati mereka."
Ia berjalan menuju Rumah besar, Ia tetap melakukan pekerjaannya walau tak pernah di gaji sepeser pun.
...****************...
kalau ikhlas
perasaan baru beberapakali hari Lo
ohy juna uda lht ankny blm y thor