~Novel ini masih tahap revisi. Mohon maaf jika masih banyak tipo dan kepenulisan yang tidak sesuai kaidah kepenulisan dan PEUBI, terlebih di seperempat bab awal.~
Rania gadis cantik yang berprofesi sebagai guru SD bertemu dengan Kanaya anak kecil si periang yang memiliki magnet tersendiri, membuatnya begitu nyaman bersama kanaya dan begitupun sebaliknya.
Tanpa diketahui Rania, Kanaya adalah anak dari Leo dan Ayu sang kekasih yang menghianatinya dengan sahabatnya sendiri. Kanaya yang merindukan sosok seorang ibu dan terlanjur jatuh hati pada sang guru bertekad menjodohkan Rania dengan sang Papa, sesuai amanah ibunya untuk menyatukan kembali cinta Papa Leo dengan sahabatnya.
Namun, Rania sudah terlanjur sakit hati dengan pengkhianatan Leo dan Ayu yang membuatnya begitu terpuruk. Akankah Rania menerima Leo kembali setelah ia mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi Hati
Rania masih terpejam dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, Dewi masuk dan menghampiri kakaknya.
"kak bangun.... udah siang mau ngajar gak???" Dewi menggoyang-goyang lembut tubuh Rania membangunkannya, tidak seperti biasanya kalau membangunkan kakaknya selalu dengan mode Toa,,
Rania yang merasa ada orang yang membangunkannya, langsung membuka mata dan kemudian mengibaskan selimutnya.
"aaaa.......!!!" teriak Dewi ketika Rania membuka selimut, "Ya ampuuun ada hantu dari mana pagi bolong kayak gini??" ucap Dewi menutup mata dengan kedua tangannya.
"dasar adik durhaka, kau pikir aku hantu hah?" ujar Rania kesal.
"maaf aku kira hantu.... liat aja penampilanmu kak, rambut berantakan matamu bengkak.. sungguh penampilan terburukmu di pagi hari" Dewi mulai nyerocos gak jelas.
"au ach... bodo amat...." ucap Rania menarik selimutnya lagi, "De tolong kasih tahu Suci kakak gak masuk hari ini, bilangin aja sakit..." lanjutnya
"iya nanti aku bilangin sama kak suci kakak sakit.... sakit hati....." tutur Dewi sambil melenggang pergi
"terserah..." Rania tak peduli yang ia mau hanyalah diam di kamar.
Sakit hati sungguh mengobrak-ngabrik jiwa. gue ampe gak kenal sama kakak gue sendiri kalau dah kumat kayak gini. Jangan sampai dech, aku ngerasain hal kayak gitu...amit...amit.... ucap Dewi dalam hati.
Rania masih setia di kamarnya kadang ia keluar hanya sekali-kali. Ibu yang tahu kondisinya tak banyak bertanya, ibu tahu Rania butuh waktu untuk menormalkan pikirannya lagi.
Terdengar pintu di ketuk, ibu langsung membuka pintu.
Ibu yang melihat Suci di depan pintu langsung mempersilahkannya masuk.
"kata Dewi, Rania sakit ya tan??" tanya Suci
"iya, sedikit tidak enak badan. Dia ada di kamar, kamu naik sendiri saja kesana ya..." tutur ibu,
Suci pun langsung permisi, sesampai di atas kamar Rania tidak di kunci Suci langsung masuk setelah beberapa kali ketukan tak ada yang mengizinkannya masuk.
kok kosong kemana orangnya??. pikir Suci, terdengar suara kran di kamar mandi.
owh...lagi di kamar mandi. pikirnya lagi.
Tak selang berapa lama Rania keluar dari kamar mandi dan mendapati Suci sudah ada di kamarnya.
"sejak kapan di sini Ci???"
"belum lama, tadi aku ketuk pintu gak ada jawaban jadi langsung masuk aja.." ucap Suci yang memang sudah terbiasa di rumah Rania.
"kata Dewi kau sakit. sakit apa emangnya??" tanya Suci, "o..... ya ampun muka loe kenapa?? abis di sengat tawon ya??" tanya Suci lagi yang baru menyadari wajah Rania membengkak.
"enggak..." jawab Rania pendek
"trus kenapa bisa kayak gini??"
"aku alergi..."
"alergi apa?? setahu gue loe gak punya riwayat alergi..!!" tanya Suci lagi penasaran.
"Alergi hati..." jawab Rania sekenanya.
"hahhhhh......???!!!" Suci kebingungan.
Rania menjelaskan duduk permasalahannya.
"jadi pak Leo itu mantan loe Ran??? yang dulu loe bilang hianati loe sama sahabat loe?? tanya Suci penasaran.
Suci memang tahu kalau Rania mempunyai kekasih yang menghianatinya, dulu Rania sewaktu di Semarang pernah bercerita tapi suci tak tahu namanya siapa karena Ranian tak pernah memberi tahu dan diapun tak pernah bertanya.
" Berarti Kanaya anak mereka derdua donk???" tanya Suci lagi
Rania hanya mengangguk pelan.
"ya ampun Ran kenapa terulang lagi??" Suci memeluk Rania.
Suci tahu sekacau apa Rania dulu. Dia yang menemani Rania untuk bangkit dari keterpurukan itu. Karena dia pulalah yang mengajak Rania pindah ke Semarang setelah mendengar kisah Rania dari Aldo kakaknya.
Setelah bersedih-sedih ria, Suci mengajak Rania pergi supaya bisa menghilangkan sedikit stres Rania.
"kita jalan yuck....!!" ajak Suci
"enggak aku males, lagian malu gak liat apa mataku bengkak gini...." tolak Rania
"ayolah..... cari sensasi buat ilangin penat loe.. lagian kalau soal mata tenang aja ada kacamata itam banyak...." Suci memaksa.
Rania terpaksa mengikutinya, dengan memakai kacamata hitam dia pergi keluar. Suci sengaja mengajaknya pergi supaya sepupunya itu tidak terus-terusan menghabiskan energi untuk menangis.
Rania dan Suci pergi ke salahsatu mall, mereka langsung menuju ke salah satu tempat yang bisa membuat mereka sedikit rilex.
"apa aku aneh ya??" tanya Rania, melihat banyak para pengunjung yang memperhatikannya
"enggak kok... emang kenapa?" tanya Suci santai
"mereka kayaknya memperhatikanku.."
"perasaan loe aja, bawaan galau jadi baper mulu.. enggak kok mereka gak merhatiin loe Ran.." ucap Suci menenangkan.
Mereka pasti merhatiin Loe pasti gara-gara pakai kacamata hitam, pasti mereka berpikir cantik-cantik kok buta... Batin Suci.
Sesampai di Time Zone keduanya langsung bermain beberapa game yang lumayan menguras energi. Rania mulai terbawa suasana dia mulai melupakan permasalahannya dan fokus pada permainan-permainan yang ada di depannya. Setelah puas mereka pergi dari time zone, keduanya mulai mengelilingi mall mencari hal-hal yang diperlukan. Kata orang kalau cewek lagi badmood ya obatnya shooping, itulah yang coba di lakukan Suci untuk menghibur Rania.
"maen game sudah, shooping sudah... sekarang mo kemana lagi?" tanya Suci ketika meninggalkan mall.
Rania tampak berpikir,
"ke danau dulu ya...." ucap Rania,
"ok lets go....."
Lalu mereka berdua pergi ke sebuah danau yang letaknya tak jauh dari sana.